Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
HARRY YANG SULIT UNTUK DI PUASKAN


__ADS_3

Setelah hari itu, ketika Dokter Arthur mengatakan, jika Alaris mengandung dan Harry harus menahan diri agar tidak melakukan hubungan intim dulu pada trimester awal, dan setelah hari persidangan keputusan hukuman untuk William entah mengapa, semuanya menjadi sunyi dan tenang. Waktu pun di rasa berlalu sangat lambat.


Sepulang dari persidangan itu, Arthur memeriksa kondisi Alaris di apartmen Emperor dan semua dinyatakan sehat.


Malam itu mungkin karena situasinya, dan atmosfernya jauh lebih menenangkan, sikap Harry pun tidak terlalu aktif.


Harry hanya memeluk Alaris dengan erat bahkan ketika itu mereka sedang berbaring di kamar tidur bersama.


'Iblis nakal ini, yang matanya selalu penuh gairah jika memandangku , tidak biasanya berperilaku sangat diam dan penurut seperti ini.'


Kemudian tangan Harry mengelus perut Alaris hingga tak berapa lama mata Alaris di terjang rasa kantuk meski itu tak terlalu berat namun bisa membuatnya tertidur dalam pelukan dan dekapan Harry.


Saat itu, waktu menunjukkan belum benar-benar malam, Alaris kembali terbangun, Harry masih di sampingnya setia memeluk Alaris, kemudian Alaris mendongak dan melihat wajah Harry, dari bawah.


'Kenapa bulu matanya begitu panjang dan lebar. Lalu hidung nya juga mancung sekali apa dia dulu pinochio?' Alaris memegang hidung dan bibir Harry dengan jemarinya.


Dengan sikap Harry yang diam dan penurut makin lama semakin membuat Alaris bosan.


'Aku cemas, dia benar-benar sangat tenang. Pasti sulit bagi seorang pria yang cerewet untuk tutup mulut. Ada apa dengan mu Harry?'


'Aku mengaguminya, tapi sikapnya ini membuatku rindu segala tingkahnya yang selalu menggemaskan.'


Alaris kembali mengulurkan tangannya dan membelai rambut Harry, dan tangan Alaris mulai nakal melepaskan simpul piyama milik Harry, kemudian membuka piyama Harry dan meletakkan telinganya di dada Harry.


'Detak jantungnya terdengar menenangkan, aku suka mendengarnya, ini seperti irama musik yang menghilangkan semua kecemasanku tentang persidangan tadi pagi.'


'Jika di pikir-pikir lagi, aku menjadi sadar sejak kapan kira-kira pria ini mulai sangat berarti bagiku? Tanpa aku sadari, ternyata cintaku menjadi berkembang dan mekar.'


'Dan aku mulai memikirkan hal-hal mengerikan, aku takut, apakah besok dan besok nya lagi lalu sampai pada waktu kapan kita akan saling mencintai, apakah kelak ketika kita berbaring di atas ranjang ini, perasaan kita masih saling mencintai? Ataukah kamu akan seperti William? Membawa istri baru lagi? Tidak! Aku yakin Harry bukan seperti William.'


Alaris meletakkan telapak tangannya di dada suaminya dan mencium dada suaminya dengan lembut.


"Istriku, sayangku, permataku, Apakah kamu ingin membunuhku?"


"Ha... Harry? Kamu bangun?"


"Astaga…"


Harry mendesahh kan nafasnya dan mengerangg pelan, kemudian mencium dahi Alaris hingga berbunyi Cupp. Ciuman itu sangat mesra dan hangat.


Pada saat itu Alaris menyadari bahwa ia telah banyak meraba-raba tubuh Harry, apalagi ia baru sadar jika telah membuat Harry telanjang.


"Harry, aku... Aku terbawa suasana, sepanjang malam, setelah pulang dari persidangan kamu hanya diam dan menurut, tidak banyak bicara dan seperti menjaga sikap penuh kehati-hatian padaku."


"Istriku... Bagaimana bisa kamu sangat kejam." Kata Harry cemberut.


"Maksudnya?"


"Aku akan tidur di ruang tamu, bagaimana aku bisa tahan jika kamu terus merangsanggku." Kata Harry memprotes.


"Itu karena sepanjang hari kamu hanya diam."

__ADS_1


"Aku seperti itu karena khawatir pada istriku ini, aku tidak ingin membuat mood mu menjadi tidak bagus, apalagi setelah menghadiri persidangan perasaanmu pasti tidak nyaman dan tidak mengenakkan, aku takut salah bicara dan membuatmu marah." Kata Harry.


Alaris tersenyum.


"Istriku, senyumanmu sangat indah, apa ada yang lucu?"


"Kamu." Kata Alaris.


"Ya?" Tanya Harry mengangkat alisnya.


"Kamu lucu." Kata Alaris.


"Aku lucu?"


"Sudahlah kamu juga tidak akan mengerti." Kata Alaris.


"Tapi Istri, bagaimana kamu akan bertanggung jawab padaku?" Tanya Harry.


"Bertanggung jawab tentang apa?"


Harry menunjukkan sesuatu dengan matanya, ia melihat ke arah bawah.


Alaris mengikuti kemana arah mata suaminya.


Sesuatu di bawah sana sudah mengeras dan membuat Alaris menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Istriku, kamu benar-benar menyiksaku, dan ingin membunuhku, Arthur mengatakan aku harus menahan diri, tapi bagaimana aku bisa tahan jika kamu menggodaku seperti ini, kamu ingin aku mati Istriku?" Tanya Harry.


"Aku tidak tahu, dan tidak sengaja." Kata Alaris di balik kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya.


"Bagaimana aku tahu, aku tidak sengaja...." Kata Alaris merasa bersalah. Wajahnya juga merah.


Harry kemudian mengambil satu bantal dan hendak pergi, ia duduk di tepi ranjang dan akan beranjak.


Namun Alaris memeluk tubuh Harry dari belakang.


Harry tersenyum tipis, senyuman itu sangat nakal, perilakunya hanyalah untuk menggoda Alaris dan ingin melihat bagaimana sikap sang istri.


"Kamu ingin pisah ranjang?" Tanya Alaris sedih.


Harry mendesahkan nafasnya perlahan.


"Aku tidak mau." Kata Alaris lagi mengiba.


"Aku janji akan tidur dengan tenang dan tidak menggodamu."


Harry masih diam.


"Kamu marah?" Alaris menaruh dagunya di punggung Harry dan melihat wajah Harry.


"Astaga, kamu bilang tidak ingin menggodaku, tapi setiap tingkahmu ini selalu mendorongku untuk semangat memakanmu Istriku." Kata Harry frustasi.

__ADS_1


"Kalau begitu bagaimana jika kamu melakukannya dengan pelan?"


Tidak, aku tidak mau menyakiti mu dan menyakiti anak-anak kita." Kata Harry.


"Sudahlah mari kita tidur dan jangan bergerak dulu."


"Aku akan menjadi patung." Kata Alaris.


Harry tersenyum geli, dan mengurungkan niatnya ia kembali memeluk Alaris.


Mereka kembali memejamkan mata, Alaris tidur dalam dekapan Harry hingga seolah tubuh Alaris tidak nampak dan hanya punuk kepalanya saja yang terlihat.


Setelah beberapa lama, Alaris benar-benar sudah terlelap, Harry membenarkan selimut istrinya dan mencium kening sang istri.


"Bagaimana aku bisa marah padamu Istriku."


Harry tersenyum dan membelai kepala Alaris lembut, kemudian ia pergi menuju kamar mandi dan mandi dengan air dingin.


Cukup lama Harry hanya berdiri di bawah shower air dingin yang menyiram dari atas kepala hingga ujung kaki.


Setelah di rasa panas di tubuh Harry berubah menjadi dingin, ia memakai handuk kimononya dan pergi keluar.


Harry mengambil ponselnya dan keluar dari kamar. Pria itu menghubungi seseorang.


"Temui aku." Kata Harry.


Tidak menunggu lama Leon datang, lalu duduk di sofa.


Harry masih berdiri memandangi cahaya-cahaya lampu yang terpancar dari gedung-gedung di bawah kakinya. Lampu-lampu mobil dan lampu-lampu jalanan yang kecil terlihat menyatu seolah menjadi satu garis lurus.


"Ku dengar Roberto ada di pemukiman kumuh, dia bersembunyi di sana." Kata Leon yang duduk menyilangkan kakinya dengan santai mengayunkannya pelan.


"Kamu tahu kan, aku sudah tidak ikut campur masalah ini, aku menyerahkannya padamu." Kata Harry.


Leon tersenyum.


"Tapi... Kamu juga tahu, bagaimana cara memuaskanku dengan caramu." Kata Harry.


"Yaaaah..."


"Hukuman seumur hidup dan tanpa sesuatu yang menyenangkan sama saja membiarkan tikus makan dengan enak." Kata Harry.


"Sulit sekali menyenangkanmu, dan membuatmu puas. Baiklah, aku akan mengusik William selama di penjara, dan akan membuatnya depresi." Kata Leon tertawa pendek.


"Lalu untuk Roberto, aku tidak mau dia mati dengan mudah. Aku membiarkannya untuk hidup di dunia ini. Kamu paham?"


"Ya, aku paham, membuatnya hidup lama untuk di siksa bukan." Kata Leon.


"Yang paling penting juga kamu sudah tahu." Kata Harry.


"Ya, aku mengerti aku akan mengerjakannya dengan rapi hingga kabar tentang William bahkan tidak pernah sampai di telinga istrimu, sedikitpun, aku akan membuat kabar tentang keadaan William lenyap di telinga istrimu. Kamu puas?"

__ADS_1


Harry kembali memandangi malam yang di hiasi gedung-gedung pencakar langit di bawah sana. Dia selalu tahu bahwa Leon dan Zoland adalah orang yang paling tahu bagaimana membuatnya puas dengan pekerjaan mereka.


bersambung~


__ADS_2