
10 Tahun Kemudian...
"Nona muda Chia... Kami mohon turunlah, itu sangat berbahaya."
Para pelayan saling ketakutan dan memeluk satu sama lainnya.
"Tenanglah, kalian berisik sekali." Kata Chia yang sedang makan buah di atas pohon dengan suara nya dan cotehnya yang imut.
Chia duduk dengan santai di atas dahan pohon, meski tinggi pohon itu tanggung, namun tetap saja terlihat cukup tinggi apalagi jika nona muda mereka jatuh akan jatuh pula nyawa para pelayan itu.
"Nona Chia saya mohon turun lah, itu sangat berbahaya." Sahut pelayan satunya lagi dengan menangis.
"Kenapa kalian berisik sekali sih!" Kata Chia bandel.
Chia Mac Linford anak perempuan yang tomboy, tingkahnya bahkan lebih aktif dari anak-anak seumurannya pada biasanya. Chia adalah anak ke 3 dari Harry Mac Linford dan Alaris Dwyne.
"Apa kamu monyet?"
Suara khas seorang anak laki-laki membuat Chia melirik.
Itu adalah Elouan, anak pria yang memiliki kepribadian dingin dan juga bisa tersenyum ramah, meski begitu senyuman khas nya bukan karena ia senang lebih pada ancaman.
Chia masih tiduran di atas dahan pohon yang agak besar untuknya sambil kakinya mendarat di dua pohon lain untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Dan Chia masih diam dengan teguran kakak ke 2 nya.
Elouan adalah anak ke 2 dari Harry dan Alaris, wajahnya yang imut dan tampan membuatnya dengan cepat mrnjadi bintang di sekolah.
"Chia... Ayah pulang!"
Teriakan seorang ayah membuat Chia mengubah ekspresi bosannya menjadi bersemangat.
"Ayah!!!" Teriak Chia yang mengubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk dan masih di atas dahan.
"Aaaaa!!!" Semua pelayan wanita berteriak histeris. Melihat bagaimana Chia merubah posisi itu tanpa rasa takut sedikitpun jika ia jatuh.
"Apa putriku naik ke atas pohon lagi?" Tanya Harry dan berjalan ke arah taman sembari mengendurkan dasi.
"Ya, Presiden." Kata kepala pelayan.
"Jika di kastil biasakan memanggil ku seperti biasa, agar anak-anakku merasa nyaman." Kata Harry.
"Maaf tuan." Kata kepala pelayan.
Kepala pelayan pria menerima jas milik Harry dan menyimpannya di lengan dengan hati-hati dan rapi. Pria paruh baya itu belum lama bekerja di Kastil Emperor.
Zoland mengikuti kemana Harry pergi.
Saat melihat Harry keluar dan mendatangi Chia, gadis kecil yang belum genap berusia 10 tahun itu berteriak girang.
__ADS_1
"Ayah pulang ya!!!" Teriak Chia berdiri di atas dahan pohon.
"Nona Chiaa...!!!" Semua pelayan berteriak histeris.
"Hati-hati Nona muda...!!!" Teriak para pelayan lagi ketakutan.
Kemudian Chia menjatuhkan dirinya ke bawah dan tepat di tangkapan ayahanu, ia memeluk leher ayahnya sangat erat.
"Kamu membuat mereka ketakutan anak nakal." Kata Harry.
"Mereka semua penakut." Kata Chia.
"Karena itu sangat berbahaya di lakukan anak kecil apalagi gadis kecil sepertimu, kenapa kamu selalu memanjat pohon." Kata Harry mengecup pipi Chia yang empuk dan kenyal.
Harry kemudian melihat Elouan yang hanya berdiri memandangi semua tingkah Chia yang baginya hanya mencari perhatian.
"Ayo kita menemui ibu kalian, dimana kakak kalian?" Tanya Harry.
"Eugene sedang ada di ruang pelatihan, dia berlatih pedang dari pagi." Kata Elouan.
"Tadi pagi ayah sudah melihatnya latihan, dan sampai siang begini apa dia tidak istirahat? Itu akan membuatnya kelelahan." Kata Harry yang masih menggendong Chia.
"Karena ini hari libur, Eugene ingin menggunakan waktu luangnya untuk berlatih sebelum pertandingan di mulai." Kata Elouan.
"Ayo panggil kakak kalian dan kita makan bersama seperti biasanya dengan ibu kalian." Kata Harry.
Harry dan kedua anaknya mendatangi ruangan dimana anak pertamanya sedang berlatih pedang, atau anggar.
Anggar adalah ilmu beladiri menggunakan senjata yang berkembang menjadi seni budaya olahraga ketangkasan dengan senjata yang menekankan pada teknik kemampuan seperti memotong, menusuk atau menangkis senjata lawan dengan menggunakan keterampilan dalam memanfaatkan kelincahan tangan.
Harry melihat anak pertamanya begitu tekun dan mengalami perkembangan yang sangat pesat, kegigihannya bahkan mengalahkannya ketika ia masih berusia 10 tahun.
"Eugene, saatnya istirahat, dan menemui ibu mu." Kata Harry.
Suara Harry menggelegar rendah di ruangan, suara yang dengan intonasi yang pelan namun penuh kewibawaan.
Eugene menghentikan aktifitas latihan dan membuat para pengawal serta pelatih di sana menunduk pada Harry.
Eugene membuka topeng yang menutupi wajahnya, setelah di buka wajah tampan yang sudah terlihat sejak dini itu basah dengan keringat.
Eugene melihat ayahnya menggendong adiknya dan melihat Elouan berada di samping ayahnya.
"Baik ayah." Kata Eugene.
Eugene adalah anak pertama Harry, ia adalah anak laki-laki pendiam, dingin, dan hampir tidak pernah tersenyum, namun ia sangat menyayangi adik-adiknya dengan caranya sendiri.
Bahkan, Eugene adalah anak berusia 10 tahun yang memiliki pola pikir cepat dewasa sebelum waktunya.
Eugene adalah anak paling penurut, dan ia adalah kakak yang selalu berdiri paling depan untuk menjaga dan melindungi adik-adiknya.
__ADS_1
Maka tekadnya yang kuat ingin selalu melindungi adik-adiknya menjadi semangatnya berlatih pedang, menembak, berkuda, beladiri, bahkan di bidang akademik Eugene adalah yang terbaik.
Meski Eugene terlihat sempurna, ia tetap memiliki satu kelemahan yaitu rengekan sang adik perempuan.
Elouan pun juga begitu, ia adalah anak laki-laki yang tampan, manis dan cukup riang, ia bisa bermain atau bertengkar dengan Chia namun, Elouan hanya ingin bersenang-senang dengan adiknya tidak benar-benar mengajak Chia bertengkar.
3 saudara yang ada di dalam 1 rahim yang sama, mereka memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda-beda dan unik.
Harry menggendong Chia, sedangkan Eugene dan Elouan berjalan di samping ayahnya.
Mereka sampai di sebuah kamar besar yang mewah, kamar yang megah dan besar, namun kamar itu di penuhi oleh alat-alat medis.
Suara-suara dari mesin-mesin itu sudah menjadi irama musik yang tidak asing lagi di telinga mereka.
Sebuah meja bundar berukuran sedang dengan lapisan marmer kualitas paling baik ada di depan ruangan yang terpisah dengan ruangan ranjang pasien. Meski itu ruangan terpisah namun mereka tetap bisa melihat sang pasien.
Protokol kebersihan dan protokol keamanan pasien adalah yang paling penting, maka dari itu meski ruangan itu terpisah tetap para perawat dan pengawal serta pelayan menjaganya situasinya.
Pasien yang terbaring di atas ranjang itu tak lain dan tak bukan pasien yang seperti putri tidur dengan wajah yang cantik dan rambut panjang itu adalah Alaris, matanya tertutup, dan selang oksigen masuk ke dalam mulut dan tenggorokan untuk membantunya bernafas.
Alaris seperti sedang tidur dengan tenang.
Beberapa pelayan sudah menyiapkan makanan di atas meja. Sebelum mereka makan siang bersama, anak-anak itu bergantian memberi salam dan mencium ibu nya. Sedangkan Harry juga tidak pernah lelah memberikan ribuan kata manis pada sang istri dan mencium bibir istrinya.
Setelah itu, Chia semangat duduk di kursi tepat di samping ayahnya, sedangkan kakak-kakaknya ada di depan Chia dan Harry.
"Ayah! kelas Chia akan mengadakan pentas seni drama, ayah akan datang melihat kan?" Tanya Chia.
"Tentu saja." Kata Harry tersenyum.
"Kakak kakakmu pasti juga akan melihatnya." Sambung Harry.
"Tenang saja aku yang akan paling keras menyemangatimu saat kamu salah dialog." Kata Elouan.
"Ayaaah!!!" Rengek Chia.
"Elouan jangan ganggu adikmu." Kata Harry.
Sedangkan Eugene masih makan dengan tenang dan memberikan sayuran pada piring Chia.
"Kakak aku tidak suka sayur!" Pekik Chia.
"Sayur bagus untuk kesehatan, jangan sampai kamu jatuh sakit saat pentasnya tiba." Kata Eugene.
"Itu benar Chia, makanlah sayuran." Kata Harry tersenyum.
Chia cemberut dan kesal, ia tahu Eugene menggunakan alasan itu hanya untuk memaksanya makan sayuran.
bersambung~
__ADS_1