
Malam itu menjadi malam sunyi, tanpa sepatah kata keluar dari William, setelah William menunjukkan peringatan amarahnya yang di pendam di depan umum saat pesta pernikahan sepupu William.
Alaris sudah terbiasa diperlakukan acuh tak acuh sejak kecil, bahkan di cerca dan di hina hingga ia kehilangan dirinya sendiri, dam di tuduh menjadi anak sial yang membuat orang tuanya mati namun entah kenapa kali ini hatinya begitu sepi dan menyayat melihat punggung lebar William pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang masih duduk di dalam mobil.
'Wajah dan sikapnya itu membuat ku merasa sakit, sebenarnya aku sudah biasa berakting di depan banyak orang, ketika bertemu dengan para undangan, relasi, keluarga William, bahkan di depan karyawanku di perusahaan, tentang hubungan yang baik-baik saja dan harmonis, tapi entah kenapa saat ini William justru pergi dengan wajah kesal, bahkan ia dengan sengaja menjatuhkan gelasnya di depan banyak orang.'
Dan hari-hari berikutnya pun sama, William seolah menghindari Alaris, mereka menjadi jarang bertemu bahkan William selalu sarapan di kantor.
Malam hari William pulang sangat larut dan absen dari makan malam bersama Alaris.
Hingga akhirnya Alaris menjalani hari-harinya seperti batu yang dingin di kutub utara.
"Nyonya... Nyonya Alaris, lihatlah ini." Emily berlari sembari membawa sebuah majalah.
"Ada apa Lily?" Tanya Alaris.
"Sudah lewat dari satu bulan sejak peresmian DIAMOND IMPERIAL tapi koran-koran serta majalah dan televisi masih membuat berita tentang anda dan Tuan Harry yang tampan itu. Kenapa yan Tuan Harry begitu sangat cantik dan tampan." Kata Emily sembari menyapu kan kedua pipinya.
Alaris kembali mengingat bagaimana saat pertemuannya dengan Harry, kemudian ia berdehem untuk menjernihkan pikirannya.
"Samantha, apa hari ini William absen lagi dari sarapan?" Tanya Alaris.
"Ah ya maaf Nyonya, Tuan William hari ini absen lagi, dan Jason memberitahu jika Tuan William minta maaf tidak bisa berpamitan langsung karena akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis mungkin bisa beberapa bulan." Kata Samantha.
"Apa? Beberapa bulan!" Alaris tersentak, keningnya mengerut.
"Ya Nyonya. Apa anda mau sarapan di kamar saja Nyonya?" Tanya Samantha.
"Ya, tolong." Sahut Alatis datar dan melebur semua perasaan gelisahnya.
'Ini sudah satu bulan lamanya setelah kembali dari acara pernikahan itu, dan William justru seperti semakin menghindari ku, entah hanya perasaanku atau memang itu lah yang terjadi.'
'Aku sarapan dan makan malam sendiri, kami tidak pernah bertemu satu sama lain. William pergi pagi-pagi melewatkan sarapannya dan pulang tengah malam tanpa makan malam di mansion.'
'Hingga akhirnya, William pergi ke luar negeri dalam rangka perjalanan bisnis selama beberapa bulan dan hanya meninggalkan pesan melalui para pelayan, ia meminta maaf jika tidak sempat berpamitan langsung, itu pun melalui Jason.'
*****
Belum genap 2 bulan lamanya, anak perusahaan DIAMOND IMPERIAL tumbuh dengan sangat pesat dan mengagumkan, bagai roket yang tak terkalahkan.
Namun, kegembiraan karena pesatnya pertumbuhan DIAMOND IMPERIAL yang kini mampu menyaingi perusahaan-perusahaan kelas kakap, berbanding terbalik dengan hubungan rjmah tangga Alaris dan William. Hubungan suami istri itu menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
Hari ini tepat 1 minggu William pergi ke luar Negeri, jadi sudah lebih dari 1 bulan Alaris tidak bertemu dengan William.
"Nyonya... Nyonya."
Lagi-lagi Lily datang dengan berlari, kemudian berhenti di depan Alaris, Lily berdiri tegak dengan tangan di lipat di depan perutnya, Lily berubah bersikap sangat sopan, meski tingkahnya masih tetap terlihat kekanakan.
"Ya Lily?" Tanya Alaris yang sedang duduk di depan kaca rias.
Saat itu Samantha sedang merapikan rambut alaris.
"Ada pria muda yang sangat tampan, benar-benar sangat tampan mencari anda. Astaga menurut saya dia pria paling tampan di dunia." Puji Emily dengan berjingkat dan menggenggam kedua tangannya di bawah dagunya.
"Siapapun yang kamu lihat selalu tampan dimatamu Emily, bahkan terakhir kali kamu bilang Tuan Harry paling tampan, walaupun Tuan Harry memang sangat tampan." Kata Samantha malu-malu.
"Tentu saja Tuan Harry tetap yang paling tampan nomor 1 di dunia, dan sekarang pria muda yang mencari Nyonya Alaris pria tampan nomor 2."
"Lalu tuan William? Bukankah pertama kali bertemu kamu bilang Tuan William adalah yang tertampan?" Tanya Samantha.
"Aah... Itu... Pokoknya Tuan Harry paling tampan." Emily bersungut.
"Baiklah terserah kamu saja Emily." Samantha mengomel pada Emily.
"Nyonya sudah selesai, anda sangat cantik." Kata Samantha.
__ADS_1
Alaris menatap dirinya dalam pantulan kaca, ia selalu puas dengan hasil riasan Samantha.
"Ayo kita turun."
"Baik Nyonya." Jawab Samantha dan Emily bersamaan.
Alaris turun dan melihat seorang pria sudah berdiri memandangi lukisan yang Alaris buat, mendengar suara langkah kaki, pria itu pun berbalik dan memberikan salam.
"Selamat pagi menjelang siang Nona Alaris." Kata pria itu dengan sangat sopan.
"Selamat siang. Anda Tuan Leon?"
"Ya, saya Leon, anda langsung bisa mengenali saya?"
'Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Leon, namun memang bisa diakui, dia juga tampan meski tidak setampan Harry, wajahnya juga sempurna.'
"Menurut jadwal, saya hari ini akan bertemu dengan anda."
"Aahh..." Kata Leon mengerti.
Kemudian Leon mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah, Alaris pun mengulurkan tangannya, dengan sopan dan santun Leon menjabat tangan Alaris.
Emily yang melihatnya hampir merasakan denyut jantungnya akan terbang.
"Anda tampan sekali." Bisik Emily.
Leon pun tertawa kecil.
"Ya, saya tahu saya tampan." Kata Leon.
Emily dan Samantha ikut tertawa. Namun Alaris tetap datar.
"Tinggalkan kami." Kata Alaris.
"Baik Nyonya."
"Jadi... Bagaimana? Kita langsung pada pekerjaan? Seperti apa taman yang anda inginkan?"
"Kita harus ke taman." Kata Alaris.
Kemudian Leon memberikan jalan kepada Alaris sembari tersenyum dan merentangkan satu tangannya.
Setelah sampai di taman mansion utara, Leon mengeluarkan tabletnya dan mulai mencatat serta menggambar apa yang Alaris mau.
"Aku ingin taman yang seperti The Hills Garden, tapi bunga yang di tanam di sini harus sesuai dengan bunga yang ku inginkan."
"Tentu." Kata Leon mencatat.
"Lalu aku ingin ada kursi-kursi rotan putih di dekat air mancur dan kolam ikan, sediakan ayunan rotan juga, jangan lupa berikan pohon merambat agar bisa duduk dengan sejuk."
"Itu pasti, dan sangat mudah." Kata Leon lagi.
"Tapi Nona... Kenapa anda ingin taman yang seperti The Hills Garden?" Tanya Leon.
Alaris diam.
"Kenapa kamu membuat taman The Hills Garden di lokasi yang itu?" Tanya Alaris.
Leon memiringkan kepalanya.
"Karena ada seseorang yang memintanya."
"Siapa dia? Dan kenapa harus di lokasi itu?" Tanya Alaris.
"Entahlah, saya hanya menjalankan perintah dari seseorang untuk membuat taman di lokasi itu." Jawab Leon.
__ADS_1
"Orang bilang itu adalah lokasi terkutuk." Kata Alaris.
"Karena kecelakaan yang berulang selalu berada di tempat sama dan di lokasi itu?" Kata Leon.
"Ya."
"Ha... Ha... Ha... Saya pikir anda bukanlah tipe orang yang meyakini hal-hal mistis Nona Alaris."
"Lupakan." Kata Alaris meremas jemarinya.
Setelah keadaan cukup lama hening.
"Tapi, saya dengar lokasi itu pernah membuat kecelakaan satu keluarga, dimana seorang anak kecil menjadi korban dan selamat dari maut, berita menyebutkan anak kecil itu yang menyebabkan kecelakaam dan membawa malapetaka bagi orang tua nya. Apa anda tahu berita itu?" Kata Leon dengan wajah serius.
Alaris melihat ke arah Leon dengan terkejut.
"Tentu saja saya tidak tahu kebenaran kasus itu, karena kasus itu sudah sangat lama, bahkan saya masih sangat kecil waktu itu, apa anda juga tahu? Jika Hendric Mac Linford juga mengalami kecelakaan tragis di tempat itu?" Tanya Leon, dengan serius dan menatap tajam kedua mata Alaris.
Alaris menelan ludahnya gugup.
"Aah tentu saja berita-berita itu entah benar atau salah aku hanya mendengar cerita dari orang ke orang. Ha ha ha." Leon tertawa dengan keras.
Alaris menghela nafas dan melanjutkan kakinya berjalan di jalanan setapak.
"Nona Alaris..."
"Ya."
"Bolehkah saya meminta sesuatu, ini tentang pekerjaan di sini."
"Silahkan."
"Karena saya harus merombak taman ini dan menata ulang, saya membutuhkan tempat tinggal yang sewaktu-waktu bisa saya jangkau, dan jaraknya lebih dekat, karena anda tahu kan inspirasi bisa saja tiba-tiba muncul dan dengan cepat juga bisa menghilang. Saya lebih senang tentang penggunaan efisien waktu."
"Aahh... Mungkin maksud Harry adalah ini, anda selalu meminta sesuatu yang aneh, tentu saja anda bisa tinggal di sini, dan pelayan akan menyiapkan kamar untuk anda." Kata Alaris.
"Terimakasih Nona, tapi kalau boleh tahu Harry berbicara apa lagi tentang saya?" Tanya Leon.
"Tidak ada hanya itu."
"Ahh, sebenarnya saya ingin memberikan nasehat sedikit pada anda Nona."
"Apa itu."
"Berhati-hatilah dengan Harry, dia bisa melukai orang dengan wajah tersenyum, dia kejam dan jauh lebih licik dari yang bisa di bayangkan oleh orang lain."
Alaris tercengang mendengar perkataan Leon.
'Bukankah mereka teman? Kenapa Leon membicarakan keburukan Harry.'
"Kami hanya berbicara sekedarnya, dan tidak ada hubungan lebih."
"Syukurlah, saya hanya khawatir, karena sekali dia menginginkan sesuatu, itu tidak akan pernah dia lepaskan."
"Seperti perusahaan milik William? Aku tahu hubungan nya dengan William tidak baik." Tanya Alaris.
"Bukan, ku pikir ada sesuatu yang jauh lebih berharga untuk dia dapatkan. Jadi, anda harus berhati-hati." Kata Leon.
"Aku akan mengingat itu, terimakasih."
"Bertahun-tahun lamanya, Harry...." Kalimat Leon terhenti.
"Nyonya, maaf menganggu anda, tapi ada panggilan penting dari Brida." Kata Samantha yang berlari tergopoh menghampiri Alaris.
Kalimat Leon terputus.
__ADS_1
Wajah Alaris mendadak tegang, melihat bagaimana Samantha berlari tergopoh, pasti ini adalah berita penting dari Brida.
bersambung~