
Seperti biasa mobil masuk ke dalam mansion The Kingham, para pelayan akan menyambut Axella, itu yang selalu Axella mau jika ia pulang dari bepergian
Axella ingin selalu di perlakukan bak putri raja.
Namun, kali ini suasana berbeda.
Franz memarkir mobilnya dan para pelayan terkejut dengan teriakan yang mengerikan di dalam mobil.
Franz keluar dan para pelayan membuka pintu mobil itu, terlihat Axella menggeliat-nggeliatkan tubuhnya, tangannya mengelus-elus perutnya yang sangat sakit.
"Perutkuu... Aku sudah tidak tahan lagi!!!" Teriak Axea.
Kemudian Jenny dan di bantu seorang pengawal membopong Axella.
Saat itu Jenny hanya melihat Franz dengan tatapan heran, kenapa Franz hanya diam membatu apa yang salah dengannya.
"Panggil dokter!!!" Teriak Jenny pada pelayan yang lain.
Salah satu pelayan buru-buru memanggil dokter.
Axella berbaring di atas ranjangnya dan mendengus-dengus kesakitan.
"Aku tidak kuat lagi..." Kata Axella menangis.
Keringat sebesar jagung-jagung menetes dan mengalir di leher serta dadanya.
"Aku mau William." Kata Axella terengah.
"Sebentar Nyonya kami sedang menghubungi Tuan Jason."
"Huff Huff... Hufff... Huff... Aaaaakkhhh!!! Ini sakit aku tidak kuaat!!!"
Kenangan rasa sakit itu membawanya pada masa lalu, ketika Reed meminta dirinya untuk aborsi, ia harus membuang bayi yang bahkan belum sepenuhnya tumbuh.
Flashback On
"Tuan Reed, kenapa kita di sini?" Tanya Axella.
Itu adalah bangunan rumah sakit yang agak tidak terawat, apalagi dinding-dindingnya sudah berlumut, banyak ruangan juga sudah tidak di gunakan lagi, membuat tubuh Axella meremang tidak karuan.
"Ini semua karena kamu bodoh, kenapa kamu bisa mengandung!" Bentak Reed.
Axella hanya diam, tidak tahu harus berbuat apa, karena ia juga tidak mengerti kenapa Reed hanya menyalahkan dirinya saja, bukankah dia yang membuatnya hamil? Apalagi Reed selalu menyetubuhhinya seperti iblis yang tidak pernah puas, ia melakukan kekerasan sekssualitas.
Seorang dokter keluar dengan memakai jubah lengkap dengan maskernya.
"Silahkan masuk." Kata sang dokter.
"Masuk, setelah selesai akan ada yang menjemputmu, aku ada urusan di kantor." Perintah Reed.
"Anda meninggalkan saya di sini sendiri Tuan?"
"Jangan merengek!" Kata Reed dengan wajah suram.
__ADS_1
Axella menunduk dan hanya bisa menurut, ia masuk ke dalam ruangan yang agak gelap, dan dingin, baunya juga anyir, Axella serasa ingin muntah.
Seorang pria yang mungkin bisa di sebut dokter menyuruh Axella tidur di atas tempat tidur yang terbuat dari mistar yang di keramik.
"Duduk dan minum."
Axella meminum air itu, dan hendak memuntahkan.
"Jangan muntahkan." Kata Dokter itu dingin.
Kemudian Axella meminumnya lagi dan rasanya sangat tidak enak, sangat pahit.
Tak berapa lama seperti nya obat itu bereaksi.
"Aahh tolong... Perutku... Perutku sakit... Aa...."
"Kamu tahu kenapa kamu di bawa kesini?" Tanya Dokter itu.
"Ti... Tidak..." Axella menjawab lemah dan menggelengkan kepala.
"Kamu harus mengeluarkan bayi itu, bayi yang ada di dalam perut mu." Kata Dokter itu.
"A... Apa!!!" Axella mendelik.
"Aaaa ini sakiitt!!!! Tolong aku.... Tolong....!!!"
Axella terus saja berteriak.
Kemudian sang dokter mendorong perut Axella berkali-kali hingga akhirnya darah mengucur dari tempat intimnya.
Darah yang begitu banyak, dan ironisnya sang dokter itu begitu tega melakukannya.
Agak lama dan Axella hanya menangis dan terus menangis, berteriak dan terus berteriak, dokter meminta nya untuk mengejan berkali-kali.
Dan sebongkah darah yang menggumpal seperti keluar dari tempat intimnya.
Axella lemah, bajunya penuh darah dan tubuhnya juga, tempat tidur yang terbuat dari mistar keramik membuatnya merasakan kedinginan.
Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit dan apalagi bagian bawah serta perutnya, jika ia boleh memilih, ingin rasanya ia mati saja.
"Kenapa anda melakukan pekerjaan seperti ini, anda adalah seorang dokter..."
"Jangan pernah memandang semua di dunia ini mereka suci dan tanpa dosa, semua orang harus menjalani takdir dan mengambil jalan hidupnya, mana yang harus mereka lili, dunia ini kejam, kamu pun juga mengalaminya, kamu pasti merasakan juga jika dunia ini sangat kejam dan tidak adil, aku juga begitu, banyak kejadian yang menimpaku, bahkan itu bukan kesalahanku, dan semua membuatku menjadi kambing hutam, lisensi kedokteranku di cabut, dan akhirnya aku memilih bekerja di dunia bawah ranah, di dunia pasar gelap yang lebih bisa menghargai semua keahlianku."
Flashback Off
Axella merintih dan menangis, Jason baru tiba dan melihat kondisi Axella yang tidak berdaya lagi.
Setelah dua kali merasakan sakitnya mengeluarkan bayi meski yang pertama adalah aborsi, tapi Axella tetap menyadari jika rasa sakitnya sama di mana pun dia berada.
Saatbitu bangunan rumah sakit begitu kotor dan dingin, dan sekarang ia berada di mansion, tempat yang sangat mewah namun rasa sakitnya tetaplah sama.
Axella kembali berteriak dan menggeliat dengan tangan di perutnya karena rasa sakit, sementara dia merasakan perutnya seolah bergelombang, dan berputar.
__ADS_1
Rasa sakit, yang sepertinya tidak pernah berakhir, perlahan berkurang setelah beberapa jam.
Axella akhirnya mulai terengah-engah dengan seluruh tubuhnya basah oleh keringat.
Alkhirnya sang dokter datang dengan segala peralatannya, ia juga membawa dua orang perawat untuk membantunya.
Tiba-tiba sentakan yang lebih menyakitkan datang kembali pada perut Axella, membuat Axella terkejut dan membelalakkan mata.
"Aaaaa!!!!!" Sakiiiiitttt!!!" Teriak Axella.
"Mohon Tuan tunggu di luar, saya akan membantu Nyonya melahirkan." Kata sang dokter.
Kemudian Jason menunggu di luar, bersama Jenny.
"Bukankah usianya belum genap?" Tanya Jason.
"Sepertinya Nyonya Axella melahirkan prematur, atau mungkin ini semua karema tekanan, atau perbuatan-perbuatannya di masa lalu?" Tanya Jenny.
Jason hanya diam.
Di dalam kamar, Dokter masih memandu Axella untuk menarik dan membuanh nafas, memandu Axella agar Axella bisa mengejan dengan baik.
Setelah pertarungan melawan dirinya sendiri yang ingin menyerah dan berulang kali ingin mati, akhirnya Axella melahirkan.
Bayi itu menangis, dan kemudian di bawa oleh sang perawat.
"Anakku pasti sangat tampan." Kata Axella.
"Anak anda sangat cantik Nyonya." Kata sang perawat.
"Tidak, kamu pasti salah, firasatku mengatakan bayiku adalah laki-laki." Kata Axella.
Sang dokter yang menolong persalinan terkejut mendengar pernyataan seorang ibu yang memikirkan jenis kelamin anaknya.
"Yang paling penting bukankah anak anda sehat Nyonya?" Kata dokter itu.
"Anakku pasti laki-laki." Kata Axella lagi meracau.
Axella terus meracau, sambil berbaring lemas di tempat tidur.
"Pasti laki-laki."
Sang dokter membersihkan tangannya dan melepaskan jubahnya lalu keluar, sedangkan perawat satunya menjahit Axella dan mengurus Axella, perawat satunya lagi mengurus bayinya.
Sang dokter keluar dan Jason memasang wajah tegang.
"Apakah Nyonya tidak pernah melakukan pemeriksaan USG di rumah sakit?" Tanya sang dokter.
Jason menelan ludahnya, ia tahu William sangat menyayangi bayi itu, tapi William tidak pernah terpikirkan untuk membawa Axella ke rumah sakit atau sekedar memberitahu Axella untuk selalu memeriksakan kandungan secara rutin.
"Tidak pernah Dokter."
bersambung~
__ADS_1