
Eve melepaskan ciumannya dan menatap wajah Willy sembari menelusuri secara intens wajah yang selama ini bersembunyi di balik wajah Jaka yang sederhana, ada sosok yang sangat tampan dan mempesona, wajah yang terlihat begitu mencintainya, satu jari Eve menelusuri setiap inci wajah Willy, hingga berakhir pada bibir pria yang kini sedang mendekapnya dengan erat.
Mata Willy terpejam menikmati begitu lembut nya sentuhan jari jemari Eve yang terasa sangat mendebarkan. Perlahan pria berdarah Perancis Indonesia itu, menundukkan wajahnya dan menahan tengkuk Eve, selanjutnya Willy melakukan sebuah aksi yang menantang adrenalin.
Bibir itu kembali bersatu dalam kemesraan, lummatan dan sesapan yang dilakukan oleh pria itu nyatanya benar-benar membuat Eve tak bisa berontak. Wanita itu pasrah dengan apa yang dilakukan Willy kepada nya, rasa rindunya mengalahkan segalanya.
Sejenak keduanya melepaskan ciumannya, mengambil oksigen banyak-banyak karena ciuman itu telah membuat mereka kehabisan nafas, disaat Willy ingin mendaratkan ciumannya kembali, Eve menutupkan satu jarinya pada bibir Willy.
"Kenapa?" Willy mengerutkan keningnya.
"Jika kamu benar-benar Jaka, tunjukkan padaku!" ucapan Eve tiba-tiba memaksa Willy untuk membuktikan sesuatu kepada Eve.
Eve yang berdiri di depannya tiba-tiba saja Ia angkat tubuhnya, bak menggendong ala-ala bridal, Eve melingkarkan kedua tangannya pada leher Willy. Keduanya saling menatap, rasa sakit akibat sayatan pisau itu pun sudah tak terasa sakit lagi, berganti rasa bahagia karena kini keduanya tidak ada rahasia lagi, dan tak akan ada yang memisahkan mereka berdua, Willy membawa Eve masuk ke dalam sebuah ruangan dimana Eve biasanya menghabiskan tidurnya.
Pria bertato itu tampak menidurkan Eve di atas ranjang, meletakkannya dengan sangat pelan, sangat terlihat gagah, punggung yang berotot itu menutup tubuh Eve dari atas, hanya terlihat kedua tangan Eve yang mengelus dan merremas rambutnya, sesekali kepala Eve mendongak, menyembul dari balik tubuh Willy, menggigit bibir bawahnya seakan dirinya merasakan ada sesuatu yang membuatnya merasakan sebuah sensasi rasa yang membuat jiwa terbang melayang.
__ADS_1
Entahlah sejak kapan baju mereka sudah berserakan di lantai, tiba-tiba saja tangan lentik Eve mencengkram erat punggung bertato itu, dan sesekali gerakan naik turun kepala Eve yang tampak memejamkan matanya mengiringi suara desaahan dari bibir cantik wanita itu.
"Aku sangat merindukanmu Baby!"
"Hmm ... iya Kamu adalah Jaka, Aku bisa merasakan nya sekarang, Aku juga sangat merindukanmu sayang, lakukanlah! Jangan berhenti!" balas Eve sembari merasakan sesuatu yang telah masuk ke dasar kepemilikannya, bergerak lembut melewati dinding kenikmatan itu.
Hari itu juga keduanya benar-benar saling melepaskan kerinduan, menumpahkan segala hasrat yang terpendam, peluh dan keringat membasahi badan keduanya, tak perduli jam berapa dan tak perduli ponsel Willy berdering, keduanya terus melanjutkan aktivitasnya, saling mendekap, saling mencumbu dan saling merasakan sentuhan satu sama lainnya.
Ponsel Willy terdengar berdering berkali-kali, tampaknya sang asisten tengah sibuk mencari keberadaan Bosnya.
"Ya ampun Tuan muda kemana sih! Nggak di angkat-angkat juga" seru Boy yang mencoba menghubungi nomor Willy berkali-kali.
"Bagaimana Boy? Apa Willy sudah mengangkat teleponnya?" tanya Liora yang tampak sangat mengkhawatirkan putranya itu, bagaimana tidak jam telah menunjukkan pukul 11 malam, sedangkan Willy pulang dari kantor pukul 5 sore, namun sampai sekarang Willy belum juga pulang.
"Belum Nyonya, tapi Saya sudah menyuruh anak buah kita untuk melacak di mana keberadaan Tuan muda sekarang," ucap Boy
__ADS_1
Tiba-tiba saja Boy mendapatkan informasi dari anak buahnya tentang keberadaan Willy sekarang. Anak buah Boy menemukan mobil Willy terparkir di area apartemen dimana Eve tinggal. Setelah Boy mengetahui keberadaan Bosnya, dan itu membuat Boy terpaksa mengusap wajahnya kasar.
Liora yang melihat Boy terlihat lemas, menghampiri Boy dan menanyakan apa yang terjadi.
"Boy! Kamu kenapa? Bagaimana kalian sudah menemukan keberadaan putraku?" tanya Liora penasaran.
Boy menjawab sembari menghela nafasnya.
"Anda jangan khawatir Nyonya! Tuan muda pasti pulang, kita tunggu saja" ucap Boy menenangkan Liora.
"Memangnya Kemana Willy sekarang?"
"Tuan muda sedang mencuci keris Nyonya!" jawab Boy spontan.
"Hah ... apa? Mencuci keris?" Liora tampak membulatkan matanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🌷