Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Eve gelisah


__ADS_3

Eve terkesiap saat Willy menanyakan itu kepadanya.


"Tidak ada!" jawabnya sembari meraih sendok dan garpu. Willy tersenyum smirk, sengaja Ia menggoda Eve dengan meletakkan satu tangannya pada paha Eve dan mengelusnya, Eve yang waktu itu mengenakan rok span sebatas lutut, tentu saja dengan mudah Willy meraba dan menyingkap rok itu hingga separuh paha Eve terlihat.


Eve spontan menoleh kepada pria yang tangannya kini berada di atas pahanya dan sedang mengusapnya lembut. Eve melihat Willy yang sedang menikmati hidangan di depannya dengan tangan kanannya, sementara tangan yang kiri tengah sibuk merayap di suatu tempat yang indah.


Eve menggelengkan kepalanya, Ia kembali melanjutkan makannya, namun Ia sedikit tidak tenang karena tangan Willy terus saja berada di atas pahanya dan mengusapnya semakin intens.


Eve sedikit gelisah, karena ekspresi wajah Eve yang begitu sangat gelisah, sehingga membuat Liora mengerutkan keningnya, dan itu membuat Liora bertanya kepada calon menantunya itu.


"Eve! Kamu kenapa? Sayur lodehnya tidak enak ya?" tanya Liora sembari menatap wajah Eve yang terlihat salah tingkah.


Eve menoleh ke arah Willy, rupanya Willy tetap santai, dan tangannya masih betah berlama-lama di bawah sana.


"Em ... nggak apa-apa Tante! Saya cuma ... Saya cuma pingin pipis," ujarnya sambil tersenyum.


Willy menoleh ke arah wanita yang sedang duduk di samping nya itu. Willy tersenyum dan segera menarik tangannya dari paha Eve yang terlihat sudah tersingkap roknya.

__ADS_1


Willy merapikan kembali rok yang sudah tersibak olehnya, cukup Dia bermain sebentar di sana, meskipun cuma sebentar, tapi cukup membuat Eve panas dingin dan gelisah.


"Mbak Yem! Tolong antarkan Eve ke kamar mandi!" seru Liora kepada sang asisten.


Mbak Yem datang menghampiri Eve yang sedang beranjak pergi untuk buang air kecil. Namun tiba-tiba saja Willy melarang sang asisten untuk mengantarkan Eve.


"Nggak usah Mbak Yem! Biar Saya saja yang mengantarnya," ucap Willy sembari beranjak pergi bersama Eve.


"Owalah yo Wis lah Tuan muda, Saya tak balik dulu ke dapur, permisi!" pamit wanita itu.


Eve menatap wajah Willy seolah mata mereka saling berbicara.


"Apa kamu menikmatinya?"


"Tidak! Aku tidak menikmatinya!"


"Daripada Kamu nyasar, rumah ini sangat besar, makanya Aku sendiri yang anterin Kamu,"

__ADS_1


Setelah itu Willy beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dan menunjukkan di mana kamar mandi dengan menggandeng tangan Eve.


Eve memutar bola matanya dan Ia terpaksa mengikuti Willy pergi, dan setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua tiba depan kamar mandi tamu.


"Itu kamar mandinya!" tunjuk Willy pada sebuah pintu kamar mandi. Eve menoleh dan segera masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti saat tangannya ditahan oleh Willy.


Eve menoleh dan menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Willy.


"Ayolah sayang! Masa Aku harus masuk bersama Kamu?" protes Eve sembari menarik tangannya.


"Jika Kamu mengizinkan, dengan senang hati Aku akan ikut" jawabnya sembari tersenyum nakal.


"Hmm dasar Kamu, cari-cari kesempatan, enggak ah Kamu tunggu di luar aja," Eve segera menarik tangannya dan masuk ke dalam kamar mandi, kemudian Eve menutup pintunya. Willy masih setia di luar.


Eve nampak menghela dan mengatur nafasnya, perasaannya sangat kacau, apa yang dilakukan Willy kepadanya sangat-sangat membuat nya merasa terbakar gejolak, mengingat dirinya sendiri tengah hamil, keinginan untuk merasakan kehangatan dan sentuhan tentunya begitu besar, namun Eve harus menahannya, menunggunya hingga mereka sah sebagai pasangan suami istri.


"Aku harus kuat, Willy! Pliis jangan goda Aku lagi, Aku benar-benar tidak bisa,"

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2