Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
LEON GYNOPHOBIA


__ADS_3

Sekembalinya Axella di Mansion The Kingham William sedang memarahi seluruh pengawal.


Axella melihat semua orang sangat panik dan terdengar teriakan-teriakan yang memekak telinga.


"Cari sampai dapat!!!" Teriak William.


"Dasar para pengawal tidak becus!"


Axella yang baru tiba kemudian langsung menuju kamarnya karena tidak ingin terlibat, ia tahu apa yang sedang William cari.


"Siapa sebenarnya penyusup yang keluar masuk mansion!" Teriak William lagi.


"Tuan cctv di sabotase lagi." Kata Jason.


"Bisa gila aku! Siapa hang berani mencuri Stempel marga Liam!" Geram William.


William berdiri dan melihat pemandangan taman yang sudah selesai Leon bangun, ia mengatur nafas dan mulai menjernihkan kepalanya.


"Mungkin ini bukan waktu yang tepat tapi saya baru saja mendapatkan kabar jika Nona Axella pergi menemui Reed lagi."


William memijit pelipisnya.


"Apa sudah pulang?"


"Sudah Tuan."


"Lalu tentang informasi masa kecil Alaris?"


"Benar Tuan, apa yang Tuan Harry dulu pernah katakan di pesta perayaan Imperial Diamond jika mereka teman masa kecil, orangtua mereka sama-sama mengalami kecelakaan."


"Jadi Harry tidak bohong dan tidak pernah memiliki niatan untuk mempermalukan Axella?"


"Saya rasa begitu."


"Jadi waktu itu memang Axella yang mengaku ngaku menjadi teman masa kecil Harry?"


"Saya rasa juga begitu."


"Jadi apakah berkas, tablet, dan stempel Liam Grup, yang hilang, ini juga ulah Axella?"


"Saya tidak berani menyimpulkan Tuan. Tapi melihat setiap kali anda kehilangan sesuatu dan Nona Axella menemui Reed, mungkin bisa..."


"BRAKK!!!"


William menendang meja.


"Sebelum memiliki bukti yang valid aku tidak mau mendengar kata mungkin dari mulutmu Jason."


"Maaf Tuan atas kelancangan saya."


"Bawa Reed, dan selidiki dia, jika perlu siksa spai ia berbicara, jika terbukti dia memeras Axella bunuh!" Perintah William.


"Baik tuan."


Kemudian William pergi menemumui Axella yang sedang berbaring memeluk bonekanya.


"Kamu sudah mau tidur?" Tanya William.


"Belum." Kata Axella murung.


"Kenapa dengan wajah sedihmu itu?"

__ADS_1


"Beberapa hari kamu tidak bersamaku." Axella memasang raut wajah memelas.


"Maafkan aku, banyak sekali urusan yang harus di selesaikan."


William berbaring di samping Axella dan membelai lembut perut Axella yang sudah besar.


"Nyaman sekali berada di sampingmu." Kata Axella.


"Aku akan berada di sampingmu selalu."


"Tapi kapan kita akan mengadakan pernikahan William? Perutku sudah membesar."


William hanya diam.


"Aku tidak mau di sebut-sebut sebagai selingkuhan terus menerus, apa kamu tidak kasihan dengan anak kita, mereka semua menyebutnya anak haram." Air mata Axella menetes.


Kini air mata yang hanya mengalir berubah menjadi isak tangis, bahu dan perutnya pun berguncang.


"Kita akan segera menikah, besok pagi akan ada perancang gaun untuk mu. Kamu pilih yang terbaik dan tidak membuat mu kesusahan, perutmu sudah besar, dan untuk acara pesta nya biar aku yang mengurus." Kata William.


"Benarkah?" Wajah Axella berubah menjadi sumringah dengan mata yang masih basah.


William mengangguk hangat.


Axella kemudian memeluk William dan mencium pipi William.


"Aku bahagia."


"Harus. Kamu harus selalu bahagia, agar bayi kita juga bahagia dan sehat." Kata William.


******


Negara Slyvedonia


Tangannya mencengkram erat pakaiannya.


"Jawab saja."


Kata Leon tidak sabar.


"Sa... Saya belum pernah dekat dengan pria manapun."


"Baiklah sempurna. Kalau begitu tolong bantu aku menghilangkan bau menjijikan ini dari tubuhku." Kata Leon.


"Bau? Bau apa?"


"Nanti akan ku jelaskan. Apa kamu mau membantuku?" Tanya Leon.


Brida dengan takut mengangguk ragu.


Dengan cepat Leon menarik tangan gemetar Brida dan dengan kecepatan yang tidak bisa Brida bayangkan, Leon mencium bibir Brida, berharap kenangannya saat berciuman dengan Axella bisa terhapus.


Leon berharap bau yang menjadi halusinasinya juga menghilang.


Leon berharap, rasa mual di dalam perutnya juga menghilang.


Tentu saja Brida memberontak, namun tenaga Leon jauh lebih besar.


Leon membawa Brida dengan paksa di atas ranjang, hingga pria itu menciumi semua leher dan dada Brida.


Saat itu isak tangis terdengar di telinga Leon di sela pikiran nya yang kacau Leon mencoba menahan diri dan melihat Brida.

__ADS_1


Brida menutup mata dengan gemetar, air mata sudah menggenang.


"Ma... Maafkan aku, aku... Sangat frustasi. Harry begitu kejam padaku, dia tahu aku menderita gynophobia tapi tetap menyuruhku merayu Axella." Leon mencengkram sprei di samping Brida.


"Hari ini Axella meminta berciuman dan bukan hanya sekedar mencium tapi ciuman yang lebih dalam." Kata Leon.


Kemudian Leon kembali mual dan berlari ke kamar mandi.


Brida yang mendengarnya merasa prihatin, dan menyusul.


"Untuk apa kamu lakukan itu semua?"


Leon menghela nafas.


"Awalnya agar Harry bisa mendapatkan Alaris, aku harus menghasut Axella untuk menjadi provokator dan penganggu di mansion The Kingham, aku harus terus menghasut Axella agar membuat William terus memihak Axella, tapi kali ini Harry menginginkan stempel marga Liam Grup untuk mengambil aset nya, aku menggunakan Axella, saat dia berhasil dan memberikan stempelnya padaku, dia memintaku menciumnya." Leon menceritakan dengan susah payah sembari memegangi perutnya yang mual.


"Apa....? Apa yang kalian lakukan pada Nyonya Alaris, bukankah itu terlalu kejam? Memisahkan Nyonya dan Tuan William."


"Itu kesalahan William sendiri, mengapa dia berselingkuh, kami hanya menambah dan menabur pupuk agar perselingkuhannya semakin berkembang."


"Tapi..."


Leon memegang tangan Brida.


"Percayalah, Harry adalah orang yang tepat untuk Alaris, dan jangan ceritakan ini pada Alaris. Biarkan mereka bahagia. Lagipula Harry sudah membuat perjanjian akan memberikan semua hartanya pada Alaris. Dia juga menbuat perjanjian tidak akan berselingkuh. Percayalah, Harry mencintai Alatis sejak kecil. Dia sangat tersiksa."


Dada Leon kembang kempis, wajahnya semakin memucat.


Brida menghela nafas panjang dan memang dari awal sebenarnya Brida tidak pernah menyetujui jika Alaris menikah dengan William, apalagi sekarang kebenaran telah terbuka jika dalang dari kecelakaan orang tua Alaris adalah ayah dari William meski saat itu William sama-sama masih kecil seperti Alaris yang sama-sama tidak tahu.


Namun pada akhirnya Hendric Mac Linford juga meninggal akibat kecelakaan dan dalangnya juga Roberto Linevero. Di tambah William juga membantunya. Belum lagi Liam Grup awalnya adalah Alhe Grup milik kedua orang tua Alaris.


Brida kemudian mencium bibir Leon, pria itu terkejut melihat aksi Brida yang mendadak, namun kemudian Leon merangkul Brida, memangkunya di atas kedua pahanya.


Ciuman yang biasa pun menjadi semakin panas, Leon menyisir dan menghirup wangi leher Brida yang khas.


"Wangi..." Kata Leon.


Pria itu terus mencium dan menyesap setiap inc bagian atas tubuh Brida.


Hingga pada akhirnya Leon mengendong Brida, sedangkan kedua kaki Brida melingkar di tubuh Leon, kedua tangan Brida melingkar di bahu dan tengkuk Leon sembari mereka tetap berciuman.


Leon membawa Brida ke atas ranjang dan mulai semakin liar.


"Maaf jika aku tidak sanggup menahan." Bisik Leon.


Brida tidak menjawab hanya lenguhan nafas panas yang keluar dari mulut dan hidungnya.


"Aku baru pertama kali."


"Aku pun juga, terimakasih telah membantuku." Kata Leon.


Sampai beberapa menit dan hingga satu jam berlalu Leon berhasil menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu yang mungkin akan mereka sesali. Leon tidur dengan pulas.


Pria itu bisa tidur, setelah puas menciumi Brida dan membuat begitu banyak tanda di leher dan di dada Brida, mereka hanya tidur sambil berpelukan. Brida merasa lega, bahwa Leon sudah mendapatkan dirinya kembali dan tidak mual lagi.


Brida juga merasa lega karena Leon tidak merampas keperaawanannya.


Saat itu Leon tertidur di sampingnya. Brida memandang wajah tampan itu. Tidak, itu bukan lagi tampan namun wajah itu tampan sekaligus cantik.


"Tidak akan ada yang bisa menahan pesonamu , kamu tampan dan cantik." Kata Brida.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2