Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
PERNIKAHAN YANG MENJADI BAHAN TERTAWAAN


__ADS_3

Hari ini adalah pesta pernikahan William dan Axella akan di selenggarakan.


Pesta yang di persiapkan dengan terburu-buru dan juga di buat dengan megah itu membuat semua orang berdecak. Bahkan pernikahan William dan Alaris saat itu tidak semewah ini.


Puluhan mobil-mobil mewah seperti Bugatti terjajar rapi untuk mengantarkan sang pengantin menuju Mansion The Kingham. Semua tamu akan mengikuti para pengantin dan ikut mengarak pengantin sepanjang jalan ibu kota hingga menuju Mansion The Kingham.


Gedung megah itu terletak di tengah kota Negara Vernecia, jantung nya Negara Vernecia.


Gedung yang menjulang tinggi hingga mengalahkan tower tertinggi.


Axella meremas kedua tangannya yang dingin, ia sangat khawatir, apalagi Axella memghubungi Leon untuk meminta menenangkannya namun ponsel Leon selalu mati.


"Nyonya apa anda baik-baik saja."


"Aku hanya khawatir apakah pernikahan ku akan lancar, apakah Alaris akan menghancurkan pernikahanku, dan merebut William lagi, ataukah Alaris dan Harry sedang mengatur rencana agar pernikahanku batal."


Axella memikirkan itu semua membuat perutnya terasa mulas.


"Nyonya anda harus tenang atau akan mempengaruhi kehamilan anda. Semua pengawal sudah berjaga dengan ketat, anda tidak perlu memikirkan yang sudah menjadi pekerjaan mereka."


"Tapi, pertahanan dan penjagaan yang di miliki William tidak sebagus milik Harry." Kata Axella mulai membandingkan.


"Semua akan berjalan lancar Nyonya. Berdoa lah."


"Berdoa? Aku percaya pada kekuatan dan keyakinan yang manusia ciptakan sendiri."


Mendengar kalimat Axella sang pelayan menutup mulutnya, bagaimana Axella bisa berkata seperti itu bahkan ketika dia sedang mengandung.


Seharusnya ketika wanuta mengandung seorang bayi, tingkah, perilaku, dan mulut serta hati harus selalu bersih agar anak yang mereka kandung selalu sehat dan selamat.


Tak berapa lama, Axella di panggil oleh Jason, itu adalah waktunya ia keluar.


Jason menggandeng Axella lebih dulu, dan membawanya keluar dari ruangan untuk bertemu dengan William yang sudah menunggu di depan Altar.


"Maaf nyonya, saya yang akan mengantar."


"Tidak apa-apa Jason, kamu juga sudah seperti kakak bagiku, karena aku juga tidak memiliki keluarga, begini saja aku sudah senang, terimakasih Jason." Kata Axella tersenyum.


Pintu akhirnya di buka dan Jason perlahan membawa Axella pada William.


Seketika semua tamu yang hadir tercengang dan saling berbisik, suara bisikan itu menjadi satu hingga menjadi seperti lautan gemuruh.


William pun memijat pelipisnya. Semua kalimat bisik-bisik para undangan di dengar oleh William.


"Kenapa seperti badut..."


"Astaga, aku ingin tertawa terbahak-bahak agar perutku tidak sakit karena menahannya."


"Apakah itu gaun pengantin yang benar? Kenapa lengannya menggembung besar sekali seperti ikan buntal? Pfft...."

__ADS_1


"Ya tuhan, dia yang menikah dan memakai gaun itu kenapa aku yang malu..."


"Siapa yang menjadi juru make upnya, kenapa sangat tebal..."


"Astaga gaun itu terlihat sangat berat, dan terlalu banyak kain..."


Brida hampir saja tersedak dengan nafasnya sendiri. Leon menepuk-nepuk punggung Brida dengan lembut, dan wajah Leon serta Brida sangat dekat, apalagi sikap Leon begitu lembut dan perhatian.


Mata Axella melihat tindakan Leon yang begitu baik pada Brida, membuat bara api di dalam dadanya pun menyala, William melihat itu, bagaimana Axella fokus melihat Leon.


Alaris juga tidak bisa memalingkan pandangannya dari gaun yang di pakai Axella.


"Apakah tidak ada yang memberitahunya. Desainer harusnya lebih bisa kompeten."


"Mungkin itu yang dia mau." Kata Harry.


Mata Axella tidak bisa lepas dari pandangannya pada Leon, bagaimana Leon sekarang memijit-mijit bahu Brida dengan lembut.


Brida masih terbatuk-batuk pelan. Wajahnya memerah. Axella berfikir Brida sedang menertawainya.


Karena terlalu fokus, gaun juga terlalu berat, gaun itu terlilit di kaki Axella dan wanita itu jatuh menimpa Jason, buketnya pun terlembar dan terbang di pangkuan Alaris.


Semua orang semakin gencar mencemoh dan menghina Axella.


William merasa sangat malu, namun ia harus menyelamatkan reputasi Axella yang pasti akan lebih malu lagi jika William tidak datang.


Pria itu kemudian datang membantu Axella berdiri.


"Tidak apa-apa, terimakasih Jason."


Axella memasang wajah sedih dan ingin menangis karena cemohan para undangan semakin ia dengar.


"Makeupnya jelek.."


"Kenapa dia lebih seperti wanita tua..."


"Astaga, kenapa William meninggalkan Alaris yang cantiknya seperti malaikat dan menikahi nenek renta itu..."


William memapah pelan Axella.


"Jangan memangis." Kata William.


Namun, Axella tidak bisa menahan dirinya yang malu dengan semua cemohan, air matanya semakin berlinang.


"Aku bilang jangan menangis." Kata William lagi.


Kemudian Alaris yang hendak memberikan buket bunganya di hentikan oleh Harry, pria itu melihat pada Zoland, kemudian Zoland mengambil buket itu dari tangan Alaris dan memberikan nya pada Axella.


William dan Harry saling menatap. Kemudian Harry tersenyum lebar. Namun senyuman lebar itu nampak tidak tulus.

__ADS_1


William kembali melangkah bersama Axella dan berdiri berdampingan.


Pernikahan berjalan dengan mulus meski setelah itu, banyak yang tertawa cekikikan.


Setelah pernikahan dan janji ikrar mereka terucap, para pengantin di arak menuju Mansion The Kingham diikuti oleh para undangan yang menggunakan mobil-mobil berurutan.


Alaris melihat dan membayangkan kembali, bahwa dulu ia juga seperti itu. Harry memeluk Alaris dan menyadarkannya, bahwa sekarang yang hafus Alaris fikirkan hanya dirinya.


"Cukup pikirkan tentang kita dan jangan pikirkan hal lain." Bisik Harry sembari telapak tangannya menutup kedua mata Alaris.


Kecupan mesra mendarat tepat di bibir Alaris, dan itu membuat hati Alaris tenang serta damai.


'Bagaimana bisa Harry selalu tahubapa yangbsedang ku pikirkan.'


Dulu, pertama kalinya melihat Mansion The Kingham, Alaris berdecak kagum bahwa itu adalah satu-satunya bangunan termewah dan termegah.


Namun setelah melihat Kastil Emperor, dia yakin, jika di atas langit masih ada langit, dan itu juga yang bisa ia simpulkan.


Diatas Liam Grup masih ada Emperor Grup.


Alaris kemudian memeluk lengan kekar Harry, dan membuat Harry merasa senang.


Suasana pesta sudah semakin ramai, terlihat Axella duduk di kursinya dan William pergi menemui para tamu.


'William meninggalkan Axella, wanita itu duduk sendirian? Kenapa jika tidak kuat seharusnya suruh wanita itu di dalam kamar, jangan hanya meninggalkannya sendirian dan duduk tanpa ada yang menemani, itu lebih terlihat sedang di asingkan atau dikucilkan.'


"Aku tidak akan pernah meninggalkan pengantinku seperti itu." Bisik Harry.


"Kamu punya kekuatan supranatural?" Tanya Alaris.


"Kerutan keningmu sudah menggambarkan apa yang sedang kamu pikirkan." Kata Harry kemudian menyentuh pelan dahi Alaris.


"Kendurkan, kamu akan cepat keriput kalau terlalu sering mengerutkan kening." Kata Harry.


"Atau perlu ku cium?" Goda Harry.


"Kamu..." Wajah Alaris seketika berubah merah lagi.


"Aku rindu wajah dinginmu." Kata Harry.


Alaris menyipitkan kedua matanya, namun bibirnya tersenyum.


"Apa ini? Kamu sering tersenyum sekarang, apa Gletsernya sudah mencair. Padahal aku merindukan sikap dan wajah dinginmu."


Alaris tertawa dengan semua kalimat Harry yang selalu menggodanya.


Melihat Harry dan Alaris yang tertawa asyik serta mesra membuat jantung William seolah sedang di tusuk oleh pasak perak yang dingin dan tajam.


Begitu pun Axella, ia mengira Harry serta Alaris sedang membicarakan dandanan nya yang tua, gaun yang kampungan dan norak serta makeupnya yang dianggap terlalu menor.

__ADS_1


Alaris dan Harry masih saling tertawa hangat. Membuat semua para tamu pun juga berbisik begitu serasi dan bahagia hubungan itu.


bersambung~


__ADS_2