
Berita tentang perginya Alaris Dwyne cepat menyebar, dan pecahnya rumah tangga William serta Alaris juga semakin santer beritanya hingga Axella pun di sebut-sebut sebagai orang ketiga.
Media berbondong-bondong menggali dan mengulik masa lalu Axella, banyak orang yang berada di pesta perayaan menjadi saksi bahwa Axella adalah wanita miskin dan pelayan dari seorang bangsawan, mereka semua di wawancara.
Seorang wanita yang sakit hati pada Axella karena pernah di rendahkan oleh Axella di pesta perayaan berbicara.
"Dia adalah wanita kotor yang sudah di pakai oleh majikannya." Kata wanita itu.
Berita semakin mengerikan dan Axella membanting remote tv. Perut Axella semakin membesar, dadanya juga sudah mulai terasa sesak.
"Ambilkan minum." Perintah Axella.
Pelayan pribadi Axella menurut dan mengambilkan minuman.
Axella melihat sekeliling kamarnya.
"Membosankan." Kata Axella.
"Nyonya Alaris sudah tidak berada di mansion lagi, kenapa anda tidak menggunakan kamar nya?" Tanya Pelayan itu.
"Aku juga ingin... Kamarnya jauh lebih besar dan mewah." Kata Axella cemberut.
"Mungkin aku harus bertanya pada William." Kata Axella lagi.
Kemudian Axella pergi menemui William, dan hendak membicarakan tentang keinginannya untuk menempati kamar Alaris.
Namun ternyata ruangan kerja William kosong.
"Kemana William?" Tanya Axella pada salah satu pengawal.
"Pagi-pagi sekali Tuan William sudah pergi, sepertinya menuju pengadilan."
"Apa sidang perceraiannya hari ini?" Tanya Axella lagi.
"Ya Nyonya."
Axella tersenyum, matanya kemudian melihat sosok yang telah ia rindukan selama beberapa hari. Axella berlari menuju pria itu.
"Leon..."
Leon tersenyum.
"Ada yang harus kita bicarakan."
Kemudian mereka bersama-sama menuju kamar Leon, seorang pengawal pun melaporkan itu pada Jason.
Setelah di dalam kamar, Leon menunjukkan cek dengan uang yang berjumlah sesuai permintaan Axella.
"Ini..." Tanya Axella ragu.
"Uang yang kamu inginkan, dan aku meminjamkannya."
"Terimakasih Leon." Kata Axella.
Leon hanya tersenyum namun senyuman itu tidak selebar biasanya.
"Apa ada masalah yang sedang menganggumu?"
__ADS_1
"Sebenarnya iya." Kata Leon.
"Apa itu, ceritakanlah padaku, aku akan membantu jika aku mampu."
"Sejujurnya ini masalah pribadi."
"Tidak apa-apa aku akan menjaga rahasia, seperti saat aku di temukan di ruang rahasia William. Aku tidak mengatakan apapun." Bisik Axella berhati-hati.
"Sebenarnya, aku menginginkan sesuatu."
"Apa itu? Apakah uang?"
"Bukan itu, aku memiliki banyak uang, dan tidak memusingkan hal itu. Aku membutuhkan stempel perusahaan Liam Grup untuk mempercepat perusahaan Aldawn menjadi milikmu tapi jika aku ikut campur pasti William tidak akan setuju. Aku adalah orang asing baginya."
"Stempel perusahaan Liam Grup?" Tanya Axella.
"Ya, aku ingin mempercepat aset milik Aldawn segera menjadi milikmu. Kita tidak pernah tahu kapan William akan memindahkan aset itu menjadi milikmu kan? Atau mungkin William akan melupakan remcana itu."
"Apakah kamu yakin?"
"Kamu meragukanku? Setelah kamu menjadi Nyonya dan menjadi pemilik Aldawn, aku ingin meminta tolong padamu agar bisa memberikan dukungan pada perusahaan ku dan bekerja sama, karena Alaris telah menolak permohonan proposal kerja sama perusahaan milikku."
"Aa, jadi begitu. Aku akan berusaha mencarinya tapi bagaimana mengatasi cctv."
"Serahkan padaku, ku harap kamu bisa mengantarkannya sendiri ke apartmenku, jika sudah menemukannya." Kata Leon.
"Kenapa harus di apartmen mu? Kamu tidak akan tinggal di sini?"
"Terlalu berbahaya, semua orang mengawasi kita dan pasti sudah melapor pada William. Kamu masih ingin bertemu denganku kan?" Tanya Leon.
Axella menganguk.
Leon tersenyum dan menyentuk kepala Axella.
******
Hari itu di sebuah gedung mewah yang menjulang tinggi tepatnya di Negara Vernecia. Sidang perceraian William dan Alaris sudah di mulai, di ruangan itu di hadiri oleh kedua belah pihak dan masing-masing sekretaris mereka.
Sedangkan Harry dan Hector menunggu menemani Alaris, mereka duduk dengan tenang bersama Zoland.
"Tuan William mengajukan gugatan perceraian dan seluruh aset harta bergerak maupun tidak bergerak milik Nyonya Alaris ataupun milik kalian berdua setelah menikah akan menjadi hak milik Tuan William dan akan di wariskan pada anaknya kelak."
"Aku menerima perceraian yang telah di ajukan oleh Tuan William dan tidak menuntut apapun." Senyuman dingin yang khas milik Alaris kembali lagi.
Media yang datang ingin menyaksikan perceraian 2 orang petinggi yang sama-sama kuat menjadi riuh dan sangat berisik. Mereka memotret dan saling berguman. Mengatakan bahwa itu kisah yang sangat tragis bagi Alaris. Semua iba pada Alafis dan mengutuk William serta Axella.
"Dimohon untuk semua yang ada di luar ruangan untuk tenang." Kata Sang Hakim.
"Tetapi jika anda menyetujuinya, segala aset akan jatuh pada Tuan William, apa anda tidak keberatan." Kata sang hakim.
"Tidak masalah, saya tidak keberatan."Jawab Alaris sedingin gletser.
William merasa ada kelegaan di dalam dirinya, bahwa Aldawn akan menjadi miliknya. Namun, juga memiliki kecurigaan kenapa dengan mudah Alaris menyerahkannya padahal awalnya Alaris menolak dengan segenap hatinya, karena perusahaan Aldawn adalah milik nya yang berharga.
Setelah di rasa tidak ada perlahawan sedikitpun dari pihak Alaris, sidang yang berlangsung cukup lama pun selesai.
Alaris kemudian bertemu dengan Harry, Hector pun tidak melihat pada William dan mereka semua pergi meninggalkan ruang persidangan melalui pintu belakang.
__ADS_1
Semua wartawan yang ingin mewawancarai merasakan kecewa.
William berjalan menyusul Alaris.
"Alaris kita harus bicara."
Semua diam.
"Bukankah sudah jelas di persidangan, aku tidak akan melawan?" Kata Alaris.
"Kamu serius?"
"Alaris sudah sepakat dan Hakim juga sudah memutuskan, akta perceraian juga sudah di terima, apa yang kamu inginkan lagi." Harry menatap santai William dan maju menghadang.
William kemudian mundur tidak ingin menyulut pertikaian.
"Berterimakasihlah dan bergembiralah karena berkat Alaris sidang perceraian tidak memakan waktu lama." Kata Harry.
Kemudian mereka pergi meninggalkan William yang masih berdiri bersama Jason.
"Aneh, kenapa aku tidak bahagia setelah mendapatkan semua aset milik Alaris." Kata William muram.
"Oy!" Panggil Harry yang sudah sedikit jauh.
William memutar tubuhnya dan melihat pada Harry dan Alaris.
Kemudian Harry maju dan berdiri di depan Willliam.
"Setidaknya aku juga akan mengucapkan terimakasih. Terimakasih sudah melepaskan Alaris, kedepannya aku yang akan menjaganya, dan aku akan menikah dengan Alaris. Tunggulah, undangan pernikahan kami pasti akan kamu terima dalam waktu dekat." Kata Harry sembari tersenyum sengit.
Entah kenapa kalimat yang Harry katakan menjadi hantaman yang besar untuk William. Jantungnya terasa sangat amat sakit, kakinya tiba-tiba goyah dan Jason menopangnya. Namun kepalan di tangan William tidak dapat menyembunyikan bahwa kini amarah sedang merasuki tubuhnya.
"Tuan anda baik-baik saja?" Tanya Jason.
"Ya, sepertinya aku kurang tidur, dan sedikit kurang fit."
"Kita harus bertemu dengan Tuan Roberto Linevero dan melapor apakah harus di undur?" Kata Jason.
"Hm... Tidak perlu. Ayo." Kata William.
William pergi bersama Jason ke tempat ayahnya yang sudah menunggu.
Sedangkan Harry masuk ke dalam mobil bersama Alaris, terpisah dengan sekretaris mereka dan Hector. Mobil berurutan keluar dari gedung dan menunju ke bandara untuk pulang ke negara Slyvedonia.
"Aku pikir Hector akan mengamuk, aku sudah sangat khawatir saat dia ingin ikut bersamaku menghadiri persidangan."
"Hector berubah menjadi lebih dewasa, dan dia sangat populer di Emperor Grup, banyak wanita yang memberikan nya perhatian, dia tampan, pintar, tegas mirip denganmu dan di sukai semua orang."
"Syukurlah, terima kasih Harry, aku berhutang banyak padamu." Kata Alaris.
"Aku suka kamu berhutang banyak, dan akan ku buat hutangmu semakin banyak padaku sampai kamu tidak sanggup membayarnya."
"Apa?!" Alaris menatap mata hijau Harry yang cantik.
"Sehingga hanya menjadi istrikulah kamu bisa membayarnya." Lanjut Harry tersenyum.
Harry membenturkan dahi nya pelan pada dahi Alaris dan menangkupkan telapak tangannya yang besar di pipi Alaris.
__ADS_1
bersambung~