
Jason telah kembali dan menuju ruangan William.
"Saya telah mengurusnya dan telah mengajukan gugatan Tuan, tapi... Apa anda yakin dengan itu?" Tanya Jason.
William masih duduk di kursinya dan hanya diam, alisnya mengerut pertanda ia benar-benar berkutat pada pikiran yang rumit.
"Aku juga akan mengajukan perceraian, lalu mengambil alih Aldawn."
Jason nampak terkejut dengan keputusan William.
"Apa anda yakin Tuan?"
"Bukankah untuk itu, aku menikahi Alaris." William melirik pada Jason sembari mengetuk-ngetuk jari nya pada meja.
"Tapi... Bukankah anda sempat ingin membatalkan rencana itu Tuan?"
"Ya, ku pikir Alaris bisa mencintaiku tapi ternyata tidak. Ayah sudah semakin mendesak ku untuk mengambil alih Aldawn." Kata William.
"Saya mengerti Tuan." Kata Jason.
Kemudian William menarik laci mejanya dan mengeluarkan kado yang seharusnya untuk Alaris.
"Aku akan menemui Alaris." Kata William.
Kemudian William pergi menuju kamar Alaris.
Tok Tok Tok!
Alaris yang tidak bisa tidur membuka pintu, ia terkejut itu adalah sosok yang tak pernah menginjakkan kakinya di kamar Alaris.
'Ini pertama kalinya dia datang ke kamarku, apa aku harus menerimanya atau mengusirnya?'
"Ya?" Tanya Alaris dingin.
"Mungkin ini sudah terlambat dan tidak lagi bermakna setelah melalui insiden tadi siang. Selamat ulang tahun Alaris." Kata William sembari menyerahkan kado yang ia bawa.
Sebuah kotak perhiasan yang mewah, namun entah kenapa Alaris tidak tertarik atau pun merasa itu berharga bagi dirinya.
"Kenapa kamu selalu tidak pernah menghargai pemberianku, tatapan mu selalu dingin dan tanpa perasaan, kamu memang tidak bisa di bandingkan dengan nya."
"Kamu membandingkanku dengan kekasihmu." Kata Alaris.
"Setidaknya dia selalu bahagia saat ku berikan hadiah, sedangkan kamu, semua barang yang ku berikan seolah hal biasa dan tidak menarik." Kata William.
"Terimakasih atas pujiannya." Kata Alaris.
"Aku ingin kamu memakainya." Kata William.
"Haruskah?"
"Ku mohon, sekali ini saja pakailah apa yang ku berikan, kamu tidak pernah mau memakai segala perhiasan dan apapun yang aku berikan."
"Jika aku memakainya apa kamu akan melepaskan Hector."
"Itu tidak sebanding Alaris." Kata William.
"Dia tidak bersalah William."
"Bersalah atau tidak biarkan polisi yang mengurusnya."
"Kamu benar-benar menyakitiku. Aku ingin sehari saja kamu merasakan menjadi aku."
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika aku dekat dengan pria lain William?"
William tercengang.
"Boleh kah aku dekat dengan pria lain? Bolehkah aku menikah lagi?"
__ADS_1
William hanya diam dan meremas kotak perhiasannya.
"Terima ini dan pakailah, aku akan mengeluarkan adikmu jika kamu mau memakainya." Kata William.
Kemudian William pergi meninggalkan Alaris yang juga meremas kotak perhiasan itu.
******
Pagi ini Alaris berjalan-jalan di taman, Alaris melihat bunganya mekar dengan sempurna.
Sebelum menikah Alaris tidak memiliki angan-angan apapun, namun setelah melihat William dan menikah dengannya sesekali angan-angan terbersit di kepalanya, bagaimana jika ia berhenti bekerja dan menjadi seorang wanita yang menunggu suaminya pulang bekerja dengan beberapa bunga yang dia rangkai sepanjang hari.
"Naif!" Kata Alaris yang membayangkan angan-angan itu.
"Ya Nyonya?" Tanya Emily.
"Tidak ada, aku hanya terpikirkan sesuatu."
"Nyonya, tuan Austin Harold datang mengunjungi."
"Pagi-pagi?" Tanya Alaris.
Kemudian Alaris pergi menemui Austin di taman depan mansion.
"Selamat pagi Tuan Austin, apa ada yang mendesak?" Tanya Alaris.
Austin melihat kalung yang di pakai Alaris.
"Kalung yang cantik."
"Terimakasih." Kata Alaris.
"Saya hanya ingin memastikan bahwa anda baik-baik saja, karena pesta ulang tahunnya semalam di batalkan." Tanya Austin.
"Saya baik-baik saja."
"Ini... Karena pesta itu di batalkan saya pagi-pagi sekali harus menyerahkannya." Kata Austin.
"Tidak, bukalah."
Alaris membuka kado nya dan itu adalah sebuah boneka yang lucu, berbentuk seperti Alaris.
"Itu boneka pengusir mimpi buruk." Kata Austin.
Alaris tersenyum.
"Terimakasih atas perhatian anda, semua orang memberikan kemewahan namun anda memberika saya barang yang sangat berharga dan berguna." Kata Alaris.
"Aahh... Siapakah pria tampan ini." Celoteh Axella yang tiba-tiba datang.
Alaris terkejut bagaimana sekarang Axella seberani itu memanggil tamu nya dengan tidak sopan.
"Saya Austin Harold." Kata Austin.
"Kenalkan saya Axella."
"Saya pernah melihat anda."
"Ah benarkah? Dimana?"
"Saya lupa. Mungkin di acara tv."
"Ohh... Pasti saat Wlliam melamar saya." Axella tertawa.
"Astaga Nyonya Alaris, kalung itu..." Axella melihat kalung Alaris.
Kemudian Axella membuka syalnya.
"Apakah William juga memberikannya pada anda? Kita sekarang benar-benar saudara, apakah itu hadiah ulang tahun untuk anda? Bagaimana bisa dia memberikan kado yang sama dengan apa yang ku miliki. Atau kah anda pernah melihat saya memakai kalung ini dan anda menginginkannya? Anda meniru gaya saya?" Kata Axella.
__ADS_1
Alaris menggerakkan giginya, dan menarik kalungnya, memutusnya begitu saja, hingga lehernya terluka dan berdarah.
"Nyonya Alaris, anda berdarah." Kata Austin mengingatkan.
Kemudian Alaris membuang kalungnya.
"Aku tidak pernah ingin terlibat denganmu, aku bahkan menghindar agar kita tidak pernah bertemu, tapi kenapa kamu seperti lalat yang berkeliaran." Kata Alaris.
Austin Harold kemudian mengeluarkan sapu tangannya dan membalut leher Alaris.
"Anda harus segera di obati Nyonya."
Kemudian Alaris masuk bersama Austin.
Di dalam mansion, Emily dan juga Samantha terkejut bagaimana Nyonya mereka bisa melakukan itu, apakah dia tidak merasakan kesakitan.
"Pasti hatimu jauh lebih sakit, hingga luka itu tidak membuatmu merasakan perih." Kata Austin.
Tak berapa lama William datang dengan wajah yang merah dan berkobar, di tangannya telah menggenggam kalung yang putus.
"Beginikah caramu Alaris." Kata William.
Alaris hanya melihat tanpa ekspresi.
"Kamu membuangnya dan membuatnya sangat tidak berharga, kamu memang wanita yang tidak bisa di dandingkan dengan Axella, dia lebih bisa menghargai apa yang ku berikan, dia bisa sangat bahagia. Aku bilang pakai kalung ini dan aku akan mengeluarkan Hector dari penjara, tapi kamu justru membuangnya, apa kamu sengaja membuangnya di depan agar aku bisa melihatany!"
"William perhatikan kalimatmu, di sini ada Tuan Austin." Kata Alaris.
Emily dan Samantha yang sudah selesai mengobati kemudian undur diri dengan takut.
"Lalu tentang pembicaraan semalam. Tentang pertanyaanmu bahwa kamu ingin dekat dengan pria. Apakah pria itu adalah dia." Kata William.
"Kamu salah paham tentang apa yang kuucapkan."
"Lalu yang mana?"
"Maksud kamu apa tentang yang mana?"
"Harry Mac Linford atau Austin Harold. Yang mana yang akan kamu jadikan suami. Apakah kamu akan menjadikan mereka berdua secara bersamaan!" Desak William.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu maksud William."
William memandang Austin dengan cemoohan dan menghina.
"Apa yang kamu lihat darinya?"
"Kamu salah paham." Kata Alaris.
"Kenapa kamu tidak berhati-hati dengan semua tindakanmu Alaris, aku akan memiliki anak, dan kamu justru bermain-main dengan para pria, bagaimana dunia luar memandang keluarga ini!"
"Apa? Aku benar-benar tidak mengerti dengan mu William. Hanya aku yang harus memperhatikan tindakanku? Lalu kamu? Kamu membawa seorang wanita miskin yang kotor dan membuatnya mengandung anakmu, lalu kamu melamarnya di depanku dan di depan semua orang, apakah kamu pikir tindakanmu itu heroik?!"
"Anakku juga akan menjadi anakmu Alaris, kita semua akan hidup bersama!"
Austin tertawa sinis.
William melihat itu dan semakin emosi.
"Itu bukan anakku, bahkan meski kamu memiliki istri 1000 dan mereka memiliki anak, itu tetap bukan anakku!"
"Kamu benar-benar egois Alaris."
Alaris tersenyum tak percaya, hingga ia kebingungan bagaimana mengekspresikan wajahnya.
"Aku diam saja saat kamu membawanya ke mansion, lalu kamu menyuruhku untuk merawatnya seperti adikku sendiri, aku juga diam saat tahu dia hamil anakmu, lalu aku juga tidak mengeluarkan satu suarapun saat kamu melamarnya, apa yang terjadi padamu William, Tuan Austin dan Tuan William hanya teman bagi ku, tapi kamu menuduhku bahwa mereka akan ku jadikan suamiku secara bersamaan. Kamu cemburu?"
"Apa kamu melihat ku seperti pria pencemburu?"
"Ya, aku melihatnya, kamu cemburu, dan itu tentang hal yang tak perlu dicemburui, lalu jika ku buat terbalik, bagaimana kalau nantinya kamu yang merawat suamiku-suamiku William. Kamu bersedia? Bagaimana perasaanmu, apakah itu menyakitkan?"
__ADS_1
bersambung~