
Eugene melihat Chia tertunduk lesu dengan wajah sedih dan menangis.
Eugene kemudian menghampiri Chia dan memeluk adiknya.
"Maaf Chia, bukan maksud kakak seperti itu, tapi, terkadang kami memang seperti akan putus harapan." Kata Eugene.
"Ayo kita lihat ibu, sampai kapanpun, Kakak janji tidak akan melepaskan alat-alat yang membantu Ibu untuk tetap hidup." Kata Chia.
Kemudian Chia dan Eugene datang ke ruangan Alaris, namun mereka terkejut, karena melihat Dokter Arthur dan Elouan susah berada di sana.
"Elouan.." Kata Eugene.
"Kak... Ibu menggerakkan jarinya, aku melihatnya sendiri." Kata Elouan.
"Benarkan... Aku tidak berbohong!" Teriak Chia.
"Aku mendengar Chia berteriak, aku pikir, terjadi sesuatu dengan ibu, jadi aku datang kesini, dan melihat ibu berulang kali menggerakkan jarinya, lalu aku menghubungi Paman Arthur."
"Kebetulan saya sedang bertugas di Rumah sakit Negara Amarka Tuan Eugene." Kata Arthur.
Eugene mengangguk.
"Apa kamu sudah menghubungi ayah?" Tanya Eugene.
"Ayah sangat sibuk, tapi Zoland sudah menerima pesanku."
Eugene menangguk lagi.
Kemudian Eugene dan Chia serta Elouan mendekati ibu mereka.
Eugene menyentuh tangan Alaris dengan menggosoknya lembut, sangat lembut.
"Ibu... Aku iri... Chia selalu melihatmu menggerakkan jari, Elouan juga kini bisa melihat mu menggerakkan jari, berikan aku sekali saja, aku ingin melihat ibu bisa menggerakkan jari." Kata Eugene.
Mereka menunggu, hingga beberapa menit berlalu, namun tidak ada pergerakan.
Eugene kemudian tersenyum.
"Tidak apa-apa... Pelan-pelan saja, yang penting sudah ada harapan yang sangat tinggi." Kata Eugene kemudian mengecup tangan sang ibu.
Namun tidak pernah di duga oleh mereka ketika Eugene mencium kening ibunya, kedua mata Alaris terbuka.
******
Di negara Slyvedonia, Harry sedang sibuk dengan ramah tamahnya dengan kunjungan beberapa presiden dan delegasi luar negeri.
Kemudian Zoland yang telah kembali memberikan sinyal mata pada Harry.
"Tuan dan Nyonya, sekretaris kepresidenan akan membimbing dimana tempat istirahatnya, semoga anda semua senang dengan penyambutan kami."
"Presiden Harry memang selalu yang terbaik." Kata mereka.
Kemudian setelah para delegasi pergi, Zoland mendekat.
"Tuan Presiden, ada 3 berita." Kata Zoland.
"Yang pertama, setelah kurungannya selama 15 tahun menjadi tahanan rumah, Axella bebas, tapi dalam 2 tahun ini, dia menderita di rumah sakit, dan hanya Jason serta anaknya yang selalu mengurusnya, Zanna bekerja part time di toko roti, sedangkan Jason masih menjadi tukang kebun, dan sepertinya Tuan William tidak mengetahui ini."
"Berita yang kedua, Roberto sudah di temukan Tuan, setelah pelarian panjangnya, bangkai mayatnya di temukan di bawah tumpukan sampah. Sepertinya mati kelaparan, dan di pukuli."
__ADS_1
"Berita yang ketiga, Tuan Muda Elouan menghubungi jika Nyonya Alaris menggerakkan jarinya beberapa kali."
Harry tersenyum, kali ini beritanya bukan dari Chia melainkan dari anak ke duanya.
"Kita berangkat sekarang ke Negara Amarka." kata Harry.
"Baik tuan."
******
Harry sampai di Negara Amarka, dan di sana anak-anaknya sudah menunggunya, bersama dokter Arthur.
"Ayah!" Pekik Chia.
Harry memeluk Chia dan mencium kening anak itu.
"Bagaimana ibu?" Tanya Harry.
"Tuan Harry." Sapa Dokter Arthur
Harry berjalan perlahan untuk mendekat, ia melihat Alaris yang masih terbaring di atas ranjang, namun matanya sudah terbuka.
Air mata mengalir di kedua pipi Harry.
Akhirnya, Tuhan mendengarkan doanya. Hampir saja ia merasakan harapan itu sirna.
"Istriku..." Kata Harry mendekat dan mengecup tangan Alaris.
Ke 3 anak nya pun mendekat.
"Nyonya Alaris masih lemah, dan kesaradannya juga masih dalam proses pemulihan karena ini sudah 17 tahun berlalu, kemungkinan mengalami distorsi, jadi saya mohon pelan-pelan untuk mengajak Nyonya Alaris mengingat kejadian yang telah berlalu." Kata Arthur.
Alaris tersenyum.
"Lihatlah anak-anak kita, kamu sudah bertemu mereka istriku?"
Alaris tersenyum lagi dan mengangguk.
Kemudian Alaris mengulurkan tangannya, pandangannya tertuju pada Chia dan anak-anaknya, mereka pun mendekat dan menggapai tangan ibunya.
"Maaf... Telah membuat kalian menunggu lama."
Chia memangis dan mencium sang ibu.
"Tidak... Ibu jangan meminta maaf." Kata Chia.
"Ibu adalah yang terbaik." Kata Eugene.
"Aku tidak sabar untuk melihat ibu membuka mata, aku akan sering-sering mengajak ibu jalan-jalan." Kata Elouan.
Alaris mengangguk.
"Sepertinya ayah kalian berhasil mendidik kalian dengan baik." Kata Alaris dan mengusap kepala Elouan.
Hari itu adalah hari dimana banyak air mata yang jatuh, namun bukan air mata kesedihan tetapi air mata kebahagiaan.
"Ibu... lihat lah Chia... Semakin dewasa dia justru semakin tampan dari pada kami." Kata Elouan.
Chia mendengus.
__ADS_1
Alaris tersenyum, sedangkan Harry sedang mengusap kepala Alaris dengan pelan sambil mendengarkan percakapan.
"Ibu, tolong ajari Chia berdandan." Kata Eugene.
"Kak Eugen..." Pekik Chia cemberut.
Alaris tersenyum dan mengusap rambut Chia.
"Jadilah diri mu sendiri Chia, ibu bersyukur kalian sehat, itu yang ibu harapkan, dan yang paling ibu inginkan adalah kalian menjalani hidup sesuai kemauan kalian, asal kalian bahagia, Ibu tidak akan melarangnya."
"Ibu tidak melarang Chia berpakaian seperti laki-laki?" Tanya Chia.
Alaris menggeleng dan tersenyum.
"Mau berpenampilan apapun, Chia tetap cantik, dan seseorang yang mencintai Chia adalah orang yang akan menerima Chia apa adanya, jangan pernah mencoba menjadi orang lain jika itu membuat Chia tidak nyaman, dan ini berlaku untuk anak-anak ibu, kalian harus bahagia dan menjalani hidup yang kalian inginkan." Kata Alaris.
"Ibu memang yang terbaik..." Kata Chia.
Eugene dan Elouan tersenyum, itu adalah jawaban seorang ibu, ibu yang begitu bijak dan lembut, lalu sikapnya juga sangat hangat, membuat mereka juga ingin memeluk ibu mereka.
"Kalian tidak ingin memeluk ibu juga?" Tanya Alaris pada anak laki-lakinya.
Kemudian Eugene dan Elouan saling berpandangan, lalu mereka saling memeluk.
BRAAKK!!!
Pintu terbuka dengan kasar, itu adalah Hector.
"Kakak." Kata Hector bergegas berjalan menemui kakaknya.
Alaris sudah duduk di atas ranjangnya, melihat Hector yang menangis tersedu-sedu.
"Paman jangan lupa ingusnya kemana-mana." Kata Chia.
"Dasar nakal!" Kata Hector.
"Zoland memberitahu ku." Sambung Hector lagi.
Alaris tersenyum.
"Kemailah adikku..."
Kemudian Hector memeluk Alaris dan menangis.
Harry berdiri berpindah tempat dan kemudian memeluk Chia, ia terharu melihat anak-anaknya bahagia dan sekarang mereka bisa berkumpul lagi.
"Kita menjadi keluarga yang utuh dan bahagia." Kata Harry.
"Istriku... Selamat datang kembali." Kata Harry yang berdiri di depan Alaris dan Hector sembari memeluk ke 3 anaknya.
Kemudian Hector berdiri dengan tegak dan mengucapkan nya juga.
"Kakak, selamat kembali, jangan sakit lagi." Hector mengusap matanya yang penuh dengan air.
Alaris tertawa kecil dan kemudian menghapus setitik air di kelopak matanya.
"Terimakasih kalian tidak pernah kehilangan harapan, dan terimakasih kalian terus menungguku, terimakasih untuk penantian kalian yang panjang dan selalu berjuang untuk kesehatanku. Ibu menyayangi kalian semua, Harry terimakasih kamu menjadi suami terbaik dan ayah yang baik, Hector terimakasih sudah menjadi adikku."
bersambung~
__ADS_1