
Perayaan pesta Imperial Diamond akhirnya datang, semua sibuk berdandan dan merias diri, semua orang datang dengan gaun dan pakaian termahal.
"Nyonya... Nyonya... Tuan William sudah berangkat bersama Axella." Kata Emily berlari tergopoh.
"William sudah mengambil langkah terang-terangan, berarti dia sudah memikirkan jawaban apa saat wartawan mengeksposenya, kita akan lihat dulu jawaban apa yang akan William katakan pada wartawan saat dia datang tidak bersamaku." Kata Alaris.
"Kita akan datang belakangan Nyonya?" Tanya Samantha.
"Ya. Apa Greisy sudah selesai berdandan?"
"Para penata rias akan mengantarnya kemari Nyonya." Kata Emily.
"Nyonya Tuan Harry sudah berada di bawah." Kata Brida.
Alaris diam dan memikirkan nya sejenak apa yang akan dia katakan ketika wartawan bertanya mengapa mereka datang terpisah dan membawa pasangan masing-masing. Suami-istri seharusnya datang bersama apalagi perusahaan mereka lah yang membuat acara pesta.
"Nyonya Greisy sudah siap." Kata Emily.
Alaris mendekat pada Greisy.
"Kamu terlihat cantik dan elegan, ingat apa yang sudah ku katakan padamu, bermainlah secara halus dan tidak terlihat." Kata Alaris.
"Baik Nyonya." Kata Greisy.
Alaris menuruni tangga dan Harry menantikannya, pria tampan itu melebarkan senyuman.
"Bagaimana ada malaikat di sini?" Kata Harry.
"Terimakasih tapi sanjungan itu terlalu berlebihan."
"Bahkan malaikat tidak bisa menandingi kecantikanmu Alaris."
Harry dan Alaris sudah memasuki mobil limosin, sedangkan para pelayan memakai mobil terpisah, sekretaris pribadi juga memakai mobil terpisah.
Setelah menempuh perjalanan agak panjang, mereka sampai di tempat acara, semua kamera, lampu, san mikrofon menyorot pada Alaris, Harry menlindungi Alaria dari semua media yang menanyakan perihal rumah tangga nya dengan William.
"Nyonya Alaris kenapa anda datang terpisah."
"Nyonya kenapa kalian membawa pasangan masing-masing."
"Nyonya bagaimana kah hubungan rumah tangga anda, kabarnya ada keretakan."
Moment ini membuat Alaris pusing dan kepalanya berputar, ia kembali ingat masalalu. Kalimat-kalimat itu kembali terdengar di kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa selamat dari kecelakaan maut itu?"
"Bagaimana anak sekecil kamu menjadi penyebab kecelakaan maut itu?"
"Bagaimana kamu bisa menjadi anak pembawa sial, semua orang menyalahkanmu atas kecelakaan maut yang menewaskan orang tua mu dan sopir itu."
"Apa kamu tahu sopir itu juga memiliki keluarga yang ditinggalkankan."
"Bagaimana kamu menjalani hari-hari mu di rumah sakit."
Lalu ada suara anak kecil yang berdiri di sampingnya, memeluknya.
"Alaris jangan takut aku akan melindungimu, kamu adalah temanku, aku akan mendampingimu sampai akhir, karena orang tua ku juga mengalami kecelakaan di tempat yang sama seperti orang tuamu, karena orang tua ku juga mengalami kecelakaan yang sama seperti orang tuamu di tempat yang sama, kita senasib, jadi jangan menyalahkan dirimu, jangan dengarkan apa kata mereka."
"Jangan dengarkan apa kata mereka Alaris, aku akan mendampingimu sampai akhir " Kata Harry.
Sontak Alaris melihat pada wajah Harry dan berbagai ingatan masa lalu pun kembali muncul. Ingatan seorang anak kecil yang selalu menemani dan menghiburnya saat ia berada di rumah sakit, ingatan seorang anak kecil yang selalu menginginkan Alaris tertawa, bagaimana anak kecil itu melindunginya, dan berusaha membuatnya kembali tersenyum.
"Siapa namamu, kenapa kamu selalu mengangguku, apa kamu tidak punya keluarga seperti aku?" Tanya Alaris kecil.
"Namaku Harry Mac Linford, orang tuaku meninggal sama seperti orang tuamu, mereka mengalami kecelakaan di tempat yang sama juga seperti orang tuamu. Jika sudah besar, aku akan membalaskan dendam kita pada dalang yang sudah membuat keluarga kita hancur. Mereka hanya menginginkan harta yang kita miliki. Satu persatu aku akan membuat mereka membayarnya." Kata Harry kecil.
Alaris menggenggam erat lengan Harry, kepalanya sedikit pusing, apalagi silau kamera begitu banyak dan membuat matanya semakin buram.
"Aku sedikit pusing, pandanganku mendadak kabur."
Dengan cepat Harry menggendong Alaris dan membuat para wartawan semakin gencar memotret, nyala lampu dan semua suara wartawan yang bertanya semakin santer terdengar.
William yang melihat adegan itu dari dalam langsung meminum sampanye nya sekali teguk dan mengambil lagi.
Axella yang melihat gelagat William menjadi kesal dan memilih pergi mencari udara segar.
Setelah masuk ke dalam ruangan yang besar, Alaris meminta turun karena banyak tamu melihat mereka.
"Terimakasih Harry atas tindakan heroikmu, dan sekarang pasti akan semakin menimbulkan rumor dan gosip yang panas." Kata Alaris.
"Tidak apa-apa aku menyukainya, media memang seperti itu dari dulu."
Pesta berjalan lancar, perayaan itu menjadi semakin meriah ketika kembang api menyala indah.
Diam-diam saat Alaris dan William sibuk menyapa tamu, Axella mendatangi Harry.
"Tuan Harry... Apa anda masih ingat saya?" Tanya Axella.
__ADS_1
"Aah.. Tentu saja." Kata Harry tersenyum.
"Sejujurnya saya ingin meminta bantuan anda Tuan, saya dengar anda berasal dari Negara Slyvedonia. Tanya Axella.
"Ya, itu benar, jika saya bisa, akan saya bantu."
"Saya kehilangan teman masa kecil saya, saya rasa wajahnya sedikit mirip dengan anda."
"Apakah itu benar? Dimana anda kehilangan dia."
"Di negara Slyvedonia ketika umur saya sekitar 6 atau 7 tahun."
"Apa ini takdir? Saya juga sedang mencari teman masa kecil yang menghilang ketika usia saya masih sekitar 7 tahun."
"Apakah itu benat Tuan Harry?!"
"Sayangnya, kepala saya terbentur dan tidak mengingat apapun, yang saya ingat hanyalah suatu nama jalan di salah satu Negara Slyvedonia yang sekarang jalan itu di tutup dan di jadikan taman bernama The Hills Garden." Kata Axella.
"Aahh.. Apa anda mengingat sesuatu lagi."
"Orang tua saya meninggal di tempat itu Tuan." Axella menitikkan air mata dan menangis.
"Ya Tuhan, Nona Axella anda seperti nya adalah yang saya cari, benarkah anda tidak mengingat saya?"
"Kepala saya sakit setiap mencoba mengingat." Kata Axella.
"Tidak apa-apa, cobalah pelan-pelan mengingat. Saya sangat gembira hampir tidak percaya, saya akan mengumumkannya sekarang." Kata Harry.
"Se... Sekarang? Ta... Tapi Tuan tu... Tunggu dulu."
Harry kemudian mengangkat gelasnya dan memukulnya pelan menggunakan jentikan jarinya membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Maaf kan saya telah menganggu kebahagian kalian semua yang sedang menikmati pesta, tapi saya juga sedang sangat bahagia hingga ingin membaginya dengan kalian, biar kan beberapa wartawan masuk dan saya ingin mengungkapkan sesuatu."
Kemudian Zoland membawa beberapa wartawan masuk semua orang juga mendegarkan kini Harry dan Axella sudah berada di tengah-tengah, menjadi pusat perhatian.
William melihat dan memperhatikan begitu juga Alaris.
"Saya sudah menemukan teman kecil saya yang sangat saya sayangi dan dia adalah cinta pertama saya yang sampai hari ini tidak pernah bisa saya lupakan, dan ternyata dia adalah Nona Axella."
Harry tersenyum bangga memperkenalkan Axella sebagai teman kecilnya.
Alaris yang tentu saja menjadi merinding, tubugnya kaku dan seketika membeku, dingin menerpanya. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya aman ternyata juga memiliki hubungan spesial dengan Axella.
__ADS_1
bersambung~