
Pagi ini ucapan selamat ulang tahun dari berbagai orang sudah membanjir. Apalagi banyak parcel dan karangan bunga yang datang ke mansion dan perusahaan sudah tidak bisa terhitung lagi jumlahnya.
Alaris yang sedang berada kantornya pun kebingungan menerima banyak telfon yang mengatakan sepatah dua patah kata doa untuknya, lalu karyawan-karyawannya juga mengadakan kejutan kecil ketika Alaris sampai di kantor.
Sebuah helikoter terbang mendekati kantor Alaris yang paling tinggi.
Kemudian kain yang menggulung di buka bertuliskan Selamat ulang tahun Alaris.
Terlihat pria yang berada di dalam helikopter membawa seikat bunga mawar, pria itu adalah Harry.
Helikopter pun mendarat di atap dan Harry masuk ke dalam ruangan Alaris untuk memberikan bunga.
"Selamat ulang tahun Alaris." Harry memberikan bunganya.
Kemudian sebuah kado di berikan pada Alaris.
Alaris membukanya dan itu adalah kalung berlian paling mewah yang pernah Alaris lihat.
"Untukmu, aku mendesainnya sendiri."
"Ini berlebihan."
"Tidak ada yang berlebihan jika itu untukmu." Kata Harry.
"Nona Alaris, maafkan saya yang tiba-tiba masuk, tapi adik anda Hector kembali dan sedang menuju mansion." Kata Brida.
"Semoga tidak akan terjadi bencana, dia datang lebih cepat, pasti sudah tahu kabar tentang William akan menikahi Axella." Kata Alaris.
"Maafkan aku Harry, tapi aku harus pulang." Kata Alaris.
"Aku akan menemanimu." Kata Harry tersenyum.
"Sepertinya jangan sekarang, ku rasa Hector akan membuat insiden." Kata Alaris.
"Baiklah kabari aku jika membutuhkan bantuanku." Kata Harry.
Alaris dan Brida bergegas menuju mansion The Kingham, mereka berharap lebih dulu cepat sampai daripada Hector.
Mobil melaju dengan cepat, dan masuk ke dalam taman mansion, di sana mobil Hector sudah terparkir brutal, menabrak patung pancuran kolam.
Hector sudah memporakporandakan mansion bagian selatan. Tempramen Hector jauh lebih sangat tidak stabil.
Terlihat Axella rambutnya sudah berantakan, bibirnya pun berdarah.
"Oh tidak untunglah ku kira itu darah ternyata hanya lipstik yang keluar dari bibirnya."
__ADS_1
Namun Alaris masih tidak tenang melihat mansion berantakan.
"Astaga, apa yang sudah kamu lakukan Hector." Alaris menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Seperti yang kakak lihat, dia lemah, dan hanya mengandalkan kecantikannya, dia mencoba merayuku, dan akhirnya aku mengatakan bahwa dia sama sekali tidak cantik, aku memporakporandakan mansion, untuk menyadarkannya bahwa aku tidak akan masuk perangkapnya, aku bukan pria bodoh dan badjingan seperti William." Kata Hector.
Saat itu semua pelayan dan pengawal tidak berani mendekat, semua orang tahu Hector adalah pria yang paling di takuti, karena dia bisa menghabisi 100 orang sekaligus dengan pistol dan pedangnya.
Hector memiliki keahlian beladiri yang di akui oleh dunia, dan pria itu juga memiliki keberanian yang tidak pernah takut mati.
Leon tersenyum sinis, sudut bibirnya terangkat, pria itu menyaksikan diam-diam dari jarak yang tidak terlihat.
Alaris tidak tahu apakah dia harus tertawa atau kasihan tapi wajah Axella benar-bebar berantakan. Rambutnya yang panjang acak-acakan, lipstiknya yang keluar jalur dari bibirnya mungkin dia terkejut saat Hector tiba ia sedang memakai lipstik.
"Kakakku yang malang, saudariku yang cantik dan pintar. Bagaimana kamu bisa menahan sabar begitu lama dan berpura-pura menutup mata? Wanita dengan anak haram itu bersama si badjingan sudah menghancurkan hidupmu yang berharga."
"Hector tenangkan dirimu, dan berhati-hati dengan ucapanmu." Kata Alaris.
"Semua orang tahu jika aku adalah sampah yang tak berguna karena aku tidak bisa mengontrol emosi dalam diriku. Di mana badjingan itu." Kata Hector dengan emosi yang masih berkobar.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tentu saja aku akan membunuh badjingan itu yang sudah membodohimu." Hidung Hector mendengus-dengus, tangannya masih memegang tongkat bisbol.
Tangan Alaris dengan cepat menutupi mulut adiknya. Alaris melirik ke arah Axella yang menangis dan ketakutan terduduk bersembunyi di balik laci meja kecil.
"Aku serius Alaris, aku tidak bisa diam saja melihatmu di perlakukan seperti ini."
Hector menjawab dengan tegas, dan matanya tajam. Alaris sangat khawatir . Hector nampak benar-benar serius ingin membunuh William, Alaris takut ia akan melakukan sesuatu yang tidak bisa Alaris kendalikan.
"Aku juga serius untuk tidak bisa kehilangan Aldawn, cukup perusahaan orang tua kita yang hilang sia-sia karena keserakahan orang lain." Bisik Alaris dengan tegas.
"Kamu pasti takut kehilangan perusahaan mu sekarang?!" Axella berdiri dengan tegar, meski kakinya gemetar dan ketakutan.
Hector menatap bringas pada Axella.
"Kenapa? Terimalah kenyataannya, bahwa kamu mandul dan tidak subur, kamu tidak bisa memberikan keturunan pada William, dan akui saja bahwa kamu lah yang tidak bisa menyenangkan William di atas ranjang, kelak semua kekayaan ini hanya akan menjadi milik anakku. Pada akhirnya kamu hanya akan membesarkan anak-anakku." Kata Axella tersenyum dengan gemetar dan air matanya mengalir.
Hector tampak siap meledak. Wajahnya sudah semerah cabai , Axella masih memegangi perutnya. Alaris mencoba menangkan Hector.
"Sudahlah jangan menyulut lagi." Kata Alaris pada Axella.
"Kau! Beraninya mengatakan kakakku tidak subur dan berharap dia membesarkan anak-anak mu! Aku memang harus memotong lidahmu jalangg!" Teriak Hector.
Axella mundur sedikit demi sedikit, terkejut oleh aura Hector yang benar-benar bengis. Hector semakin mendekatinya, mengancam dengan mata tajamnya, wajah Hector memang mirip dengan wajah Alaris namun ketika dia marah wajahnya akan terlihat sangat menyeramkan, Axella terhuyung mundur lebih jauh.
__ADS_1
Dia jatuh di lantai, tangannya nelindungi perutnya yang mulai agak membesar.
Alaris dengan cepat berjalan dan memeluk Hector.
"Biarkan saja Hector, sudah cukup jangan terlibat apapun dengan dia."
Pada saat itulah Axella mendongak dan berteriak histeris, air matanya semakin mengalir deras.
"Aaaaa perutku... Perutku sakit... Tolong..."
Axella merangkak meminta tolong pada Hector dan Alaris.
"Ada apa denganmu, kenapa kamu berpura-pura sakit." Kata Hector.
"Bawa pria itu." Kata seorang pria yang suaranya tidak asing di telinga Alaris.
Jantung Alaris seolah berhenti berdetak, ia tahu apa yang di maksud "bawa pria itu". Alaris dengan erat memeluk Hector.
Para polisi sampai di tempat dan segera membawa Hector.
"Tidak, Hector tidak menyakiti siapapun, bawa aku, jangan adikku." Kata Alaris.
William pergi menolong Axella yang meringis dan menangis kesakitan.
"Hector, jangan katakan apapun sebelum pengacara ku datang, kamu harus diam dan menutup mulutmu." Kata Alaris, air mata menetes di pelupuk matanya.
Kali ini kepala Alaris seakan ingin pecah, dia benar-benar ingin melindungi adiknya, dan menjauhkannya dari siapapun yang akan menjatuhkan Hector karena sifat tempramentalnya.
******
Malam itu, tidak ada bulan atau bintang yang terlihat di langit. Langit tampak hitam karena di selimuti oleh awan gelap, petir mulai bergemuruh, kilat-kilat juga saling menyahut satu sama lain menimbulkan kesan yang seram.
Tangan Alaris bersandar di teralis balkon menatap pemandangan itu dengan muram.
Angin dingin yang semakin berhembus kencang menerpa wajah Alaris dan membuat tubuhnya merinding. Tetesan air hujan mulai jatuh ke lengan Alaris satu per satu.
Alaris kemudian masuk ke dalam kamarnya, Brida kembali dengan membawa beberapa berkas.
Alaris menjadi sangat marah pada Axella. Sebisa mungkin selama ini Alaris menahan amarahnya, ia lebih bersabar dan tidak ingin terlibat dengan Axella karena ia tahu posisi nya benar-benar di ujung tanduk. Perusahaannya sudah masuk sangat dalam oleh cengkraman Liam Grup.
'William pasti akan menuduhku sebagai pengganggu jahat pada calon istrinya yang sedang mengandung anaknya, mereka adalah pihak yang lemah dan wanita miskin yang tidak berdaya.'
'Namun, jika aku mentolerir William dan Axella, aku akan terlihat bodoh dan bodoh. Tapi jika aku melawan sekarang, aku belum memiliki kekuatan, Aldawn akan jatuh di tangan William dan yang di katakan Axella akan menjadi kenyataan, Kekayaan yang ku miliki akan menjadi William dan diturunkan untuk anak yang akan dilahirkan oleh Axella.'
'Aku menatap diriku sendiri, tawa aneh keluar dari bibirku. Wanita jahat, Alaris yang mandul dan tidak bisa menyenangkan suaminya di atas ranjang, atau kah berita yang sebenarnya akan terungkap bahwa kami tidak pernah berhubungan badan dan aku adalah orang bodoh. Apakah ada jalan keluar dari labirin ini?'
__ADS_1
'Aku tidak rela perusahaan yang ku bangun dengan kerja kerasku akan menjadi milik anak wanita itu, jika aku melawan tanpa rencana.'
bersambung~