Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
WILLIAM MEMBELA AXELLA DAN MEMPERMALUKAN ALARIS


__ADS_3

Alaris kemudian memalingkan wajah dan meredam sakit serta perih hatinya dengan pemandangan yang selama pernikahannya tak pernah ia dapatkan dari sosok william.


'Kamu begitu bahagia William, sekejab aku seperti orang asing bagimu, dan sekejab kamu terasa menghilang jauh dari ku, dan aku juga mendadak merasakan tubuhku beberapa hari ini terasa berat, kepalaku pening dan entah apalagi yang sudah ku rasakan setelah berkali-kali kamu berikan pukulan berat itu pada ku terlebih pada dadaku yang ku kira aku telah menjadi manusia paling kuat namun ternyata aku masih rapuh dan lemah. Apa karena aku mencintaimu William?'


Alaris menyusuri lantai marmer dengan pikiran yang berlalu lalang dan batin yang bergumam tiada henti.


Di dalam kamar, Alaris merebahkan tubuhnya diatas sofa, ia merasa lelah dan hatinya remuk redam, ia pikir akan mendapatkan udara segar dan suasana hati yang lebih baik jika dia keluar dan berjalan-jalan.


'Kenapa aku bertemu dengannya? Aku tidak pernah berharap bertemu dengannya lagi, bahkan jika itu hanya kebetulan, aku meminta William menjaganya agar tidak melewati batas yang sudah ku katakan, kenapa wanita itu justru mengendap-endap dan menyembul di hadapanku.'


'Tapi, satu hal yang sekarang aku tahu. Dia berubah menjadi benar-benar cantik, senyumannya begitu ringan, wajahnya berseri ketika tersenyum, dia juga terlihat lemah dan polos.'


'Tentu saja sifatnya yang polos dan terlihat lemah membuat William menjadi pria yang ingin selalu melindunginya. Tapi benarkah dia polos? Benarkah dia hilang ingatan? Mungkin karena trauma atau mungkin karena suatu hal yang di lakukan Reed tanpa sepengetahuanku?'


'Jelas dia berbeda denganku, aku bahkan bisa melindungi diri ku sendiri, aku tidak membiarkan diriku jatuh begitu saja saat di dorong orang lain, apalagi membuat pakaianku kotor, itu tidak akan ku lakukan dimana etika dan etiket selalu harus melekat, apalagi banyak orang selalu memperhatikan perilaku yang ada di diriku.'


'Tapi kenapa William membuat persamaan antara aku dan wanita itu, meski sama-sama perempuan tapi kami berbeda.'


"Haahh... Pusing sekali." Tanpa sadar Alaris mendesahh kan kegundahannya, tanpa sadar ia mengeluh. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya yaitu mengeluh.


"Nyonya apa sangat pusing? Saya akan pijit kepala anda." Kata Samantha.


"Huh semua gara-gara wanita itu kan nyonya!" Teriak Emily.


"Tidak Lily, memang tubuhku yang sedang lemah dan sakit. Mungkin karena selama ini aku terlalu memforsir diriku di perusahaan, dan sekarang baru terasa." Alaris menutupi alasan yang sebenarnya, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan para pelayan pribadinya.


Samantha pun memijat perlahan kepala Alaris dan Emily menuangkan teh.


Alaris memejam kan mata, dia benar-benar bertarung dalam hati dan pikirannya sendirian.


Sedangkan Brida hanya diam mencemaskan Alaris.


"Tapi... Apa dia kehilangan ingatannya?" Tanya Alaris.


"Saya akan mencari tahu Nyonya." Kata Brida.


Kemudian Brida pergi meninggalkan mereka.


"Saya kira wanita itu lebih jahat dari siluman ular Nyonya, mungkin dia hanya pura-pura hilang ingatan, dia bersembunyi di belakang wajah nya yang tercetak polos." Kata Emily.


"Ya saya rasa juga begitu, kali ini saya sependapat dengan Emily." Kata Samantha.


"Biarkan Brida mengurusnya, kita akan menunggu kabar apa yang akan dia dapatkan." Kata Alaris.


Tok Tok Tok!

__ADS_1


Terdengar ketukan pintu Emily pun membukanya.


"Maaf Nyonya, Tuan Leon ingin bertemu." Kata sang pelayan.


"Aku akan turun." Kata Alaris.


Kemudian dengan di dampingi Samantha dan Emily Alaris turun menemui Leon.


"Ya tuan Leon?" Tanya Alaris.


"Ada masalah." Kata Leon.


Alaris mengernyitkan kedua alisnya.


"Sebaiknya anda lihat sendiri." Kata Leon.


Kemudian Alaris pergi melihat taman yang sedang di bangun oleh para pekerja dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Astaga!" Pekik Alaris.


"Ya tuhan apa yang dia lakukan." Kata Samantha sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Wah dia benar-benar sudah gila." Kata Emily.


Terlihat Axella sedang menggunakan semua cat warna-warni dan melukis semaunya, membuat coretan-coretan tak beraturan, benar-benar berantakan, bahkan air mancur yang mengalir dari patung hingga berubah menjadi keruh karena begitu banyak tanah yang menjadi lumpur.


Axella kemudian masuk ke dalam kolam dan bermain dengan lumpur, membuat bajunya penuh lumpur bahkan sampai pada tubuh dan wajahnya.


"Dimana William..." Kata Alaris pada dirinya sendiri.


Melihat wajah dingin Alaris semua orang tidak ada yang berani mengusik kemana langkah kakinya akan pergi, semua orang tahu Alaris akan mencari William.


Alaris berjalan cepat, wajahnya dingin dan datar, tubuhnya kaku dan dia tidak bisa di hentikan. Langkahnya menuju mansion selatan.


"Dimana William." Tanya Alaris pada salah satu pelayan.


"Tuan sedang pergi Nyonya."


Alaris mengernyitkan alisnya.


'Pergi? Dan meninggalkan kekasihnya di sini?' Batin Alaris.


"Hubungi dia sekarang juga, katakan ini keadaan darurat." Kata Alaris kemudian meninggalkan mansion selatan.


"Baik Nyonya."

__ADS_1


Kemudian Alaris kembali ke mansion bagian tengah untuk melihat hal gila apalagi yang sedang Axella lakukan.


Axella menjadi bahan tontonan dan cemohan, bagaimana dia seperti anak kecil yang bermain lumpur, namun terlihat sangat memalukan, semua orang tertawa.


Setelah beberapa menit berlalu, dan beberapa jam pun juga berlalu, William tiba kembali di mansion. Pria itu melihat Axella yang menjadi bahan tertawaan dan tontonan.


William berjalan dengan cepat dan melepaskan jas nya memberikan pada tubuh Axella yang kotor penuh lumpur, wajahnya pun juga penuh dengan lumpur-lumpur yang sudah mengering.


"Kamu sedang apa?" Tanya William.


Axella hanya tersenyum penuh sumringah dan kepolosan.


William melihat ke sekeliling bagaimana Axella menjadi bahan gunjingan, cemohan, mereka seperti melihat badut sedang bermain lumpur dan menghina serta mengolok-olok sambil berbisik-bisik.


William kemudian membawa Axella mendekati Alaris.


"Ini kah yang kamu sebut keadaan darurat dan membuatku meninggalkan rapat penting." Tanya William dengan wajah sinis.


"Ya, dia merusak tamanku." Kata Alaris.


"Dan kamu membiarkan saja dia di permalukan? Kamu lebih mementingkan taman yang tidak berguna itu? Kamu menyuruhku pulang hanya karena taman tak penting itu dan bukannya karena Axella sedang menjadi bahan gunjingan dan tontonan?"


"Apa?" Alaris terhenyak.


'Apa dia sedang menyalahkanku?'


"Sekarang kamu puas? Kamu puas melihatnya seperti ini, dan di permalukan seperti ini, kamu puas dia menjadi bahan tontonan? Di tertawakan dan di hina?" Kata William.


"Bukan aku yang menyuruhnya seperti itu dan melakukan itu semua." Balas Alaris.


"Tapi kamu bisa mengajarinya Alaris, kamu pintar dan tahu segala hal, kenapa hanya ikut menonton, apa kamu juga menghinanya? Berbisik-bisik di belakang karena tingkahnya yang kekanakan?"


"William dia merusak taman yang sedang ku bangun." Alaris menegaskan.


"Persetan dengan taman itu! Dimana nurani mu dengan sesama perempuan Alaris, tidak bisa kah kamu menjaganya selama aku pergi, dan tidak membiarkannya di permalukan di depan banyak orang! Apa ini yang kamu mau? Menjatuhkannya dan membuatnya terlihat buruk di depan orang banyak?"


"Kamu memintaku mengurus dan mengajarinya? Kamu memintaku membantu dan menjaganya William?" Tanya Alaris.


"Ya, bersikaplah seperti kakak baginya."Kata William tegas, matanya seperti panah yang menusuk hati Alaris.


Alaris benar-benar tidak faham, dan tubuhnya terhuyung mendengar kalimat William.


Semua orang juga melihat bagaimana suami istri itu berdebat, dan bagaimana sekarang justru Alaris yang di permalukan oleh William di depan orang banyak, bahkan William lebih memilih melindungi Axella.


******

__ADS_1


__ADS_2