
Resepsi pernikahan telah selesai, pesta juga sudah usai. Setelah serangkaian acara yang panjang seharian, saatnya acara yang paling ditunggu oleh para pasangan pengantin, yaitu malam pertama.
Namun berneda dengan Alaris, ia masih di dalam kamar mandi, bimbang dan bingung, ia mandi lebih dulu, kamar mandi milik Harry jauh lebih besar daripada miliknya.
'Saat memasuki kamar Harry kami sama-sama canggung, padahal kami sudah pernah tidur bersama, tapi rasanya hari ini aku benar-benar bisa gila, dengan rasa canggung ini.'
'Apakah aku bisa berani? Apakah Harry akan menyentuhku malam ini, ataukah akan berakhir seperti malam pernikahan ku dengan William? Yang berakhir dengan perjanjian?'
Alaris telah menyelesaikan ritual mandinya dan memakai handuk kimono, kemudian ia keluar dan melihat saat itu Harry sedang berdiri di dekat balkon, angin menghempaskan rambut-rambutnya.
Sinar cahaya bulan yang memancar membuat wajah tampan Harry semakin bercahaya dan semakin tampan. Paras itulah yang membuat Alaris jatuh hati pada Harry.
Tirai putih melambai-lambai, Harry yang berdiri dan memegang segelas wine melihat Alaris sudah selesai mandi, Harry kemudian meletakkan wine itu di atas meja, dan menutup tirainya sembari tersenyum.
Kemeja Harry yang sudah terbuka membuat dada Alaris berdetak kencang, tubuh yang sempurna, tubuh yang Alaris kagumi.
"Aku baru kali ini melihatmu minum." Kata Alaris.
Harry tersenyum dan mendekati Alaris, mengambil handuk yang melilit di rambut Alaris, kemudian rambut panjang Alaris yang masih basah tergerai.
"Aku tidak pernah minum, aku hanya mencicipi wine nya sedikit, tanda terimakasihku pada Leon."
"Tidak pernah minum?" Fakta baru yang Alaris tahu dan sukai dari Harry.
"Mm." Kata Harry mengangguk pelan.
"Lalu kenapa Leon memberikanmu Wine?" Tanya Alaris.
Harry tersenyum.
"Katanya ini hari spesial." Bisik Harry dengan wajah penuh menggoda.
Wajah Alaris bersemu merah.
"Aku juga akan mencicipi Wine nya." Kata Alaris, mungkin segelas wine tidak buruk untuk menghilangkan kegugupannya.
Harry menggeleng pelan dan mengarahkan Alaris untuk duduk di kursi.
"Tidak boleh, malam ini jangan ada yang terpengaruh oleh alkohol." Kata Harry.
Kemudian Harry mengambil hairdyer, perlahan tangan kekar itu cekatan mengeringkan rambut Alaris.
Detak jantung Alaris memompa dengan cepat, wajahnya sudah kembali merah, Alaris hanya mendunduk, Harry pun tidak banyak bicara.
Setelah rambut Alatis kering, Harry meletak hairdyer di atas meja sembari membungkuk, dan berbisik di telinga Alaris.
"Tunggu aku selesai mandi, dan jangan tidur, kamu milikku sekarang."
Bisikan Harry jelas-jelas mengandung arti yang dalam.
'Bagaimana dia bisa bicara dengan setenang itu, apakah dia tidak tahu sikapnya yang seperti itu membuat jantungku semakin tidak karuan.'
__ADS_1
Harry membisikkam kalimatnya dengan begitu seksi.
Kemudian Harry mengecup leher Alaris dengan lembut dan pergi ke kamar mandi.
Alaris kuwalahan menghadapi dirinya sendiri, wajahnya sudah terbakar oleh setiap godaan Harry.
'Panas.' Kata Alaris.
Kemudian Alaris berjalan mondar-mandir frustasi, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana, harus dudukkah?
Kemudian Alaris duduk, ia bingung bagaimana posisi duduknya? Dia atas ranjangkah? Atau duduk di samping ranjangkah?
Apakah aku terlihat sedang menunggu dan berharap Harry menyentuhku jika tidur di atas ranjangnya.
'Oh astaga aku bisa gila!!!'
Ceklek!
Terdengar pintu di buka dan pasti itu adalah Harry yang telah selesai mandi.
'Astaga aku harus bagaimana? Atau aku pura-pura tidur?'
Alaris meremas jemarinya sendiri. Hanya berdiri kebingungan, tegang dan gugup.
Harry keluar dengan memakai handuk yang dililitkan di pinggang, mata mereka bertemu, Harry melangkah maju dengan pelan dan kemudian memeluk Alaris.
Tindakan yang tiba-tiba membuat Alaris terkejut.
Pertahanan yang selama ini Harry tahan, kini tersalurkan sudah pada orang yang ia inginkan.
Harry memimpin, dan mengarahkan Alaris untuk berbaring di atas ranjang.
"Ma... Matikan lampunya." Kata Alaris gugup.
"Aku tidak bisa." Kata Harry yang berada di atas Alaris dengan senyuman.
"Ke... Kenapa?"
"Karena aku ingin melihat wajah cantikmu." Senyuman Harry mengembang sempurna.
"Kamu gugup?" Tanya Harry.
Tangan Harry luwes menarik tali kimono milik Alaris.
"Kenapa kamu bertanya!" Geram Alaris kesal.
Harry tertawa lembut, suara itu sangat sexy.
"Aku tidak ingin membuat mu takut, aku tidak ingin membuatmu tertekan."
"Kamu bersikap seolah sudah terbiasa." Kata Alaris.
__ADS_1
"Awalnya aku juga gugup, tapi aku sudah sangat lama menahan dan menantikan kamu menjadi milikku, menjadikan rasa gugupku pun hilang. Istriku, bagaimana kamu melihatku hari ini?"
"Kamu... Tampan." Kata Alaris.
Harry tertawa lagi.
"Kamu mulai menggodaku lagi, wajahmu terlihat sangat menggemaskan saat gugup dan malu secara bersamaan."
Ikatan tali kimono milik Alaris pun sudah terlepas, tangan kekar milik Harry menelusup masuk dengan perlahan menyentuh kulit perut Alaris.
Alaris mendesis ringan, dan menekan lidahnya untuk tidak bersuara.
Harry tersenyum, kemudian mencium bibir Alaris, ciuman yang panas dan tangan kekar itu perlahan membelai naik, sedikit demi sedikit dengan lembut meraih sesuatu dan membuat Alaris melingkarkan tangannya di tengkuk kepala Harry.
Sentuhan tangan panas itu menjalar ke tubuh Alaris dan membuatnya melayang, tubuh nya memanas, kepalanya seperti terbakar dengan sentuhan lembut Harry.
Perlahan Harry melepaskan ciuman dan melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya.
Alaris menelan ludahnya.
'Ba... Bagaimana itu bisa sangat besar dan akankah itu bisa masuk....'
Sebelum Alaris memikirkan sesuatu antara bisa atau tidak Harry menekan tubuhnya pada tubuh polos Alaris dan menciumnya lembut.
Tak sampai di situ Harry memberikan kemanjaan yang tak bisa lagi membuat kepala Alaris jernih, Harry memberikan sentuhan di setiap inc tubuh Alaris, dan kamar menjadi saksi bisu bagaimana suara Alaris menggema merasakan getaran-getaran yang seperti listrik mengalir di setiap sendi bahkan otot-ototnya.
Peluh keringat telah membasahi tubuhnya, berkali-kali Alaris hanya menyebut nama Harry.
Alaris tidak lagi merasa gugup setelah Harry melakukan pemanasan baginya, dan sesuatu yang menyakitkan bagi Alaris pun datang meski itu hanya sebentar.
Harry menekan tubuhnya pada Alaris. Pria itu berulang kali membisikkan bahwa ia sangat mencintai Alaris.
"Aku mencintai mu Alaris."
Hanya kalimat itu yang terus Harry keluarkan, dengan berbisik dan dengan suara rendah yang parau namun juga seksi.
Tubuh Harry penuh dengan keringat, yang bercampur dengan keringat Alaris.
Otot-otot tubuh Harry bekerja dengan sempurna, dengan paduan wajah tampan Harry membuat Alaris semakin terpesona.
Pada akhirnya Harry menyelesaikannya dengan beberapa kali putaran, ronde demi ronde dan itu adalah malam paling indah bagi Alaris, Harry mengambilnya dengan gentle dan tanpa memaksa, penuh kelembutan dan penuh kasih sayang.
Harry memperlakukannya dengan penuh kesabaran dan kehangatan, setiap kalimat dan bisikan yang Harry keluarkan seperti sihir bagi Alaris.
Di beberapa putaran Harry begitu terlihat kuat dan memimpin, namun di putaran terakhir dan itu sudah tengah malam, Harry menyelesaikan nya tubuh yang kuat dan berotot itu menekan tubuh kecil Alaris.
Suara parau yang Harry keluarkan terdengar seksi dan seolah menyerah pada tubuh Alaris yang sudah lebih dulu lemah.
Malam itu menjadi malam terindah bagi mereka berdua, senyuman terpancar dari lelah-lelah wajah bahagia mereka.
Harry tidak pernah berhenti membisikkan kalimat-kalimat cintanya pada Alaris dan mengecup lembut pipi Alaris. Dalam pelukan Harry yang erat Alaris tidur dengan pulas.
__ADS_1
bersambung~