Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
LAHIRNYA PENERUS MAC LINFORD : 2 LAKI-LAKI DAN 1 PEREMPUAN


__ADS_3

Di dalam ruang operasai Arthur dan juga para dokter di dampingi perawat mereka mulai memberi Alaris beberapa obat, untuk mengeluarkan sang bayi.


Arthur berdoa dalam hatinya, bahkan ia berjanji jika berhasil menyelamatkan Alaris beserta anak-anaknya, ia akan membagikan kebahagiaanya dengan memberikan perawatan gratis untuk para ibu-ibu yang hamil.


Di dalam ruangan, semua orang tidak ada yang diam, mereka terus-menerus memantau berbagai alat yang ada di dekat Alaris, dan memantau dengan cermat perubahan setiap organ di tubuh Alaris.


Alaris sedang berbaring lemah di atas tempat tidur, dan hanya beberapa menit setelah beberapa obat yang di suntik kan ke dalam tubuh Alaris membuatnya merasakan sakit yang tajam di perutnya.


Alaris memekik lemah, Alaris akan merasakan sakit dari awal hingga akhir, dia bahkan tidak punya waktu untuk beristirahat selama satu menit atau satu detik, semua itu karena obat yang telah di suntikkan ke dalam tubuh Alaris.


Alaris memandang ke sebuah jendela kecil, disana lah matanya bertemu dengan mata Harry. Mereka saling memandang dan saling berbicara dalam hati, saling mengatakan bahwa mereka saling mencintai. Saling mengatakan satu sama lain bahwa sebenarnya mereka tidak ingin berpisah.


Dan Alaris menangkap, bahwa Harry tidak akan dengan mudah membiarkannya pergi.


Di luar ruangan, ekspresi semua orang sangat cemas. Perasaan mereka tidak baik-baik saja.


'Aku tidak mau mati, tidak... Sebelum aku bisa menyelematkan anak-anakku, bayi-bayiku yang berharga, mereka menunggu agar mereka dapat melihat dunia. Tidak, aku belum bisa mati. Aku harus memastikan anak-anakku sehat sebelum aku mati!'


Tiba-tiba tubuh nya yang terasa nyeri dan sakit begitu tajam, menjadi mengambang dan ringan dengan suntikan yang berikutnya.


Terdengar sebuah sayatan, dan suara-suara peralatan steinlees yang berbentur, lalu berbagai suara monitor yang ada di dekat Alaris.


"Lahir, anaknya lahir." Kata Arthur.


3 dokter anak dan di dampingi perawat mereka bergebas membawa masing-masing 1 bayi.


"Dokter Arthur. Sistem hati mulai gagal!" Teriak Seorang dokter yang mengamati layar.


"Paru-paru mulai gagal!" Teriak dokter lagi.


"Sistem pencernaan mulai gagal!" Teriak dokter lagi.


"Pendarahan terlalu banyak!" Kata dokter lagi yang bertugas membersihkan darah mulai memberi peringatan.


Suara beberapa dokter saling bersahut dan bergantian.


Alaris mulai sedikit demi sedikit merasakan kembali tubuhnya, ia kedinginan, tubuhnya pun bergetar.


Pendengaran Alaris mulai meredup dari telingannya. Matanya mulai kabur namun masih bisa melihat.


'Anakku, maaf... Kalian harus bahagia meski tanpa seorang ibu, kalian nantinya akan tahu bahwa ayah kalian pasti sangat menyayangi kalian.'

__ADS_1


Kemudian Arthur memberikan perintahnya.


"Suntikkan obat rahasia, lalu suntikkan di bagian kedua lengan, dan bagian kedua paha kaki, secara bersama-sama!"


Semua dokter tertegun dan menelan ludahnya secara bersamaan.


"Tapi Direktur, jika kita menyuntikkan obat itu secara bersamaan dengan dosis besar, tubuhnya akan menolak dan justru berakibat fatal." Seorang dokter berbicara.


Kemudian dokter lain mengangguk setuju, mereka takut jika Alaris justru akan mengalami koma.


"Dia terlalu lemah! Jika kita tidak menyuntikkan obat itu secara bersamaan dengan dosis itu, takutnya akan berefek pada kegagalan organ yang lebih banyak. Pasien kehilangan darah di tubuhnya begitu banyak, dan ini terlalu cepat, kita juga memerlukan kantong-kantong darah lagi, dan semua terbuang. Aku akan menghitung sampai tiga dan kalian akan menyuntikkannya secara bersama-sama." Suara Arthur terdengar bergetar, di telinga Alaris.


'Seorang dokter paling ahli pun merasa gemetaran.' Kata Alaris dalam hati yang mrelirik Arthur.


Alaris dengan pelan dan lemah memiringkan kepalanya, beberapa dokter dan perawat menangani bayi-bayinya yang menangis sahut menyahut, suara tangisan itu sangat indah di telinganya, seolah pengantar tidur untuknya, tidur selamanya.


'Ini adalah lagu terbaik sepanjang hidupku, terimakasih anak-anakku, seandainya aku bisa mendengar tangisan kalian bersama-sama.'


Air mata Alaris menetes, ia tidak mempunyai tenaga apapun, bahkan hanya sekedar mengangkat jarinya untuk menggapai anaknya.


Dia hanya bisa melihat ke 3 bayi nya dari kejauhan.


Kemudian para dokter menyuntikkan obatnya secara bersama-sama.


"Harry...." Kata Alaris dan melihat kaca jendela yang telah di tutup sebelum operasi di mulai.


Alaris mulai semakin melemah, otaknya melemah, semua organ vitalnya juga seperti sudah mati.


'Dingin sekali. Apa sudah waktunya?'


Akhirnya perlahan matanya tertutup rapat setelah seluruh obat itu masuk ke dalam tubuhnya.


"Harry..." Suaranya jelas dan itu adalah nama yang terakhir Alaris panggil ketika matanya menutup sempurna.


Alaris mengalami koma.


Sedangkan di luar ruangan Alaris yang gaduh dan serba kacau. Dokter dan perawat yang sudah selesai membersihkan ke 3 bayi itu pun mendorong troli bayi untuk keluar dan berteku dengan keluarganya, meski masih di dalam kotak kaca dengan ukuran sedang dan memiliki keamanan serta sterilisasi yang kuat.


"Tuan Harry, selamat, bayi-bayi ini selamat dan mereka sangat sehat, kami akan menempatkan di ruangan khusus." Kata Dokter yang menjelaskan dan 3 perawat ada di samping masing-masing bayi.


Seluruh tubuh Harry terasa dingin dan gemetar karena kegembiraan saat ini, dan juga rasa sedihnya. Matanya melihat bagaimana bayi-bayi itu sangat kecil, dan sebelum mereka lahir Harry memiliki pikiran untuk membunuh mereka dan memilih Alaris, apapun konsekuensinya.

__ADS_1


Harry terduduk lemas, ketika bayi-bayi itu menggeliat satu sama lain di dalam kotak mereka masing-masing.


'Betapa keji nya aku, hingga ingin menghilangkan bayi-bayi yang lemah dan tak tahu apa-apa. Mereka belum mengerti apapun.'


Ketika anak normal lahir, ia akan terlihat keriput, namun berbeda dengan bayi-bayi itu, mereka memiliki kulit putih kemerahan, bahkan tidak terlihat keriput melainkan seperti kulut yang kenyal dan sehat, terlihat kencang.


"Bayinya berjenis kelamin, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Anda bisa melihatnya lagi Tuan."


Sedangkan Austin yang duduk di sudut ia penasaran ingin melihat bayi-bayi mungil itu.


Belum lagi Leon dan Zoland, lalu Brida dan Samantha serta Emily.


Para wanita itu sudah tidak sabar ingin sekali menggendong, namun karena masih dalam pantauan medis mereka tidak di perkenanankan.


"Semua bisa melihat melalui kaca luar, kecuali Tuan Harry anda bisa memakai pakaian APD lengkap untuk menjenguk bayi-bayi anda." Kata Dokter.


"Saya permisi." Kata Dokter lagi berpamitan.


Kemudian Dokter dan para perawat membawa bayi-bayi itu pergi.


Brida, Samantha dan Emily, menangis, merela tidak tahu harus bahagia arau sedih karena belum juga mendengar bagaimana kondisi Alaris.


Tak berapa lama Arthur pun keluar dan melepaskan maskernya, namun baju Apd masih menempel.


Harry meloncat dengan cepat dan menghampiri Arthur begitu juga Austin wajahnya sangat tegang menunggu kabar apa yang akan mereka dapatkan.


"Awalnya semua organ vital Nyonya Alaris, berhenti berkerja, dan pendarahan sangat hebat, lalu kami menyuntikkan obat rahasia dengan dosis besar, dan akhirnya iragn vitalnya mulai bekerja meski masih lemah, kami akan memindahkannya di ruangan ICU." Kata Arthur.


"Lalu bagaimana sebenarnya keadaannya?" Tanya Harry.


"Sementara ini Nyonya Alaris masih koma. Kami akan bekerja keras dan berjuang." Kata Arthur.


"Berapa lama Istriku akan bangun?"


Arthur menggeleng kan kepala, wajahnya tampak sedih.


"Kami tidak tahu. Tapi, berkat obat rahasia itu, Nyonya Alaris mampu bertahan, jika kita tidak memakai obat itu, Nyonya Alaris sudah tidak terselamatkan, meskipun hanya setitik cahaya, tapi ada harapan, daripada tidak sama sekali." Kata Arthur.


Harry merasa tubuhnya semakin tak berdaya, kakinya lemah dan tak kuat menopang tubuhnya, ia mulai terhuyung-huyung dan langsung meraih lengan Zoland.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2