
Mobil William melaju pergi menuju bandara dan kemudian pria itu bersama Jason terbang menggunakan pesawat untuk bertemu dengan Roberto Linevero.
Sebuah mansion mewah yang berada di tengah pulau menjadi tempat Roberto tinggal dan mungkin juga menjadi tempat persembunyiannya.
William turun menggunakan Helikopter yang sudah mendarat di atas atap mansion, di belakangnya Jason setia menemani.
William turun dan mendatangi seorang pria tua dengan rambut yang sudah beruban. Lalu sekitar dagunya pun di tumbuhi bulu-bulu putih yang sudah di cukur rapi.
Kepulan cerutu berterbangan di sekitar pria tua itu yang sedang duduk di tepi pantai.
Pemandangan itu indah, mereka berada di pinggir kolam renang yang terhubung langsung dengan pantai.
"Kamu mendapatkannya?" Tanya Roberto.
"Seperti maumu." Kata William.
"Apakah mereka melawan?"
"Tidak sama sekali."
Roberto mengernyit.
"Apa menurutmu itu juga terasa aneh? Aku merasa aneh mereka tidak melawan." Kata William.
"Mungkin wanita kaku itu sudah mendapatkan aset baru dari Harry yang lebih besar, dan dia tidak tertarik dengan perusahaannya lagi."
William hanya diam.
"Sudah kamu dapatkan berkas dan tablet yang hilang itu?" Tanya Roberto.
"Sedang ku usahakan."
BYUR!
Sebuah siraman alkohol membasahi wajah William. Jason kemudian memberikan sapu tangan dan William membersihkan wajahnya, Pria itu meremas sapu tangannya dan menahan emosi.
"Kamu marah padaku? Seharusnya kamu berterimakasih padaku, karena aku sudah mengadopsimu dari wanita ****** itu, ku dengar kamu akan menikahi wanita miskin itu, dan asal usulnya adalah wanita pelayan yang sudah kotor. Apa kamu mengingat ibu mu yang sudah ku jadikan peliharaan? Jadi kamu merasa iba pada wanita miskin itu."
"Aku bisa mengurus urusanku sendiri."
"Jadi uruslah dokumen itu!"
"Apakah itu sangat penting, kita sudah mendapatkan Aldawn dan semua asetnya." Tanya William.
Roberto membuka kacamata hitamnya dan melihat William kemudian menepuk pipi William dengan tepukan yang menekan.
"Itu adalah bukti kejahatanku di masa lampau, kamu tahu? Sebagian aset Liam Grup adalah milik Alhe Grup, perusahaan milik kedua orang tua Alaris, dan sekarang kamu sudah merebut Perusahaan anaknya." Roberto tertawa keras hingga memekak kan telinga.
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu belum tahu? Aah.. Kamu belum membacanya. Aku lah yang mengatur kecelakaan di masa lalu, yang menimpa orang tua Harry, dan juga orang tua Alaris, sayang nya hanya Alhe Grup yang bisa ku ambil, dan Emperor Grup tetap gagal. Karena itulah kemunculan kita langsung menduduki piramid bisnis tertinggi, itu semua berkat Alhe Grup. Lalu ketika aku mengadopsimu, kita merencanakan untuk mengambil Emperor Grup, tetapi Kekasihmu Catriana yang gagal kamu dapatkan memilih mati bersama Hendric Mac Linford."
William mengeratkan kepalan tangannya. Pria itu barus saja mengetahui yang sebenarnya.
"Dapatkan berkas-berkas itu kembali dan juga tabletnya kita harus memusnahkannya."
William hanya diam dan tak bergeming, hatinya terguncang mendengar itu.
"Dengat William, jangan melewati batas kesabaranku, kamu hanyalah anak dari wanita yang ku pelihara, bahkan kita tidak sedarah. Apa kamu ingat aku memungut kalian berdua?" Kata Roberto.
"Aku tidak akan lupa."
"Jadi, harta itu tetap milikku."
"Aku mengerti."
"Dan jika anak mu lahir, jangan harap kamu bisa menipuku. Aku tahu rencanamu, bahwa kamu akan memindahkan aset pada anak yang akan wanita kotor itu lahirkan dan kamu akan mengirmnya jauh dari jangkauanku."
William membelalakkan matanya, kenapa Roberto bisa mengetahui rencananya.
"Jika kamu bertindak di luar batas, aku bisa membunuh anak itu dan juga wanita kotor yang akan kamu nikahi. Sampai di sini seharusnya kamu sudah sadar dan paham."
Tangan William bergetar, ia sangat mengharapkan anaknya adalah tempat untuk menyimpan asetnya kelak, namun di luar itu semua, itu adalah anak yang ia inginkan, anak yang selalu William dambakan, anak yang tidak bisa Alaris berikan padanya.
"Kamu mengancam?" Roberto melihat pada William dengan sinar mata yang tajam.
"Aku memperingatkan."
William pulang dengan perasaan acak-acak an, ia melonggarkan dasinya dan kini pakaiannya sudah benar-benar kusut.
Hingga tengah malam William serta Jason baru saja sampai di Mansion The Kingham, dengan amarah yang belum mereda William mengambil alkohol dan meminumnya.
Axella yang tidak bisa tidur pun mendengar William pulang begitu bahagia dan hendak menyapa ke ruangan kerjanya.
"Cari tahu semua tentang masa lalu Alaris, dan bagaimana bisa Alaris berteman dengan Harry." Kata William.
"Baik Tuan."
"Aku tidak tahu masalah ini, kenapa aku begitu bodoh! Aku tidak tahu Liam Grup berasal dari aset Alhe Grup dengan mengorbankan nyawa orang tua Alaris!"
"Maafkan saya yang tidak bisa mencari informasi lebih tentang Nyonya Alaris."
"Dia pasti menderita, dan aku sudah menaburkan garam pada lukanya." William meminum alkoholnya lagi.
"Batalkan dulu pemindahan aset untuk Axella, aku benar-benar kacau! Bahkan Liam Grup sebenarnya adalah milik Alaris! Kenapa Roberto harus membunuh mereka! Kenapa kecelakaan itu saling berhubungan!"
__ADS_1
"Baik Tuan." Kata Jason.
"Tuan, maaf ada laporan hari ini Leon dan juga Nona Axella bersama lagi di kamar, dan hanya berdua."
William mencengkram gelasnya dan menaruhnya dengan setengah membanting.
"Kalau begitu kita harus benar-benar menunda pemindahan asetnya untuk Axella, sampai kita mengetahui ada hubungan apa Axella dan juga Leon." Kata William.
Axella yang mendengar itu di luar ruangan mengigit bibirnya dengan keras.
"Jadi yang dikatakan Leon memang benar. William tidak akan memberikan aset milik Alaris padaku."
Kemudian Axella pergi kembali ke kamarnya.
"Aku harus mendapatkan stempel perusahaan dan memberikannya pada Leon." Kata Axella.
Tak berapa lama ponselnya bergetar, dan itu adalah panggilan yang ke 50 kali. Dengan kesal dan marah Axella mengangkatnya.
"Dimana uangku, atau aku akan datang padamu!"
"Aku akan memberikannya, di tempat biasa, dan jangan menghubungiku terus menerus!" Geram Axella.
Axella berbaring dan membelai perutnya.
"Ibu akan mengusahakannya anakku, kita tidak akan menjadi miskin lagi, hanya sedikit lagi, dan kita akan memiliki kekayaan yang tidak akan pernah habis." Kata Axella.
Malam itu menjadi malam yang menyakitkan bagi Axella, bagaimana diam-diam William telah mengatur rencana untuk menunda pemberian aset harta pada Axella. Axella percaya bahwa William akan mengkhianatinya.
Sedangkan di ruangan yang lain, William duduk memegangi alkohol. Sendirian, di ruangan yang gelap dan memukul-mukul dadanya terus menerus.
Setelah perceraian semua kebenaran seolah tersingkap dan terkuak.
Orang tua Alaris yang mati karena Roberto. Alhe Grup yang menjadi Liam Grup. Aldawn milik Alaris yang di rebut paksa oleh William.
Belum lagi tindakan William yang tidak pernah baik pada Alaris. William mengira hidup Alaris sejak kecil seperti putri raja, namun ternyata pandangan William salah.
"Dia dingin karena terlalu banyak luka yang telah ia rasakan, dan aku justru menaburkan garam di lukanya." William menenggak alkoholnya kembali.
Pria itu kembali memukul dadanya hingga dadanya sudah terlihat membiru.
"Benarkah kamu akan menikah dengan Harry?" Tanya William yang memandangi foto pernikahan yang terpajang di dinding kamarnya.
"Beginikah yang kamu rasakan ketika aku membawa Axella datang ke mansion. Alaris?"
"Ini sangat menyakitkan. Benar-benar sakit." William mencengkram dadanya, meremasnya dengan kuat.
bersambung~
__ADS_1