Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
HUBUNGAN YANG JUSTRU SEMAKIN ERAT


__ADS_3

Pagi hari yang sungguh menyiksa, dimana seluruh tulang belulang Alaris terasa seperti patah dan remuk. Alaris sungguh tidak dapat bangun, tubuhnya masih telanjangg tanpa busana, namun selimut tebal keemasan menutupi tubuhnya.


Alaris yakin, Harry sudah memandikannya lagi sebelum ia pingsan.


Dengan mata kelelahan, Alaris menyapu ruangan kamar, terlihat Harry yang masih memakai piyama berdiri di ambang balkon, wajahnya pucat. Pria itu nampak sedih, dan sangat murung.


"Harry." Panggil Alaris lemah.


Mendengar istrinya memanggilnya, dengan cepat Harry berbalik dan melihat istrinya sudah bangun, Harry kemudian duduk di samping tubuh istrinya yang lemas, dan di pastikan ia tidak mampu bangun.


"Maaf..." Kata Harry dengan sangat pelan dan selembut mungkin menggenggam tangan Alaris dan menciuminya berulang kali, sangat lembut dan sangat pelan.


"Maafkan aku, istriku." Kata Harry lagi.


"Tidak apa-apa Harry." Alaris tersenyum letih, ia juga berbicara setenang mungkin, karena sepertinya Harry dalam suasana hati dan kondisi yang tidak baik.


Hari ini, Harry benar-benar menjadi pria yang di penuhi dengan kemelut di hatinya, pria itu hanya diam kemudian melepaskan genggamannya dari tangan Alaris.


Harry berulang kali meremas dan mengepalkan tinjunya, terus menerus dan berulang kali, bahkan Harry tidak mau menatap mata Alaris.


" Harry? Apakah kamu baik-baik saja? Tubuhmu sudah kembali sehat?"


Alaris bertanya dengan cemas, Harry menutup matanya dengan erat.


'Apakah obat terlarang itu memberikan efek lain pada kesehatan Harry.' Alaris mulai cemas,


Harry ragu-ragu, sebelum akhirnya berbicara.


"Kamu mungkin tidak percaya padaku, dan membenciku, setelah apa yang terjadi sepanjang malam hingga subuh, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku. Aku minta maaf, dan lagi aku tidak tahu kenapa itu terjadi padaku. Maaf karena telah menyakitimu." Kata Harry.


"Apa kamu sudah bertemu dengan Zoland dan Leon?" Tanya Alaris.


Harry menggeleng pelan.


"Hanya melalui ponsel. Zoland menghubungiku sebentar dan menceritakan kronologinya."


Alaris diam.


Melihat Alaris hanya diam kemudian Harry bersujud di bawah tempat tidur, membuat Alaris terkejut namun ia juga tidak dapat bangun. Dengan mengerahkan seluruh tubuhnya Alaris mengulurkan tangannya, dan Harry menyentuh jemari Alaris, kemudian menarik tangannya kembali.


"Maaf Alaris, kamu pasti kecewa dan marah terhadapku, tapi yang harus kamu tahu, hanya kamu yang ada di hatiku, sungguh hanya dirimu Alaris." Mata Harry mulai berkaca-kaca.


Alaris tidak langsung merespons kali ini.


"Aku tidak pernah menaruh perasaan apapun pada Yumna, sebaliknya aku telah mengurungnya di ruangan agar dia tidak mengacau di hari pernikahan kita tapi sepertinya ada yang menolongnya, aku juga tidak memikirkan jika Yumna akan menggunakan rencana seperti itu. Setelah aku meminum wine itu, aku merasa seperti ingin melampiaskan semua haasrat yang ada di dalam tubuhku."


"Kamu tidak pernah minum, kenapa kamu meminumnya."


"Aku bersumpah Alaris, aku sudah menolaknya, tapi dia berjanji akan pergi ke perancis dan tidak akan menganggu dirimu."


"Kamu melakukannya demi aku?" Alaris nampak terkejut.

__ADS_1


"Ya, meski aku sangat membenci alkohol, aku meminumnya demi kamu. Ada 2 orang yang sangat berharga di hidupku, jika demi mereka aku harus minum alkohol aku akan minum, orang yang pertama adalah kamu dan yang kedua adalah Leon. Jangan tinggalkan aku Alaris." Pinta Harry.


Tidak dapat berbicara lebih jauh, Harry melihat ke bawah dengan wajah penuh penyesalan.


'Harry pasti sangat tersiksa. Dia mungkin tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri jika aku tidak datang tepat waktu… karena kegilaan itu.'


"Apakah sekarang obat itu memiliki Efek kesehatan lain?"


Alaris bertanya dan berusaha terdengar setenang mungkin meski jantungnya berdebar kencang. Alaris sangat cemas jika obat itu memiliki efek kesehatan dan menyebabkan hal buruk pada Harry.


Harry menggelengkan kepala.


"Tidak. Efek ramuan itu hilang setelah aku menyalurkannya, saat subuh tiba aku sadar telah menjadi seperti iblis dan membuatmu hampir pingsan, kemudian aku memandikanmu, dan para pelayan membersihkan kamar. Maaf, aku tidak memiliki pikiran lagi untuk memakaikan piyama padamu."


"Jadi, mengapa kamu begitu gugup dan takut, wajahmu juga sangat sedih dan muram?" Tanya Alaris lagi.


" Itu karena pikiranku sangat kacau, melihatmu pingsan karena aku melakukan hubungan badan dengan sangat rakus dan kasar, tidak berhenti hingga subuh, lalu aku bertanya pada Arthur, dia bilang kamu akan bangun sendiri. Jadi aku hanya terus menunggu dan menjaga jarak, aku tidak mau menyakitimu."


"Jadi dari subuh kamu hanya berdiri di balkon?" Tanya Alaris lagi.


Harry mengangguk pelan, pria itu menatap lantai dengan tangan terkepal.


Pupil matanya tampak bergetar cepat, tak lama kemudian sudut matanya memerah lagi dan hendak ingin menangis.


"Harry?"


Alaris sangat terkejut.


"Kemarilah, naik dan berbaring denganku." Kata Alaris.


Alaris tahu, efek obat itu begitu kuat, sangat beruntung Harry bisa menahannya. Jika tidak entah malapetaka apa yang akan terjadi pada pernikahannya.


"Harry... Berbaringlah bersamaku..."


Harry masih tidak percaya diri.


"Harry..."


Setelah memanggilnya beberapa kali, Harry bergumam dengan suara sedih,


"Istriku, aku tidak mau menyakitimu, bahkan seujung rambut pun jika kamu merasakan sakit atas perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."


"Harry..."


"Aku tidak ingin menjadi seperti mantan suamimu, yang menyakitimu."


"Harry kemarilah... Kita bicara dengan tenang."


"Istriku, aku sangat malu padamu, dan seperti tidak pantas berada di ranjang yang sama bersamamu."


"Harry itu bukan salahmu!"

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu Istriku! Aku benar-benar tidak bisa kehilangan dirimu, aku ingin kamu mempercayaiku jika aku ingin menjagamu, tapi aku justru jatuh dan lemah hanya dengan obat yang Yumna berikan."


"Harry, kamu adalah pria yang hebat, dan bisa menahannya di depan Yumna."


Mendengar istrinya memujinya. Akhirnya Harry menatap mata Alaris.


"Hah… ya?"


Alaris benar-benar mencoba untuk menenangkan dan menghibur Harry.


"Aku berterimakasih, kamu sanggup menahannya dan melampiaskannya padaku, aku senang dan bahagia, aku bersyukur kamu tidak melampiaskannya pada wanita itu. Jadi, kemarilah dan peluk aku." Kata Alaris, tanganya masih mengulur lemah.


"Kamu tidak jijik padaku? Kamu tidak membenciku?"


Air mata sepertinya berkumpul di mata Harry yang akan tumpah.


Alaris menggeleng pelan.


"Aku bahagia kamu menyalurkannya padaku, dan bukan pada wanita itu. Kemarilah."


Perlahan Harry menyambut tangan Alaris dan berbaring di samping Alaris.


Kepala Alaris kemudian berada di lengan Harry, dan Harry memeluk tubuh Alaris yang masih terbungkus selimut.


"Kamu benar-benar memaafkanku?" Tanya Harry lagi.


"Aku memaafkan perihal kamu yang ceroboh telah terkena jebakan wanita itu."


"Lalu untuk perlakuanku saat aku menindasmu semalaman?"


"Kamu tidak menindasku. Kamu melakukannya dengan baik. Semoga kita bisa lebih cepat memiliki bayi. Aku menginginkannya."


Mata Harry terbelalak.


"Kamu... Menyukai aku yang memperlakukanmu di ranjang dengan lembut atau kamu menyukai ku yang semalam?" Tanya Harry.


"Aku menyukai semuanya, keduanya bagus, dan mungkin saat nya kamu tahu, jika aku sangat mencintaimu." Kata Alaris.


Harry tersenyum dan memeluk Alaris.


"Aak... "


"Seluruh badan mu pasti sangat sakit." Harry mencium kedua mata Alaris.


Alaris mengangguk dan tersenyum.


"Dimana kamu mendapatkan stamina seperti itu? Sampai sekarang, kamu bahkan belum tidur. Jika kita memiliki bayi, aku yakin bayi itu akan mirip seperti dirimu." Kata Alaris.


Harry mengecup bibir Alaris.


"Aku akan berusaha lagi, agar kita cepat memiliki bayi."

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2