Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
KABAR GEMBIRA


__ADS_3

Semakin siang, Alaris semakin merasa kuwalahan, dia tidak nafsuu makan dan tidak memiliki selera apapun.


Yang ia rasakan hanyalah pusing dan sedikit-sedikit mual dengan segala bau yang tidak ia senangi.


Harry masuk membawa troli berisi makanan lagi. Tidak ada bau parfuk lagi, karena Harry memilih untuk tidak memakainya.


"Istriku waktunya makan, tadi pagi kamu tidak makan banyak meskipun itu adalah aku yang memasak, kali ini pasti kamu suka. Aku memasakkan soup brokoli kesukaanmu dengan campuran kacang polong." Kata Harry mendekati ranjang.


Alaris hanya tidur dan memeluk selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Sayang, ayo bangun, aku akan menyuapimu." Kata Harry.


"Tidak selera." Kata Alaris lemah sambil menutup mata.


Harry mengela nafas, apa karena ia melihat kondisi William jadi sekarang Alaris terus saja merasa mual dan tidak selera makan. Harry mulai menyalahkan dirinya sendiri. Wajah Harry berubah suram dan muram.


"Sayang... Apa karena kamu melihat kondisi mantan suamimu dan kamu menjadi mual, serta tidak nafsuu makan, setelah kembali dari sana kamu makan sangat sedikit." Kata Harry.


Alaris hanya menggelengkan kepala pelan. Kemudian Harry membelai pipi Alaris.


"Tubuhmu agak panas Istriku, apa sekarang kamu juga demam." Kata Harry.


Alaris masih diam, dan memejamkan mata, ia hanya ingin tidur dan tidur.


"Aku akan memanggil Arthur lagi." Kata Harry, mencium dahi Alaris.


Kemudian Harry keluar, ia hendak mencari Zoland, namun di lantai bawah ternyata Zoland sudah berbicara dengan Arthur.


"Syukurlah kamu datang, setelah kembali dari Negara Vernecia kondisi Istriku semakin lemah, dia bahkan tidak mau makan dan minum. Hanya berbaring dan tidur, dia bilang juga selalu merasa mual ketika mencium bau-bau yang tidak ia sukai." Kata Harry.


Arthur mengernyitkan alisnya.


"Sejak kapan?" Tanya Arthur.


"Semakin parah sejak pagi tadi sebelum berangkat ke Negara Slyvedonia." Kata Harry.


Arthur bergegas, ia berjalan dengan cepat, hingga Harry juga menjadi panik.


"Apa ada yang serius? Kenapa kamu terlihat tegang." Kata Harry.


"Akan saya periksa, semoga dugaan saya benar."


Arthur dan Harry masuk, dan Alaris masih tidur, wajahnya terlihat pucat.


Harry melihat pada wajah Arthur yang bahkan tidak memiliki ekspresi apapun. Sebelum memulai pemeriksaan, Arthur mengeluarkan alat-alat nya.


Harry nenggenggam tangan Alaris dengan penuh kasih sayang ketika Arthur mulai memeriksa.


Karena pemeriksaan itu, Alaris kemudian membuka matanya.


"Harry..." Kata Alaris.


"Tidak apa Arthur sedang memeriksa keadaanmu sayang..." Kata Harry mencium punggung tangan Istrinya.


Semua orang hening, menunggu jawaban apa yang akan Arthur berikan, Alaris hanya mendengar detak jantungnya sendiri yang terasa seperti detak jam.

__ADS_1


"Berapa lama lagi kamu akan memeriksaku?" Tanya Alaris.


Berulang kali Arthur seperti mengulang-ulang pemeriksaan yang ia lakukan, seolah ia juga sedang meyakinkan dirinya sendiri jika diagnosanya tidak akan meleset.


"Selamat untuk kalian berdua. Tidak ada keraguan lagi pada diri saya, bahwa Nyonya Alaris sedang mengandung." Kata Arthur.


Begitu Arthur selesai berbicara, isak tangis terdengar dari samping.


Alaris mengalihkan pandangannya dari Arthur dan melihat pada Harry, pria itu menangis seperti bayi.


Harry kemudian mencium dahi dan bibir Istrinya, sembari memeluk tangan Alaris di dadanya.


Hanya isak tangis Harry yang bisa terdengar di ruangan yang sunyi itu, bahkan Arthur juga hanya diam dan memperhatikan tindakan itu.


Arthur tahu bagaimana Harry selalu berkata tidak ingin mengecewakan Alaris, karena Alaris selalu mengatakan jika menginginkan bayi.


Arthur melihat Alaris dengan tatapan bahagia, Alaris menitikkan air mata karena Harry begitu bahagia hingga menangis.


"Bayi...? Apa dia sehat di dalam perutku, karena aku tidak makan dengan baik?" Alaris mulai mencemaskannya.


"Tidak apa-apa, aku akan memberikan vitamin, mari melakukan pemeriksaan berkala di rumah sakit untuk mengetahuinya." Kata Arthur.


Harry kemudian mencium pipi Alaris beberapa kali dan berkata, "Kita akan menjadi keluarga yang sempurna."


Lalu dia mengangkat tubuh Alaris dan memeluknya dengan tiba-tiba, Harry menggendong Alaris memutar di kamar itu, dan reflek Alaris memeluk leher besar Harry.


"Harry, aku pusing!" Pekik Alaris.


"Maafkan aku istriku, aku terlalu bahagia." Kata Harry menaruh istrinya lagi di atas ranjang.


Tiba-tiba, air mata Alaris mengalir.


"Aku… aku akan menjadi seorang ibu." Kata Alaris lirih dan bahagia.


"Aku tidak percaya, aku akan menjadi ibu." Kata Alaris lagi menangis.


"Anakku..." Kata Alaris mengelus perutnya.


Tangan besar Harry pun menangkup di atas tangan kecil Alaris. Mereka membelai perut Alaris secara bersamaan.


"Kehidupan yang tumbuh di dalam diriku dengan cara yang sama sekali tidak pernah aku duga, ternyata aku dipercaya untuk menjadi ibu juga, ini sebuah kegembiraan dan ketakutan yang aneh pada saat yang bersamaan." Kata Alaris.


"Sekarang aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri, dan semua tindakanku harus di pikirkan berkali-kali demi keselamatan dan kesehatan bayiku." Kata Alaris lagi.


"Aku akan memberikan penjagaan yang lebih baik lagi kedepannya." Kata Harry.


Satu sisi Harry bahagia, tapi satu sisi ia memiliki rasa khawatir tentang kesehatan Istrinya.


"Tapi, bagaimana istriku sangat terlihat lemah." Tanya Harry pada Arthur.


"Itu karena masih awal, setelah beberapa bulan Nyonya Alaris akan kembali seperti biasanya, makan dengan lahap juga. Tapi saya berharap anda menunda untuk berhubungan, karena usia kehamilan awal adalah usia paling riskan biarkan anak itu berkembang dengan baik dulu. Saya akan menunggu di rumah sakit mari kita periksa kesehatan bayi itu melalui monitor." Kata Arthur tersenyum.


Alaris nampak malu dan membuang muka.


Harry kemudian menaruh kepalanya di samping kepala Alaris.

__ADS_1


"Aku akan menyayangimu dan memperlakukanmu dengan lebih baik lagi."


Alaris tersenyum.


"Kamu sudah sangat baik padaku."


"Kalau begitu saya permisi Nyonya Alaris."


"Terimakasih Arthur." Kata Alaris.


"Senang bisa memberikan kabar bahagia itu." Kata Arthur dan pergi.


"Aku tidak akan menyakitimu, aku akan bersikap baik dan manis padamu, aku akan melayanimu dengan baik. Berikan semua urusan perusahaan pada Brida dan Zoland, aku tidak mau Istriku kelelahan, cukup istirahat di kastil dan membuat anak kita tumbuh dengan sehat." Kata Harry mengecup dahi Alaris.


"Kamu cerewet sekali." Kata Alaris mencubit hidung Harry.


"Istriku, apa aku benar-benar cerewet?"


Alaris mengangguk.


"Itu karena aku sangat mencintaimu, dan aku semakin tidak akan tega meninggalkanmu sendiri di Kastil, apa aku harus berhenti bekerja dan seperti ini saja sepanjang waktu bersamamu?" Tanya Harry cemberut.


"Jika kamu berhenti bekerja bagaimana kamu akan memberikanku uang? Jika kita kekurangan uang dan kamu sidah berhenti bekerja, aku pasti yang akan menjadi tulang punggung, kamu juga harus memberikan anakmu makan dan pendidikan." Kata Alaris sembari mengelus rambut Harry.


Saat itu Harry masih menyandarkan kepalanya di samping Alaris, setengah memeluk Alaris, ia duduk dengan kursi tanpa sandaran.


"Jika istriku berkata seperti itu, aku akan giat bekerja, aku tidak mau istriku menjadi tulang punggung keluarga apalagi sedang mengandung." Kata Harry dengan nyengir.


"Apa kita harus memberitahu semua orang?" Tanya Alaris.


Harry kemudian menegakkan kepalanya dan melihat pada wajah Alaris.


"Ini adalah kebahagiaan, aku ingin semua orang tahu, bahwa kita akan memiliki anak, tapi sebelum itu kamu harus melakukan pemeriksaan dulu di rumah sakit Arthur."


Alaris menghela nafasnya.


"Tapi ku pikir, cukup kita saja yang tahu itu akan lebih baik, aku merasa sangat khawatir dengan keselamatan anakku."


"Kamu berfikir begitu?" Tanya Harry.


Alaris mengangguk.


"Baiklah untuk sementara kita rahasiakan dari siapapun, sampai waktunya tiba kita akan memberitahukannya. Apa kamu setuju dengan ide ini Istriku?" Tanya Harry.


"Aku setuju." Kata Alaris puas.


Harry mencium lembut bibir istrinya dengan begitu bahagia dan suka cita. Harry bersyukur Alaris menjadi isterinya bahkan sekarang, Alaris telah mengandung anaknya. Tidak ada kebahagiaan yang bisa menandingi itu semua.


“Semakin aku memikirkan anak yang akan kita miliki… semakin jantungku berpacu dan aku merasa sangat semangat menjalani hidup Istriku."


"Apa kamu sangat senang?" Tanya Alaris.


"Bayi yang akan lahir ini adalah buah dari cinta kita."


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2