Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
KASTIL DI ATAS AWAN


__ADS_3

Harry pergi dengan membawa rombongan para pengawal rahasia, dengan beberapa senjata dan penembak jitu.


Rudal juga sudah mengarah di istana Presiden.


Harry duduk dengan menyilangkan kakinya, dia terlihat santai. Zoland berdiri di belakang Harry.


"Sa... Saya tidak tahu anak angkat bodoh itu melakukan penyerangan." Kata Guillermo.


"Hm... Tapi seharusnya kamu senang kan, strategi anakmu bisa membawa Yumna pergi." Kata Harry.


"Bu.. Bukan begitu..." Kata Guillermo gugup.


"Ku dengar Yumna berada di kastil, tepatnya teluk utara Negara Slyvedonia." Kata Harry.


Guillermo melotot.


"Zoland apa rudalnya sudah siap?" Tanya Harry.


"Sesuai dengan perintah anda, rudal akan meluncur Tuan."


"Katakan padaku dimana istriku." Kata Harry.


"Ap... Apa maksud anda." Kata Guillermo.


"Jangan pura-pura bodoh, atau kamu akan kehilangan anakmu lagi." Kata Harry.


"Sa... Saya benar-benar tidak mengerti Tuan Harry, saya tidak tahu apa yang anda maksud."


"Istriku hilang saat helikopternya mengalami baku tembak dengan pengawal Fabrigo."


"Sepertinya anda salah paham. Kami tidak menyembunyikan Nyonya Alaris." Kata Guillermo gemetar dan melirik tablet milik Zoland.


Guillermo benar-benar di rundung ketakutan jika ridal itu benar-benar di luncurkan di kastil dimana Yumna berada.


"Pilih salah satu Guillermo, kamu yang mati atau putri mu yang mati."


Keringat Guillermo mengalir seperti sungai, kemudian dia bersujud di kaki Harry dengan gemetaran.


"Aku bersedia melakukan apapun, ampuni kami Tuan Harry, tapi saya berani bersumpah bahwa kami tidak menyembunyikan istri anda." Kata Guillermo.


"Lakukan pemanasan." Kata Harry.


"Baik tuan."


Guillermo menatap dengan wajah tegang, matanya melotot dan melihat pada Zoland.


"Siiuww Duaar!!!"


Rudal menghantam istana presiden bagian sisi timur.


"Tuan, saya berani bersumpah bahwa saya tidak menyembunyikan Nyonya Alaris, saya sudah merendah dan bersujud, saya tahu kekuatan anda sangat besar di banding saya, mana mungkin saya berani!" Kata Guillermo dengan jantung yang berdebar.


"Saya mohon Tuan Harry, saya bersedia menyerahkan jabatan saya, tapi jangan bunuh kami." Kata Guillermo.


Harry diam memperhatikan.


"Sepertinya bukan Tuan." Bisik Zoland.


Kemudian Harry berdiri dan pergi meninggalkan Guillermo.


"Tuan... Tuan Harry, tolong bebaskan Yumna, jangan celakai dia." Kata Guillermo masoh mengekor di belakang.


Zoland berjalan mengikutinya di susul para pengawal.


"Tuan Harry..." Teriak Guillermo.


"Putrimu aman." Kata Zoland menepuk bahu Guillermo dan berjalan melewatinya dengan dingin.

__ADS_1


Dalam perjalanan, hingga sesampainya di Kastil, Harry hanya duduk diam di kursinya, bahkan di kastil pun Harry terus memutar pikirannya sembari memandangi taman yang tersuguh melalui jendela besarnya.


Pandangannya kosong, otaknya bekerja keras.


"Sudah menemukannya? Siapa yang membeli patung istriku di pasar gelap?" Tanya Harry.


"Pengawal kita sedang melakukan investigasi Tuan." Kata Zoland.


******


Di sebuah kastil yang megah bak istana kerajaan, bangunan itu berdiri di atas tebing yang curam, tidak memiliki akses mudah untuk keluar masuk.


Sedikit demi sedikit wanita cantik itu membuka matanya, cahaya terang seolah membuat matanya silau dan sakit.


"Di.. Dimana? Aku?" Katanya sambil memegangi kepalanya.


"Kepalaku sangat pusing."


Kemudian dengan hati-hati dan perlahan, ia turun dari ranjang lalu berjalan keluar.


Sedikit demi sedikit lalu mencapai ruangan tengah, ia melihat-lihat bangunan yang indah dan mewah, kemudian matanya terkesima pada sosok yang mirip sekali dengan dirinya.


"Itu... Aku? Patung itu seperti aku?" Katanya.


Wanita cantik itu menatap wajahnya di depan cermin tepat di samping patung kaca yang indah.


"Iya itu aku...."


Perlahan ia berjalan mendekati patung nya dan memegangnya.


"Dingin. Ini dingin sekali."


"Nyonya! Anda sudah bangun?" Seorang pelayan terkejut.


Wanita itu kemudian menoleh, dua pelayan ada di belakangnya dengan wajah tegang.


"Saya akan memberitahu tuan." Salah satu pelayan berlari tergopoh.


"3 hari? Aku tidur selama 3 hari?"


"Anda tidur selama 3 hari."


"Tidur macam apa itu? Kenapa sampai 3 hari." Katanya lagi tak mengerti.


"A... Anda..." Sang pelayan kebingungan untuk menjelaskan.


"Kamu sudah bangun?"


Suara itu rendah, namun juga memiliki intonasi yang cemas.


Di belakang punggungnya, adalah pria yang berdiri menyapanya dengan bertanya khawatir.


"Syukurlah, apa ada yang sakit?"


Setelah berbalik, wajah pria itu tampan, postur tubuhnya kuat dan tinggi, sangat menawan. Meski kulitnya agak kecoklatanya tapi itu exotiss.


"Kamu... Siapa?"


"Kamu tidak ingat aku? Apa kamu ingat siapa dirimu?"


"Aku... Aku.... Aku siapa?"


"Kamu tidak ingat?"


"A.. Aku... Kepalaku... Sakit sekali..." Katanya memegangi kepala.


Kemudian pria itu menggendongnya ke dalam kamar, dan memberikan foto album di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Nama mu adalah Alaris Dwyne... Itu foto-foto tentang kamu, aku mengumpulkannya, maafkan aku."


"Namaku... Alaris Dwyne?"


Alaris menyeka foto dirinya yang terpajang di album foto dengan jemarinya.


"Lalu... Melihat ku ada di sini bersamamu, dan mereka memanggilku nyonya, apa kamu suamiku?"


Pria itu yang awalnya menunduk kemudian melihat Alaris dengan tatapan terkejut bercampur frustasi.


Jiwa keegoisannya menguasai pikirannya namun, adab nya tak ingin melukai harga dirinya sebagai pecundang yang memanfaatkan keadaan. Bagaimana jika ia berkata seperti yang ia mau, bagaiaman nantinya ia alan menjelaskannya ketika Alaris menyadarinya.


"Ya."


Akhirnya pria itu memutuskannya dengan cepat, mulutnya jauh lebih cepat daripada akal sehatnya.


"Siapa namamu?"


"Austin Harold."


Alaris mengulurkan telapak tangannya dan menyentuh pipi Austin.


Wajah Austin memerah, warna kulitnya yang kecoklatan membuatnya semakin terlihat manis.


Alaris tersenyum, dan dengan inisiatifnya sendiri, ia mengecup bibir Austin.


"Maaf, kamu pasti khawatir, tapi kenapa aku tidur sangat lama dan tidak mengingat semuanya, bahkan diriku sendiri." Kata Alaris.


Austin jelas mendapatkan serangan mendadak, jantungnya seakan akan ingin meledak dan kepalanya sudah seperti roket yang meluncur panas.


Wajah Austin menjadi kemerahan tak bisa ia bendung.


"Kamu... Kamu memiliki penyakit langka, maka dari itu aku membawa mu ke tampat terpencil ini." Kata Austin.


Alaris kemudian menarik tangannya dari pipi Austin dan melihat ke arah pemandangan luar melalui jendela besarnya.


"Apa kita... Berada di atas awan?" Tanya Alaris.


"Tebing ini sangat tinggi hingga di ketinggian sejajar dengan awan dan aku membangun kastil, hampir mencapai awan yang paling tinggi lagi."


"Ini menakjubkan, bahkan aku bisa melihat awan ada di bawah sana."


Alaris kemudian turun dari ranjang dengan kaki tanpa alas.


"Pelan-pelan." Kata Austin.


Alaris penasaran dan ingin melihat pemandangan itu lebih dekat lagi, di bawah sana, apapun terlihat sangat kecil dari tempatnya, lalu awan-awan tipis seperti kapas bergerak lambat di bawah sana.


"Ini indah sekali." Alaris berjinjit ingin semakin melihatnya.


"Hati-hati..." Austin dengan cepat menggapai perut Alaris dan memeluknya.


"Hati-hati... Kamu... Kamu sedang mengandung anak kembar." Bisik Austin di telinga Alaris.


Alaris terperangah dan sekaligus terkejut, ia bahkan tidak tahu mengenai itu.


"Hamil? Anak kembar?" Alaris mendongak melihat Austin.


Wajah Austin kembali memerah dan malu, dengan posisi itu, ia ingin sekali merasakan bibir lembut dan kenyall milik Alaris sekali lagi.


"Sebenarnya penyakit apa yang ada pada diriku?" Tanya Alaris.


"Kamu... Memiliki penyakit langka, dokter sebentar lagi akan datang, tapi sebelum itu, ijinkan aku menciummu sekali... Aku janji ini hanya sekali lagi dan aku tidak akan..."


Tanpa menunggu lagi, Alaris mengecup bibir Austin. Hingga terdengar suara kecupan cukup keras.


"Kita suami istri kan? Kenapa kamu meminta ijin." Alaris tersenyum.

__ADS_1


"Aku tidak akan melewatkannya, jika bisa aku akan membuatmu hilang ingatan selamanya, aku akan berusaha menjauhkanmu dari dunia luar, dan sekarang kamu adalah milikku, hanya begini lah aku bisa memilikimu. Alaris. Kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku siang dan malam hanya ingin merasakan ini dengan mu, aku harap ini akan selamanya." Batin Austin.


bersambung~


__ADS_2