Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
I can't see his eyes


__ADS_3

Sementara itu, setelah Dokter memeriksa keadaan Ellen, Dokter menyimpulkan bahwa Ellen tengah mengandung.


"Apa Dokter! Anak Saya tengah mengandung?" ucap Linda yang begitu terkejut mendengar berita itu.


"Benar Nyonya! Saya akan berikan vitamin untuk kandungan Nyonya Ellen," dokter itu memberikan resep kepada Linda, kemudian Dia segera pamit meninggalkan mereka.


Linda menghampiri Ellen yang masih terbaring di atas tempat tidur. Ia menatap wajah anaknya, harusnya berita ini menjadi sesuatu yang membahagiakan untuk Ellen dan Rafael, tapi nyatanya berita ini justru membuat Linda bersedih, karena Rafael tengah berada di dalam penjara.


"Ma! Aku harus gimana? Apakah Aku harus menjalani hari-hari ku tanpa suamiku, terus bagaimana nasib anak ini?" ucap Ellen sembari menangis.


"Mama ngerti sayang! Kamu jangan khawatir, Mama akan melakukan sesuatu untukmu, Mama tidak ingin melihatmu menderita apalagi sekarang Kamu pasti sangat membutuhkan suamimu!" jawab Linda sembari menenangkan putrinya.


Linda mulai berpikir untuk membawa menantunya kembali pulang, mengingat sekarang Ellen tengah berbadan dua.


"Sepertinya Aku harus melakukan hal ini," gumam Linda.


*


*


*

__ADS_1


*


Dalam pesta dansa itu, rupanya banyak pasangan sejoli yang sedang ikut meramaikan pesta di hari itu, Veren yang terlihat senang sekali melihat kemesraan Eve dan Willy membuat seorang pria memaksa diri untuk mengajak Veren yang tampak terpaku dengan kemesraan temannya itu.


"So sweet banget sih mereka! Bikin ngiri aja deh!" ucap Veren lirih, sementara Alinda tampak sibuk chatting dengan seseorang di layar ponselnya. Sesekali Alinda tersenyum saat melihat layar ponselnya. Veren yang melihat keanehan pada temannya itu terlihat menatap nya penuh curiga.


"Alin! Kamu kenapa senyum-senyum sendiri!" tanya Veren menyelidik.


"Ha ... enggak, nggak apa-apa," sangkalnya sembari tersenyum malu.


"Hmm ... paling itu Mas Kuncoro kan? Pasti tuh," celetuk Veren sambil mengambil segelas minuman di atas meja.


"Diiih ... apaan sih Veren!" ucapnya sembari menahan senyum malunya.


Tiba-tiba saja Alinda berkata kepada Vetrn sembari memberi kode.


"Sama tuh ... di belakang Kamu!" ucapnya sembari menunjuk ke arah Boy yang sedang berada di belakang Alinda.


Veren menoleh, dan alangkah terkejutnya saat ia melihat Boy yang sedang berdiri di belakangnya.


"Pak Boy! Acaranya belum selesaikan! Masa harus tunjukkan buktinya sekarang, ogah ah Aku mau lihat Eve dan pak Willy dansa dulu, minggir-minggir ah Pak Boy halangin mulu," ucapnya sembari menyingkirkan tangan Boy, namun justru Boy menarik tangan Veren dan membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Greep"


"Eh eh ... " Veren sontak terkejut dengan perlakuan Boy yang tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukan pria yang selalu setia bersama Willy tersebut.


"Aku akan mengajakmu berdansa!" ucap pria berkumis tipis itu.


"Dansa? Dengan Pak Boy!" seru Veren terkejut.


"Jangan panggil Aku Bapak, Kamu pikir Aku ayahmu, panggil namaku saja, Boy!" jawab pria berdarah Jawa itu.


"Hehehe ... Iya Pak! Eh salah ...Boy!" jawabnya dengan malu-malu.


Alinda melihat Veren dan memberikan kode kepadanya untuk mengikuti Boy.


"Udah sana ...!" ucap Alinda kepada Veren.


Boy membawa Veren ke tempat dansa, musik yang terdengar romantis, memaksa mereka untuk berdansa dengan sedikit mesra, dan itu membuat Veren semakin salah tingkah.


"Aduuhhh ... deg-degan banget nih, hmm ... Mami help me, I can't see his eyes, nggak kuat Aku tuh!" gumam nya saat Veren tak sengaja menatap dua bola mata Boy yang mulai mendebarkan hatinya.


"Veren! Veren ... nafasmu begitu hangat terasa, bibir ini begitu menggoda, ah ... jangan-jangan Aku sudah ketularan Tuan muda nih, asseeeemmm!" gumam pria berbadan tinggi itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2