Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
HUKUMAN DARI WILLIAM


__ADS_3

Segala kejadian yang tidak nyaman bahkan lebih buruk dari sebelum-sebelumnya yang menimpa Alaris, semakin hari semakin bertambah.


Di hari hari berikutnya seperti biasa ketika luang, apalagi Alaris ada dalam kungkungan William dan hanya bisa di dalam Mansion.


Alaris sedang berolah raga di taman, dan matahari pun semakin naik, ia sudah selesai, sedangkan para pelayan menunggu di depan pintu mansion bagian utara.


Para pelayan itu melihat Axella sedang berlarian entah apapun itu, namun Axella tidak memperhatikan jalanan.


Axella terus berlari dan menatap langit-langit seolah ia ingin menangkap atau mengejar sesuatu hingga ia pun berada di halaman mansion utara, saat itulah Axella akan menabrak Alaris dari belakang.


Para pelayan hendak memberitahu namun terlambat.


GEDEBUG!


Axella jatuh dan menimpa tubuh Alaris.


"Nyonya Alaris!"


"Nyonya Alaris jatuh!"


Semua pelayan panik melihat Alaris jatuh tertimpa oleh Axella.


William yang saat itu berada di dalam mansion berlari dengan langkah lebar dan kecepatan penuh, ia melihat dari balik jendela bagaimana Axella jatuh tersungkur. Saat itu Axella tidak ada yang membantu, dan beberapa pelayan sibuk menolong Alaris.


Pemandangan itu membuat Axella sedih, bukankah dia juga akan menjadi nyonya di mansion itu, kenapa hanya Alaris yang di tolong.


Axella akhirnya menangis.


Emily yang muak melihat Axella, ia pun menggerutu sembari mendengus ke arah Axella.


"Ya ampun, merepotkan sekali. Apa kamu cuma bisa menangis! Kamu yang menabrak dan menyebabkan nyonya Alaris terluka, kenapa kamu yang menangis, seharusnya kamu meminta maaf, jangan berharap kami akan percaya air mata buayamu itu!"


"Siapa yang merepotkan, dan siapa yang buaya." Suara dingin sedingin bongkahan es pun kembali menyeruak.


Emily menampar mulutnya yang benar-benar telah menyebabkan hidupnya dalam bahaya, Emily segera berlutut dan meminta maaf. Tubuhnya bergetar.


William acuh dan terus berjalan melewati Emily untuk menolong Axella. Ini adalah yang kedua kalinya William mendengar Emily menghina Axella.


"Ayo berdiri, jangan menangis." Bujuk William dengan lembut.


Namun Axella terus saja menangis, hingga wajahnya memerah dan nafasnya sesenggukan.


"Sudah, sudah, jangan menangis."


Alaris masih melihat suaminya yang begitu lembut menenangkan Axella, ia merasakan tamparan keras di wajahnya, bahkan saat itu yang terluka bukan Axella melainkan dirinya.


'Aku tidak bisa berdiri dengan benar, dan dia bahkan tidak menatapku sama sekali, luka di kakiku begitu perih tapi perihnya justru tidak sebanding dengan perih yang ku rasakan di tempat lain. William aku membencimu.'


Axella masih tidak berhenti menangis, William kemudian mengusap air mata Axella dengan menggunakan kedua ibu jarinya dan memeluk erat ke dalam dada bidangnya.

__ADS_1


Dengan sekejap semua pelayan menunduk, ketika William memberikan tatapan neraka dan kemurkaan pada mereka.


Alaris yang saat itu berdiri dengan tidak seimbang karena lututnya yang sebelah terluka mempunyai firasat buruk, ia tidak lagi memikirkan luka di lututnya yang berdarah, yang jauh lebih penting sekarang adalah ia memikirkan bagaimana menyelamatkan para pelayannya.


'Kali ini apa aku bisa menyelamatkan para pelayan pribadiku.'


Alaris membatin, ia harus memutar otaknya seribu kali lebih cepat sebelum William menjatuhkan hukuman.


"Lily, berdirilah, ayo kita pergi kaki ku sangat sakit."


Kemudian Emily berdiri dan hendak memapah Alaris.


"Tunggu, tidak ada yang boleh pergi kemanapun, kecuali pelayan itu tetap tinggal di sini." Suara datar William seperti pedang yang siap menebas dengan siksaan menyakitkan di tubuh mereka yang ketakutan.


"Dia adalah pelayan pribadiku, dan akan merawatku." Kata Alaris.


"Tinggalkan dia atau tidak ada seorang pun yang boleh pergi dan akan tetap tinggal di sini sampai besok pagi!" Perintah William dengan tegas.


GLURRR!!!"


GLURRR!!!


Suara gemuruh saling bersahutan, guntur dan petir tiba-tiba menggelegar memekakkan telinga. Langit yang awalnya cerah tiba-tiba terselimuti oleh awan yang gelap dan bergumul membentuk awan yang lebih berwarna hitam pekat.


GLUURR!!!


GLURR!!!


"Nyonya anda harus masuk, biar saya di sini." Kata Emily.


"Nyonya, anda akan sakit, dan luka itu harus di rawat." Samantha mulai cemas.


"Kalau mau mu seperti itu, aku akan tetap di sini bersama para pelayan pribadiku." Alaris menjawab dingin.


"NYONYA!!" Semua berteriak dan menangis.


"Aku sudah memberikan pilihan, dan kamu juga telah memilih. Aku tidak tahu betapa keras kepalanya dirimu hanya demi mereka dan mengabaikan perkataanku." William memasang wajah kesal.


"Setidaknya aku tidak akan menyesal berada di sini dengan orang-orang yang setia padaku dan tidak pernah menyakitiku."


Kalimat Alaris semakin terdengar dingin, dan seharus nya menohok untuk William, karena arti dari kalimatnya adalah Alaris menyindir William yang tidak setia padanya dan justru menyakitinya dengan lari pada wanita lain, terlebih dia buta jika yang terluka saat itu adalah Alaris.


"Baiklah, semoga kalian bersenang-senang di sini, nikmatilah." Kata William kesal dan juga ia malu untuk menarik hukumannya.


William yang jengkel, memapah Axella hendak masuk ke dalam mansion, dan benar-benar membiarkan mereka berada di luar tanpa mengijinkan seorang pun untuk masuk.


"Oh, pelayan itu tetap harus berlutut di bawah guyuran hujan, agar dia tahu apa kesalahan yang dia perbuat." Perintah William.


Setelah William masuk, hujan turun dengan begitu derasnya, bahkan petir dan guntur semakin keras saling menyambar. Hari pun semakin gelap.

__ADS_1


Emily bersimpuh di halaman seperti apa yang William katakan, ia menangis dan mengutuki dirinya sendiri.


"Nyonya maafkan saya. Saya sangat bodoh." Berulang kali hanya kalimat itu yang ia ucapkan.


Sedangkan Samantha terus bersama Alaris, berada di lobby menemani Emily yang bersimpuh di bawah air hujan yang begitu deras mengguyurnya.


Hukuman itu berlanjut hingga malam, dan angin semakin kencang, hujan bertambah lebat, belum lagi petir dan kilat yang terus menyambar seperti tanpa memiliki jeda.


"Anda memanggil saya tuan?" Jason datang menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Apa mereka masih ada di luar?" Tanya William.


"Apa maksud anda Nyonya dan para pelayan pribadinya tuan?"


"Siapa lagi."


"Mereka masih di sana tuan, berulang kali Emily menyebutkan dirinya bodoh, dia merasa menyesal telah menyebabkan Nyonya Alaris menemaninya."


William menghela nafas.


"Suruh mereka masuk." William akhirnya melanggar ucapannya sendiri, dan ini pertama kali baginya menjilat ludahnya sendiri.


"Baik tuan."


"Dan juga katakan pada mereka, ini semua semata-mata karena rasa kasihanku pada Alaris, jika Alaris tidak bersama pelayan itu, aku akan tetap menghukumnya sampai dia sekarat."


"Dimengerti tuan."


Jason kemudian keluar dari ruangan kerja William.


"Nyonya, anda di perkenankan masuk oleh Tuan William." Kata Jason sembari memberikan mantel tebal, para pelayan lainnya juga membawakan handuk dan selimut.


Samantha menerima itu dan memakaikan pada Alaris yang sudah pucat karena kedinginan oleh angin yang menerpa, apalagi serpihan-serpihan lembut air hujan yang berterbangan sudah membuat tubuhnya juga basah.


"Aku akan masuk jika dia mengijinkan Emily masuk."


"Tuan William telah memberikan perintah, jika hukuman sudah di cabut, tapi ini semua semata-mata karena Tuan William merasa kasihan pada Nyonya Alaris, jika Nyonya Alaris tidak menemani Emily, di pastikan Emily akan tetap berada di sini sampai besok pagi."


'Jadi, dia kasihan padaku. Hanya karena kasihan? Tidak ada alasan lain.'


"Aku tidak akan berterima kasih pada William."


Jason hanya menunduk pelan dan sopan.


"Emily, ayo berdiri kita sudah bisa masuk, Samantha bantu Emily berdiri dan berjalan." Perintah Alaris.


Emily berjalan dengan gemetar, tubuhnya kedinginan dan bibirnya sudah membiru.


"Panggil dokter pribadi, aku mau Emily di rawat." Kata Alaris pada pelayan yang lain.

__ADS_1


Setelah Emily berada di kamarnya dan dokter pribadi Alaris memeriksa, Emily sudah lebih baik meski masih menggigil karena hipotermia.


bersambung~


__ADS_2