
Wajah Harry seolah penuh dengan sejuta pertanyaan yang akan ia keluarkan pada Alaris.
"Manager bilang kamu sedang tidak fit, apa kamu sakit? Apakah kamu terkejut melihat keadaan manatan suamimu yang sekarang dan itu membuatmu sakit?"
'Harry seperti tidak sabar dengan sejuta pertanyaan yang harus ku jawab, apakah Harry adalah pria yang memiliki kepribadian ganda? Kenapa aku menjadi takut dengan wajah Harry yang berbeda, seolah aku sedang berada di bawah wajah malaikat dan di belakangnya sedang tersembunyi wajah iblis yang sudah menargetkanku. Harry sebenarnya seperti apa kamu?'
"Kamu marah padaku Harry?" Tanya Alaris.
"Apa aku terlihat marah?" Wajah Harry justru nampak terkejut.
Harry kemudian mundur dari atas tubuh Alaris, ia duduk di tepi ranjang.
Alaris membenarkan piyama nya dan melihat Harry terlihat putus asa.
"Maaf Harry, aku terbiasa pergi kemanapun tanpa meminta ijin pada siapapun, bahkan ketika menikah dengan William, aku tidak pernah harus meminta ijin ketika pergi."
"Apa kamu sedang memuji mantan suamimu sekarang yang membebaskan mu?" Harry tidak melihat Alaris, pandangannya masih tertuju lantai.
"Harry... Bukan begitu, aku menjelaskannya padamu, bahwa aku terbiasa pergi tanpa meminta ijin pada siapapun meski aku sudah menikah dengan William. Aku pikir baru kali ini aku sadar dari pernikahan ini bahwa pertama kalinya aku merasa benar- benar mengerti jika saat menjalin hubungan dan memiliki suami aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri. Lain kali aku akan meminta ijin padamu. Ku pikir hanya menitipkan pesan sudah cukup tapi ternyata tidak seperti itu."
Alaris duduk di dekat Harry dan memeluk Harry.
"Kamu marah?" Tanya Alaris lagi.
"Aku tidak marah Alaris, aku cemas, sedih dan khawatir. Aku takut kamu akan meninggalkanku dan kembali pada William setelah tahu semua yang aku lakukan padanya."
"Aaa... Lalu kenapa kamu melakukan itu padanya."
"Sebenarnya itu tidak sepenuhnya dariku, semua itu juga Leon yang mengatur."
"Leon?" Tanya Alaris tak mengerti.
Harry mengangguk.
"Leon memiliki alasan sendiri kenapa ia bersikap begitu, dan meminta kekuatan dari ku, suatu hari kamu pasti akan tahu."
"Persidangan William sebentar lagi, apa bisa setelah keputusan persidangan kamu menempatkan William ke Penjara Vip?" Pinta Alaris.
"Tidak Istriku, maaf. Kamu bisa meminta dunia dan isinya, tapi jangan berkomproni masalah William padaku." Kata Harry.
"Kalau begitu, jika..."
"Aku tidak bisa jika, seandainya, ataupun sesuatu yang lain. Aku sudah bilang tidak akan ada tempat nyaman lagi bagi William dan Roberto."
Alaris membuang nafasnya.
__ADS_1
"Jangan temui William lagi, itu akan menciutkan dirimu, dia pantas mendapatkan nya, itu tidak sebanding dengan apa yang pernah dia lakukan."
Alaris tertegun, inilah pertama kali wajah Harry sangat tegas pada dirinya.
"Aku menakutimu?" Harry mendadak memasang wajah cemas dan menyentuh wajah Alaris yang tertegun.
"Aku harus mandi." Kata Alaris menyingkirkan tangan Harry dari pipinya.
Harry kemudian melihat tangannya sendiri, yang di tolak oleh istrinya.
"Kamu menghindariku... Istriku..."
Alaris berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Harry meremas tangannya sendiri memikirkan apa yang sudah William katakan pada istrinya.
"Aku sudah membuatnya tidak bisa bergerak tapi aku kemalingan, itu adalah Jason, dia pergi menemui istriku untuk membuat Istriku memohon padaku agar meringankan derita mantan suaminya. Hebat sekali mereka menggunakan senjata melalui Alaris untuk mengaturku."
Harry berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, pria itu melepaskan celananya dan masuk ke dalam lalu memeluk Alaris yang masih berada di bawah guyuran shower air hangat.
Alaris terkejut seseorang memeluknya dari belakang.
"Ini aku." Kata Harry mengecup telinga Alaris.
Kemudian Alaris mematikan air shower, hendak pergi, Harry menahan bahu Alaris.
Harry mungkin salah paham pada Alaris, ia pergi bukan karena marah pada Harry. Wajah Alaris sudah merah padam, ia malu karena tiba-tiba Harry memeluknya dari belakang dan sekarang mereka dalam keadaan tanpa busana.
Harry masih memeluk dan membelai tubuh Alaris.
"Harry... Aku lapar..." Kata Alaris.
"Aku juga..." Kata Harry mencium bibir Alaris.
Alaris mendorong pelan kedua bahu Harry.
"Maksudku aku benar-benar lapar aku belum sarapan, tidak makan siang dan sekarang sudah sore." Kata Alaris.
Harry menarik diri dan kemudian tersenyum.
"Kalau begitu aku harus mandi pakai air dingin. Kamu mau makan di luar?" Tanya Harry.
Alaris mengangguk pelan.
Dengan berat hati, Harry melepaskan Alaris, bagaimana tidak, saat itu adalah moment pas untuk saling bermesraan, tubuh mereka sudah menanggalkan pakaian, namun ia tidak bisa memaksa Alaris, ia ingat Manager mengatakan Alaris datang dengan tubuh tidak fit dan wajah pucat.
Setelah Alaris keluar Harry menghidupkan kran, memutar nya, untuk mengganti air dingin, di bawah guyuran shower, Harry menahan diri dengan sesuatu di bawah sana yang sejak tadi sudah siap untuk bertarung.
__ADS_1
Sedangkan Alaris yang memakai handuk, merasakan jantungnya berdegup cepat, ia merasa bahwa tindakan Harry sangat mengejutkannya.
'Memang benar beberapa kali Harry memandikanku, tapi saat itu aku dalam keadaan setengah sadar dan lemah, aku tidak memikirkan hal lain selain menginginkan tubuhku segera bersih, tapi kali ini berbeda, aku sadar dan tidak pingsan, bagaimana dia bisa setenang itu, dan tidak gugup sama sekali.'
Alaris memakai baju yang sudah di siapkan oleh Brida, dan menunggu Harry, sedangkan Harry keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk, Alaris berusaha setenang mungkin melihat tubuh tegap yang telanjang itu.
'Aku sudah sering melihat nya telanjang, tapi kenapa jantungku masih saja berdegup, wajahku selalu merah melihat tubuh sempurna itu, astaga lihatlah, pinggang belakangnya. Begitu kuat dan kokoh, pantas saja pinggang ku selalu terasa ingin patah... Alaris! Kamu mesum.'
Harry memakai kemeja nya yang berwarna hitam, dari belakang otot-otot punggungnya terlihat kuat.
"Sayangku, kamu ngiler." Kata Harry tanpa berbalik.
Alaris dengan cepat menghapus mulutnya, dan itu tidak ada, kemudian ia mendelik pada Harry karena telah mempermainkannya.
Harry kemudian tertawa.
"Kamu bohong padaku saat di kamar mandi, sekarang kamu menginginkan tubuhku? Pandangan mu sangat menggodaku." Kata Harry.
'Dari mana dia tahu kalau aku memandanginya?'
"Kamu pasti bertanya-tanya dari mana aku tahu kamu memandangiku? Aku melihat mu dari pantulan layar tv, aku memilih posisi yang tepat, agar bisa melihatmu." Kata Harry berbalik dan mengedipkan mata sebelahnya.
Alaris dengan cepat mengambil bantal sofa dan menutupi wajahnya karena malu.
Tiba-tiba ia dikejutkan sesuatu yang telah mengangkat tubuhnya ke udara, itu adalah Harry.
"Ayo lakukan sekali, lalu kita makan?" Kata Harry.
"Ta... Ta...Pi..." Alaris gagap dan wajah nya merah.
"Aku ingin mencobanya tadi ketika kita mandi, aku berusaha sudah menahannya tapi pandangan dan tatapan mu barusan sangat berharap aku melahapmu, jangan salahkan aku, itu karena kamu selalu menggodaku Alaris."
Harry menaruh Alaris ke atas ranjang dan membuang kemejanya yang belum sempat ia kancingkan.
"Aku sudah berdandan." Kata Alaris.
"Aku akan memasakkan makanan terbaik untukmu."
Harry mencium bibir Alaris dan menaikkan salah satu kaki Alaris ke atas bahunya.
"Astaga." Alaris menutup mulutnya dan wajahnya, ia malu melihat Harry begitu bersemangat.
Senyuman nakal terpampang di wajah Harry, dan itu akan menjadi pertanda jika ia tidak akan segan membuat istrinya berteriak meminta lagi.
bersambung~
__ADS_1