
Negara Slyvedonia
Harry dan Alaris sudah sampai di Negara Slyvedonia pada malam hari, sedangkan Leon dan Brida masih di Negara Vernecia, sebagai perwakilan.
"Selamat malam Alaris." Kata Harry yang mengantar Alaris di depan kamar tidur milik Alaris.
"Jangan tidur di sofa lagi." Kata Alaris.
Harry hanya tersenyum.
Alaris kemudian masuk ke dalam kamarnya, ia melepaskan beberapa perhiasan dan membersihkan make up.
'Ku pikir, aku harus mandi dulu. Berendam sebentar mungkin akan membuat tubuhku sedikit ringan.'
Tak berapa lama Samantha dan Emily datang ke dalam kamar milik Alaris.
"Selamat malam Nyonya, saya akan menyiapkan air hangat."
Kemudian Emily pergi ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air untuk Alaris.
Sedangkan Samantha membuat teh hangat.
"Aku akan berendam kalian bisa istirahat lebih awal."
"Tapi apa anda tidak membutuhkan kami lagi untuk membantu anda setelah mandi." Tanya Samantha.
"Tidak perlu, kalian istirahat saja." Kata Alaris.
"Baik Nyonya."
Setelah Alaris masuk ke dalam kamar mandi dan merendamkan seluruh tubuhnya, Samantha dan Emily pun pergi.
Cukup lama Alaris hanya berendam dan memikirkan kembali saat-saat ia menghadiri pernikahan William dan Axella.
Alaris juga memikirkan bagaimana bisa William tetap tidak merasakan malu sedikitpun dengan tindakan Axella yang serba ceroboh.
'Dia berubah banyak, tidak lagi memikirkan nama baiknya setelah bertemu dengan Axella. Apa kah kekuatan cinta memang bisa sebesar itu untuk mengubah orang lain?'
Setelah cukup lama, Alaris keluar dari bathup dan mengambil handuk kimononya, ia kemudian mengambil satu handuk lagi untuk melilitkan rambutnya yang masih basah.
Alaris keluar dari kamar mandi tanpa memakai alas kaki. Mata indah Alaris melihat pada pintu penghubung dan berfikir.
'Apakah dia tidur di kamarnya? Apa aku harus memastikannya? Aku sudah berendam terlalu lama dan mungkin Harry juga sudah tidur, tapi bagaimana jika Harry belum tidur?'
Alaris terus memikirkan apakah Harry tidur di sofa lagi atau tidur di kamarnya. Sebentar-sebentar melihat pintu penghubung dengan perasaan gusar dan gelisah, sebentar kemudian memalingkannya.
'Terserahlah kalau dia memilih tidur di ruang kerjanya dan tubuhnya sakit karena tidur di sofa.'
Alaris kemudian duduk di depan meja riasnya dan memakai pelembab malam untuk wajahnya, matanya melirik lagi pintu penghubung dan membuat Alaris berdiri mendekat.
Kini Alaris sudah tepat di depan pintu penghubung.
''Dia selalu baik padaku, setidaknya aku harus memastikannya kalau dia tidur di kamarnya.'
Alaris kemudian membuka pintu penghubung dan alangkah terkejutnya dia, jantungnya seolah akan copot dan kemudian berdegup dengan kecang.
"Harry..." Kata Alaris lirih.
Sosok pria tampan yang hanya memakai handuk melilit di pinggangnya, dengan dada berotot yang mulus, leher yang kuat, dan tatapan mata yang tajam lurus seolah menembus jantung Alaris. Harry hanya berdiri diam tepat di depan pintu penghubung.
"A... Aku hanya memastikan apa kamu tidur di sini atau tidak.."
Alaris kemudian hendak menutup pintu, namun tangan kekar yang kuat itu segera menahan nya.
__ADS_1
"Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu Alaris, kamu tidak ingat?" Tanya Harry.
"Ap...Apa?" Kata Alaris dengan wajah tegang.
"Sekali kamu membuka pintu, aku tidak akan mengijinkan kamu menutup pintunya lagi, dan kamu tidak akan bisa menahan ku lagi." Kata Harry.
Perlahan Harry melangkahkan kakinya, dan mulai masuk ke dalam kamar Alaris, sedangkan Alaris perlahan mundur dengan wajah tegang.
"Ap... Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Alaris masih dengan wajah tegang dan waspada.
"Menurutmu?" Tanya Harry.
"Ti... Tidak boleh, kamu harus istirahat bukankah kamu lelah."
"Ya, tadinya aku ingin tidur tapi, kamu memgundangku masuk."
"Si.. Siapa? Aku tidak mengundangmu ke sini."
"Kamu membuka pintunya." Kata Harry.
"Aku hanya ingin memastikan, kamu tidur di kamar atau di sofa."
"Aku sudah memperingatkan mu sebelumnya jangan buka pintunya." Kata Harry.
Perlahan Harry tetap maju dan kini kaki Alaris sudah terhimpit tempat tidur.
Harry mencondongkan tubuh nya, dada telanjang itu nyaris menyentuh wajah Alaris, kemudian Harry membungkuk dan menatap Alaris.
"Kamu... Kamu... Jangan macam-macam..." Kata Alaris.
"Kamu mengharapkan apa dariku?" Tanya Harry.
Wajah Harry semakin dekat dengan wajah Alaris membuat Alaris terjatuh di atas ranjang dengan posisi terlentang.
Harry kemudian menyangga tubuhnya dengan lututnya yang ada di ranjang tepat di atas Alaris, kedua tangan kekar yang kokoh juga menyangga tubuhnya berada di samping kepala Alaris.
Tangan kekar Harry mengambil tangan Alaris, dan memandu telapak tangan Alaris untuk menyentuh dada Harry.
Alaris menelan ludahnya dan matanya masih melotot, namun wajah dan telinganya sudah benar-benar merah.
Harry semakin menurunkan tubuhnya hingga tubuh mereka saling berhimpit, wajah Harry semakin dekat dengan wajah Alaris, membuat Alaris menutup mata.
Harry menarik handuk yang melilit di rambut Alaris, namun Alaris masih menutup matanya.
"Keringkan rambutmu, nanti masuk angin."
Alaris membuka matanya sedikit, terlihat Harry sudah membawa hairdryer dengan tetap hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Aa... A.. Ap...Pa?"
Harry tersenyum puas karena telah berhasil menggoda Alaris.
"Ayo duduk, atau aku harus menggendongmu?" Tanya Harry.
"A... Aku akan duduk." Kata Alaris bangun dengan cepat dan duduk di depan cermin.
Harry dengan santai mengeringkan rambut Alaris yang masih merasa canggung.
Setelah kering Harry mengambil beberapa helai rambut dan menciumnya.
"Mengundang keinginan yang berlebih." Kata Harry.
"Hm?" Tanya Alaris.
__ADS_1
Harry kemudian membungkuk dan mencium punuk kepala Alaris.
"Tidurlah sudah tengah malam."
Harry kemudian pergi menuju pintu penghubung untuk kembali ke kamarnya.
"Jangan coba-coba menutupnya, pintu ini tidak akan pernah di tutup lagi." Kata Harry.
Alaris melihat pada Harry.
Tatapan Alaris membuat jantung Harry berdenyut.
"Tatapan mu mengisyaratkan agar aku tetap berada di sisi mu. Kamu menggodaku lagi."
"Ti... Tidak..." Alaris buru-buru berdiri.
Kemudian Alaris mendorong tubuh besar itu untuk pergi.
"Kembali lah ke kamar." Kata Alaris sembari terus berusaha mendorong Harry.
Namun karena tindakan Alaris itu membuat handuk Harry pun terjatuh.
"Aaaa....!!" Pekik Alaris yang terkejut dan terhempas ke lantai sembari menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Harry kemudian membungkuk dan melepaskan kedua tangan Alaris.
Perlahan Alaris membuka matanya, dan melihat jika Harry memakai celana pendek. Meski memakai celana namun itu adalah celana pendek yang ketat dan membentuk tubuhnya.
Alaris tertegun.
"Wajahmu menunjukkan kekecewaan." Kata Harry.
"Aa.. Apa?!"
"Kamu mengira aku tidak memakai apapun? Kamu kecewa." Kata Harry tersenyum.
"Mana mungkin!"
"Kalau begitu mari obati rasa kecewamu."
Harry kemudian menggendong Alaris yang masih terduduk dilantai.
"Aaaa!!! Harry apa yang kamu lakukan, turunkan aku, lepaskan aku!!!"
Harry kemudian menurunkan Alaris di atas ranjang dan Harry berada di atasnya.
"Aku menurunkanmu."
"Maksudku bu.. Bukan di sini."
Harry kemudian memeluk Alaris dan tidur di sampingnya.
"Le... Lepaskan aku, pergilah ke kamarmu sendiri..."
"Ssstt.... Aku sudah mengantuk, mari tidur seperti ini."
Harry masih mendekap tubuh Alaris yang lumayan kecil baginya.
Melihat Harry sepertinya sudah tidur Alaris kemudian melonggarkan dan melemaskan tubuhnya menjadi lebih relax dan menerima dekapan serta pelukan itu.
Alaris kemudian menutup matanya, dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Harry.
Kemudian senyuman tipis Harry muncul dari bibirnya.
__ADS_1
'Aku menang dan kamu milikku selamanya.' Batin Harry.
bersambung~