
Negara Vernecia.
Jason sedang menunggu William, dan tak berapa lama William masuk.
"Tuan." Jason berdiri menunduk hormat.
William duduk.
"Ikutlah duduk." Kata William
"Tapi Tuan." Kata Jason.
"Tidak duduklah bersamaku, aku sudah menganggapmu sebagai adik." Kata William.
Jason terkejut tapi kemudian dia tersenyum.
"Ada berita apa?" Tanya William.
"Nyonya Axella sudah melahirkan Tuan." Kata Jason.
William melotot, ia terkejut, wajahnya yang masih memiliki luka lebam mendadak menjadi tegang, tubuhnya juga merinding, bahkan ini baru bulan ke 7.
"Tapi... Bukankah usia kehamilannya..."
"Iya tuan, Nyonya melahirkan prematur." Kata Jason menyesal.
"Maafkan saya tidak bisa menjaga Nyonya Axella dan bayi itu dengan benar." Kata Jason.
"Bukan salahmu, tapi Axella sendiri yang tidak menjaga dirinya sendiri dan bayi itu. Bagaimana dengan kondisi bayi nya."
"Dia sehat dan sangat cantik Tuan. Sejujurnya saya langsung terpesona dengan kecantikan bayi itu."
William melepaskan nafasnya dengan lega.
"Tapi sepertinya Nyonya Axella mengharapkan hal lain, dia menginginkan bayi laki-laki, dan dokter bertanya apakah Nyonya Axella tidak pernah melakukan pemeriksaan sebelumnya agar mengetahui kondisi sang bayi."
William terkejut.
"Apa dia tidak memiliki inisiatif memeriksakan diri?" Kata William.
"Dokter nampaknya kecewa melihat Nyonya Axella yang tidak melakukan pemeriksaan, apalagi dokter melihat raut wajah Nyonya Axella yang sedih mengetahui anaknya adalah laki-laki."
William mengernyit, ia tidak menyangka Axella akan tega pada anak yang baru saja ia lahirkan, berfikir itu laki-laki atau perempuan.
"Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting bayinya sehat. Seandainya aku bisa menjenguknya."
"Di persidangan saya akan mengajukannya tuan, saya akan berbicara pada pengacara. Agar anda dapat menjadi tahanan ruman, anda memiliki kontribusi yang besar pada Negara Vernecia. " Kata Jason.
William mengangguk.
"Besok pagi persidangan akan di mulai, aku tidak akan lari dari fakta nya, bagaimana pun biarlah hukuman ini aku terima."
"Tuan!!! Tapi..."
"Cukup ada kamu di mansion, aku sudah percaya Jason." Kata William.
"Tapi Tuan seharusnya saya juga berada di sini."
"Jangan katakan apapun, kamu tidak boleh ada di sini, kita tidak boleh mati bersama, jika mereka akan menghukumku seumur hidup, maka yang harus kamu lakuka adalah memindahkan semua asset pada anakku." Kata William.
"Tapi Tuan...."
__ADS_1
"Dan satu lagi, buat surat perceraian dengan Axella." Kata William.
"Tuan.."
"Aku rasa, dia wanita yang berbahaya, aku takut dia akan menyakiti anakku, bawalah Anakku pergi ke luar negeri, bersamamu Jason, sebelum persidangan dimulai." Kata William.
"Tidak mungkin saya meninggalkan anda sendiri di sini Tuan!!!"
"Kamu harus dengar perintahku Jason!!!"
"Tidak untuk yang satu ini, saya tidak akan meninggalkan anda sendiri di sini!!!"
William menyandarkan punggungnya di sofa.
"Lalu aku harus bagaimana."
"Saya akan berjuang sampai akhir, dalang dari semua ini adalah Roberto, dan anda hanyalah alat, anda tidak merencanakannya." Kata Jason.
"Tapi semua bukti mengarah padaku Jason, aku yang melakukannya." Kata William.
"Saya akan berusaha dengan maksimal, dan ada informasi satu lagi Tuan." Kata Jason.
William melihat pada Jason.
"Franz kakak dari Gloria menyamar sebagai pengawal pribadi Axella."
"Apa!!!"
"Saya tidak bisa mengusirnya, dia memiliki kerabat keluarga dengan saya, semalam saya membuntutinya, dia bertemu Reed, dan hampir membunuh Reed, lalu ternyata mayat Gloria telah di awetkan dan di jual di pasar gelap, semalam di lelang dengan harga yang fantastis, yang paling mengejutkan patung kaca milik Nyonya Alaris yang kita simpan juga di lelang di sana."
William tertawa dan sekaligus ingin menangis.
"Semua ini adalah ulah Axella. Kenapa wanita itu akan berhenti membuat bencana." Kata William
William menutup wajahnya dengan separuh telapak tangannya.
"Aku telah memelihara iblis." Kata William
Setelah waktu kunjung habis Jason kembali pulang ke mansion.
Dalam perjalanan itu, Franz menghadang mobilnya.
Jason turun dari mobil.
Dengan tiba-tiba Franz melayangkan tinjunya yang sudah mengepal keras.
BUG!!!"
Jason terjatuh tersungkur di tanah.
"Beginikah caramu melindunginya!!! Adikku mati di tangan majikanmu, dan kamu berniat menyembunyikannya dariku selamanya!!!!" Teriak Franz.
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat, untuk memberitahumu, aku tidak punya pilihan lain, jika kabar ini terdengar oleh pihak penjara, Tuan William akan semakin terancam."
"Kamu tega berbuat seperti ini Jason!!! Bahkan itu adalah adik sepupu mu sendiri!!! Kamu yang telah membawanya ke mari!!!"
"Maafkan aku Franz." Kata Jason tak berdaya.
Franz kembali menangis dan duduk di jalanan.
"Aku tidak punya pilihan lain, aku meminta tolong pada Nyonya Alaris untuk menemukan mayat Gloria, dan sepertinya semalam kamu juga tahu jika mayat itu di beli dengan harga yang fantastis."
__ADS_1
"Aku ikut menawarnya dengan menggunakan uang penjualan patung, ternyata Nyonya Axella membutuhkan uang untuk membayar Reed karena telah membantunya menyingkirkan mayat Gloria dan menjual patungnya, lalu uang itu ku gunakan untuk menawar mayat Gloria."
"Pantas saja." Kata Jason dan membaringkan tubuhnya di atas jalan.
Franz menoleh melihat Jason yang nampak putus asa.
"Mungkin semalam kamu bersaing dengan Nyonya Alaris dalam menawar mayat Gloria." Kata Jason.
"Kenapa kamu tidak menghentikanku."
"Aku tidak tahu rencanamu."
"Mungkin sebentar lagi Nyonya Alaris akan menghubungiku, kamu mau ikut, untuk menjemput adik kita?" Tanya Jason.
Franz menangis dan mengangguk.
"Maafkan aku Franz." Jason menutup matanya dengan lengannya. Air mata juga mengalir. Jason sama dengan Franz ia juga terpukul, ia juga merasa kehilangan Gloria, adiknya yang ceria dan polos, namun demi pekerjaan ia tidak boleh menampakkan wajah putus asanya. Jason di tuntut untuk profesional.
Para pria itu menangis di atas jalanan, Jason berbaring menutupi mata nya dengan lengan, sedangkan Franz duduk menyangga kepalanya dengan tangan bertumpu dengan lutut nya.
Sedangkan di Mansion The Kingham, Axella masih duduk di atas ranjangnya. Wajahnya masih pucat dengan tatapan kosong.
"Kenapa terasa sepi, dimana anakku?" Tanya Axella.
Seorang pelayan sedang merapikan kamar Axella.
"Bayi anda sedang berada di kamarnya Nyonya, karena lahir prematur, jadi harus di berikan penanganan khusus." Kata Pelayan itu.
"Apakah bayi itu sakit?" Tanya Axella cemas.
'Bayi ituharus sehat, karena hanya dia yang bisa membuat aku tetap bertahan di sini, aku tidak mau kembali ke kehidupan ku yang dulu.'
"Sebenarnya mungkin bayi anda sedikit lemah Nyonya." Kata sang pelayan.
"Bisa tolong bawa aku ke sana?" Tanya Axella.
Sang pelayan mengambil kursi roda yang sudah di sediakan oleh dokter, dan memapah Axella, kemudian mendorong Axella ke kamar bayinya.
Setelah sampai di kamar itu, Axella masuk sendirian ke dalam kamar, kemudian ia melihat bayi itu di dalam sebuah kotak dengan beberapa kabel ada di dadanya.
"Kenapa bayi nya seperti ini?" Tanya Axella.
Seorang suster yang baru selesai memeriksa melihat Axella datang.
"Maaf Nyonya ruangan harus steril." Kata sang perawat.
"Aku hanya ingin melihat bayi nya." Kata Axella.
Sepertinya Axella tidak faham yang diucapkan oleh sang perawat.
"Kenapa dengan bayi nya, kenapa banyak kabel di dadanya?" Tanya Axella berlinang air mata.
"Bayi anda kekurangan nutrisi dan lahir prematur, apakah anda tidak pernah memeriksakan perkembangannya?" Tanya suster itu dengan sinis.
"Mari kita keluar, ruangan harus steril, dan anda juga harus menstabilkan emosi lebih dulu, akan bahaya jika anda emosi di sini."
Axella tidak bisa membantah, ia memang kesal dengan perawat itu, namun ia tidak memiliki pilihan selain menurutinya demi kesehatan bayi nya.
Sang pelayan yang menunggu di luar kembali mendorong Axella untuk pergi ke kemarnya lagi.
'Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa semua hal buruknselalu menimpa padaku?'
__ADS_1
bersambung~