
Axella sampai di tempat biasa untuk bertemu dengan Reed, sesuai perjanjian jika Reed menyelesaikan pekerjaannya membunuh Greisy maka Axella akan memberikan sisa imbalannya.
Dan masih seperti biasa, Axella ada di dalam mobilnya melemparkan cek yang telah Leon berikan padanya.
Pria jangkung yang terlihat semakin lusuh itu menerima dengan tertawa. Reed semakin kurus dan wajahnya di tumbuhi oleh rambut-rambut yang tidak terawat.
Axella pun bergidik, ingatannya kembali pada saat Reed selalu menyiksa Axella di atas ranjang.
Seketika perutnya terasa mual. Axella kemudian mengelus perutnya yang semakin membesar.
"Kita pergi." Kata Axella pada sang sopir.
"Baik Nyonya."
Axella pun pergi menuju tempat lain, mobil melaju dengan kecepatan normal, setelah kurang dari satu jam mobil itu masuk ke dalam dalam bassment dan terparkir di sana, Axella keluar menggunakan kacamata hitam dan mantel besar, ia lalu naik menggunakan lift, dan gedung yang megah itu adalah apartmen Emperor.
Ting!
Pintu Lift terbuka dan langsung menuju apartmen seorang pria yang sudah menunggunya.
Sosok pria tampan dengan kemeja putih sedikit berantakan membuat Axella jantung berdegup. Kulit putih dan leher yang mulus membuat Axella semakin terpesona.
"Aku rindu padamu Leon." Axella berlari dan memeluk pria itu.
Pria itu tersenyum getir dan memeluk Axella.
"Ayo duduk."
Axella berjalan perlahan, perutnya sudah semakin terlihat besar.
"Mau minum?" Tanya Leon.
Axella menggeleng dan mengeluarkan stempel perusahaan milik Liam Grup.
"Astaga, kamu wanita jenius. Bagaimana kamu mendapatkannya?" Leon duduk di samping Axella dan mengambil kotak kecil yang berisi stempel berlambangkan marga Liam Grup tersebut.
Pria itu memandangi dan memperhatikan setiap detailnya dengan sangat akurat.
"Saat kamu menghubungi ku pagi tadi dan bilang akan mematikan cctv beberapa menit, aku langsung masuk ke dalam ruangan William. Kebetulan William juga sudah pergi." Kata Axella.
"Kamu memang sangat berani." Leon tersenyum lebar.
"Apa kamu benar-benar akan membuat Aldawn menjadi milikku? Karena ternyata apa yang kamu katakan semuanya benar. William menunda pemindahan aset milik Alaris padaku entah sampai kapan." Axella cemberut dan terlihat sedih.
"Kamu serahkan saja dan percayakan semuanya padaku." Kata Leon.
Axella kemudian mengulurkan kedua tangannya pada tengkuk leher Leon, dan mendekatkan wajahnya.
"Apa aku boleh menciummu? Kamu sangat tampan." Bisik Axella.
"Aaah..." Leon nampak terkejut dan wajahnya berubah pucat.
"Kamu tidak mau? Kita.... Sudah menjadi sepasang kekasih dan belum pernah melakukan ciuman." Kata Axella.
"Bo...leh..." Kata Leon.
__ADS_1
Kemudian Axella semakin mendekatkan bibirnya pada Leon, dan melahap perlahan bibir sexy milik Leon. Setelah beberapa menit, Axella mundur dengan raut wajah kecewa.
"Kamu hanya diam saja, seperti patung, apa kamu tidak tulus denganku." Kata Axella dengan menggerutu.
Leon kemudian mengambil pipi Axella dengan kedua telapak tangannya, dan mengambil nafas panjang, lalu mencium Axella, melumatt dengan lembut dan perlahan hingga Axella merangkul kan kembali kedua tangannya pada Leon.
Semakin lama Axella semakin panas dan meminta lebih, ia menempelkan tubuhnya dan semakin merasa gelisah.
"Cu... Cukup..." Kata Leon menahan.
"Kenapa?" Tanya Axella polos.
"Sebaiknya pelan-pelan."
"Sudah beberapa hari William tidak menyentuhku, dan sudah sejak lama aku penasaran padamu, kamu memiliki daya pikat yang sangat luar biasa Leon." Kata Axella.
"Eghem... Aku harus memindahkan aset Aldawn kan, kamu tidak ingin segera menjadi Nyonya yang paling kaya?" Tanya Leon.
"Benar juga, pekerjaanmu pasti sangat banyak."
"Iya, sangat banyak dan butuh waktu beberapa hari membuat dokumennya." Kata Leon.
"Baiklah aku tidak akan mengganggumu, tapi janji kita akan bertemu lagi." Kata Axella.
"Iya." Kata Leon tersenyum.
Kemudian Axella perlahan melangkah pergi, dan wanita itu masuk ke dalam lift namun sebelum itu Axella memeluk Leon lebih dulu dan mengecup bibir Leon, lalu masuk ke dalam lift sembari melambai kan tangan hingga pintu lift menutup.
Setelah di rasa Axella sudah pergi, Leon langsung menuju kamar mandi.
"Howeekk....!"
"Ha... Ha... Ha..." Dari belakang Zoland tertawa puas.
Leon mengambil sikat gigi dan menggosok gigi nya lalu membasuh wajahnya berulang kali.
Tubuh Leon kemudian lemas dan merosot di dekat wastafel.
Zoland kemudian hendak memapah Leon namun dengan lemas Leon menepisnya. Mata tajam Leon menatap Zoland penuh dendam.
"Oke... Oke... Maaf kan saya Tuan Leon. Mari saya bantu." Kata Zoland.
"Bagaimana jika kita tukar posisi. Ini terlalu menjijikkan untukku."
"Sayangnya saya lebih suka menjadi pekerja Tuan Harry yang tidak pernah tidur dan tidak memiliki libur daripada harus mencium wanita itu." Kata Zoland menahan tawa.
"Harry sialan!" Kata Leon.
"Sepertinya kalian memang sangat saling menyayangi." Kata Zoland.
"Aku sangat membencinya, lihat saja jika aku kembali ke Negara Slyvedonia, aku akan membunuhnya."
Zoland memapah Leon dan duduk di atas sofa. Desahaan panjang membuat dada Leon naik dan turun.
Zoland mengambil stempel Liam Grup dan memandanginya.
__ADS_1
"Kita harus segera kembali sebelum mereka menyadarinya."
"Jika bukan Harry, aku tidak akan mau menjerat wanita iblis seperti dia."
"Bukan hanya iblis tapi juga sangat kotor." Kata Zoland meremas stempel tersebut.
"Apa sudah diambil fotonya? Aku tidak mau menciumnya lagi."
"Astaga...." Wajah Zoland terkejut.
"Badjing...."
Belum sempat Leon melontarkan kalimat umpatan dan menyerang Zoland dengan pukulan, Zoland sudah menunjukkan foto Leon ketika sedang berciuman dengan Axella.
"Dan juga videonya Tuan." Zoland tersenyum sinis.
"Kita kembali sekarang!" Kata Leon.
Sekembalinya ke negara Slyvedonia, Leon berulang kali masih merasakn mual di perutnya.
Begitupun saat makan malam, Leon benar-benar tidak memiliki nafsu makan dan hanya ada di dalam kamarnya.
"Ada apa dengan Leon, sekembalinya dari Negara Vernecia dia seperti kurang sehat, wajahnya pucat, sekarang juga dia tidak mau makan." Tanya Alaris.
Zoland hanya diam tak menjawab.
"Saya akan membawakan makanan untuknya." Kata Brida.
"Itu ide bagus, berikan juga obat sakit perut untuk Leon." Kata Harry.
"Apa Leon sakit?" Tanya Alaris.
"Kamu mengkhawatirkan siapa? Dia sudah dewasa dan bisa menjaga tubuhnya sendiri dengan baik, itu hanya mabuk perjalanan." Kata Harry.
"Alaris kamu membuat singa yang sedang makan dengan jinak menjadi mengaum." Kata Hector.
Alaris mengernyitkan alisnya, benar-benar tidak paham kenapa setiap ia membahas Leon semua orang tidak suka. Terlebih Harry.
Brida yang membawa makanan untuk Leon perlahan mengetuk pintu.
"Tuan Leon saya membawakan makanan untuk anda, dan obat."
Namun merasa tidak ada jawaban hingga beberapa menit Brida memberanikan masuk, dengan membawa nampan.
Dilihatnya ranjang yang kosong, Brida menaruh nampannya di atas meja, dan memanggil.
"Tuan Leon saya taruh makanannya di atas meja." Kata Brida.
Tak berapa lama tangan besar menyentuh bahu Brida dari belakang."
"Astaga!" Brida mundur dan meremas kemejan nya karena terkejut.
Melihat pertahanan diri Brida yang sponta meremas kemaja membuat Leon maju dan bertanya.
"Apa kamu pernah mencium atau berhubungan dengan pria?" Tanya Leon yang sedang memegangi perutnya.
__ADS_1
Wajah Leon begitu pucat dan payah, pria itu menahan diri agar tidak muntah.
bersambung~