
"Hey...!!! Kamu semakin memiliki otot." Kata salah satu pria.
"Setiap hari aku ikut kakakku gym." Kata pria itu.
"Eh... Kalian tahu ada siswa pindahan, katanya sangat tampan."
"Ya, aku lihat, para gadis mengejar-ngejar dia sepanjang hari ini."
"Dia satu kelas denganku, memang terlihat tampan, tapi semua siswi berkata Chia masih lebih tampan."
"Aku heran, Chia sangat tomboy, apa dia menyukai sejenis wanita? Dia itu wanita tapi berpakaian seperti laki-laki."
"Tapi, aku yakin jika dia di dandani seperti wanita, dia akan sangat cantik, jika dilihat-lihat dia cantik dan tampan dalam satu wajah."
"Aku iri dengan Chia, dia bisa mendapatkan hidupnya, apa yang dia mau, seperti berdandan dan bertingkah seperti laki-laki, sedangkan aku? Lihatlah, setelah ini aku harus datang ke tempat les renang, dan les akademik, astaga orang tua ku memang monster." Kata pria itu.
"Tepat, sekali para orang tua selalu menaruh ambisi mereka di pundak kita, ingin kita menjadi yang terbaik dan bisa masuk ke dalam lingkungan bangsawan, orang tua kita juga dengan rendah nya menjilat ke sana ke mari, sangat memuakkan sekali hidup ini, andaikan aku bisa seperti Chia, bebas dan memilih apapun yang ku mau." Kata pria satunya lagi.
"Sudahlah ayo. Solusinya, bagaimana jika kita menikahi wanita bangsawan. Selain hiduo kita enak, kita juga bisa bergantung pada nya."
"Hahaha... Itu ide bagus. Ayo."
Kemudian semua anggota club basket mengambil tas mereka dan pergi meninggalkan ruangan ganti pria.
Setelah sepi Chia menghembuskan nasfasnya lega, tubuhnya yang tegang mendadak mengendur, dan Zadith yang sudah daritadi merasakan ketegangan di seluruh tubuhnya bahkan yang ada di bawah sana pun mundur dengan perlahan.
"Astaga, ini sangat menyiksa." Zadith membenarkan rambutnya dan mengambil kaos dari tasnya.
Chia melihat Zadith memakai kaos itu, punggung belakangnya terlihat otot-otot yang kencang ketika pria itu memakai kaosnya.
Sepersekian detik membuat Chia melongo, dan terpesona.
"Tolong pakailah bajumu?" Kata Zadith yang belum berbalik.
"Ah... Ya."
Kemudian Chia pun memakai bajunya, mereka keluar dari ruangan ganti dan berjalan ke arah gerbang sekolah.
Saat itu, sekolah sudah agak sepi, hanya beberapa siswa lalu lalang, mereka biasanya hanya ingin menghabiskan waktu di sekolah saja.
Saat itu arah rumah Zadith dan Chia berlainan.
"Kamu ke arah mana." Tanya Zadith.
"Sana." Kata Chia.
"Aku kesana." Kata Zadith.
"Baiklah, sampai jumpa." Kata Chia.
"Tunggu..." Kata Zadith.
"Namamu Chia kan." Kata Zadith.
"Ya, seperti yang selalu kamu dengar mereka memanggilku Chia."
"Maaf ya, karena sudah membuatmu kesal." Kata Zadith.
"Aku juga minta maaf, karena sudah marah, dan terimakasih sudah melindungiku, pokoknya tadi itu... Makasih banyak ya..." Kata Chia.
"Tapi, semua anak perempuan di sini sangat agresif." Kata Zadith.
__ADS_1
"Ya, selain aku, aku tidak dan bukan dari bagian mereka." Kata Chia.
Zadith mengangguk.
"Kamu pasti risih ya, kalau aku sudah terbiasa awalnya memang sangat menganggu, tapi lama-lama aku selalu bisa menghindari dia, jika kamu ingin menghindari para siswi agresif belajarlah dari ku." Kata Chia.
"Tapi... Pertama kali, aku melihatmu, sepertinya aku yang memang memiliki gangguan, karena aku menganggapmu sangat tamlan dan cantik, aku pikir aku yang telah memiliki gangguan, tapi ternyata kamu adalah perempuan, syukurlah aku masih sehat." Kata Zadith tersenyum getir.
"Astaga, kamu mulai lagi." Kata Chia cemberut.
"Oke... Oke.. Maafkan aku, kalau begitu aku akan pulang. Apa kamu tidak ada yang menjemput?" Tanya Zadith.
Chia menggeleng.
"Aku lebih suka naik bis." Kata Chia.
"Oke, hati-hati." Kata Zadith.
Chia diam dan kemudian tersenyum.
"Oke!" Kata Chia mengedipkan satu matanya dan kemudian melambai.
"Daah ya~"
Kemudian Chia berbalik dan berlari.
"Dia energik." Kata Zadith.
******
Zadith sampai di apartmennya, itu apartmen yang tidak terlalu besar, bisa di katakan kecil tapi juga cukup untuk di tinggali satu orang.
Setelah mandi Zadith berbaring di atas ranjangnya yang juga tidak terlalu besar, itu ranjang berukuran single dan tidak terlalu empuk.
Saat Zadith menutup matanya, ingatannya hanyalah bagaimana saat ia berada di dalam almari bersama Chia.
Wanginya, bahu kurusnya, benar-bebar ingin sekali Zadith memeluknya lagi, ingin sekali Zadith mencium bahu Chia. Bahkan ingin ia merasakan tubuh Chia.
"Aku... Harus mandi lagi." Kata Zadith dan kembali mengambil handuk dan pergi mandi lagi.
"Sialan, sebelumnya banyak wanita telanjang di depanku tapi aku tidak bergairah, ada apa denganku." Kata Zadith
Sedangkan di tempat lain, Chia sudah sampai di kastil seperti biasa, ia menaiki bus dan di jalan tepat nya memasuki lahan kastil Chia akan di jemput oleh pengawal menggunakan mobil.
Sampai di kastil Chia melemparkan tas nya dan menemui ibunya yang masih terbaring koma.
"Ibu... Aku mau cerita..." Kata Chia memeluk sang ibu.
"Hari ini mendebarkan sekali, Chia marah dan kesal, tapi aneh nya Chia bahagia." Kata Chia tertawa.
"Ibu... Baru kali ini Chia merasakan sangat bahagia. Kenapa ya?" Tanya Chia tertawa.
Saat Chia memeluk dan mencium tangan ibunya, tiba-tiba salah satu jari ibunya bergerak pelan.
"Eh..." Chia dengan cepat merubah ekspresi wajahnya.
"Apakah aku halusinasi?"
"Ibu? Apa baru saja ibu menggerakkan jari?" Tanya Chia.
"Ibu?" Kata Chia berharap.
__ADS_1
Kali ini jika itu hanya halusinasinya lagi, mungkin Chia benar-benar patah harapan, ia selalu merasa ibunya menggerakkan jarinya, terakhir kali saat Chia juga menangis karena bercerita ketika ia merasakan tekanan yang kuat saat masih kecil dan selalu di banding-bandingkan dengan kakakknya, seolah jari ibunya juga bergerak.
Namun, ketika di amati lagi, dan Chia memanggil lagi, ibunya tetap diam, hingga ia sudah berlari memanggil kakak dan ayah nya.
Hingga Dokter Arthur juga mengeceknya, ibunya tetap diam.
"Pasti hanya halusinasi lagi." Kata Chia sedih.
Tapi, saat Chia sedih dan melihat jari ibunya yang lentik dan putih, jari itu bergerak lagi.
"Eh... Mata ku sudah tidak normal." Chia menggosok-gosok matanya berkali-kali.
Kemudian jari lain juga bergerak.
"A... Ayah... Kak Eugene... Kak Elouan..." Kata Chia gagap dan dengan suara rendah.
"Ib.. Ibu... Gerakkan jari lagi, jjka ibu mendengar Chia.. Ibu.. Aku Chia... Anak ibu..." Teriak Chia menangis di samping ibunya.
Kemudian Jari Alaris bergerak lagi, meski itu pelan tapi itu memang sebuah gerakan.
Chia berlari keluar dari ruangan ibunya, dan mencari kakaknya.
"Kakak... Kakak...!!!"
Saat itu Eugene, sedang melakukan rapat dengan seorang pangeran dari negara Arab. Eugene memang berusia 17 tahun tapi dia sudah mahir membantu ayanhnya dalam urusan diplomatik dengan antar negara.
Chia langsung masuk ke dalam ruangan dan melihat kakaknya terkejut.
"Chia..." Kata Eugene.
"Maaf, dia adalah adik saya." Kata Eugene.
"Tidak apa-apa, saya mengerti, seorang adik perempuan terkadang seperti itu." Kata sang pangeran.
"Kakak.. Ibu.. Ibu menggerakkan jarinya lagi." Kata Chia.
Ini adalah yang ke 5 kalinya Chia mengatakan itu, meski Eugene merasa ragu tapi dia tetap pergi menemui sang ibu.
"Pangeran Altaf, saya mohon maaf, tapi ibu saya sudah koma selama 17 tahun, saya harus melihat kondisinya." Kata Eugene dengan sangat sopan.
"Tidak apa-apa."
"Eduardo akan mengantar anda, mohon maafkan saya." Kata Eugene lagi.
Altaf tersenyum.
Kemudian Eugene pergi bersama Chia ke kamar sang ibu.
Saat itu Chia tahu, bahwa Eugene ragu padanya, meski Eugene tidak menunjukkannya tapi Chia tahu.
"Kakak tidak percaya padaku kan!" Kata Chia berhenti di tengah koridor.
Eugene tertegun.
"Kakak pasti akan menganggap ku berhalusinasi, karena ini adalah yang ke 5 kalinya, dan setelah dokter Arthur memeriksa, ternyata Ibu masih sama." Kata Chia sedih menunduk.
"Kalian pasti tidak percaya padaku, bahkan ayah akan begitu sedih menerima kenyataan jika ibu masih sama." Kata Chia lagi.
Eugene tertegun dan terkejut melihat sikap Chia yang seperti itu. Meski Chia sangat ceroboh dan sangat urakan, tapi sebenarnya Chia juga pasti bisa merasakan nya, bahwa kakak-kakaknya dan ayahnya seperti sudah kehilangan harapan.
bersambung~
__ADS_1