Office Boy Ku CEO Ku

Office Boy Ku CEO Ku
Ponsel Ellen


__ADS_3

"Tidak ada siapa-siapa?" gumam Rafael saat melihat tidak ada seorangpun yang berada di balik pintu, kemudian Rafael berbalik menghampiri Michelle.


"Dalam acara peresmian gedung kantor ku nanti Minggu depan, Aku akan mengumumkan kepada seluruh dunia, siapa sebenarnya William Anthony dan kamu harus terus mendukung rencanaku, Aku ingin melihat wajah kecut seorang William Anthony, dia akan segera tahu siapa sebenarnya Rafael Marchetti, dan Eve akan menjadi benci kepada suaminya." ucapnya dengan yakin.


"Apa perlu kita kirimkan video ini kepada Istrinya Pak?" cetus Michelle.


"Hmm ... itu ide bagus! Aku ingin tahu bagaimana reaksi Eve saat tahu jika suaminya sudah berselingkuh!" ucap Rafael dengan tatapan matanya yang tajam.


Sementara itu Ellen yang merasa mulas-mulas pada perutnya, Ia segera menghentikan taksi dan mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa itu.


"Jalan Pak!" titahnya kepada sang sopir.


Sopir taksi yang melihat Ellen kesakitan merasa kasihan kepadanya. Sang sopir tahu jika penumpang nya itu akan melahirkan. Dengan perut besarnya Ellen mendekap perut dan sesekali meringis kesakitan saat kontraksi itu terjadi.


"Nyonya sepertinya mau melahirkan, Saya akan bawa Nyonya ke rumah sakit, tahan ya Nyonya!" seru sopir taksi itu.


"Aww .... sakiitt!" pekiknya yang tak bisa tertahankan. Karena Ellen merasa sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit itu, akhirnya Ellen pingsan di dalam taksi, sang sopir melihat Ellen yang tampak sedang tak sadarkan diri.


"Nyonya! Nyonya! Anda kenapa? Aduh pingsan lagi, Aku harus segera membawanya ke rumah sakit, kasihan sekali wanita ini." ucapnya yang terlihat panik sendiri.

__ADS_1


Setelah beberapa menit akhirnya taksi yang membawa Ellen berhenti di depan pintu utama rumah sakit yang sama dengan rumah sakit dimana Eve melahirkan. Terlihat beberapa petugas medis yang langsung membawa Ellen ke dalam dengan brankar dorong.


"Ya Tuhan! Selamatkan wanita itu, kasihan sekali semoga Ibu dan bayinya selamat." sopir itu terlihat mendoakan Ellen yang tengah mendapat pertolongan medis. Apa yang dilakukan oleh sang sopir membuat Mbak Yem yang kebetulan sedang keluar mencari makan, tidak sengaja mendengar ucapan sopir taksi itu.


Mbak Yem berhenti dan menghampiri sopir taksi itu dan bertanya.


"Pak! Taksi nya ada yang pakai? Tolong antarkan Saya ke Jl. Kenangan!" seru Mbak Yem.


"Oh ... maaf Bu! Saya tidak bisa mengantarkan sekarang, karena Saya sedang menunggu seorang wanita melahirkan, kasihan wanita itu, nanti kalau keluarganya sudah datang saya akan pergi." ucapnya.


"Memangnya Bapak nemuin dia dimana?" tanya Mbak Yem.


"Dia penumpang Saya Bu! Dia hamil besar, masih muda dan cantik, Dia mengeluh sakit perut, sepertinya dia akan melahirkan, karena perutnya sudah terlihat besar, makanya saya antar ke rumah sakit, kasihan! Tapi sayang keluarganya belum ada yang menjenguk." jelas sang sopir.


"Oh iya, kenapa saya nggak kepikiran kesana, baik kalau begitu Bu! Saya ambil dulu tasnya di dalam mobil, semoga saja saya bisa menghubungi keluarganya." balas sang sopir.


Kemudian sang sopir mengambil tas milik Ellen yang tertinggal di dalam mobil, tas berwarna coklat itu terpaksa sopir buka, untuk mengetahui siapa keluarga Ellen.


Sang sopir tidak hanya menemukan sebuah dompet yang berisi beberapa uang lembaran berwarna merah, beberapa kartu kredit dan ponsel.

__ADS_1


"Waduh! gimana saya bisa menghubungi keluarganya, tidak ada kartu nama disini." seru sang sopir yang tampak kebingungan, kemudian Mbak Yem datang menghampiri sopir taksi itu.


"Gimana Pak? Sudah tahu alamat keluarganya?"


"Belum Bu! di tasnya cuma ada ini!" jawab sang sopir sembari menunjukkan isi tas milik Ellen.


Mbak Yem melihat ponsel milik Ellen, kemudian Mbak Yem mencoba membantu sang sopir untuk menghubungi keluarga Ellen dengan membuka ponselnya.


"Coba lihat ponselnya Pak! Siapa tahu ada yang bisa di hubungi."


Kemudian Sang sopir memberikan ponsel Ellen kepada Mbak Yem.


"Ini Bu!"


Mbak Yem mulai membuka layar ponsel milik Ellen, namun sayang ponsel Ellen dikunci sehingga Mbak Yem tidak bisa membuka pin yang sudah diamankan untuk mengunci layar ponsel Ellen.


"Aduh! Di kunci piye iki! Tapi ... sek toh! Koyo ngerti cah wadon iki, koyo adhine garwane Tuan muda Yo? Iyo Iki, tenan adhine Nyonya Eve, tak gawane menyang Nyonya Eve, opo Iyo Iki adhine, mbakyu ne mesti kenal."


(Aduh! Dikunci gimana ini! Tapi ... sebentar! Kayak kenal gadis ini, seperti adik istrinya Tuan muda ya? Iya ini, benar adiknya Nyonya Eve, biar aku bawa pada Nyonya Eve, apa iya ini adiknya, kakaknya pasti kenal) ucap Mbak Yem yang curiga jika pemilik ponsel itu adalah Ellen. Maka segera Mbak Yem membawa ponsel itu kepada Eve.

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2