Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Bonchap 3


__ADS_3

Sementara itu, Boy mendapatkan kabar dari lapas dimana Rafael mendekam, terdengar berita jika di lapas tersebut sedang terjadi keributan sesama narapidana, yang menyebabkan satu korban mengalami luka berat.


Korban tersebut tak lain adalah Rafael Marchetti, Rafael mengalami luka pada kepala dan cidera kaki yang menyebabkan Rafael tidak bisa lagi berjalan, karena tulang kaki nya remuk akibat pukulan benda tumpul.


"Ada berita dari Lapas Tuan muda!" seru Boy kepada Willy yang sedang memeriksa laporan. Sejenak Willy menghentikan aktivitasnya dan mendengarkan ucapan sang asisten.


"Ada apa?" tanyanya sembari mengerutkan keningnya.


"Rafael Marchetti dihajar oleh warga Lapas, dan sekarang dia dirawat di rumah sakit dengan pengawasan ketat, sepertinya Rafael mengalami luka yang cukup parah." ucap sang asisten.


"Separah itukah?" tanya Willy penasaran.


"Baiklah! Kita lihat keadaannya di rumah sakit." ucapnya sembari menghubungi Eve, sepertinya Willy agak pulang terlambat.


"Halo Sayang!" Sapa Willy kepada istrinya.


"Halo, ada apa?" jawab Eve sembari menemani kedua anak kembarnya, Filio dan Fiona yang kini sudah berusia hampir setahun. Disaat itu ada Ellen dan putrinya Baby Zyva juga sedang bermain bersama si kembar.


"Malam ini Aku pulang sedikit telat, Aku mau melihat Rafael di rumah sakit." sontak apa yang diucapkan Willy membuat Eve sangat terkejut.


"Rafael? Memangnya kenapa dengan Rafael?" tanya Eve terkejut, sementara Ellen yang tidak sengaja mendengar Eve mengatakan tentang suaminya, juga ikut terkejut.


"Rafael di keroyok oleh narapidana lain di selnya, sekarang dia berada di rumah sakit." ungkap Willy, dan setelah Willy mengatakan semuanya, Eve pun menutup teleponnya dan menatap Ellen yang sudah mendengar pembicaraan nya dengan sang suami.


"Suamiku kenapa Kak?" tanya Ellen dengan wajah cemas, meskipun dirinya sudah tidak mau menemui Rafael lagi, namun dalam hatinya Ia masih kasihan terhadap suaminya itu, apalagi selama Baby Zyva lahir, Rafael belum pernah melihat wajah anak semata wayangnya.


"Rafael sekarang di rawat di rumah sakit, Ia mengalami luka serius karena di di hajar teman sesama napi." ucap Eve sembari mengusap pundak Ellen.


"Kamu yang sabar, kita doakan saja supaya Rafael baik-baik saja." Eve mencoba menghibur adik tirinya itu.


*


*

__ADS_1


*


Akhirnya Willy dan Boy sampai juga di rumah sakit tempat Rafael di rawat, Rafael memang sudah berbuat jahat kepadanya, tapi William Anthony bukanlah sosok yang kejam, Ia juga masih memiliki sisi kemanusiaan, meskipun perbuatan Rafael kepadanya mungkin bagi sebagian orang tidak patut untuk dimaafkan.


"Itu dia kamar Rafael Tuan muda!" seru Boy sembari menunjuk ke salah satu kamar pasien, Willy berjalan menuju kamar dimana Rafael dirawat.


Willy kini berada di depan pintu ruang perawatan Rafael, setelah pintu itu terbuka Willy melihat Rafael yang sedang berbaring lemah di atas tempat tidur, dengan kepalanya yang tampak di perban, dan kakinya yang terlihat di bungkus perban putih.


Perlahan Willy mendekati Rafael yang terlihat masih terpejam itu. Willy memperhatikan keadaan Rafael yang sangat memprihatikan.


Tak berselang lama Rafael membuka matanya perlahan, dalam samar Ia melihat sosok Willy tengah berdiri di sampingnya.


"Kau! William Anthony, kenapa kau datang kemari, apa kau ingin mengejekku!" ucap Rafael dengan tertatih.


"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?" tanya Willy dengan gaya khasnya.


"Karena Aku sudah melakukan kejahatan kepadamu, mungkin ini adalah balasan yang tidak seberapa dibandingkan kejahatan yang sudah aku lakukan kepadamu, dan juga kepada Ellen." ucapnya sembari mengingat kembali Istrinya.


"Apa kamu merindukan Istrimu?" tanya Willy.


"Ellen dan anakmu baik-baik saja." balas Willy yang merasa iba melihat Rafael, bagaimana pun juga Willy juga seorang Ayah, Ia bisa merasakan bagaimana rindunya Rafael kepada buah hatinya yang belum pernah ia temui sama sekali.


Sejenak Rafael menangis, sungguh Dia tidak menyangka jika Willy sudah melindungi anak dan istrinya, sedangkan dirinya telah mencoba menghancurkan Willy.


"Mungkin penjara dan rasa sakit ini belum cukup untuk menebus semua kesalahanku padamu, mungkin lebih baik Aku mati saja, hidupku sudah tidak berguna lagi, semua sudah hancur."


"Jangan mati dulu! Apa kamu tidak ingin bertemu dengan anakmu?" seru Willy yang membuat Rafael sedikit punya harapan.


"Anakku!" ucapnya sembari menitikkan air mata.


"Bagaimana bisa Aku bertemu dengan Anakku, lagipula Aku tidak pantas untuk menemui mereka, aku seorang Ayah yang buruk, Aku tidak pantas melihat mereka, meskipun dalam hati ini Aku sangat merindukan istri dan anakku."


*

__ADS_1


*


*


*


Sementara itu Ellen tampak bersedih, berita tentang suaminya sudah membuat ibu dari Baby Zyva itu menjadi berduka, Ellen memang marah kepada suaminya, tapi bagaimana pun juga Zyva butuh bertemu dengan ayah kandungnya.


"Kak! Apakah Aku harus mempertemukan Zyva dengan Ayahnya?" seru Ellen meminta pendapat Eve.


"Turuti kata hatimu, Rafael adalah suamimu dan juga ayah dari putrimu, semenjak lahir Zyva belum bertemu dengan ayahnya, tidak ada salahnya jika kamu mempertemukan mereka berdua." ucap Eve kepada Ellen.


Keesokan harinya akhirnya Ellen memantapkan hatinya untuk menemui suaminya di rumah sakit, setelah beberapa bulan mereka tidak bertemu. Ellen membawa serta Baby Zyva untuk bertemu ayahnya.


Dalam kamar itu terlihat Rafael sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan tatapan mata yang kosong, Ia sudah tidak punya harapan lagi, semangat nya sudah lemah, Ia tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali Ellen dan putrinya yang kini tidak mau menemuinya.


Kini Ellen berjalan menuju kamar dimana suaminya di rawat, kamar Anggrek nomor 5A adalah kamar dimana Rafael dirawat.


"Ceklek"


Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang, Rafael mengira itu adalah perawat yang sedang membawakan makanan untuknya.


"Saya tidak makan Suster!" ucap Rafael yang belum menyadari jika itu adalah Ellen yang datang bersama putrinya.


Tidak ada jawaban dari sang suster, namun Rafael mendengar suara balita yang sedang mengoceh, sontak Rafael mencari arah sumber suara, sungguh betapa terkejutnya saat ia melihat Ellen datang dengan membawa seorang balita perempuan yang begitu cantik, entah kenapa Baby Zyva berceloteh dengan menyebut "Papa" kepada Rafael.


"Papa ... papa ...pa ...pa ...!"


Spontan Rafael menangis saat melihat bayi perempuan yang sedang di gendong oleh Ellen.


Ellen mendekati Rafael sembari menatap wajah sang suami penuh kerinduan.


"Ellen! Dia ...!" Rafael tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia tak sanggup lagi mendengar jika bayi perempuan itu adalah putrinya.

__ADS_1


Ellen mengangguk dan tersenyum kepada Rafael seolah menyatakan jika bayi yang Ia gendong adalah putri mereka.


Sungguh hari itu Rafael seperti seorang perempuan, dirinya menangis seperti perempuan, Ellen memberikan bayinya untuk di gendong oleh sang Ayah, dan entah kenapa Baby Zyva begitu senang saat berada dalam pelukan Rafael.


__ADS_2