Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
TINDAKAN SEPIHAK WILLIAM


__ADS_3

Matahari pagi menyinari tirai tipis, membentuk bayangan di lantai dalam bentuk bingkai jendela.


Alaris menguap dan mengangkat diri dari tempat tidur.


Pagi yang cerah setelah semalaman berada di kerumunan pesta meriah dan dengan beberapa insiden. Namun tidak untuk berita yang berseliweran di luar tentang William yang akan menikah lagi.


Tentu saja kabar itu membuat semua wanita menjadi iri, kenapa bukan mereka aaja yang terpilih menjadi istri ke dua, bahkan ada yang terang-terangan meminta menjadi istri simpanan.


Namun setengah lagi dari mereka, memandang buruk William, mereka merasa kasihan pada Alaris.


Alaris sudah bangun dan Samantha sedang menata rambutnya.


"Tuan Harry tampaknya orang yang sama sekali berbeda dari yang diisukan gosip, mereka bilang Tuan Harry anti media dan kejam." Kata Emily


"Bahkan kamu mengira dia adalah pria tua yang gendut dan mesum, dan menurut saya Tuan Harry jauh lebih baik dari yang orang kira." Sambung Samantha.


"Harry tidak menyukai media, karena media selalu menggoreng dan memelintir berita, mereka selalu memberikan bumbu untuk menambah cita rasa menjadi lebih sedap saat di nikmati oleh masyarakat." Kata Alaris.


"Nyonya, Tuan William ingin bertemu di meja makan, dia mengajak anda sarapan pagi bersama." Kata Brida.


"Kenapa? Biasanya dia sarapan bersama Axella." Kata Emily.


Kemudian Alaris turun dan menuju meja makan. Di dalam William sudah duduk menunggu.


Sarapan pagi di mulai dengan tenang sampai pada akhirnya William membuka obrolan.


"Tentang pesta ulang tahun mu Alaris."


Jemari Alaris dengan pelan mengambil sendok dan menyendokkan soupnya.


"Bisakah kamu memberikan ruang bagi 1 orang lagi, dia sangat berharap bisa memberikanmu hadiah dan doa." Kata William.


"Apakah sepupu mu ingin datang? Atau Bibi Dorothy?" Tanya Alaris masih menyendok soup dengan pelan dan anggun.


"Tidak Alaris, bukan mereka."


"Lalu?"


'Untuk siapa kita sebenarnya harus menyiapkan 1 kursi lagi? Aku melirik dan mengamati wajah William dengan cermat, yang sepertinya terperangkap dalam kesunyian yang canggung serta cukup bingung.'


"Aku ingin membawa Axella bersamaku." Kata William.


Alaris berhenti menyendok dan diam.


"Bisakah Alaris?"


Alaris masih diam.


"Alaris, bolehkah? Kenapa kamu hanya diam saja?"

__ADS_1


"Tidak William, kursi sudah penuh"


"Lalu, bagaimana jika kita mengurangi 1 undangan."


Alaris melihat pada William.


"Jawabannya tetap tidak, meskipun itu bukan Axella aku akan tetap menjawab tidak, karena sebelum ini kita sudah mendiskusikan jauh-jauh hari sebelum kamu membawa Axella, mana tamu yang harus di undang dalam perayaan ulang tahunku."


"Adikmu mungkin tidak akan datang Alaris."


Kemarahan Alaris semakin menggondok di ubun-ubunnya.


"Lalu apakah karena adikku Hector mungkin tidak bisa datang, kamu akan tetap membawa Axella meski tanpa ijinku? Dan lagi jika Hector datang dan melihat kursinya sudah di duduki orang lain, aku harus bicara apa? Dia akan tersinggung dan kecewa."


'Aku tahu William selalu menganggapku adalah orang yang tidak punya hati. Itu jelas oleh garis-garis di antara alisnya, ketika dia selalu memandangku ketika setiap kali aku mengatakan tidak, apalagi ekspresi penyempitan matanya.'


"Kamu adalah wanita yang benar-benar dingin!'


"Memang seperti itu lah seharusnya aku." Kata Alaris.


"Apa?!" William seolah tak percaya dengan pendengarannya.


"Aku tidak sengaja menjadi lebih kejam dari yang aku kira. Axella adalah istrimu, bukan istriku. Aku tidak tahu mengapa kamu berulang kali mencoba memaksaku untuk melakukan hal-hal yang bahkan, kamu sendiri tidak bisa lakukan William, aku tidak tahu kenapa kamu selalu memaksaku menerima sesuatu yang sebenanya kami seperti air dan api William. Kamu seharusnya tahu bagaimana menjadi aku."


Alaris terlalu kesal untuk menjelaskan lebih lanjut kepada William, sedangkan rahang William mengerat tangannya mengepal, lalu Alaris memilih untuk pergi dari ruangan makan itu, namun ketika keluar, Alaris sudah melihat Axella berdiri di luar ruangan.


'Apa yang sedang dia lakukan di sini, apa dia menguping kami.'


"Anda selalu terlihat menjadi tidak baik setiap kali bertemu dengan Tuan William Nyonya." Samantha segera memberikan teh hangat.


"Aku hanya tidak selera makan." Kata Alaris.


*****


Alaris berada di meja kerjanya dengan termenung, banyak dokumen-dokumen di depannya namun belum juga tersentuh.


Pandangannya hanya terus menatapnya namun pikirannya melintas pada pembicaraannya dengan William pagi tadi.


"Nyonya, ada tuan Harry." Kata Brida.


Alaris tersentak kaget karena ia tidak mengetahui dan tidak mendengar Brida masuk.


"Saya sudah mengetuk berkali-kali Nyonya, tapi anda tidak mendengarnya."


"Maafkan aku, suruh masuk." Kata Alaris.


"Baik Nyonya."


Harry kemudian masuk dan menaruh paper bag di atas meja Alaris.

__ADS_1


"Kopi atau susu panas?" Tanya Harry.


"Aku tidak terlalu suka kopi." Kata Alaris tersenyum.


"Aku kopinya, dan kamu susu coklat panas." Harry mengeluarkan mug dari paper bag.


Kemudian mereka meminumnya di balkon ruangan kerja Alaris.


"Berita nya menyebar dengan sangat cepat. Aku harus masuk melalui pintu belakang dan mengganti mobil, di loby depan wartawan sangat banyak." Kata Harry.


"Hmm... Begitu juga aku." Alaris menyeruput susu hangatnya.


Ekspresi Harry serius dan sedih. Dia tidak memiliki senyum yang biasanya atau sikap bangga yang biasanya ia tunjukkan di depan semua orang.


Alaris tahu Harry mengkhawatirkannya.


"Tidak apa-apa." Kata Alaris.


"Aku sudah menerima undangan pesta ulang tahun mu."


Alaris terkejut.


"Aku belum mengirimnya." Kata Alaris kemudian masuk dan memeriksa laptopnya.


Dan benar saja semua undangan sudah tersebar, dan ada 1 nama yang tidak Alaris setujui namun nama itu terpampang di urutan paling akhir. Itu adalah Axella.


William memasukkan nama Axella tanpa sepengetahuan Alaris dan tanpa seijin Alaris.


"William....! Kamu benar-benar...!" Alaris mengepalkan kedua tangannya yang ada disamping laptop, menyangga tubuhnya yang seakan telah merasa sangat lemah.


'Apa yang sudah kamu lakukan di hari ulang tahunku William. Aku sudah mengatakan untuk tidak membawanya. Dia pasti sudah merencanakannya, saat aku tidak setuju dia akan menyebarkan undangannya tanpa memberitahuku, dan aku tidak bisa menolak atau menarik undangan itu lagi.'


Harry pun ikut melihat, dan berdiri di belakang Alaris.


"Dia memang badjingan." Kata Harry mengeratkan rahangnya.


'Aku sudah melarang William untuk membawanya, kenapa dia masih bersikeras, apakah William benar-benar sudah terpesona dan bertekuk lutut pada kecantikan Axella.'


"Bawa Greisy bersamamu." Kata Harry.


Alaris menoleh pada Harry dengan pandangan penuh tanya.


"Jangan beritahu siapapun, bawa Greisy ke acara ulang tahunmu." Kata Harry.


Alaris tidak ingin membalas dendam, namun semua yang mereka lakukan padanya seolah memaksa dirinya untuk berbuat sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri.


'Mereka lah yang telah memaksaku menjadi kejam.'


"Aku akan mebawanya bersama para pelayan pribadiku."

__ADS_1


Harry hanya tersenyum penuh misteri, entah apa rencananya kali ini.


bersambung~


__ADS_2