
Mobil yang membawa Eugene, Elouan, dan Chia sampai di sekolahan.
Itu adalah sekolahan para bangsawan berbasis international, dimana semua siswa berasal dari berbagai negara.
Semua siswa memiliki latar belakang yang tidak biasa, layaknya keluarga Mac Linford.
Terlihat beberapa mobil milik orang tua dari siswa yang sekolah di sana juga sedang mengantri mobil untuk menurunkan anak-anak mereka di depan gerbang sekolah yang ke dua setelah melewati gerbang utama.
Mereka berasal dari kalangan yang berbeda-beda, dan dari negara yang berbeda-beda pula yang menetap sementara di Negara Slyvedonia.
Chia tidak sabar dan kemudian ia memilih untuk turun.
"Chia...!!" Teriak Elouan.
"Wweeekk!!!" Kata Chia sembari menurunkan matanya dengan jarinya dan memeletkan lidahnya.
"Astaga... Anak itu meniru siapa." Kata Elouan.
"Biarkan saja." Kata Eugene.
Eugene dan Elouan berada di kelas akselerasi, itu adalah kelas khusus, untuk para siswa yang memiliki prestasi lebih.
Sedangkan Chia, ia berada di kelas lanjutan biasa.
Kaki Chia terhenti ketika ia mendengar seseorang sedang mengobrol, dan mereka membanding-bandingkan Chia dengan anak mereka.
"Sebenarnya, Chia itu benar adik dari Eugene dan Elouan bukan sih, dia anak dari Presiden bukan sih? Heran sekali, kok dia berbeda sendiri ya." Kata Seorang ibu dari siswa yang juga bersekolah di sama.
"Iya, saya dengar bahkan Chia itu sangat nakal dan tomboy, dia suka memanjat pohon, suka berkelahi, dan yang paling parah dia urakan sekali, tidak mencerminkan dari keluarga bangsawan. Masak dia kalah dengan anak-anak pejabat kalangan menengah seperti anak kita kita ini." Kata seorang ibu lagi.
Itu adalah diskusi para ibu-ibu yang sudah sangat sering ia dengar.
"Ibu... Bangunlah, mereka membicarakan Chia lagi..." Kata Chia memanggil ibunya.
Chia memasang wajah murung, ini bukan pertama kalinya ia mendengar perkataan dan kalimat seperti itu di belakangnya.
Namun, di depannya, mereka akan bersikap berlainan, mereka akan tersenyum ramah, dan memuji Chia anak gadis yang pintar, berbakat, dan cantik.
"Bikin muak saja.." Kata Chia dan berbalik pergi.
Chia akhirnya memutuskan untuk membolos dan pergi dari sekolah.
Chia merasa ia lahir di keluarga yang salah dan tidak sepatutnya ia berada di sana, ia merasa berbeda.
"Apa benar yang mereka katakan bahwa aku tidak pantas di keluarga ku sendiri, mereka bilang bahkan anak-anak mereka lebih pantas berada di posisiku." Chia menghapus air matanya yang menetes, ia duduk di ayunan.
Sebelumnya, Chia diam-diam membolos melalui jalan rahasia yang pernah ia buat sendiri, itu adalah jalan di belakang sekolah yang pagarnya berlubang dan tertutup semak, mungkin seseorang lupa menutup lubang itu, dan lubang itu akan menuju ke sebuah taman bermain anak-anak.
Chia perlahan mendorong lagi ayunannya pelan dengan menggunakan kakinya, ia menyangga kepalanya di tangannya yang berpegang pada besi ayunan.
__ADS_1
Sambil sesekali terisak.
Tak lama kemudian, seorang pria mendekat dan mengaketkannya.
"Anak kecil, kenapa kamu sendirian?" Tanya pria itu.
Chia mendongak namun alih-alih menjawab pertanya sang pria ia justru diam dan kembali menunduk.
Pria itu mengerutkan keningnya dan tersenyum lalu duduk di ayunan samping Chia.
"Bahaya untuk anak sekecil dirimu keluar di sendirian tanpa di dampingi orang tua."
Chia masih diam.
"Bagaimana jika ada orang jahat yang menculikmu?" Tanya pria itu lagi.
Chia masih acuh.
"Kamu tidak takut?"
Chia mulai risih.
"Kamu pasti orang jahatnya, yang akan menculikku, tapi sebelum kamu melakukan kejahatan itu, pikirkan dulu akibat dari menculik ku." Kata Chia.
Pria itu tertawa rendah.
Kemudian Chia melihat pria itu, dan melihat beberapa alat yang ia bawa.
"Kamu tukang kebun?" Tanya Chia.
"Ya... Aku tukang kebun di taman ini, rumahku ada diujung sana." Kata Pria itu.
"Tapi, karena kamu miskin itu juga bisa mendorongmu untuk bertindak jahat padaku, dan menculikku, lalu kamu akan meminta tebusan pada ayahku yang kaya, tapi jangan lakukan itu, karena semua pengawal ayahku pasti akan menemukan ku lebih dulu dan kamu akan mati."
"Ha... Ha.. Ha.." Pria itu tertawa lunak lagi.
"Ternyata kamu anak yang lucu dan menggemaskan juga pintar."
"Aku tidak akan terkesan dengan pujianmu, aku sudah biasa mendapat pujian palsu!" Kata Chia.
Tanpa sadar kemudian Chia melihat sebuah pohon, Chia kemudian berdiri dan berlari, membuat pria itu terkejut.
Chia melemparkan tasnya dan dengan cekatan memanjat dan sudah sampai di atas pohon dengan sekejap mata.
Pria dewasa itu kembali tertawa melihat tingkah Chia.
"Kamu sangat hebat, bahkan seekor monyet pasti akan kalah denganmu." Kata Pria itu.
Chia cemberut jengkel, lagi-lagi ada yang mengatainya monyet lagi.
__ADS_1
"Kamu pasti sedang gusar dan bimbang ya?" Tanya pria itu.
Chia diam dan hanya melirik, karena tebakan itu benar.
"Sewaktu aku kecil, ketika aku merasa kesal, gusar, takut, ataupun merasa kesal, dan sedih aku selalu naik ke atas pohon, semakin kesal aku semakin tinggi memanjat, semakin sedih aku juga semakin tinggi memanjat pohon, agar aku bisa melihat mereka semua yang ada di bawah, itu membuatku terasa aman dan nyaman, lalu perasaanku akan baik-baik saja."
Chia, meneteskan air matanya.
"Kamu benar." Kata Chia.
"Ayo turunlah, aku akan membawamu ke tempatku, aku janji tidak akan menculikmu, aku bisa membuatkan makanan yang bisa membuatmu bahagia." Kata pria dewasa itu.
Chia ragu.
"Melompatlah paman akan menangkapmu." Kata paman itu dengan tersenyum.
"Awas ya jika kamu menculikku, semua pengawal ayahku akan segera menemukanmu dan membunuhmu."
Pria itu kembali tertawa.
"Aku memiliki seorang anak, dia perempuan dan seumuran denganmu." Kata Paman itu lagi.
Cukup lama Chia menimbang-nimbang, namun kemudian ia menjatuhkan dirinya dan paman itu menangkapnya lalu memeluknya, tak lupa paman itu juga membawa tas milik Chia.
Beberapa langkah lumayan cukup jauh dan mereka sampai di sebuah pondok kecil, itu adalah rumah yang cukup terawat meski kecil, banyak potongan-potongan kayu bakar di depan rumah.
Kemudian Pria itu membuka pintunya.
"Masuklah dan duduk." Kata pria itu.
"Ayah? Kenapa ayah kembali?" Suara seorang gadis kecil.
"Zanna... Hukumanmu belum selesai, tetap berdiri di dekat perapian dan menghadap dinding, ayah sudah katakan jangan pernah pergi menemui ibumu sendirian itu sangat berbahaya." kata Pria itu.
"Ayah... Aku tidak ingin membuat ayah kesulitan, karena pekerjaan ayah juga sudah banyak, akhir-akhir ini ayah memperbaiki rumah yang di desa lebih banyak, ayah pasti lelah." Kata Zanna membela dirinya.
Ya, pria itu adalah Jason.
"Lagi pula, kenapa sih kita tidak tetap tinggal di Negara Vernecia saja! Di sana rumah kita bagus dan sangat layak daripada di sini, kita pindah saat sudah tidak punya uang!" Zanna memprotes.
Jason, tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya, bahwa itu adalah permintaan terakhir Axella, wanita itu mengajukan permintaan terakhir pada hakim untuk kembali ke Negara Slyvedonia setelah di vonis kanker dan tidak akan lama lagi menjalani hidupnya, dan Hakim pun mengabulkannya.
"Sudahlah, sini duduk bersama ayah, ada teman yang harus kamu ajak mengobrol." Kata Jason kemudian sembari menyiapkan beberapa bahan makanan untuk di masak.
Zanna kemudian menoleh dan Chia juga melihat Zanna.
"Kamuu....?" Chia melihat wajah yang tak asing, itu adalah gadis kecil yang jatuh di jalan tepat di depan mobilnya.
bersambung~
__ADS_1