Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
MENGUNJUNGI SANG ADIK


__ADS_3

Negara Amarka


Harry dan juga Alaris sampai di negara Amarka beberapa jam sebelum janji temu dengan Hector.


Gedung tertinggi dan termegah berada di tengah-tengah pusat kota itu adalah milik Emperor Grup.


Pencapaian yang sangat luar biasa, padahal perusahaan itu baru saja berdiri, dan tentu saja semua orang bahkan wanita tergila-gila dengan ketampanan sang pimpinan kantor cabang, ia adalah Hector.


Harry dan Alaris sampai di lobby, semua berbaris rapi dan tertib, menunduk secara bersamaan ketika Harry keluar lebih dulu dari mobil kemudian menggapai tangan sang istri dan menggandengnya, sebuah momen yang sangat mendebarkan hati para karyawan.


Mereka melihat langsung paras tampan Harry yang menyilaukan mata.


"Kenapa di luar perusahaan sangat ramai para wanita?" Tanya Alaris yang sudah keluar dari mobil dan berdiri di samping Harry.


"Aaa... Itu semua adalah penggemar adik anda Nyonya." Sahut Zoland.


"Semua itu?" Tanya Alaris memastikan.


Para wanita yang ada di luar gedung perusahaan bagaikan semut, kawanan semut yang hendak ingin mengerubungi gula.


Alaris menggelengkan kepala.


"Bayanganku tidak sebanyak itu."Kata Alaris.


Kemudian Harry dan Alaris masuk ke dalam, semua karyawan serentak memberikan salam sembari menunduk hormat.


"Selamat datang di perusahaan cabang, Negara Amarka. Tuan dan Nyonya."


Alaris merasakan merinding dengan seluruh karyawan berbaris serentak memberikan salam.


"Sejujurnya mereka tidak harus melakukan ini, aku tidak gila hormat." Kata Alaris.


"Ini semua adalah tradisi. Mereka harus tahu siapa pimpinan yang harus di takuti." Kata Harry.


Tak berapa lama Hector pun datang.


"Kakak, maafkan, aku datang terlambat menyambut kalian, pekerjaan ku sangat banyak, dan aku harus mengurus ruangan kantor milik Harry." Kata Hector.


"Tidak apa-apa, kamu pasti sangat bekerja keras." Kata Alaris.


"Kantor milik kalian sudah siap, di lantai paling atas." Kata Hector.


"Ini hanya perjalanan kecil, tidak perlu sungkan." Kata Harry.


"Tapi, apakah setiap hari para wanita itu ada di depan sana?" Kata Alaris menunjuk kumpulan para wanita.


"Aaa...Hahahah... Sejujurnya iya." Kata Hector malu.


"Wah... Sepertinya pesonamu memang luar biasa Hector, wajah mu memang mirip dengan istriku, pantas saja aku tergila-gila dengan Alaris karena pesonanya juga luar biasa." Kata Harry.


"Tapi Alaris sangat menakutkan ketika marah, wajahnya dingin tanpa ekspresi, sejujurnya itu jauh lebih membuat tekanan lawan." Kata Hector.


"Kamu benar, istriku memang menyeramkan ketika moodnya tidak bagus." Sahut Harry.


"Apa?" Tanya Alaris.


"Tidak ada Istri." Harry tersenyum lebar.

__ADS_1


Hector geli sendiri melihat Harry yang kejam bagai iblis menjadi budak cinta kakaknya.


Kemudian Harry mengajak Alaris untuk naik dan melihat kantor mereka.


"Kantor seluas ini?" Tanya Alaris.


"Tuan Harry selalu memakai lantai paling atas sebagai kantornya Nyonya." Jawab Zoland.


"Lalu ada kamar untuk tidur, jika kalian hendak menginap di sini." Kata Zoland lagi.


"Kakak, berapa hari kalian akan tinggal? Aku dengar pantai dan pegunungan di Negara Amarka ketika pagi udaranya sangat bagus untuk wanita hamil, kamu mau pergi kesana bersamaku?" Tanya Hector.


"Entahlah, mungkin pantai akan lebih menarik daripada gunung." Kata Alaris.


"Itu adalah ide yang bagus untuk pergi ke pantai." Kata Hector.


"Harry memiliki banyak sekali yacht mewah. Kita bisa menggunakannya." Bisik Hector.


"Dasar bocah nakal." Kata Alaris.


"Kamu boleh menyiapkannya, bilang dulu pada Harry jika akan memakai yacht miliknya." Sahut Alaris lagi.


Alaris memutar kursi besar yang terbuat dari kulit kelas nomer 1.


"Kursi yang besar dan mewah." Kata Alaris.


"Apa yang kalian rencanakan." Kata Harry yang muncul setelah mengecek seluruh ruangan.


"Alaris ingin memakai yacht milikmu untuk bersenang-senang." Celoteh Hector.


"Aaah...." Harry mengangkat alis dan wajahnya.


"Astaga, kakak ceroboh sekali, ini pulpen mahal." Hector mengembalikan di atas meja Harry.


"Tidak apa-apa Hector, kakakmu sudah menghancurkan dapur kastil yang nilai bangunannya setara dengan membeli villa." Kata Harry.


"Astaga. Apa yang sudah dia lakukan." Hector tertawa dengan nada tak percaya.


"Dia mencoba memasak."Kata Harry.


"Astaga, bahkan dia tidak bisa membedakan garam dan gula, dan mencoba memasak untukmu?" Tanya Hector tak percaya.


"Keluarlah, dasar berandal cilik!" Umpat Alaris.


"Kakak, aku pemimpin cabang perusahaan Emperor Grup di negara Amarka." Kata Hector.


"Ya... Ya... Ya... Tapi tetap saja kamu adalah adik kecil yang licik! Sana pergi dan selesaikan pekerjaanmu!" Kata Alaris.


Harry tersenyum melihat kakak beradik itu sangat akur.


"Baiklah karena aku ada pekerjaan dinas di luar, aku tinggalkan kalian di sini. Aku harus mengecek proyek di lapangan, sebuah mall terbesar akan berdiri megah di negara Amarka." Kata Hector.


"Setelah pembangunan department store itu selesai, ada pekerjaan lain lagi yang harus kamu selesaikan Hector." Kata Harry


"Ya?" Tanya Hector.


"Membangun taman hiburan, itu akan menjadi taman hiburan megah di Negara Amarka, dengan permainan-permainan untuk para anak-anak." Kata Harry.

__ADS_1


Hector mengangguk.


"Zoland pergilah bersama Hector." Perintah Harry.


"Baik Tuan." Kata Zoland.


Setelah kepergian Hector dan Zoland, ruangan yang luas bak lapangan sepak bola itu menjadi hening dan sepi. Alaris berdiri di dekat kaca yang menjuntai tinggi dan membentang luas sepanjang bangunan.


"Ini sangat luar biasa." Alaris menekan kaca itu.


"Kaca ini tahan peluru dan tidak tembus pandang dari luar." Bisik Harry yang sudah berdiri di belakang Alaris.


"Kamu mau mencoba melakukannya di sini istriku." Tanya Harry.


"Kamu jangan coba-coba." Kata Alaris memperingatkan.


Harry tertawa kecil.


"Kamu ingin membangun taman hiburan?" Tanya Alaris.


"Ya, namun ada satu kendala." Kata Harry.


"Apa itu?"


"Tanah yang di bangun belum seluruhnya mendapatkan sertifikat, ada separuh tanah milik Guillermo, mungkin aku bisa mendapatkannya dengan menukar sesuatu. Sepertinya sudah saatnya kucing liar itu di bebaskan." Kata Harry.


"Menukar dengan apa? Kucing luar apa?" Tanya Alaris tak mengerti.


Harry menunjuk dahi Alaris yang mengerut dengan jarinya.


"Keningmu mengekerut. Rilex sayang, itu adalah masalah yang ku pikirkan, istriku hanya perlu melihat bahwa taman hiburan itu akan berdiri dengan megah, semua anak-anak akan menyukainya." Kata Harry.


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin membangun taman hiburan?"


"Negara Slyvedonia, adalah negara paling maju dan nyaman karena bersih polusi dan juga masih asri dengan banyaknya hutan namun juga 90% memiliki cuaca dingin, orang malas keluar, berbeda di negara Amarka, negara ini memiliki cuaca yang cocok untuk liburan sepanjang akhir tahun." Kata Harry.


"Kamu selalu jeli melihat peluang dan mengumpulkan pundi-pundi uang. Kamu memiliki segalanya, uang mu juga sudah menggunung, jabatan yang kamu miliki pun tidak bisa di robohkan orang lain begitu saja, apa yang ingin kamu lakukan setelah ini? Karena tujuan balas dendam juga sudah terlaksana." Kata Alaris.


Harry memeluk tubuh Alaris dari belakang, jemari kekar itu perlahan menaikkan gaun Alaris dan jemari-jemari Harry perlahan masuk ke dalam underwear milik Alaris.


"Kamu bertanya apa yang ingin aku lakukan sekarang?" Bisik Harry di telinga Alaris.


Nafas panas Harry menyebar di leher Alaris.


Alaris sontak terkejut, membuat tubuhnya bergidik dan darahnya seketika memanas naik sampai ke ubun-ubun dengan perlakuan yang tiba-tiba itu namun gerakan Harry begitu lembut, membuat Alaris reflek menyandarkan tubuh dan kepalanya di dada bidang Harry.


"Mulai sekarang aku hanya akan menikmati kehidupanku dengan mu dan dengan anak-anak kita. Kehidupan yang tenang." Kata Harry.


Gerakan itu mulai memanas, tubuh mereka saling menempel dan berayun berirama, desahaan dan erangan pelan keluar dari mulut Alaris membuat mereka menjadi lebih bergairah.


Gairah memanas itu seolah membakar lantai granit yang mewah dan mahal, seolah mereka pun juga sedang berada di pijakan kaki-kaki mereka yang berkobar di atas gedung-gedung pencakar langit yang sahamnya tidak seberapa.


"Kamu lihat gedung-gedung kecil di bawah sana istriku... Dengan menikahiku kamu menjadi istri raja dunia bisnis." Bisik Harry.


Alaris tidak berdaya setiap kali, Harry menyentuhnya, Harry bagaikan candu yang tidak dapat ia lawan dan tidak dapat ia tolak. Harry pintar membangkitkan segala gairahnya.


Harry menarik jemarinya dan menurunkan gaun milik Alaris lalu menggendongnya menuju kamar.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2