
Harry terbangun karena mendengar isak tangis yang mengerikan di telinganya, saat itu bahkan ia baru saja merasakan terlelap.
Jam dinding juga baru menunjukkan sekitar 2 jam lebih ia tidur.
Harry melihat pada Alaris, dari sana lah isak tangis itu ia dengar.
Alaris memangis dalam tidur, wajah itu sangat tersiksa dan penuh dengan air mata. Isak tangis yang di tahan, terasa menyayat di dengar dan terlihat bahwa itu menandakan luka yang dalam.
"Beginikah tidur mu setiap malam Alaris..."Kata Harry dengan sedih.
Alaris masih menangis, terlihat dadanya seperti tertahan batu hingga yang melihatnya pasti terasa begitu sesak Harry dengan cepat semakin mendekap Alaris.
"Bangun Alaris, bangun...." Kata Harry mencoba membangunkan Alaris.
"Alaris, tidak akan ada yang menaykitimu..."
Alaris masih terisak-isak dan semakin membuat Harry cemas.
"Sebegitu mencintainya kah kamu pada William, sampai dalam mimpi pun kamu tidak bisa lepas dari memikirkannya." Ekspresi Harry cemas dan sedih bercampur menjadi satu.
"Alaris lihat aku... Sekali saja lihat aku... Jangan lagi memikirkan William!" Kata Harry dan menarik Alaris untuk duduk dan mendekapnya erat.
Alaris semakin berteriak, dan tersiksa. Hingga suara itu mirip dengan pekikan yang mengerikan dari tenggorokannya.
"Ayah... Ibu... Bukan aku yang membuat kalian mati... Jangan hukum aku...." Kata Alaris mengigau.
"Tolong lepaskan aku... Ibu... Jangan bunuh aku!"
Harry terkejut, ia pikir Alaris menangis karena pernikahan William dan Axella ternyata Alaris masih memimpikan luka lama, trauma nya masih belum hilang.
"Alaris... Alaris... Bangun!" Harry menggoyangkan tubuh Alaris.
'Aku mendengar suara Harry memanggilku.'
Namun Alaris tidak kunjung bangun dan masih menangis...
"Ibu... Itu... Sakit jangan mencekikku lagi..." Kata Alaris mengigau kesakitan.
"Alaris!"
Harry kemudian berkali-kali mencium bibir Alaris berharap Alaris dapat segera bangun dari mimpi buruknya.
Belum juga bangun Harry membaringkan Alaris lagi di atas tempat tidur dan memanggil Zoland.
"Panggil Arthur dan bawa ke kamar Alaris!" Perintah Harry.
Alaris masih menangis dan terisak hingga terlihat seperti sesak nafas.
"Alaris bangun!" Kedua mata Harry berkaca-kaca, ia sudah hampir menangis karena tidak tega dan bingung melihat keadaan Alaris yang tidak juga kunjung bangun.
Harry kembali menciumi bibir Alaris dan tak kemudian Alaris tersentak, lalu tersedak, Alaris batuk-batuk, kedua matanya terbuka karena merasakan Harry yang berulang kali menciumnya. Alaris mencengkram kedua bahu Harry.
Melihat Alaris sudah bangun Harry memandanginya dengan wajah cemas dan gusar kemudian memeluk Alaris dengan erat.
Alaris menangis terisak dan menjerit seolah membuang lukanya ke dalam pelukan Harry.
"Aku di sini... Tenang... Luapkan semuanya." Kata Harry menenangkan Alaris.
Setelah tangis Alaris mereda, tak berapa lama pintu di ketuk.
__ADS_1
Harry melepaskan pelukan Alaris dengan pelan dan membuka pintu.
"Tuan..."
Zoland dan Arthur terkejut Harry membuka pintu dengan tubuh polos dan hanya memakai celana pendek yang ketat berwarna hitam, belum lagi dia sendiri yang membuka pintu kamar Alaris.
"Bukan waktunya bertanya, Alaris menangis dalam tidur dan menjerit, itu terlihat sangat memilukan. Cepat periksa." Perintah Harry.
Kemudian mereka masuk bersama-sama.
Arthur tersenyum pada Alaris.
"Senang bertemu anda di tempat ini, Nyonya Alaris. Saya akan memeriksan anda."
Zoland datang dan memakaikan mantel kimono pada Harry.
"Saya sudah mengubah temperatur kastil menjadi lebih hangat lagi Tuan. Udara akhir-akhir ini semakin dingin." Kata Zoland.
"Panggil Samantha dan Emily untuk datang." Kata Harry.
"Baik Tuan."
"Masih memimpikan hal yang sama?" Tanya Arthur.
Alaris hanya mengangguk pelan, dia duduk menyandarkan punggungnya. Ekspresi wajahnya antara malu dan murung.
"Ibuku... Sepertinya dia tidak tenang, dan selalu mengikutiku, dia ingin sekali membunuhku." Kata Alaris.
Harry dan Arthur terkejut.
"Mana mungkin! Bahkan kamu selamat dari kecelakaam maut itu karena kedua orang tua mu mendekapmu, mereka melindungimu!!" Kata Arthur.
Alaris hanya diam dan meremas kedua tangannya, Harry kemudian duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Alaris.
"Tidak ada yang menyalahkanmu Alaris, mereka di luar sana tidak tahu apapun tentang kamu, dan hanya kita yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, kami semua percaya padamu." Kata Harry.
"Aku akan meresepkan obat untukmu."
"Tidak ada obat yang bisa membuatku lepas dari mimpi buruk." Kata Alaris.
Arthur tersenyum.
"Coba resepku dulu."
Tak berapa lama Samantha dan juga Emily di ikuti oleh Brida pun sudah datang.
"Nyonya anda mimpi buruk lagi?" Tanya Brida.
"Saya pikir anda sudah tidak pernah mimpi buruk lagi maafkan kami Nyonya..." Kata Emily.
"Saya akan buatkan green tea agar Nyonya lebih tenang." Kata Samantha.
"Kita harus bicara." Ajak Arthur pada Harry.
Kemudian Arthur berjalan dan diikuti oleh Harry. Hingga akhirnya Arthur sudah sampai di mobilnya yang terparkir.
"Jadi maksudmu, Alaris menyalahkan dirinya kemungkinan karena semua media saat itu menyalahkannya?" Tanya Harry.
"Ya, kurasa begitu, apalagi tekanan itu terjadi ketika dia masih kecil, saat itu ayahku yang memberikan perawatan padanya juga sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi jiwa Alaris masih hilang, dan saat perawatan sudah semakin ada kemajuan Alaris di jemput oleh bibi nya."
__ADS_1
Harry mengeratkan giginya.
"Perbuatan kejam mereka pada Alaris, aku berjanji mereka semua harus membayarnya!"
"Dulu kita masih anak-anak, sekarang kamu memiliki kekuasaan, lakukanlah jika itu bisa membuat Alaris merasa lebih ringan, namun jika balas dendam hanya akan membuat Alaris terjebak semakin dalam, kalian harus memikirkan jalan yang terbaik, dan yang terpenting adalah berikan kepercayaan padanya agar dia mau menceritakan keluh kesahnya tanpa memendamnya sendirian lagi."
"Aku mengerti."
"Jaga dia, aku akan kembali dan memeriksa rekam medisnya, file itu pasti masih di simpan di rumah sakit kami."
"Terimakasih."
"Jangan sungkan, Alaris juga teman ku dari kecil, meskipun dia tidak pernah melihatku dan hanya mau di temani olehmu, tapi aku juga akan ikut menjaganya." Kata Arthur menepuk pelan lengan Harry.
Kemudian Arthur masuk dan pergi meninggalkan Kastil Emperor.
Harry kembali menuju kamar Alaris, disana Samantha, Emily, dan Brida masih menunggu dan menemani Alaris.
"Kalian boleh istirahat, biar aku yang menjaga Alaris." Kata Harry.
"Baik Tuan."
Harry duduk di tepi ranjang dan mengambil tangan Alaris, kemudian menggenggamnya.
"Aku tidak apa-apa Harry..."
"Aku tidak percaya." Raut wajah Harry sedih.
"Ini sudah ku alami hampir seluruh usia ku."
"Apa Hector tahu kamu selalu bermimpi buruk?"
Alaris menggelengkan kepala.
"Dia pikir aku sudah sembuh. Aku tidak mau dia khawatir, dan aku mohon jangan katakan apapun padanya, dia sedang menjalankan tugasnya sebagai pemimpin baru, aku berharap dia bekerja dengan tenang di Negara Amarka, dia harus fokus dengan pembukaan perusahaan barumu di sana."
"Kamu memang luar biasa, kamu menanggung semuanya sendirian. Mulai hari ini jangan memendam semuanya sendiri, ceritakan padaku. Kerisauanmu, kecemasanmu, semuanya, bahkan semua masalahmu berikan padaku. Mulai hari ini aku yang akan menyelesaikannya." Kata Harry mencium jemari Alaris dengan lembut.
"Aku..."
"Turuti aku dan jangan membatah lagi." Kata Harry dengan lembut.
Harry kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Alaris dan sedikit demi sedikit mereka pun berciuman. Alaris melingkarkan kedua tangannya di leher kekar Harry sedangkan Harry memeluk tubuh Alaris.
Ciuman panas yang berkobar dan membuat temperatur Kastil yang hangat menjadi lebih panas untuk mereka berdua.
Alaris kemudian menarik diri.
"Sepertinya obat yang Arthur berikan mulai bekerja. Aku mengantuk."
Harry menidurkan Alaris.
"Tidurlah."
Harry kemudian berbaring di samping Alaris, memeluk dan mendekap erat seolah tidak seorangpun bisa mengambil Alaris darinya.
"Aku akan menjagamu." Kata Harry dan mengecup kening Alaris.
bersambung~
__ADS_1