
"Nyonya apa kita... Tidak salah lapas?" Bisik Brida di dekat Alaris.
"Kamu juga berfikir begitu?" Tanya Alaris tanpa melihat Brida, dan tetap memperhatikan bangunan lapas.
"Nyonya Alaris, mari ikuti saya." Kata Jason.
Mereka berjalan mengikuti Jason, kemudian Jason mengetuk pintu dan bertanya pada sang penjaga entah berbicara bagaimana, namun kemudian pintu di buka.
Alaris serta Brida masuk mengikuti Jason, suara sepatu mereka pelan namun masih bisa menggema, bangunan itu begitu gelap, meski lampu sudah dinyalakan, mereka hanya menggunakan bohlam kecil berwarna redup.
Jason membawa Alaris kesebuah ruangan, untungnya ruangan itu cukup terang, ada penyekat kaca antara si pengunjung dan si penghuni tahanan.
"Tunggu Nyonya petugas sedang memanggilkan Tuan William." Kata Jason.
Cukup lama Alaris hanya duduk di kursinya. Hingga Alaris cukup merasa, bahwa sia-sia ia datang. Hingga pikiran menyerangnya, untuk apa ia datang.
Alaris kemudian berdiri dan hendak pergi namun suara pintu dari seberang pun terbuka. Alaris menoleh.
Alaris kesusahan mengenali wajah William.
'Apakah itu William yang aku cari? Apa benar itu dia?'
Dada Alaris seolah berdesir sakit, jantungnya ingin meledak, darahnya menjadi seperti mendidih langsung mengalir ke otaknya.
'William adalah pria kuat yang tampan, Tuhan tolong jangan membuat ku takut.'
Pria itu terlihat kurus, bertubuh jangkung, memiliki rambut-rambut pendek di sekitar wajahnya terlihat tidak pernah di cukur, tentu saja yang paling menyita pikiran Alaris adalah kondisi tubuh dan kondisi fisik William.
Kedua mata William lebam, itu jelas karena pukulan yang keras, kedua mata yang lebam itu membengkak sangat besar.
Wajahnya pun hampir membengkak seluruhnya, penuh dengan luka dan bekas pukulan, memar di tubuhya pun sangat banyak.
Alaris meremas dadanya. Melihat William duduk Alaris perlahan ikut duduk, tatapannya tidak berkedip dan tidak berpaling dari William meski hanya sedetik.
Beberapa detik mereka hanya diam, William tidak mau menatap mata Alaris.
"William?" Panggil Alaris.
'Aku harus memastikan jika dia adalah William yang ku kenal, dari wajahnya seperti tidak asing, tapi karena banyaknya luka, dan kedua matanya yang bengkak dan membiru, itu membuat aku ragu, namun postur tubuh William di hadapanku jauh lebih kurus.'
Alaris memanggil William untuk memastikan pada dirinya sendiri jika itu adalah benar William yang ia kenal.
"Ya..." William menjawab dengan sedikit serak.
Kemudian William menatap mata Alaris, saat mata mereka beradu, ada goncangan hebat di dalam diri Alaris.
'Aku tidak kuat menatap William yang seperti ini.'
"Kamu datang? Jason yang memanggilmu?"
__ADS_1
Alaris mengangguk pelan.
"Bocah itu... Apa yang sudah ia lakukan sampai kamu mau mengunjungiku, apa dia berlutut?" Tanya William.
Alaris mengangguk pelan.
"Astaga... Bocah itu..." William tersenyum getir.
"Karena ini kah kamu menolak kunjungan?" Tanya Alaris.
Sejenak William diam dan menelan ludahnya pelan.
"Aku tidak ingin membuat Jason khawatir, dia akan bersikap impulsif jika tahu aku seperti ini. Bisa-bisa dia akan membakar penjara ini." Kata William.
"Tapi siapa yang telah melakukan ini padamu?" Tanya Alaris.
"Jika aku mengatakan itu adalah Harry apa kamu akan percaya?"
Alaris nampak terkejut dan tidak menjawab.
"Kamu tidak akan percaya kan? Karena Harry yang kamu kenal selalu bersikap manis dan lembut layaknya seperti wanita, dia pasti juga bersikap manja denganmu."
Alaris masih diam.
'Apa yang dikatakan William memang benar.'
"Kamu harus tahu fakta sebenarnya aku menceraikanmu Alaris."
"Tidak Alaris, dengarkan dulu."
"Axella mengandung anakku, karena dia memasukkan obat ke dalam minumanku, saat itu malam yang gelap, hujan badai, dan dia menabrak mobilku, aku menyelamatkannya, namun aku tidak tahu kenapa aku bisa menidurinya dan akhirnya aku terperangkap olehnya, dia mengandung anakku, untuk menjalankan rencanaku agar bisa terlepas dari Roberto aku butuh pewaris."
"William... Cukup... Aku mohon, aku tidak mau terlibat lagi dalam masalah itu. Aku kesini untuk menjengukmu."
William menghela nafas.
"Alaris ini mungkin terdengar konyol dan tidak tahu malu, tapi aku masih berharap kamu dapat kembali padaku, dan kami harus tahu bahwa kamu tidak akan aman di Negara Slyvedonia. Harry mengendalikan semua bandit, bahkan dia mengirim bandit Vernecia untuk menyiksaku di sini, jangan terlibat masalah dengan Harry. Jangan menyinggungnya Alaris. Jika perlu, pergilah sejauh mungkin dari Harry."
"Aku lebih tahu siapa suamiku William." Kata Alaris dingin.
"Ya... Pasti begitu, dia suamimu." Kata William tersenyum sinis.
"Aku akan membantumu agar kamu di pindahkan ke lapas VIP." Kata Alaris.
"Percuma, Presiden, para pejabat pemerintahan dan para penegak hukum, Negara Vernecia takut dengan Harry, para bandit datang ke istana kepresidenan dan mengancamnya."
"Aku akan bicara pada Harry." Kata Alaris.
William hanya diam.
__ADS_1
"Aku dengar, Gloria adik sepupu Jason menghilang." Tanya Alaris.
"Dia mungkin sudah mati seperti Greisy." Kata William.
"Apa?" Alaris terkejut. Meski tidak terlalu mengenalnya, namun Alaris tahu silsilah Jason, ia dari keluarga yang tidak terlalu kaya.
Jason bekerja keras untuk membantu seluruh keluarganya.
"Jason mengetahui jika ada pembunuh bayaran masuk ke dalam kamar Axella dan membawa kantung besar, Gloria terakhir kali kontak dengan Axella lalu menghilang, dengan sifat Axella yang sekarang aku pastikan dia telah membunuhnya entah apa motifnya. Aku dan Jason kesulitan melacak, kami kekurangan dana untuk mencari bukti."
Alaris diam, tentu saja dia dilema, satu sisi William lah yang paling tega menjadi orang yang sangat menyakitinya, dan sekarang ia tidak tega meski William pernah tega pada dirinya.
"Aku juga akan bicara pada Harry tentang bandit-bandit yang mengganggumu, jika itu benar Harry yang mengirimnya." Kata Alaris.
"Pikirkan saja dirimu Alaris, aku takut Harry akan menyakitimu jika kamu menolongku, aku masih sangat mencintaimu." Kata William.
"Iya." Kata Alaris.
'Dia tidak akan menyakitiku. Aku yakin Harry tidak akan menyakitiku.'
"Aku masih berharap kamu bisa memikirkannya Alaris, aku akan menceraikan Axella setelah anak itu lahir, aku akan berubah dan menjadi sosok yang kamu mau dan inginkan, meski sekarang aku seperti ini tidak pantas untukmu, tapi aku akan berusaha lebih keras."
"Pikirkan saja bagaimana kamu bisa keluar dari penjara, karena kasus yang kamu lakukan sangat serius, pikirkan keadaanmu sekarang itu jauh lebih penting." Kata Alaris.
'William setelah kamu masuk ke dalam penjara pun, kamu masih memikirkan hal ini? Semua jenis emosi, sedih, sakit hati, semua terasa aneh mengalir di dalam kepalaku dan dadaku.'
'Hubungan ku dan William sudah berakhir, tapi William tidak pernah mau mengakui itu, dia memaksa harus mendapatkan apa yang ia mau, ya itulah sifatnya, dulu ia memiliki kekuatan, memiliki power yang luar biasa, ketika ia menginginkan sesuatu ia harus mendapatkannya dan menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan semua yang menghalanginya.'
'Jika mengingat bagaimana perilaku dan tindakan William dengan Axella padaku saat itu, masih sangat terasa sakit dan tidak nyaman.'
'Tetapi alih-alih William bertobat atau memilih mundur. Tidak, dia justru ingin mengembalikan semua hal yang sudah pecah berkeping-keping, ia ingin menyatukan kaca yang sudah pecah, bahkan meski itu tidak mungkin'
'Aku dan William tidak akan bisa bersama lagi.'
'Aku sudah menikah dengan Harry.'
'Harry lah yang mengulurkan tangan kepadaku ketika aku sangat membutuhkan pertolongan, dia menyusup masuk ke dalam mansion menyelamatkanku saat aku di kurung oleh William. Harry pernah terluka di kepalanya saat dia membelaku.'
'Lalu, William ingin aku untuk meninggalkan Harry dan kembali ke sisinya? Itu tidak akan pernah terjadi.'
'Selain itu, bagaimana jika Axella melahirkan? Anak itu akan bersama William, dan William akan menceraikan Axella. Lalu kami akan merawat anak itu? Dan itu adalah sesuatu yang mustahil bagiku. Belum lagi aku akan mendapatkan amukan dari Axella, dia wanita impulsif yang naif.'
'Jika pun Axella dapat di atasi, lalu aku akan menjadi ibu tiri anak itu? Aku sangat tidak mau, apapun yang berhubungan dengan Axella aku membencinya.'
'Aku tidak ingin menderita karena anak itu, dan sebaliknya aku tidak mau membuat anak itu menderita karena memiliki ibu tiri sepertiku.'
'Aku tidak bisa mencintai seorang anak yang bahkan aku tidak ingin berada di dekatnya. Meskipun anak itu bukan dari Axella, akhirnya tetap sama.'
'Keaadaan ini tidak dapat dikembalikan lagi, William harus menerima kenyataan.'
__ADS_1
bersambung~