Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
TINGKAH LAKU ANEH CHIA


__ADS_3

Ketika Harry membuka pintu kamar ganti, dan Elouan juga di samping sang ayah, mereka bersama-sama mengkhawatirkan Chia.


Namun, secara bersamaan ketika sang ayah membuka pintu dengan semua barang-barang yang ada di dekat Chia, gadis itu kemudian membuang dan melemparkannya pada sang ayah dan kakaknya.


"KALIAN JANGAN MASUUKKK...!!!!" Chia berteriak sangat keras.


Semua barang-barang di lemparkan, hingga pakaian dalam.


Kemudian Chia langsung menutup pintu kamar ganti, sedangkan Harry dan Elouan tertegun seperti patung di depan pintu.


Sebuah bra berwarna hitam sudah bertengger di atas kepala Harry, sedangkan ****** ***** juga menggantung di bahu Elouan.


"A... Apa adikmu sedang mengalami pubertas?" Tanya Harry.


Elouan menjimpit ****** ***** berwarna hitam yang ada di bahunya.


"Mungkin..." Kata Elouan memandangi ****** ***** itu dengan menjimpitnya.


"Sayang... Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Harry.


"Pergi... Aku tidak apa-apa ayah, aku hanya sakit perut karena sedang datang bulan!" Teriak Chia.


"Tapi, dimana temanmu itu Chia?" Tanya Elouan.


"Dia di sini sedang menolongku." Kata Chia.


"Apa kamu yakin tidak perlu bantuan ayah?"


"Menurut kalian, bagaimana pria bisa membantuku saat datang bulan!!" Aku yakin kalian pergilah... Cepat!" Kata Chia.


"Ayah bisa menyeka perutmu dengan air hangat, kakakk mu juga bisa memijit punggungmu. Seperti biasanya kan?!" Teriak Harry.


"Tidak, aku sedang tidak ingin kalian membantuku!!!" Teriak Chia.


Kemudian Harry mengambil bra yang ada di atas kepalanya dan memberikan pada Elouan.


2 pria yang sudah memakai pakaian jas lengkap dan sangat rapi itu saling menatap.


Apalagi Elouan yang di berikan bra milik adiknya.


"Para staff pasti sudah menunggu di ruang meeting." Kata Harry.


"Baik ayah."


"Ayah akan ke ruang meeting, hubungi ayah jika butuh bantuan." Kata Harry lagi.


"PERGI!!!" Teriak Chia lagi.


Kemudian mereka pergi meninggalkan kamar Chia, saat mereka sedang berjalan, Alaris yang sedang berjalan pelan akan menuju kamar Chia keheranan dengan rambut suami dan anaknya yang berantakan.


"Apa ayah dan anak saling berkelahi?" Tanya Alaris.


Di belakang Alaris adalah Samantha dan Emily, tersenyum melihat rambut majikan mereka berantakan.


Kemudian Alaris melihat Elouan membawa 1 stel pakaian dalam wanita, dan mengernyitkan dahi.


"Aaa... Maaf Ibu, seperti biasanya Chia melemparkan pakaian dalamnya pada kami." Kata Elouan tertawa meringis.


Alaris tertawa geli dan membenarkan rambut suaminya.


"Terimakasih istriku..." Kata Harry.


Kemudian Alaris membenarkan rambut Elouan.


"Terimakasih mama..." Kata Elouan manja.

__ADS_1


"Kamu memanggil mama, dengan sangat imut." Alaris mencium pipi Elouan.


"Biar ibu yang membawa pakaian dalam Chia." Kata Alaris.


"Apa Chia sering seperti ini?" Tanya Alaris.


"Ya, setiap dia datang bulan." Kata Harry tertawa canggung.


"Baiklah, kalian harus segera ke ruangan rapat bukan?"


"Aku akan melakukan rapat dengan cepat, apa Eugene dan Pangeran Altaf sudah di sana?" Tanya Harry.


Tak berapa lama Zoland datang.


"Tuan, semua sudah menunggu, tapi pangeran Altaf harus pulang karena ada keadaan yang mendesak." Kata Zoland.


Kemudian Harry dan Elouan mengerti, dan pergi ke ruangan meeting.


Sedangkan Chia yang ada di dalam kamar ganti, gemetar dengan apa yang sudah dia lihat, untungnya Chia berfikir cepat dan melemparkan barang-barang ke wajah sang ayah dan kakaknya, lalu dengan segera menutup pintu.


Tapi, rasa yang aneh menjalar di dada Chia melihat tampilan Zadith yang sangat mempesona, pria itu bahkan jauh lebih tampan setelah mandi dengan badan dan rambut yang basah tanpa pakaian, kali ini dia benar-benar telanjang hanya handuk kecil yang melilit di pinggangnya.


Chia menunggu dan menunggu, Zadith keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian milik Chia, semua pakaian Chia adalah pakaian laki-laki.


"Aku tidak bisa memakai Wignya." Kata Zadith memperlihatkan.


Wajah Chia merah sangat merah, sedangkan Zadith juga sangat malu.


"Anu..." Kata Chia.


"Sebaiknya..." Kata Zadith.


Mereka saling canggung dan secara bersamaan ingin mengatakan sesuatu.


"Kamu dulu." Kata Chia.


"Iya, aku tahu, sepertinya begitu."


"Tapi bagaimana ini, Wig nya rusak." Kata Chia.


"Aku akan keluar mengendap-endap." Kata Zadith.


"Itu terlalu berbahaya." Kata Chia panik.


"Semua keluargamu mungkin sedang sibuk rapat kan." Kata Zadith.


Chia mengangguk.


"Aku akan menyelinap."


"Tapi di sini banyak pengawal." Kata Chia.


"Sejak usia 7 tahun aku selalu pintar menyelinap dan mengelabui penjaga istana." Zadith tertahan dengan kalimatnya sendiri yang seolah berhenti di kerongkongannya.


"Apa? Istana?" Tanya Chia.


"Maksudku aku sejak kecil sudah sering main di istana, jadi aku sepertinya bisa menyusup." Kata Zadith.


"Istana mana?" Tanya Chia.


Tok Tok Tok!


Sebelum Zadith bisa menjawab seseorang sudah mengetuk pintu.


"Chia.... Ini ibu, bisa kamu buka pintunya?"

__ADS_1


"Itu ibuku..." Bisik Chia dan mendelik.


"Tenanglah, aku akan keluar dari sini."


"Pastikan kamu keluar hidup-hidup." Kata Chia.


Zadith mengangguk.


Kemudian Chia membuka jendela dan Zadith keluar dengan membawa tasnya, ia mengendap-endap melalui balkon satu dengan balkon satu lainnya.


Setelah di rasa Zadith sudah jauh, Chia kemudian membuka pintu kamar ganti.


Chia melihat samantha dan Emily membersihkan kamarnya, dan kemudian melihat pada Alaris sang ibu yang berdiri menunggunya.


"Ibu...!!" Chia menghamburkan diri di pelukan sang ibu.


"Apa kamu sedang datang bulan?" Tanya Alaris.


"Eeerrrr...." Chia bingung.


"Kata ayah dan kakakmu, perutmu sakit ketika datang bulan." Kata Alaris.


Chia hanya bisa mengangguk, ia tidak mau menjawab, karena sebenarnya Chia tidak ingin berbohong pada sang ibu, apalagi ibunya baru saja bangun, ia tidak ingin membangun hubungan yang baru di mulai dengan kebohongan.


"Ayo tiduran biar Ibu gosok pinggangmu dengan salep hangat." Kata Alaris.


Kemudian Chia tidur di ranjang, Alaris juga duduk.


"Ibu... Sebenarnya aku kira tadi aku akan datang bulan ternyata belum, aku hanya kram sedikit, dan sudah tidak merasakan sakit, aku tidak apa-apa." Chia tersenyum dan duduk menghadap ibunya.


Alaris tersenyum dan menyeka rambut Chia.


Wajah Chia sangat khawatir dan cemas, ia juga terlihat pucat.


"Samantha dan Emily, tolong ambilkan makanan untuk Chia." Kata Alaris.


"Baik Nyonya."


Kemudian para pelayan itu pergi.


"Sekarang cuma ada kita berdua, kamu bisa bercerita tanpa harus berbohong." Kata Alaris.


"Apa... Ibu tahu? Apa... Wajahku terlihat jelas?"


Alaris tersenyum.


"Ini adalah insting seorang ibu..." Kata Alaris.


Chia tertunduk.


"Sebenarnya, Chia..."


"Ya?"


"Akan ada pementasan di sekolah, dan Chia harus beradu akting dengan lawan jenis, tapi ibu tenang saja dia adalah pria yang baik, dia juga sering membantu Chia, bolehkah setiap pulang sekolah Chia ke tempatnya dan belajar untuk menghafal naskah, karena tinggal 3 minggu lagi, dan club seni harus menampilkan teater dalam acara tersebut, Chia tidak mau membuat semua anggota club kecewa karena akting Chia yang jelek, apakah Ibu bisa mengatakan ini pada Ayah dan kakak." Tanya Chia.


"Kenapa Chia takut meminta ijin pada ayah dan kakak secara langsung."


Chia menunduk, kemudian ingatannya kembali pada saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


"Saat di Sekolah Menengah Pertama, hampir semua siswa pria tidak ada yang berani dekat dengan Chia, karena ayah dan kakak selalu mengirim preman dan mengancam teman-teman Chia, padahal dulu kebanyakan teman Chia adalah pria. Dari saat itulah Chia tidak ingin berteman dengan siapapun. Ayah dan kakak selalu mengira bahwa teman-teman Chia hanya ingin memanfaatkan Chia. Sedangkan Chia tidak mau berteman dengan siswi perempuan, Chia tidak suka mereka terlalu cerewet dan selalu minta foto dengan Chia, mereka menganggap Chia ini tampan."


"Ibu... Eugene dan Elouan itu sangat mengerikan, mereka terlalu posesif, belum lagi, saat melatih Chia bela diri, mereka bukan manusia tapi monster yang kejam." Kata Chia.


"Itu karena ayah dan kakak-kakakmu sangat menyayangimu, tapi ibu janji akan berbicara pada mereka."

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2