
Akhirnya konferensi pers di mulai.
Harry serta Alaris duduk berdampingan dan akan memproklamirkan status baru mereka.
Para wartawan pun sudah memenuhi ruangan.
Harry menggenggam tangan Alaris dan tidak pernah melepaskannya.
Wawancara pun di mulai, dengan beberapa-beberapa pertanyaan yang bisa Harry dan Alaris jawab dengan kalimat yang sama.
Mereka terlihat pasangan yang mesra dan hangat.
Hingga di sesi terakhir seorang wartawan mulai menyerang Alaris.
"Tuan Harry selamat atas pernikahan kalian berdua, dan semoga menjadi berkah bagi semua keluarga, pertanyaan saya singkat dan sederhana, bagaimana bisa anda menikah dengan Nyonya Alaris yang beritanya sudah santer terdengar bahwa Tuan William mantab bercerai karena Nyonya Alaris tidak dapat memberikan keturunan? Dalam kalimat lain adalah Nyonya Alaris mandul. Apakah anda siap jika suatu saat anda tidak memiliki penerus dan apakah anda kelak akan menikah lagi."
"Omong kosong apa ini." Gertak Harry.
Harry menggertakkan gigi, dan menggenggam erat tangan Alaris sedangkan tangan satunya mengepal pertanda bahwa ia marah.
"Aku tidak akan pernah menikah lagi, dan Alaris akan menjadi istriku satu-satunya!" Mata Harry menatap tajam pada para wartawan.
Harry berbisik pada Zoland.
"Tandai dia."
"Baik Tuan."
Kemudia Harry melihat ke arah Alaris, tatapa Alaris menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.
"Darimana kabar itu." Tanya Alaris dingin.
Harry melihat wajah dingin Alaris kembali muncul.
"Sebelum ini kami telah mewawancarai istri Tuan William, dia adalah Nyonya Axella."
"Kenapa tidak anda tanyakan pada Tuan William kenapa saya belum bisa mempunyai anak dari nya setelah setahun lebih kami menikah." Kata Alaris dingin dan tanpa ekspresi.
Para wartawan saling pandang.
"Tuan William tidak berkenan melakukan wawancara." Kata wartawan itu.
"Saya akan menjawabnya kenapa, dan meluruskan semua kesalahpahaman ini." Suara pria yang tak asing muncul tiba-tiba di sudut ruangan.
Itu adalah William. Harry tersenyum pahit.
Kemudian William maju dan berdiri di depan para wartawan.
"Maaf karena kelancangan istri saya, tentang berita bahwa Alaris mandul itu tidak benar, sebenarnya saya dan Alaris menikah karena perjanjian kerjasama perusahaan, dan tidak memiliki hubungan pribadi satu sama lain."
Semua orang terkejut bahkan wartawan pun terkejut mendengar kebenaran itu.
"Saya tidak pernah menyentuh Alaris, kami tidak pernah memiliki hubungan fisik. Tapi Alaris adalah wanita yang sempurna." Kata William.
Harry diam dan mendengar dengan tatapan bak elang.
__ADS_1
"Jadi Nyonya Axella memberikan keterangan palsu?" Tanya para wartawan.
William hanya menunduk dan meminta maaf atas kelalaiannya menjaga istrinya.
"Saya meminta maaf untuk semuanya karena istri saya yang memberikan keterangan palsu dan menyebabkan kekacauan."
Harry memberikan isyarat instruksi pada Zoland untuk menghentikan wawancara. Kemudian Harry mengajak Alaris untuk masuk dengan menggandeng tangannya.
Di tengah jalan ketika mereka hendak kembali ke kamar, mereka bertemu dengan Leon.
"Kita harus bicara." Kata Leon pada Harry.
"Kamu bisa kembali ke kamar sendiri Istriku?" Tanya Harry.
"Aku bisa." Jawab Alaris.
Kemudian Harry pergi bersama Leon lebih dulu.
Alaris bersandar di dinding dan menghela nafas.
"Kenapa dia masih saja membuat masalah bagiku." Kata Alaris.
Ketika Alaris hendak melanjutkan langkah kakinya, tangannya tiba-tiba di tarik dan jatuh ke dalam pelukan seorang pria.
Bau parfum khas yang tak pernah Alaris lupakan, kejadian saat ia di paksa untuk berciuman.
"William." Alaris segera mendorong tubuh William dengan susah payah.
"William! Lepaskan!" Pekik Alaris masih menahan suaranya.
William hanya diam dan terus memeluk Alaris.
Sebelum Alaris melanjutkan kalimatnya, William mencium bibir Alaris.
Dan saat itu lah Harry kembali setelah berbicara dengan Leon, ia melihat bagaimana William mencium Alaris, ketika Alaris telah menyandang status baru sebagai istrinya.
"Baru 48jam dia menjadi istriku. Serigala badjibngan!" Kata Harry lirih dengan wajah seperti iblis.
Harry hanya terus memperhatikan dari kejauhan.
Terkejut! Alaris menggigit bibir William, dan William melepaskan ciumannya.
Pria itu mengelap bibirnya yang berdarah menggunakan ibu jarinya.
"Kamu gila William!" Kata Alaris.
"Ya, aku memang sudah gila Alaris." Kata William.
"Apakah kamu berniat merendahkanku sekarang, karena masalah Axella. Sudah ku katakan dari dulu bahwa aku tidak pernah mau berurusan dengan Axella, tapi dia selalu saja membuat keributan dan membuat masalah terhadapku."
"Aku begini bukan karena ingin merendahkanmu, dan bukan karena membela Axella. Seperti katamu, aku menjadi gila Alaris."
Sejenak keheningan merayap di antara William dan juga Alaris.
'Aku tidak mau bersama dengannya lebih lama, jika ada yang melihat semua orang bisa salah paham, semoga saat William memciumku tidak ada yang melihat.'
__ADS_1
"Kalau begitu cepatlah kembali ke Negara Vernecia dan jangan membuat Axella menjadi lebih menambah masalah di sini." Alaris berbalik.
Namun William dengan cepat menarik tangan Alaris lagi, Alaris mampu menepis, namun William mendorong bahu Alaris di dinding dan memblokirnya menggunakan tubuh William sehingga Alaris tidak dapat pergi kemanapun.
"Apa yang kamu inginkan William!" Desak Alaris sudah kehilangan kesabaran.
"Aku memohon padamu Alaris..." Wajah William terlihat putus asa.
"Kembalilah padaku, aku tidak kuat kamu berada di sisi pria lain." Kata William dengan wajah memelas.
Harry mengepalkan tinjunya dan hendak menghampiri namun langkahnya terhenti, ia ingin mendengar jawaban apa yang akan Alaris berikan pada William.
Tentu saja saat itu jantung Harry berdetak tidak karuan, ia khawatir, cemas, marah, sedih bercampur menjadi satu.
Namun dia juga ingin tahu bagaimana jawaban dan hati Alaris sebenarnya.
"Alaris, apakah terlambat jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?" Tanya William.
"Apa?"
"Ternyata aku sangat mencintaimu Alaris."
Harry semakin mengepalkan tinjunya, kedua tangan kekar berotot itu mengepal sempurna dan kuat, jika saja tidak ada Alaris pasti Harry sudah maju dan membunuh pria itu.
"Kamu sudah memilih jalan hidupmu William, kini biarkan aku juga memilih jalan hidupku."
"Aku yakin pernikahan kalian juga hanyalah perjanjian di atas kertas seperti kita dulu benarkan tebakanku." Kata William.
"Salah." Kata Alaris.
"Apa?!" William membulatkan matanya ia setengah tak percaya.
"Awalnya, aku menikah dengan Harry memang karena aku ingin membalasmu William, tapi ternyata aku sudah mencintai Harry."
Harry mendengar itu, awalnya kemarahan dan rasa sakit di hatinya sudah mendominasi, namun kalimat Alaris memberikan siraman ketenangan.
"Alaris... Kamu bohong, kamu tidak mungkin mencintainya."
"Aku mencintai Harry sejak pertama kali kami bertemu." Kata Alaris.
Keheningan melanda mereka lagi.
"Kapan?!" Tanya William lagi kemudian.
"Kapan kamu mulai mencintainya."
"Sejak pertemuan pertama kami, saat peresmian Imperial Diamond."
William membulatkan matanya benar-benar terkejut.
Harry yang mendengarnya, seulas senyuman tersungging di sudut bibirnya.
"Dan ternyata Harry adalah teman masa kecilku, setelah mengetahui itu aku semakin mencintainya dan percaya padanya. Dia juga selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku." Kata Alaris.
Mendengar kebenaran dari mulut Alaris, membuat William membatu.
__ADS_1
"Kamu salah menilai Harry Alaris, kamu tertipu, dia akan membuat mu patah hati. Harry adalah pria licik!" Kata William.
bersambung~