Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
ALARIS MERASAKAN KRAM PERUT


__ADS_3

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN...


Bulan demi bulan berlanjut, hingga usia kehamilan Alaris semakin besar dan sebentar lagi akan melahirkan, saat itu Alaris duduk termangu di halaman.


Kursi panjang itu cukup dingin karena terkena kabut pagi.


"Honey, kenapa kamu duduk sendiri di sini?" Tanya Austin duduk di samping Alaris dan memeluk Alaris.


Namun kembali lagi dan sudah sering terjadi, Alaris tersenyum dingin, ia kemudian menjaga jarak dari Austin.


Tepatnya adalah ketika Alaris masuk di bulan ke 7 usia kehamilannya.


Sebelum itu Alaris masih sering mencium Austin dengan spontan, dan Austin pun semakin tidak memiliki batasan keragu-raguan, ia memeluk dan juga mencium Alaris dengan sesuka hatinya.


Namun mulai di bulan ke 7 usia kehamilan, Alaris berubah menjadi dingin, benar-benar dingin sedingin es. Bahkan lebih dingin sebelum ia menikah.


Dan sekarang adalah bulan ke 9 dimana Alaris jauh lebih dekat dengan persiapan melahirkan.


"Apa kamu gugup Honey?" Tanya Austin


Alaris hanya menjawab dengan gelengan pelan.


"Aku harus masuk ke dalam, ingin istirahat." Kata Alaris.


"Aku akan mengantar." Kata Austin.


"Tidak. Para pelayan pribadiku akan menemaniku." Alaris kemudian pergi tanpa menatap Austin dengan diikuti oleh para pelayannya.


"Dia kembali menjadi dingin, apa ingatannya sudah kembali? Tapi, itu tidak mungkin. Jika ingatan Alaris sudah kembali dia pasti akan pulang dan meminta untuk kembali pada Harry, bahkan bisa jadi Alaris marah dan membenciku." Kata Austin berfikir dan bergumam sendirian.


"Aku tahu itu bodoh, tapi aku tidak suka melihatnya menjadi dingin lagi, seperti kami tinggal seatap tapi memiliki jarak."


Austin menatap Alaris yang berjalan pergi, hingga punggung Alaris tak terlihat lagi, tetapi Alaris terus saja memalingkan muka dengan cemberut di wajahnya.


Kesunyian yang memalukan menyelubungi hati Austin, dan kesepiannya di taman hanya diselingi oleh deru angin yang ringan, Akhirnya, Austin menghela nafas.


"Aku seharusnya tidak menemani kamu lebih jauh. Aku terus tertarik padamu, dan aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa. Aku seharusnya tidak berperan sebagai suamimu dan lancang menyentuhmu."


Keheningan yang menindas memerintah Austin akan kesalahannya, ia merasa sangat buruk dan hina sebagai pria, ia merasa sangat kotor.


"Bahkan Harry tidak pernah menceritakan ini pada saudaraku Arthur. Dia benar-benar ingin menunjukkan dan mempertegasnya bahwa aku adalah pria paling hina dan kotor."


Austin menelan ludahnya yang terasa seperti menelan pasir kering di tenggorokannya.

__ADS_1


"Tatapan mata Alaris sangat acuh tak acuh dan seperti mengandung kasihan, tapi melihatnya menjaga jarak terus menerus membuatku semakin frustasi, apa ingatannya sudah pulih atau kah sikapnya hanya karena perubahan hormon masa kehamilan, kata dokter wanita hamil akan mengalami kegugupan dan pergantian mood tiba-tiba ketika mendekati persalinan."


Kemudian Austin kembali mengingat kata-kata Arthur yang kini melayang-layang di pikirannya.


'Cintai seorang wanita yang bisa mencintaimu juga Austin, kembali dengan intensitas seorang wanita yang kelaparan ingin memenuhi mangkuknya dengan cinta darimu, dan selalu berharap bahwa cinta itu tak pernah surut kamu berikan padanya.'


Austin mengangkat tangan kirinya untuk menutupi kelopak matanya, ibu jari dan telunjuknya menekan matanya yang terpejam.


"Semua ini adalah kesalahanku."


Sedangkan Alaris sendiri mengamati Austin dari balik jendela kamarnya, pria itu masih duduk di kursi tempatnya duduk tadi, ekspresi Alaris tidak bisa di tebak dan tidak bisa dibaca entah apa yang sedang ia pikirkan jauh di dalam lubuh hatinya.


Alaris melihat Austin begitu putus asa dan hancur, karena sudah 3 bulan lebih ia menjaga jarak dan bersikap sangat dingin.


Austin duduk lemas, seolah pria kuat berotot itu bahkan tidak kuat mengangkat bahunya sendiri, dan akhirnya Alaris melihat Austin menangis.


'Ya Tuhan, kenapa kamu berikan perasaan itu padanya, dia pria yang baik, tapi...'


Saat melihat itu Alaris merasa sangat kasihan dan iba.


'Aku langsung merasa kasihan padanya. Hatiku hancur dalam simpati.'


Namun, akhirnya seorang pelayan datang dan mengatakan sesuatu pada Austin.


"Akhirnya dia masuk juga, aku akan sangat merasa bersalah jika dia sampai sakit." Kata Alaris dan kemudian duduk di tepi rangjangnya.


"Ugh...!" Kening Alaris berkerut, tiba-tiba perutnya terasa seperti kram.


"Ugh...!!!" Kram di perutnya terasa semakin kuat.


"Aagh....!!!" Alaris kemudian memekik namun masih batas kecil


Alaris menekan bel pemanggil pelayan, ia kemudian mengatur nafasnya yang tidak terkontrol.


Tak berapa lama para pelayan pribadi Alaris dan beberapa pelayan lainnya datang, salah satu yang melihat Alaris kesakitan kemudian berlari menjemput Austin.


"Tuan... Tuan... Sepertinya Nyonya akan melahirkan." Kata sang pelayan itu.


"Apa!" Austin tersentak kaget dan langsung berlari menuju kamar Alaris.


Pria itu sudah melihat Alaris terbaring di atas ranjang dan di sampingnya adalah pelayan pribadi yang mengelap setiap keringat Alaris yang mengucur deras.


"Honey... Kamu akan melahirkan? Aku akan panggilkan dokter..." Kata Austin.

__ADS_1


Kemudian Austin hendak pergi.


Namun Alaris memegang tangan Austin lebih dulu, itu lebih seperti mencengkram, Alaris menahan kesakitan yang terasa di tulang-tulang punggungnya bahkan di seluruh tubuhnya.


"Panggil... Panggil Harry..." Kata Alaris.


Austin terbelalak, hampir saja kalimat Alaris itu membuatnya pingsan, karena benar-benar menghunus jantungnya tepat sasaran, namun ia harus kuat dan tidak boleh pingsan, karena keterkejutannya, ternyata benar bahwa ingatan Alaris sudah kembali.


'Apakah itu alasannya ia menghindariku dan menjaga jarak dengan ku selama 3 bulan ini?'


Austin mundur perlahan dengan wajah pucat dan mengangguk pelan.


Alaris mengatur nafasnya.


Setiap kali Alaris merasakan tekanan pada perutnya, berulang kali ia memanggil nama suaminya.


"Harry...."


"Harry..."


"Harry..."


"Iya Nyonya Tuan Harry akan segera tiba.


"Anak kita akan lahir, Harry... Anak kita akan lahir..." Alaris meneteskan air matanya.


Suara lirih itu terdengar oleh Samantha dan Emily, mereka kini sadar bahwa Nyonya mereka sudah kembali mengingat, entah sejak kapan tapi Nyonya mereka hanya terus diam dan menyembunyikannya entah karena apa.


"Nyonya, kami sangat bahagia anda sudah kembali mengingat Tuan Harry... Bertahanlah sebentar lagi, dokter juga akan segera tiba." Kata Samantha.


"Katakan pada Harry, aku minta maaf..." Kata Alaris, keringatnya yang sebutir-butir jagung ada di dahi nya dan mengalir seperti sungai di lehernya.


"Anda akan mengatakannya sendiri Nyonya, Tuan Harry akan datang dan menemani anda Nyonya." Kata Emily.


Tak berapa lama sakit dan kram perut Alaris mereda, itu membuat nafas Alaris kembali teratur, meski keringatnya masih mengucur dan ia masih memiliki tubuh yang tegang, namun juga lemas.


"Nyonya bagaimana kondisi anda?" Tanya Samantha.


"Kram nya mereda, tapi masih sedikit sakit..." Kata Alaris terengah.


"Nyonya minum dulu." Kata Emily.


Alaris kemudian di papah untuk duduk dan bersandar, para pelayan yang lain juga menyaksikan prihatin dengan kondisi Alaris, pasti itu sangat sakit.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2