
Saat Alaris mulai bisa bernafas normal kembali, dan jantungnya mulai berdetak tenang, tiba-tiba kram yang lebih dahsyat datang menyerang, Alaris semakin merasakan perutnya seperti akan berjatuhan ke lantai.
Alaris berpikir itu seribu kali lebih menyakitkan lagi kali ini.
Alaris segera memegang tangan Samantha dan mencengkramnya, ia berkata dengan gemetar.
"Sakit. Sakit sekali, ini sakit ... ah ...!!"
Alaris tiba-tiba berteriak, kakinya menegang tapi juga terasa seperti tanpa tulang menjadi lunak dan kebas, tubuhnya mulai merosot turun lagi, dari sandarannya.
Ketika itu, Arthur pun datang tergesa-gesa bersama Austin, wajah Arthur terlihat sangat marah entah apa yang terjadi sebelum mereka datang bersamaan, namun ia seperti harus di tuntut untuk profesional.
"Dokter! Nyonya Alaris mengeluarkan darah!"
Kali ini semua orang terkejut karena di ranjang Alaris terlihat darah segar.
Di bawah tubuh Alaris, ranjang sudah penuh darah dan juga noda darah telah membasahi gaun Alaris.
Dokter Arthur melihat situasinya tidak benar, dia segera berteriak.
"Oh Tidak! Kita harus membawa Nyonya Alaris secepatnya ke rumah sakit, dan hubungi Harry!" Teriak Arthur melotot emosi pada Austin.
Arthur bergegas untuk memberikan pertolongan pada Alaris, ekspresi Arthur sangat serius, dan membuat para pelayan takut.
"Ini jelas tidak akan berakhir dengan persalinan normal!"
"Cepat!!! Apa helikopternya sudah siap! Kita harus cepat mengirim Nyonya Alaris ke Rumah sakit. Hubungi rumah sakit untuk menyiapkan 7 kantong plasma. Pendarahan pasien semakin meningkat!" Perintah Arthur pada perawat yang datang bersamanya.
"Baik dokter!"
Semua yang ada di dalam kastil akhirnya menjadi panik, bahkan para pelayan berlarian kebingungan menyiapkan tandu segala macam untuk membawa Alaris menuju helikopter, hingga mereka berlarian dan saling menubruk, adegan demi adegan tiba-tiba menjadi sangat kacau.
Dengan cepat Arthur memasang infus pada tangan Alaris, dan kini Alaris benar-benar tidak sadarkan diri.
Saat itu wajah dan kulit Alaris dengan cepat dan langsung menjadi pucat.
******
Sementara Harry saat itu sedang memimpin rapat di kantor, beberapa bulan ini semua karyawan merasakan atmosfer yang mengerikan.
Harry bahkan meminta semua pegawainya untuk lembur hingga tengah malam, dan tak sedikit ketika para pegawainya melakukan satu kesalahan kecil maka makian pun keluar dari mulut Harry.
__ADS_1
Saat itu seperti biasa ruangan rapat sangat mencekam dan mengerikan, meski sinar lampu dan cahaya matahari membuat nya menjadi sangat terang namun tetap saja terlihat gelap dan mendung pekat seperti banyak petir bagi semua pegawai yang duduk di kursi panas mereka masing-masing.
Saat itu Zoland bergegas masuk terlepas dari pertemuan itu, Zoland tidak perduli, dan ketika dia menyerahkan telepon kepada Harry, dan Harry menerimanya di telinganya seluruh tubuh Harry bergetar hebat.
Sebuah ekspresi yang tidak biasa terlihat di mata para pegawainya.
Harry gemetar dan terlihat cemas, wajah itu sangat takut.
"Rapat selesai!" Kata Harry kemudian ia bangkit dan pergi dengan langkah lebar.
"Bagaimana si bodoh dan idiot itu menjaga istriku! Aku sudah bersabar berbulan-bulan dan dia....!!! Aaargh badjingan itu...!!! Bagaimana bisa dia membiarkan istriku pendarahan!"
Zoland bergegas dan berlari lebih dulu membuka lift, agar ketika Harry datang Lift sudah terbuka, Harry tidak tahu kondisinya seperti apa, ia tidak berani membayangkannya namun yang jelas hati dan perasaan Harry bergetar hebat, firasat buruk muncul secara spontan dan mempengaruhi emosi nya.
Terlepas dari apa yang dikatakan Harry, Zoland kemudian menjawab panggilan tanpa melepas mikrofon di tubuhnya.
Isi panggilan ditransmisikan melalui mikrofon di telinganya.
"Tuan Harry, tolong tetap tenang! Nyonya Alaris, mengalami pendarahan! Dokter Arthur dan perawat lain nya sudah menanganinya namun sepertinya Nyonya Alaris dalam keadaan pingsan. Tapi, bayi yang ada di perut Nyonya Alaris, jika tidak segera di lahirkan, ia akan mati lemas. Dokter Arthur mengatakan, ini seperti pedang bermata dua karena kondisi Nyonya Alaris sangat lemah, ia tidak bisa melakukan operasi, jika tetap di lakukan operasi, maka organ-organ seluruh tubuh nyonya Alaris akan melemah, dan itu tidak akan berlangsung lama, kemungkinan Nyonya Alaris tidak dapat bertahan..."
Harry meledak mendengat kalimat Zoland, ia menangkap bahwa, anak dan istrinya akan meninggalkannya, mereka akan pergi bersama-sama tanpa dirinya.
Ponsel di tangan Harry pun terjatuh ke lantai, dan wajahnya yang tampan membeku pucat pasi.
Harry dengan cepat melangkah lebar, tidak itu lebih tepat nya adalah berlari, ia bergegas ingin keluar.
Harry bergegas dan tidak sabar ingin cepat-cepat keluar dari lantai atas dan menuju lift.
Namun, sebuah panggilan pun mendarat di mikrofon Zoland.
"Tuan Harry, kita naik, Tuan Leon sudah menunggu di atap dengan helikopter."
Harry diam, namun menunggu beberapa detik, dan menjadi hampir beberapa menit, membuatnya frustasi, lift yang sempat turun harus naik lagi, dan membuat amarahnya meledak, ia memukul pintu lift yang ia rasa itu terlalu lambat, untuk segera terbuka.
"BRAKK!!"
"BRAAK!!!"
Dalam sekejap, Harry begitu sangat marah. Pria itu menjadi gelap mata.
Setelah akhirnya lift terbuka, Harry menendang tempat sampah di dekat pintu lift dan menghancurkannya.
__ADS_1
Detik berikutnya, Harry berlari menuju Helikopter.
Harry menjadi gila dan panik.
"Istriku, tunggu aku."
*******
Bersamaan itu, ketika semua sudah siap untuk menerbangkan Alaris, Harry sampai di kastil.
Saat itu juga Harry melewati Austin yang sudah menyambutnya dengan wajah pucat, ia merasa sangat bersalah, namun Harry tidak menghiraukannya.
Harry langsung masuk menuju kamar Alaris, ia melihat Alaris sudah bersimbah darah.
Harry membuka jasnya dan menutupi tubuh Alaris kemudian mengangkat tubuh Alaris, ia menggendongnya, Leon mengambil alih infus dan berjalan seirama dengan Harry.
Arthur pun tidak bisa berkata apa-apa ia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan perihal bagaimana bisa saudaranya berpura-pura menjadi suami Alaris.
Meski Arthur merasa sangat malu, karena bahkan Harry masih menutupi masalah itu. Arthur percaya Harry membiarkan itu karena ia memiliki banyak alasan, dan pasti juga itu tidak mudah bagi seorang Harry, yang protektif pada sang istri.
"Aku bisa gila, Istriku, aku bersamamu, sadarlah sayang..." Kata Harry yang menggendong Alaris.
Kemeja putih milik Harry sudah menyatu dengan darah yang keluar dari Alaris.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu, apapun yang kamu inginkan aku janji akan memenuhi semuanya, asal kamu tetap hidup di dunia ini istriku."
Harry benar-benar menjadi gila, Harry menyesal, mengapa hari ini dia tidak mengecek kondisi istrinya seperti biasanya melalui Samantha dan Emily.
"Mengapa aku sangat bodoh!" Kata Harry menyalahkan dirinya.
"Meskipun kamu hilang ingatan, dan memilih tinggal dengan pria itu, aku akan mengambulkannya, sampai di sini, tolong, jangan tinggalkan aku!"
Harry sudah duduk di dalam helikopter, kemudian Zoland masuk menggantikan Leon memegang infus, sedangkan Leon bertugas membawa mereka menuju rumah sakit milik Arthur.
Otak Harry kosong, melihat keadaan istrinya yang berada di pangkuannya, berulang kali Harry mencium bibir Alaris.
"Sayang, aku sangat mencintaimu."
Dia tidak percaya bahwa sesuatu akan terjadi pada Alaris. Bagaimana bisa sesuatu terjadi? Kenapa istrinya tiba-tiba berdarah? Alaris memiliki kesehatan yang bagus dan prima. Apa yang salah?
Harry terus saja bergumam di dalam hatinya, ia juga tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri yang sangat bodoh.
__ADS_1
bersambung~