Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Laporan George


__ADS_3

Sementara di tempat lain, malam ini Eve tengah berdiri di depan jendela kamar tidur mereka yang menghadap ke arah pemandangan luar yang menampakkan suasana malam yang cerah, langit yang dipenuhi bintang-bintang, dan bulan sabit yang melengkung sempurna, seolah sedang tersenyum kepada Eve pada malam itu.


Tiba-tiba saja kedua matanya tertutup oleh tangan seseorang yang sengaja melakukan itu padanya, Eve tersenyum dan tentu saja itu adalah tangan milik suaminya.


"Apa yang sedang dilakukan oleh istriku di sini? Sehingga tidak memperhatikan suaminya pulang hmm!" Willy berkata dan membisikkannya mesra.


Eve melepaskan tangan suaminya dan membalikkan badannya kearah sang suami.


"Tumben! Pulangnya lebih cepat dari yang kemarin?" tanya Eve sembari mengalungkan tangannya pada leher Willy.


"Sebelum kamu melahirkan anak-anak kita, Aku ingin bersamamu lebih lama, karena Aku tahu setelahnya kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan itu pasti membuatku sangat rindu." ucapnya sembari menatap manik mata sang istri.


"Rindu? Rindu untuk apa? Bukankah Aku akan selalu bersamamu dan mendampingimu." jawabnya sambil mengusap lembut wajah Willy dan sesekali menyentuh bibir suaminya.


"Aku pasti rindu dengan desaahan mu, kemesraan mu, caramu menyebut namaku, dan tentu saja Aku rindu kehangatan darimu, saat-saat indah percintaan kita, tidak akan pernah Aku lupakan, Kamu wanita ku yang nomor satu, tidak ada yang lebih sempurna dari Dirimu." ucapnya sembari mengecupi seluruh wajah istrinya, dari dahi, turun pada kedua pipi, hidung dan akhirnya bermuara pada bibir Eve, entahlah Willy suka sekali mencium bibir istrinya, serasa gairah itu muncul ketika Willy mellumat bibir istrinya.


Eve terpejam merasakan betapa lembutnya Willy memperlakukannya, semakin hari usia kandungan Eve semakin menua, dokter pun menyarankan untuk sering melakukan hubungan badan, untuk mempercepat proses persalinan pada sang Ibu.


Eve merasa, bukan hanya sekedar hasrat, namun percintaan nya bersama sang suami adalah usahanya untuk melancarkan proses persalinan kedua bayi kembar mereka. Dan lagi-lagi untuk sembilan bulan terakhir ini Willy dan Eve gencar melakukan penyatuan, karena mereka ingin segera melihat buah cinta mereka lahir ke dunia.


Dengan posisi seperti biasa, tangan Willy dengan mudahnya bergerilya pada area dada istrinya, menciptakan sebuah rasa yang membumbung tinggi menembus cakrawala. Tak bisa dipungkiri kedua insan itu tidak bisa jauh-jauh, keduanya seperti magnet yang selalu saling menarik satu dengan yang lainnya.


Willy tak perduli dengan perut bsar istrinya, justru dirinya semakin semangat untuk bergerak karena bagian yang disana semakin seksi dan menggoda, saat Eve berganti posisi yang biasa disebut Women on top, di sana dirinya lebih aktif bergerak-gerak, mencari titik kepuasan nya sendiri.


Tak bisa dibayangkan bagaimana mesranya mereka berdua, hanyut dalam buaian kenikmatan malam itu, hingga akhirnya keduanya sama-sama merasakan pelepasan yang sempurna, dada Eve naik turun, bibir mungilnya tersenyum puas, dan sang suami pun merasa bahagia.


Setelahnya kedua insan itu tertidur dengan pulas, ah sungguh kebahagiaan dunia yang hanya dirasakan oleh pasangan suami istri.


Sementara yang di seberang sana, Willy palsu sudah melenggang pergi setelah mendapatkan kepuasan dari wanita yang sudah berkali-kali Ia tiduri. Pria itu melapor kepada Boy jika dirinya sudah berhasil membuat Michelle tidak berdaya.

__ADS_1


Bukan hanya George yang menghadap asisten pribadi Willy, tapi juga Anton sang fotografer sekaligus si editor video yang akan membuat Video Michelle dan George menjadi senjata makan Tuan untuk Michelle.


"Pak Boy! Kami berdua sudah melakukan perintah Bos Willy dengan baik, dan sebentar lagi Video itu akan menjadi surprise untuk Michelle." seru Anton.


"Bagus! Tuan muda pasti senang, ini bonus untuk kalian, karena kalian sudah bekerja dengan baik, maka Tuan muda memberikan ini untuk kalian." seru Boy sembari menyerahkan dua buah kunci sepeda motor untuk keduanya.


"Apa ini pak Boy?" tanya George penasaran.


"Itu hadiah untuk kalian, ambillah!" Boy menunjuk ke arah dua sepeda motor yang dihadiahkan kepada dua pria itu, tentu saja Anton dan George sangat bahagia, ternyata Bos mereka sangat loyal dan tidak sungkan-sungkan memberikan hadiah cuma-cuma untuk mereka, padahal upah yang diberikan Willy sudah sangat besar.


"Bos Willy memang baik, Saya ingin bertemu dengan beliau, dimanakah Beliau pak Boy?" tanya George.


Boy menghela nafasnya dan berkata kepada dua laki-laki itu.


"Jangan cari Bos Willy sekarang, kalian berdua tidak akan bisa menemukannya." jawab Boy yang sudah tahu dimana Tuan muda nya tersebut.


"Tuan muda sekarang sedang pergi ke dalam gua yang sempit dan gelap, tapi sayangnya Bos kita itu suka banget di sana, mungkin sekarang udah ketiduran, udah! Besok saja kalian temui Beliau, sekarang pergilah! Aku juga ingin berkunjung ke dalam gua ku sendiri." perkataan Boy membuat dua laki-laki itu tertawa kecil. Tentu saja mereka tahu apa yang di maksud oleh asisten pribadi Willy itu.


Tiba-tiba saja George mengatakan sesuatu kepada Boy.


"Wah ... Pak Boy kalah cepat dengan Saya, Saya udah berkali-kali masuk ke gua, sekarang gua itu jalannya udah becek, nggak enak banget bekas orang banyak." seloroh George yang sudah paham bagaimana kondisi kue apem yang sering gonta-ganti pasangan.


Boy dan Anton terkekeh mendengar penuturan dari pria yang menyamar sebagai Willy itu.


"Tapi Kamu kan menikmatinya bro! Kelihatan banget dalam video itu, gila banget kamu!" seru Anton sambil menepuk pundak George dan menggelengkan kepalanya.


"Hehehe ... iya sih, lah kan sayang kalau nggak di mangsa, dia ngebet banget, suka banget dia emmut lolipop, dia nggak tahu aja siapa yang sudah tidur bersamanya." jawab George dengan tertawa.


Ketiga pria itu tampak tertawa, mereka sungguh mensupport cara Willy untuk menjebak Michelle.

__ADS_1


*


*


*


*


Keesokan harinya, Michelle terbangun dari tidurnya, kepalanya tampak masih pusing efek obat perangsang semalam, belum lagi rasa ngilu pada area kedua pangkal pahanya, ah sungguh pria itu sungguh membuat badan Michelle terasa sakit semua.


"Aww ... sialan! Kenapa badanku sakit semua, gila ...! Kemana Willy?" pekiknya sambil menahan rasa ngilu di bawah sana. Namun sejenak wanita itu tertawa dengan tatapan yang penuh dengan kepuasan.


"Dia pasti sudah pergi, akhirnya! Tidak apa-apa perjuangan ku ini akan mendapatkan hasilnya, Pak Willy harus mempertanggung jawabkan perbuatannya padaku, Dia harus menikahiku, kalau tidak perusahaannya akan hancur dan nama baiknya akan tercoreng." gumamnya penuh keyakinan.


Dengan tertatih, Michelle meraih ponselnya yang berada di dalam tasnya, kemudian Ia segera menghubungi nomor Rafael.


"Halo!"


"Pak Rafael! Ini Michelle Pak!"


"Hmm ... bagaimana?"


"Saya sudah berhasil menjebak William Anthony Pak, dan sebentar lagi keinginan bapak akan segera tercapai!"


Rafael tersenyum bahagia mendengar berita dari Michelle.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2