Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
WILLIAM BONEKA AYAHNYA?


__ADS_3

Malam telah datang, meski itu belum larut, suasana seperti berbeda. Namun hal itu tidak menyurutkan Greisy untu pergi. Greisy sudah meminta ijin pada Alaris untuk mengunjungi ibunya. Mobil pun melaju dengan kecepatan normal menembus lampu jalanan yang terang dan suasana malam yang lengang.


"Nyonya Alaris sangat baik, dia memindahkan ibu ku ke rumah sakit jiwa terbaik di negara Vernecia, dan melunasi semua biaya yang menunggak di rumah sakit jiwa Slyvedonia, bahkan Emily dan Samantha membuatkan makanan khusus untuk ibuku, aku bertemu dengan orang-orang baik." Greisy mendekap rantang makanan yang ia bawa untuk ibunya.


"Kenapa anda menemui ibu anda malam-malam?" Tanya sang sopir.


"Aah... Aku merindukan pelukan ibuku di bawah bintang-bintang." Kata Greisy.


"Tapi, sepertinya hari ini kamu tidak bisa menemui ibumu."


Greisy menatap bingung kenapa sang supir berbicara seperti itu.


Mobil kemudian melaju kencang hingga Greisy terpental dari kursinya, saat itu ia tidak memasang sabuk pengaman.


Mobil melaju dengan cepat dan menuju pedesaan pelosok.


"Siapa kamu sebenarnya!" Teriak Greisy.


Namun sang sopir tidak menjawabnya dan justru semakin menambah kecepatan.


Sampailah mereka di suatu tempat yang jauh dan terpencil. Rumah yang cukup modern namun di tempat yang jauh dari penduduk. Greisy melihat sekeliling cukup banyak pengawal yang berjaga.


Beberapa pengawal berbaju hitam kemudian membuka pintu mobil, membuat Greisy semakin takut.


"Jangan sakiti saya." Greisy memohon di sela isak tangis.


"Maaf kami menakuti anda, sang sopir adalah pembunuh bayaran yang di sewa oleh Reed untuk membunuh anda, atas perintah Axella. Namun pembunuh bayaran itu ada di bawah kendali Tuan Harry."


"Apa!"


"Axella berencana ingin membunuh anda, dan mulai sekarang anda akan berada di tempat ini, seolah-olah anda sudah mati di bunuh oleh pembunuh bayaran itu, sampai Tuan Harry akan memanggil, anda harus tetap di sini, semua keperluan dan kebutuhan anda sudah di siapkan." Kata pengawal itu.


Greisy merinding mendengarnya, Axella begitu nekat dan kejam, Greisy benar-benar telah meremehkannya.


Greisy menggigil memeluk tubuhnya sendiri. Emosi dan dendam bercampur dan muncul kembali di ubun-ubunnya.


"Andaikan saja Nyonya Alaris mengijinkanku bertindak, aku pasti sudah membunuhnya lebih dulu."


"Anda belum boleh menyentuh Axella, itu juga perintah Tuan Harry."


"Kenapa? Apakah Tuan Harry dan Axella... Mereka..."


"Tidak seperti yang anda pikirkan, Axella adalah pion yang akan melancarkan rencana Tuan Harry."


"Bagaimana dengan ibu saya!"


"Aman. Anda tenang saja."


Mendengar jawaban tenang sang pengawal, Axella berhasil menghilangkan ketakutan terbesarnya. Kini keluarga satu-satunya hanyalah ibunya, karena Reed telah membunuh orang yang ia cintai, dan itu semua karena Axella.


"Anda harus tetap di sini untuk sementara waktu."


"Saya mengerti. Sampaikan ucapan terimakasih saya pada Tuan Harry." Kata Greisy.


"Saya permisi."


Kemudian ketua dari pengawal bayangan rahasia, pergi dan sebagian pengawal berjaga.


Greisy bergidik ketika melihat sang pembunuh bayaran dan memilih masuk ke dalam rumah.


******


Tengah malam Jason mengetuk kamar William, saat itu William tengah tidur memeluk Axella yang semakin terlihat cubby.


Dengan pelan William menaruh kepala Axella agar tidak terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Perlahan William mengambil jubahnya dan pergi membuka pintu dengan sepelan mungkin.


"Malam-malam begini apa ada hal penting?" Kata William lirih.


"Ini sangat rahasia Tuan."


William mengerti dan mengajak Jason ke ruangan kerjanya.


"Kita terlambat Tuan." Kata Jason.


William mengernyitkan alisnya.


"Nona Axella ternyata bersekutu dengan Reed. Entah itu atas perintah Nona Axella atau inisiatif Reed, Greisy dalam bidikan pembunuh bayaran."


"Kenapa kamu tidak yakin."


"Pembunuh bayaran itu tidak mau mengakui siapa yang menyuruhnya, dan dia ada di bawah kendali Harry, Reed memang bodoh, dia menyewa pembunuh bayaran di negara Slyvedonia."


William meringis getir.


"Setelah kematian Hendric Mac Linford, Harry menduduki dan memaksa semua penjahat di Slyvedonia menuruti perintahnya."


"Dia juga telah membuat organisasi mafia hitam bersekutu dengannya tuan, sepertinya jika anda tetap menjalankan rencana untuk mengambil aset Aldwan, Harry tidak akan diam saja."


"Ayah akan membantu."


"Saya ragu tentang itu tuan, anda tahu bagaimana watak ayah anda, semoga anda bisa memikirkannya lagi."


"Tapi ini perintah darinya, jika tidak kita laksanakan Liam tidak akan sepenuhnya menjadi milikku, aku sudah bekerja keras membangun Liam menjadi sebesar ini, aku tidak akan begitu saja melepaskan Liam Grup..."


"Saya mengerti Tuan, saya akan mencari cara untuk mengumpulkan kekuatan, jika sewaktu-waktu Harry akan menyerang menggunakan organisasi mafia hitam."


William mengangguk.


"Dia berada di bawah perlindungan Harry, tapi sepertinya mereka mengatur seolah-olah pembunuh itu sudah melakukan tugasnya. Sepertinya Harry akan membodohi Reed."


"Sebenarnya rencana apa yang sedang mereka susun." William mengernyitkan alisnya.


"Saya akan menyelidikinya." Kata Jason.


"Awasi terus Axella, dan juga Leon. Kurasa mereka semakin dekat. Leon perayu ulung, aku tidak ingin ketakutanku menjadi kenyataan." Perintah William.


"Lalu tentang perceraian anda?"


"Besok kamu urus semuanya, aku akan bicara pada Alaris."


"Dan untuk masalah Hector, dia sudah berada di bawah perlindungan Harry, dia keluar dengan jaminan."


"Siapa yang menjamin?"


"Harry sendiri Tuan."


"Dasar bodoh, dia belum tahu bagaimana Hector hanya akan merusak citranya, dia tempramental dan hanya seorang sampah yang tidak berguna. Jangan urusi Hector lagi."


"Ya Tuan. Saya permisi."


Kemudian Jason pergi dari ruangan William, pria itu mengambil bingkai foto pernikahannya bersama Alaris, mengerutkan kedua alisnya dan mengusap foto itu.


"Seandainya, aku bukan terlahir dari keluarga Liam, apa kita bisa bersama? Seandainya hatimu tidak sedingin glestser, apa kita akan bahagia dan memiliki anak?"


William kemudian memasukkan nya ke dalam laci meja, dan menutupnya.


"Aku harus mengakhiri ini, dan menjadikan Aldawn menjadi milikku, maka aku akan menjadi satu-satunya pemilik perusahaan berlian di Vernecia yang tidak bisa di saingi lagi."


Tak berapa lama ponsel William bergetar.

__ADS_1


"Ya ayah?"


"Apa sudah kamu bereskan?"


"Sebentar lagi."


"Jangan banyak bermain dan selesaikan segera, atau Liam Grup tidak akan pernah menjadi milikmu."


Panggilan di tutup sepihak.


"Aku yang membangun Liam Grup hingga menjadi raksasa, bagaimana bisa dia bicara seperti itu pada anaknya." William meremas ponselnya dengan kuat hingga tangan itu bergetar.


Tok Tok Tok!


Pinti di ketuk dan William membukannya.


"Aku mencari mu..." Suara Axella lemah lembut dan serak.


"Maafkan, ada pekerjaan mendesak."


"Apa masih lama?"


"Tidak... Sudah selesai, ayo tidur."


William mengajak Axella untuk tidur, mereka masuk ke dalam kamar Axella, dan kemudian Axella tidur di atas lengan William.


"Jadi William, kapan pernikahan kita akan di selenggarakan, qku sudah menunggunya."


"Sebentar lagi." Kata William.


"Tapi kapan?" Rengek Axella.


William membelai perut Axella dan mencium kepala wanita itu.


"Sabarlah, sebentar lagi, Jason sedang mengurus perceraiannya, dan aku akan memberikan kado pernikahan untukmu, kado yang sangat istimewa."


"Apa itu..."


"Menjadikanmu Nyonya pemilik Aldawn."


"Apa!" Axella terbangun dan duduk di samping William.


"Benarkah, perusahaan berlian terbesar itu akan menjadi milikku!"


"Ssstt... Pelankan suaramu...." William menutup mulut Axella dengan lembut menggunakan telunjuknya.


"Aku tidak percaya, apa ini mimpi?"


William mengangakat aliasnya tidak mengerti.


"Aku memiliki suami yang baik, perhatian, sayang padaku, dan lalu aku memiliki anak bersamamu, lalu kamu akan memberikanku perusahaan berlian, apakah ini mimpi? Apakah aku masuk ke dalam cerita dongeng cinderella?"


William tersenyum, dan memeluk Axella dengan lembut.


"Apa kamu mencintaiku?" Tanya William.


"Aku sangat mencintaimu."


William memeluk Axella dari belakang dan menciuminya.


"Apa malam ini kamu milikku?" Tanya William lagi masih mencium leher belakang Axella.


"Aku selalu menjadi milikmu." Axella menjawab dengan lirih. Memejamkan matanya dan menikmati setiap kecupan hangat William.


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2