
Pagi itu pesawat jet pribadi yang super mewah telah mendarat di landasan pribadi milik Emperor Grup.
Harry lebih dulu turun, dan berpijak di tangga, lalu tangannya mengulur untuk membantu Alaris.
"Hati-hati Istriku, aku tidak ingin kamu terpeleset." Kata Harry.
Entah mengapa pagi itu sebelum berangkat Alaris bilang bahwa kepalanya sangat pusing, dan ia tidak suka bau parfum Harry yang menyengat, kemudian Harry pun memilih untuk mandi lagi dan tanpa memakai parfum, padahal biasanya itu adalah parfum kesukaan Alaris.
Harry membelai kepala Alaris dengan lembut.
"Dokter Arthur sudah menunggu di Kastil. Dia akan memeriksamu." Kata Harry.
Saat itu Zoland dan Brida sudah bersiap di dekat mobil yang akan mereka gunakan untuk pulang.
Namun sebuah mobil Range rover datang mendekat dan seorang pria memakai setelan jas rapi keluar dari mobil tersebut.
Harry serta Zoland tahu dia adalah utusan presiden.
"Tuan Presiden menunggu anda di istana." Kata pria itu menunduk dengan sopan.
Tak berapa lama iring-iringan mobil datang, mereka juga memakai mobil range rover, itu adalah para pengawal Harry yang akan mengawal mobil mereka sampai di Kastil Emperor. Kemudian pengawal-pengawal dengan tubuh gagah, tegap, dan kekar, serta memiliki perawakan yang tinggi, keluar dari mobil, masing-masing mereka memaka Earpiece.
Earpiece identik sebagai alat komunikasi rahasia yang digunakan oleh anggota pasukan pengawal khusus.
"Brida antar Alaris sampai kastil, para pengawal akan menjaga kalian." Kata Harry.
"Baik Tuan."
"Apa ada hal yang serius?" Tanya Alaris.
"Tidak ada." Kata Harry tersenyum lebar pada Alaris dan mencium keoala Alaris.
"Masuklah." Harry membuka pintu mobil dan Alafis masuk.
Setelah mobil yang mengantar Alaris pergi dan menghilang, Harry masuk ke dalam mobil nya untuk menuju Istana kepresidenan.
Di sana, presiden Slyvedonia yang memiliki nama panjang, Guillermo Del Toro, telah menunggu di kursinya yang besar.
Harry yang berjalan santai mendatangi Guillermo, pria itu tengah menikmati anggurnya dan memandang taman labirinnya.
Guillermo duduk menyilangkan kaki dengan tenang, dan menggoyangkan gelas cantik yang berisi anggur merah.
"Aku kecewa, istrimu tidak tertarik dengan mawar hitam yang ku kirim." Kata Guillermo.
Sudut bibir Harry berkedut sinis.
"Ku pikir kamu tidak akan pernah menggunakan hal kotor dan licik, tapi itulah kamu, kelicikan dan muslihat kotor tidak akan bisa lepas dari semua keluarga Del Toro." Kata Harry.
"Aku sudah sangat menahannya, lepaskan putriku." Kata Guillermo.
Harry menghela nafas.
"Sayangnya, aku belum ingin melepaskannya."
Guillermo menatap tajam Harry.
__ADS_1
"Jika kamu tetap menahan putriku. Kamu tidak akan menjadi presiden. Tidak akan ada yang mendukungmu."
Harry melengkungkan bibirnya.
"Kamu terlalu memandang ku sebagai bocah ingusan."
"Harry, kamu sedang mempertaruhkan segalanya hanya karena seorang wanita. Ingatlah, kamu akan berakhir seperti kakakmu, mati mengenaskan, itu semua karena wanita.
"Kamu juga lahir dari seorang wanita." Kata Harry.
"Aku tidak akan segan-segan menargetkan istrimu, jika kamu tidak melepaskan Yumna." Kata Guillermo.
"Kita lihat siapa yang menargetkan siapa." Harry memasukkan kedua tanganya ke dalam saku.
"Baiklah, jika kamu memilih melawanku, aku tidak akan segan lagi."
"Aku menunggumu mengerahkan seluruh kekuatanmu." Kata Harry tertawa sinis.
"Kamu akan menyesal Harry, telah mengusik Guillermo Del Toro!!" Teriak Guillermo.
"Siapa yang mengusik siapa! Anakmu bermain-main menggunakan obat perangsangg yang di beli di pasar gelap, untuk menjebakku." Geram Harry.
"Apa?!" Guillermo terkejut.
"Apa kamu mau bukti?" Kata Harry.
"Putriku berkepribadian elegan, dia polos dan cantik, tidak mungkin dia memakai cara itu."
"Apa kamu tahu keadaan orang yang mengusik keluarga Mac Linford? Mereka akan berakhir dengan siksaan, meski mereka ingi mati sekalipun, aku tidak akan mengijinkannya."
"Apa yang telah kamu lakukan pada Yumna!!!" Teriak Guillermo dan menodongkan pistolnya.
Bahkan Zoland masih berdiri dengan tenang di belakang Harry.
Tangan Guillermo nampak bergetar.
"Aaa... Keluarga Del Toro memiliki penyakit keturunan, itu adalah tremor." Kata Harry tersenyum.
Kemudin Harry memegang tangan Guillermo dengan satu tangannya, dan memutar pistol itu menuju wajah Guillermo.
Semua pengawal bersiaga dan mengeluarkan senjata. Mereka semua menodongkan senjatanya pada Harry.
"Jika anda membunuh Presiden, hukuman mati akan menanti anda." Kata sang juru bicara presiden.
"Siapa yang akan membunuhnya? Aku tidak suka membunuh, aku lebih suka menyiksa." Kata Harry.
Tangan Harry masih menggenggam tangan Guillermo yang memegangi pistol, Harry mengarahkan ke bawah.
DORR!!!
Tembakan itu mengenai lutut kaki Guillermo.
"Aaarg Aaargg Aarggg!!!"
"Bedebbah!!!" Teriak Guillermo.
__ADS_1
Pengawal siap menangkap Harry.
"Sekali saja ada pengawalmu yang menyentuhku, Yumna hanya akan tinggal nama." Kata Harry.
Guillermo menggeram kesal, ia sangat marah dan berjanji akan membalas dendam atas apa yang telah Harry perbuat.
Harry membuang pistolnya di dekat Guillermo, kemudian ia mengulurkan tangannya, Zoland memberikan sapu tangan dan Harry membersihkan tangannya.
"Aku belum membuat perhitungan padamu, karena telah mengirim kan hadiah untuk istriku, sebentar lagi kamu juga akan menerima hadiah dariku. Anggap itu balasan dariku." Kata Harry.
Kemudian Harry membuang sapu tangannya ke wajah Guillermo dan pergi diikuti Zoland.
Di dalam perjalan wajah Harry sangat kelam, ia marah karena Guillermo berhasil mengirim kan hadiah berbahaya untuk Alaris.
"Perketat lagi penjagaan, dan carikan penjaga wanita yang terampil beladiri serta pandai menggunakan senjat untuk menjaga Istriku." Kata Harry.
"Baik Tuan.
Sesampainya di Kastil, Harry langsung mencari Alaris, Namun ia tidak menemukannya, Samantha yang kebetulan sedang berada di dalam kamar untuk membersihkan selimut, mengatakan jika Nyonya Alaris ada di dapur.
Harry pergi ke dapur dan memperhatikan semua koki sedang masak, wajah-wajah mereka terlihat seperti sedang dalam tekanan mental.
Keringat dingin bercampur keringat panas dari kobaran kompor membuat wajah-wajah para koki meneteskan keringat.
Harry tersenyum kecil, melihat wajah Istrinya yang cemberut, itu terlihat menggemaskan.
'Kenapa setelah menikah denganku, dia jadi jarang mengeluarkan wajah dinginnya, aku merindukan wajah itu.'
"Sayang apa kamu sangat lapar, hidangan begini banyak kamu akan menghabiskannya?" Tanya Harry.
Berbagai hidangan berjajar di atas meja marmer, dan Alaris hanya memandanginya.
Alaris menatap sayu Harry.
"Entahlah, semua makanan tidak ada yang cocok untuk lidahku, semuanya terasa hambar tidak memiliki rasa, dan aku tidak suka, ini pertama kalinya aku pilih-pilih makanan, bahkan baunya saja tidak mengundang selera, ada beberapa bau makanan yang justru membuatku mual." Kata Alaris.
"Apa dokter Arthur sudah datang?" Tanya Harry yang duduk di samping Alaris dan membelai wajah pucat Alaris.
"Tadi, Dokter Arthur sudah menunggu Di kastil Tuan, tapi sebelum Nyonya sampai di kastil, Dokter Arthur buru-buru pulang karena ada hal yang sangat mendesak, katanya urusan keluarga." Kata Emily.
Harry mengerutkan kening.
'Apakah ada yang serius pada Arthur.'
Dengan cepat Harry sadar, jika yang harus ia pikirkan sekarang adalah istrinya. Kenapa istrinya menjadi sangat pucat dan lemas.
"Sayang, kita kerumah sakit?" Ajak Harry.
Alaris menggeleng.
"Bisa masakkan aku sesuatu?" Tanya Alaris.
Harry melihat para koki yang kwalahan, mereka masih sibuk memasak sesuatu untuk Alaris, agar sesuai selera Nyonya mereka.
Kemudian Harry mengangguk.
__ADS_1
Mendengar perkataan Alaris, dan Tuan mereka menyanggupinya para koki merasa segala batu-batu besar yang ada di atas bahu mereka rontok berjatuhan.
bersambung~