Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
"AKU MENCINTAI WILLIAM..."


__ADS_3

"Hati-hati kamu berbicara tentang William. Informasi itu dari siapa Brida, aku masih percaya pada William dia hanyalah pelayan yang di penjara oleh seorang bangsawan, aku tahu bagaimana William memandang seorang wanita, ia lebih suka wanita yang mempunyai latar belakang keluarga yang baik dan kepribadian yang bagus. Mana mungkin dia mau dengan wanita seperti itu."


"Pengirimnya hanya menyertakan inisial. Triple R."


"Triple R?" Alaris mengernyitkan dahinya.


"Ya, dan dia juga mengirim alamat dimana Axella sekarang berada Nyonya."


"Apa itu di Negara Vernecia?" Tanya Alaris.


"Ya Nyonya, dia berada di sebuah mansion kawasan elite di Negara Vernecia."


"Kita kesana, dan kita lihat apa informasi itu bisa di buktikan kebenarannya, jika informasi itu kebonhongan kita harus melakukan tindakan karena dia pasti tahu lebih banyak lagi tentang kita." Kata Alaris.


"Tapi Nyonya Axella itu siapa?" Tanya Samantha.


"Axella adalah pelayan yang Nyonya Alaris selamatkan di Negara Slyvedonia. Dia menghentikan mobil kami dengan tubuh yang penuh lebam, dan bekas kaki serta tangan yang kelihatannya itu adalah bekas rantai." Kata Brida menjelaskan.


"Astaga." Samantha menurup mulutnya.


"Tuan William tidak mungkin dengan..."


"Lily!" Sentak Alaris.


Emily tidak berani melanjutkan kalimatnya.


"Jaga ucapanmu Lily." Kata Alaris.


Malam itu di dalam perjalanan yang cukup panjang, Alaris hanya duduk dengan wajah datar, pandangannya tertuju pada suasana malam yang lengang.


Lalu Brida menyerahkan tabletnya pada Alaris.


"Ini adalah foto-foto Tuan dan Axella yang di kirim oleh si Anonim Nyonya."


"Triple R?" Tanya Alaris.


"Ya Nyonya."


Kemudian Alaris meraih tablet tersebut dan melihatnya. Hatinya seakan di tindih oleh batu yang besar.


"Mereka terlihat akur dan bahagia." Kata Alaris


Foto itu menunjukkan bagaimana William menggandeng tangan Axella keluar dari mobil, dan menuju ke pesawat pribadi.


Senyuman terukir di wajah William, begitu pun Axella.


"Dia jauh lebih cantik saat tersenyum." Kata Alaris sembari menyerahkan tablet pada Brida.Namun dadanya begitu sesak dan perutnya mual.


Mobil akhirnya sampai di lokasi yang di maksud. Mereka sudah berada tepat di depan mansion yang berdiri megah.


"Kita mundur sedikit di tempat yang tidak terlihat." Kata Alaris.


"Baik Nyonya." Sang sopir memundurkan mobilnya dan parkir di tempat yang tidak terlihat.

__ADS_1


"Apa itu mansionnya?" Tanya Alaris.


"Menurut alamat sudah benar Nyonya." Kata sang sopir.


Alaris menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, menyembunyikan rasa takut dan rasa cemasnya.


"Apa kita akan masuk Nyonya?"


Alaris masih diam, pikirannya malang melintang.


Saat itu mereka sudah masuk ke daerah dimana mansion-mansion mewah telah berjajar rapi, meski bukanlah mansion yang sangat besar tapi bisa di pastikan, membelinya pasti mengeluarkan uang yang tidak sedikit, namun Alaris masih belum berani turun dan mendekat.


Hingga 1 jam pun terlewat.


"Nyonya?"


Suara Brida membuyarkan lamunan Alaris.


"Bagaimana?" Tanya Brida.


"Kita pulang saja." Kata Alaris.


"Tapi..."


Tak berapa lama, mobil yang tak asing pun mendekati salah satu mansion yang tak jauh dari mobil Alaris.


"Nyonya, bukankah itu mobil Tuan William?" Tanya Brida.


Saat itu Jason keluar lebih dulu dan melihat situasi. Kemudian terlihat Jason membuka pintu mobil dan keluar lah sang Empunya.


"William..." Sahut Alaris pelan dan lirih.


Tak di sangka, dari dalam mansion seorang gadis berambut panjang yang bergelombang berlari menghamburkan diri pada tubuh William.


Mereka berpelukan.


'William, itu benar-benar kamu?'


Alaris menelan ludahnya, tubuhnya gemetar. Brida melihat bagaimana kedua tangan Alaris mengepal dan menahan kegelisahan serta wajahnya yang sudah sepucat es beku.


"Kita pulang." Kata Alaris.


"Tapi Nyonya ini adalah saat yang tepat."


"Lalu? Aku harus bagaimana Brida? Keluar dari mobil dan menjambak wanita itu, atau memaki William?"


"Seharusnya begitu bukan?"


Alaris tersenyum sinis.


"Lalu, William akan menuntut bahwa aku lah yang tidak bisa memberikannya kepuasan. Begitu? Di depan wanita itu."


"Tapi, anda yang telah menyelamatkannya, setidaknya jika dia tahu Tuan William adalah suami anda, pasti Axella tidak akan meneruskannya Nyonya. Anda istri sah Tuan William."

__ADS_1


"Kata siapa Brida?"


"Maksud anda?"


"Sejak awal gadis itu sudah mengenaliku, dia pasti sudah ingat siapa aku, dan siapa suamiku, dia pernah bertanya kemana dia pernah melihatku, dan aku yakin dia melihat ku di dalam siaran televisi."


"Jadi maksud anda, Axella pernah melihat anda di tv bersama Tuan William?"


"Ya, mungkin saat acara pernikahan kami."


"Mungkin saja ini sebuah kesalahpahaman Nyonya, Axella tidak mungkin, dia hanya gadis yang lugu, meskipun awalnya saya tidak menyukai sikapnya, tapi saya pikir itu karena kepolosan dan keluguan serta ketidak tahuannya tentang dunia luar. Pasti Axella akan mundur, apalagi andalah yang menyelamatkannya Nyonya."


"Jika dia memiliki niat itu, dari awal dia tidak akan memeluk William seperti itu, dan dari awal seharusnya dia tidak akan berada di Vernecia bersama William, kecuali aku sendiri yang membawanya kesini.."


Alaris masih melihat di luar jendela mobilnya, pemandangan itu pasti akan membuat iri siapapun. Mereka akan mengatakan pasangan itu sangat bahagia dan saling mencintai.


Tapi berbeda untuk Alaris, pemandangan itu berubah menjadi semakin menyeramkan ketika William menggendong gadis itu dan mencium keningnya. Gadis itu pun juga mengalungkan tangan kecilnya di leher William.


"Kita pulang sekarang." Alaris menekankan suaranya hingga intonasi nya seperti sebuah perintah yang tidak boleh di bantah lagi.


Ketika mobil perlahan mundur, mata Alaris masih terpaku dan tertuju pada William serta Axella yang begitu bahagia juga mesra.


Alaris memegangi dadanya dengan kedua tangannya yang terasa begitu sesak, bahkan lebih sesak dari tatapan William yang biasanya menatapnya.


Brida tidak tahan melihatnya, ia juga tidak bisa tahan ketika melihat Alaris yang tetap diam membatu seperti es yang kian dingin. Alaris benar-benar pintar menyembunyikan perasaannya.


Sesampainya di mansion The Kingham, Alaris buru-buru turun dengan langkah yang panjang. Samantha serta Emily terkejut melihat Alaris langsung menutup pintu kamar dan mengunci diri di dalam kamar.


"Nona Brida, bagaimana?" Tanya Samantha yang kebingungan.


Emily juga tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


Kemudian Brida mengajak Samantha dan Emily untuk berbicara.


Sedangkan Alaris sendiri masih bersandar pada pintu kamarnya dan merosot kan tubuhnya, dadanya sangat sesak, dan tiba-tiba saja matanya berair, mengalir dan terus mengalir.


'Tidak, rasa sesak ini berbeda ketika William menatap ku, rasa sesak itu menimbulkan jantung yang berdebar dan gemetar, lalu malu dan sangat gugup. Di bandingkan yang sekarang, rasa sesak ini begitu sakit, perih, dan aku sangat ingin menangis.'


Air mata mengucur jatuh tanpa di perintah oleh Alaris. Air mata yang terus menerus mengalir, Alaris bahkan merasakan sekujur tubuhnya terasa sangat linu dan kesakitan seolah ribuan jarum menusukinya, ia menggambarkan saat ini ribuan pisau pun sedang berlomba mengkulitinya, manakah pisau yang lebih tajam.


Hingga akhirnya Alaris duduk di atas lantai yang dingin, memeluk tubuhnya sendiri.


Tidak ada seorang pelayan pun yang berani mengetuk pintu.


'Apakah aku... Sebenarnya mencintai William...' Batin Alaris berkecamuk.


'Apakah aku terlambat dan akan kehilangan dia? Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya tentang perasaan ini, bagaimana aku bisa menjelaskan padanya bahwa sebenarnya aku mencintainya.'


'Ternyata aku mencintai William bahkan sebelum kami menikah, apakah William akan kembali padaku jika aku bilang padanya. Aku mencintainya bahkan sebelum pernikahan kami berlangsung, aku kira itu hanyalah bentuk kekaguman biasa tapi aku lah yang salah. Aku salah menafsirkannya, aku mencintainya, aku mencintainya...'


'Jika aku bilang aku mencintainya dan jangan pergi, apa dia tetap akan di sampingku dan meninggalkan wanita itu?'


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2