Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
MEMASAK UNTUK HARRY


__ADS_3

Alaris masih bimbang, ia merasa sangat khawatir pada Harry, pria itu pria yang sangat kuat, kenapa dia bisa berubah setidak berdaya itu.


'Mungkin makam malam kali ini biar aku yang memasaknya. Tapi... Aku bahkan tidak pernah menyentuh alat dapur. Melihat dari internet itu sudah cukup belajar bagiku, bukankah itu mudah hanya tinggal menirunya?'


Namun apa yang di anggap mudah bagi Alaris ternyata lebih sulit dari bayangannya, Alaris tidak pernah memasak, keahliannya benar-benar diragukan dan lebih pada berantakan.


"Ini baik-baik saja..." Kata Alaris.


"Nyonya telur nya gosong." Kata Samantha khawatir.


"Astaga, aku jauh lebih handal dalam urusan bisnis daripada urusan kompor dan teflon." Alaris memekik.


Dengan cepat Alaris mengambil teflon dan ternyata itu panas.


KLONTANG!


Teflon terjatuh, telur gosong itu juga jatuh di lantai.


"Nyonya, jangan memasak lagi." Kata Emily.


"Nyonya!!!" Semua pelayan dan koki-koki berteriak.


Harry yang mencari Alaris di kamar tidak menemukannya, kemudian ia bertanya pada para pelayan ternyata Alaris sedang memasak.


Mendengar kegaduhan dan pria itu melihat tangan Alaris terbakar dengan cepat berlari.


"Istriku, apa yang sedang kamu lakukan di sini, banyak asap hitam mengepul, jari mu juga terluka."


Alaris menjadi sangat canggung.


'Aku wanita dan tentu saja sedang memasak, tapi pria satu ini bertanya aku sedang apa? Apakah aku tidak terlihat sedang memasak? Atau justru aku terlihat sedang menghancurkan dapurnya?'


Semua pelayan bahkan para koki-koki handal hanya bisa menunduk.


"Apa yang kalian semua lakukan, apa kalian ingin makan gaji buta!" Kata Harry pada para pelayan.


"Maafkan kami Tuan."


"Harry, jangan marah pada mereka, aku yang bersikeras ingin memasak, aku menolak bantuan mereka." Kata Alaris.


"Kamu mau memasak?" Tanya Harry.


Alaris mengangguk.


"Kamu terlihat murung dan sangat sedih, aku ingin menghiburmu, dengan memakan masakan dariku, tapi...." Alaris melihat dapur sudah porak poranda, alat masak gosong, telur gosong, asap mengepul hitam.


Sekarang dapur benar-benar terlihat sangat kacau.


"Maaf, karena membuat dapur Kastil Emperor menjadi berantakan, aku berinisiatif membuatkan makan malam khusus untukmu."


Harry yang awalnya sedih, dan cemas, wajahnya sedikit demi sedikit tersenyum, senyuman itu berubah menjadi tawa dengan suara yang rendah, hatinya kemudian menjadi lebih tenang dan damai, melihat bagaimana perjuangan dan kesungguhan sang istri.


"Sini kita obati dulu." Kata Harry.


Kemudian Emily memberikan kotak obat pada Harry, dengan cekatan Harry membalut jari Alaris setelah di berikan salep.

__ADS_1


Kemudian dengan sebuah kecupan Harry berkata.


"Ini akan segera sembuh setelah aku menciumnya "


Wajah Alaris merah padam, para pelayan juga merasa malu dan saling tersenyum, tersetrum oleh perilaku Harry yang memanjakan Alaris dengan penuh kasih sayang.


Harry kemudian menggulung kedua lengannya, dan mulai mengambil pisau, tangan itu cekatan mengiris bawang bombay, lalu dengan cepat mengambil telur dan melemparnya ke atas dan menangkapnya, kemudian membuka dengan satu tangan.


"Wow!" Alaris berdecak, ia sangat terpukau.


Kemudian Harry mengambil beberapa sayuran dan memotongnya juga.


"Kamu terampil, pintar memasak." Kata Alaris.


Harry hanya tersenyum hangat pada Alaris.


Setelah cukup lama beberapa masakan pun sudah matang dan di plating sempurna.


Para pelayan membantu menyiapkan makanan itu ke meja makan.


Harry menarik kursi agar Alaris duduk, pria itu kemudian juga duduk di dekat Alaris, jarak yang sangat dekat.


Alaris memandangi beberapa makanan yang terlihat enak, apalagi bau nya begitu menggugah selera makannya, ia juga melihat Harry cekatan melayani nya makan.


'Biasanya aku makan bersama William dengan berhadapan, namun jaraknya begitu jauh, dengan meja yang panjang dan seolah aku tidak bisa menggapainya, semakin lama rasanya jarak pandangku pada William semakin jauh saat sedang duduk berhadapan untuk makan. Sekarang, aku makan dengan Harry, bahkan dia sendiri yang melayaniku makan, dia juga terampil dalam memasak. Harry juga memilih untuk duduk di dekatku.'


Harry meletakkan spaghetti bolognaise di depan Alaris, mengambil garpu dan hendak menyuapi Alaris.


"Cobalah..." Kata Harry tersenyum.


Dengan malu-malu Alaris menerima itu, memakannya perlahan dan ia begitu senang.


"Ini enak sekali." Kata Alaris.


Kemudian Alaris mengambil garpu dari tangan Harry dan memakannya dengan lahap.


Harry tersenyum puas, tangannya menyentuh kepala Alaris dengan lembut.


"Maaf Harry..." Kata Alaris dengan wajah menyesal.


Seketika senyuman di wajah Harry menghilang, kenapa Alaris meminta maaf? Dia fikir Alaris pasti akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan hatinya, ia fikir Alaris pasti akan mengatakan bahwa Alaris menyesal menikah dengannya dan akan kembali pada William.


"Aku sebagai istrimu dan sebagai wanita tidak bisa memasakkan makanan untukmu. Kamu terlihat murung dan sedih, aku mencoba sebaik mungkin untuk memasak sesuatu agar mood mu kembali lagi, tapi aku malah merusak dapur."


Harry terpana sekaligus terkejut melihat perubahan Alaris, kini Alaris mau mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.


"Aku senang, dan bahagia hanya dengan memilikimu sebagai istriku, jika kamu tidak bisa memasak, biarkan aku yang memasak untukmu dan biarkan aku yang memberikanmu makan." Harry kemudian maju dan mencium sudut bibir Alaris.


Alaris menelan ludahnya, Harry mencium dan menjilat sudut bibir Alaris yang terdapat sedikit sisa saus bolognaise.


Mata Alaris membulat, wajahnya merah.


Harry kemudian mengusap sudut bibir Alaris dengan ibu jarinya.


"Setelah kamu makan dengan kenyang, giliranku yang akan memakanmu." Bisik Harry dan mengigiti kecil telinga Alaris.

__ADS_1


Ucapan Harry dengan suara bisikan yang seksi itu membuat Alaris menelan ludahnya kasar dan hampir tersedak, Alaris mengambil minum dan meneguknya.


Harry tersenyum melihat gelagat Alaris yang makin salah tingkah.


Kemudian Harry mengambil pancake dan menyuapi Alaris, entah mengapa Alaris seperti terhipnotis dan menurut saja membuka mulutnya, Alaris makan dengan tenang.


"Apakah manis?" Tanya Harry.


Alaris mengangguk.


"Istriku, sayangku... Boleh kah aku bertanya sesuatu padamu?"


Sembari mengunyah, Alaris mengangkat kedua alisnya.


"Aku... Melihatmu berbicara dengan William."


'Aaa... Sudah ku duga, seharian ini wajahnya murung pasti karena melihatku dan mendengar percakapan ku bersama William, apa dia melihatku di cium juga?'


"Kamu mendengar nya?" Tanya Alaris.


Harry mengangguk.


"Setelah kamu pergi, aku memukulinya."


"Astaga!" Alaris menuntup mulutnya yang membulat, matanya juga membulat penuh karena keterkejutan.


"Apa kamu sedih karena aku memukul William?" Tanya Harry yang memainkan sendok garpunya di pancake.


Alaris diam.


Harry meraih pipi Alaris dan mengelusnya pelan.


"Kamu pasti marah padaku karena aku memukulnya kan?"


Wajah Harry kembali murung.


"Apa... Kamu... Akan... Meninggalkanku... Dan kembali padanya, setelah dia menyatakan perasaannya?"


"Harry.... Apa kamu memukulnya karena dia menyatakan cinta padaku?" Tanya Alaris.


Harry menggelengkan kepala dengan sedih.


"Karena dia juga telah mencium istriku."


Serangan keterkejutan kembali menerpa Alaris. Meski ia sudah mengantisipasi reaksinya. Namun, sepertibya Harry menyadari jika Alaris benar-benar terkejut atas tindakannya.


'Harry pasti sangat terpukul karena melihatku di cium oleh William, sedangkan kami baru satu hari satu malam menjadi pasangan suami istri.'


"Maafkan aku Harry, kamu pasti kecewa padaku." Kata Alaris sembari menangkupkan tangannya di atas tangan Harry yang masih menyentuh pipi Alaris.


"Aku... Marah, tapi bukan padamu, dan aku sedih karena khawatir kamu akan pergi meninggalkanku."


"William adalah masa lalu yang pahit bagi ku, bahkan sekarang bagiku, hanya untuk singgah saja dia tidak berhak. Sekarang aku adalah milikmu, dan kamu adalah milikku." Kata Alaris.


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2