
Axella tengah berada di dalam kamarnya dan seorang perancang gaun pernikahan sudah membawa peralatannya.
"Saya ditugaskan Tuan William untuk melayani anda memilih dan mendesain gaun Nyonya, nama saya adalah Lilian. Ini adalah buku yang berisi foto-foto gaun para pelanggan kami Nyonya anda bisa melihat-lihat dulu."
"Tidak perlu, yang ku inginkan hanyalah gaun pengantin yang sangat mewah dan tidak ada yang bisa menyainginya bahkan gaun pengantin yang pernah Alaris gunakan saat menikah dengan William."
"Tapi Nyonya, gaun itu sangat berat dan sangat panjang, apakah tidak membuat anda kesulitan berjalan? Karena anda sedang hamil dan perut anda sudah semakin besar. Menurut saya gaun yang agak ringan dan ringkas bisa membuat anda lebih nyaman." Kata sang Desainer wanita.
"Aku yang membayarmu, jadi bukan aku yang menurutimu, di sini kamu lah yang seharusnya mendengar kan perintahku, lagi pula William menginginkan aku memilih gaun yang kusukai karena pernikahan ini akan di selenggarakan dengan sangat mewah." Kata Axella mengancam.
"Maafkan saya Nyonya, atas kelancangan saya, aaya lupa bahwa Tuan William berpesan agar pernikahan akan di buat semegah mungkin, jadi saya juga harus membuatkan gaun pengantin yang mewah juga." Kata sang desainer.
"Senang kamu bisa paham." Axella tersenyum sinis dan melihat dengan mata yang tidak suka.
"Bagaimana jika yang ini Nyonya."
Sang desainer memperlihatkan foto gaun yang tak kalah indah dari pakaian yang pernah Alaris gunakan.
"Ini hampir mirip dengan gaun Alaris, kamu menghinaku? Kamu lihat tubuhku sudah tidak mungkin memakai gaun pengantin yang ramping."
"Maksud saya, kita akan mengubahnya menjadi agak lebar."
"Memuakkan." Kata Axella.
Entah karena pengaruh hormon atau memang sifat asli Axella mulai terlihat, sang desainer mulai kwalahan dan gugup.
"Ba.. Bagaimana jika anda yang membayangkan dan saya yang menggambarnya?"
"Boleh juga."
Akhirnya setelah beberapa jam berlalu dengan situasi yang tidak mengenakan bagi sang desainer, gambaran pun selesai, tentu saja tangan sang desainer menjadi gemetar, karena tidak sedikit kalimat dan umpatan keluar dari Axella.
"Cukup mengesankan gambaranmu, ini sangat bagus dan glamour." Kata Axella bangga.
Sang desainer hanya diam menunduk takut.
Selain Axella, di negara Slyvedonia ternyata Alaris juga sedang berdiskusi dengan Harry tentang pesta pernikahan mereka.
"Aku sudah mengundang desainer terkenal kata Harry.
Kemudian sang desainer itu masuk.
"Perkenalkan Nyonya nama saya Emma, saya akan sebaik mungkin bekerja untuk membuat anda seperti malaikat."
"Dia memang seorang malaikat." Kata Harry.
Emma tersenyum malu.
"Silahkan anda melihat-lihat dulu referensi gaun pernikahan yang saya punya."
Setelah Alaris melihat-lihat, dia memiliki gagasan nya sendiri.
"Kamu bisa menggambar?" Tanya Alaris.
"Bisa Nyonya, semua desain itu saya sendiri yang menggambar."
"Aku akan mulai membayangkan, kamu yang akan menggambar."
"Dengan senang hati Nyonya."
"Aku mau gaun itu seperti ini dan berenda.." Alaris menunjuk model gaun pengantinnya.
"Lalu aku mau gaunnya pas di tubuhku, jadi aku terlihat ramping, lalu, lengannya cukup seperti ini."
Alaris menunjuk beberapa gaun yang ia sukai, dan memadukannya menjadi satu.
Harry melihat bagaimana Alaris fokus dengan gaun yang ia inginkan, matanya tidak pernah lepas dari cekatannya Alaris berfikir.
"Harry berhenti menatapku..." Kata Alaris bersemu merah.
__ADS_1
"Bagaimana ini... Aku tidak bisa berhenti karena aku sangat tergila-gila padamu...." Kata Harry menyandarkan kepalanya dengan telapak tangannya, dan menyangganya.
Wajah Harry yang menggemaskan membuat Alaris tertawa.
Melihat calon pengantin mengobrol mesra, sang desainer mengerti.
"Saya akan menyelesaikan sisanya, saya permisi Nyonya dan Tuan."
Kemudian Harry menggapai tangan Alaris.
"Aku tidak percaya mimpiku menjadi nyata, kamu akan menjadi istriku, dan milikku selamanya."
Alaris menundukkan wajahnya.
"Kamu sedih?" Tanya Harry.
Alaris menggelengkan kepala.
"Rasanya sangat berbeda."
"Apanya?"
"Pernikahan ini. Entah kenapa aku sangat gugup, aku juga tidak bisa tidur dengan tenang. Ini sangat berbeda dengan waktu itu." Kata Alaris.
Harry kemudian tersenyum.
"Aku juga gugup, tapi aku lebih gugup dengan malam pertama kita." Kata Harry dengan wajah merah.
"Aku belum berpengalaman. Bisakah kamu yang mengajariku?" Bisik Harry.
Wajah Alaris seketika berubah menjadi sedih.
"Bolehkah aku mengatakan yang sebenarnya?" Tanya Alaris.
Harry mengangguk.
"Aaa..." Harry memasang wajah yang seolah terkejut, yang sebenarnya Harry sudah mengetahuinya dari Leon. Jika Alaris belum pernah melakukan hubungan badan dengan William.
Harry sengaja memancing, apakah Alaris kan memberitahunya dengan jujur.
"Aku semakin ingin cepat menikahimu." Kata Harry mencium tangan Alaris.
"William memberikan perjanjian dan membatasi dirinya, entah kenapa dia tidak memberikan perjanjian apapun ketika bersama Axella."
"Tapi aku senang, setidaknya kamu belum pernah tersentuh olehnya, kamu permataku yang berharga." Kata Harry.
"Ku rasa pernikahan William juga akan segera di adakan."
"Kita menunggu pernikahan mereka dulu, selanjutnya kita akan menyusul, bagaimana?" Tanya Harry.
Alaris mengangguk.
"Lalu setelah mereka menikah, hanya dengan satu perintah dariku, kehidupan mereka akan segera di jungkir balikkan, dan Zoland akan mengaturnya." Kata Harry.
"Aku tidak ingin membahas mereka dulu, mari kita fokus pada acara kita.
"Aku menyukai itu." Kata Harry.
"Tapi, aku belum melihat Brida dari semalam."
"Aaa... Mungkin dia sedang sibuk bersama Zoland." Kata Harry.
"Tapi, aku sudah bertanya pada Zoland, dia mengatakan tidak tahu dimana Brida. Aku menjadi sangat cemas, atau mungkin William menculiknya?" Wajah Alaris menjadi gusar.
"Tenang saja, aku sempat melihat nya bersama Leon." Kata Harry.
"Benarkah?"
"Ya mungkin mereka sedang mengatur rencana atau entahlah, yang jelas biarkan mereka bersama, itu akan baik untuk mereka saling mengenal."
__ADS_1
"Tapi katamu Leon seorang perayu wanita, dia juga memiliki kekasih."
Harry tertawa.
Alaris mengerutkan kening.
"Aku bercanda, memang rumor dan gosipnya Leon seperti itu, tapi sebenarnya dia lebih bisa di andalkan tenang saja dia tahu siapa yang harus di permainkan dan siapa yang harus di jaga."
"Apa hubungan kalian sekarang sudah membaik? Kemarin kamu mengatakan Leon sangat licik."
"Maksudku hanya untukmu, itu pengecualian, kamu jangan dekat-dekat dengannya."
"Kenapa? Hanya aku?" Tanya Alaris tak mengerti.
"Kenapa? Karena sebenarnya aku cemburu. Leon adalah pria yang tampan, ketampanannya begitu halus dan mulus."
"Tapi kamu lebih tampan dari Leon. Dan kamu adalah milikku sekarang."
"Apa?" Harry terkejut mendengar pengakuan Alaris.
Alaris diam.
"Katakan sekali lagi Alaris." Pinta Harry.
"Apa? Yang mana?"
"Kamu bilang aku tadi apa?"
"Kamu tampan."
"Setelah itu...."
"Setelah itu yang mana." Alaris menghindari tatapan memburu Harry yang agresif.
Alaris jelas malu, baru kali ini ia mengatakan apa yang ada di isi kepala dan hatinya langsung tanpa memendamnya.
"Kamu bilang aku adalah milikmu sekarang?" Tanya Harry tertawa.
Alaris masih memalingkan wajahnya dari wajah tampan Harry. Jelas ia merasa sangat malu.
"Kenapa kamu selalu menghindari tatapan ku Alaris."
Alaris mendesahhkan nafasnya.
"Karena kamu sangat tampan, dan memiliki tubuh yang sempurna." Kata Alaris menggigit bibirnya.
'Astaga aku benar-benar gila.'
"Lalu apa kamu sangat menyukai wajah dan tubuhku?" Tanya Harry, perlahan Harry menaruh tangan Alaris di wajah Harry.
"Ap... Apa..." Alaris terlejut ketika tangannya di arahkan di pipi Harry.
Harry tersenyum dan mengecup jemari tangan Alaris pelan, kecupan itu berubah menjadi kulumann pelan di jemari-jemari Alaris.
"Harry..." Suara lirih terdengar dati mulut Alaris.
"Kamu menyukainya?".
Wajah Alaris berubah menjadi semerah saos pedas, dan menjadi panas.
Harry benar-benar senang menggoda Alaris.
"Apa kamu juga ingin menyentuh dadaku."
Alaris melirik dada Harry yang sudah terbuka sedikit, karena Harry membuka kancing bajunya bagian atas.
'Bagaimana bisa dia menggodaku seperti ini dengan wajahnya yang tampan dan sikap santainya, bagaimana bisa tubuh berotot itu begitu mulus dan putih, bagaimana bisa dia memiliki tubuh yang begitu sempurna, leher itu kuat dan berotot, dan aku pasti benar-benar gila. Otakku sudah mulai mesuum.'
bersambung~
__ADS_1