Pernikahan CRAZY RICH

Pernikahan CRAZY RICH
KABAR DARI WILLIAM


__ADS_3

Setelah sampai di kamar, Harry membaringkan istrinya di atas ranjang.


Harry membelai pipi Alaris dan mencium mesra bibir Alaris.


Tapi, lagi-lagi Alaris masih memiliki wajah yang cemas.


Meskipun kini wajah Harry tidak lagi dingin dan kaku seperti beberapa waktu lalu, kini Harry hanya khawatir tentang keadaan Alaris.


Harry menunjuk kening Alaris dengan lembut menggunakan jari telunjuknya yang panjang.


"Kamu mengerutkan kening sangat dalam, jadi apa kamu benar-benar hanya akan menyimpannya sendirian? Hmmm?" Tanya Harry lagi.


"Istriku, aku tidak ingin kamu jatuh sakit lagi." Tambah Harry.


Alaris menghela nafas dan mulai memikirkan kalimat apa yang tepat untuk bertanya pada suaminya.


"Istriku?"


Harry memanggil Alaris lagi, karena Alaris masih melamun.


"Aku sedang berfikir." Kata Alaris.


"Ya aku tahu itu, dan itu sangat menganggumu, hal yang tidak bahagia dan pasti berhubungan dengan sesuatu yang rumit." Kata Harry.


Harry menghela nafasnya dan membuka kancing lengan baju lalu menggulungnya, pria itu berdiri dan menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada sang istri.


"Minum dulu istriku." Kata Harry.


Kemudian Alaris duduk dengan bantuan Harry, dan meminum air itu.


"Apa kamu sudah mulai tenang?"


Alaris mengangguk pelan.


"Aku ingin bertanya padamu..."


"Silahkan Istriku."


"Sebenarnya, aku sedang memikirkan bagaimana aku menanyakan ini padamu."

__ADS_1


'Mau tidak mau, aku tetap harus mengatakannya dan bertanya padanya. Jadi setelah memikirkannya aku memutuskan untuk memulai dengan kalimat yang tidak menyakiti hati Harry.'


"Aku takut jika aku tidak jujur, dan kamu menemukan nya sendiri, maka kamu akan cemburu dan menduga-duga."


Kemudian Alaris membuka kotak itu, dan Harry melihatnya.


Di dalam kotak itu ada sebuah surat tulisan tangan William sendiri, dan juga beberapa foto-foto Harry ketika menemui seseorang, namun beberapa foto lagi masih Alaris sembunyikan.


"William menulis menyebutkan dia masih mencintaiku, dan mengatakan jika selama aku koma, kamu terus mendesak kehidupannya. Boleh aku tahu apa yang kamu rencanakan sebenarnya?" Tanya Alaris.


"Bukankah mudah untuk mengatakan kebohongan, jika orang itu sudah berkali-kali terlibat dalam kejatahan?"


Harry berbicara dengan suara rendah yang serak hampir sepenuhnya berbisik, pria itu menyangga dagunya dengan telapak tangannya, dan sikunya bertumpu pada kaki yang ada di atas ranjang.


Setelah 17 tahun berlalu, Alaris kembali melihat senyuman Harry, senyuman itu adalah senyuman yang penuh arti. Penuh dengan kalimat klise yang tidak bisa di utarakan.


"Ada apa, Istriku? Kamu masih belum mengetahui watak asli William?" Tanya Harry lagi.


"Tapi, aku hanya ingin memdengar langsung darimu Harry, apakah kamu terlibat dengan bandit-bandit yang ada di dalam penjara? Lalu apakah kamu yang memerintahkan bandit-bandit itu untuk membuat William lumpuh?" Kata Alaris.


Alaris tidak sampai hati mengatakan dan bertanya pada Harry, apakah dia pelakunya, karena jika di pikir lagi siapa di dunia ini yang berani mengusik William? Jika bukan Harry.


"Apakah kamu terlibat?"


Dalam sekejap mata, wajah Harry menjadi sedingin es seperti tertutup lapisan es tipis, bahkan pandangan mata dan wajahnya berubah menjadi angkuh dan juga sadis.


"Istriku sayang..."


Harry berbicara dengan dingin dan sangat kaku, bahkan jauh dari suaranya yang biasanya hangat dan lembut ketika berbicara dengan Alaris.


Ternyata Harry bisa berubah menjadi seseorang yang dingin, bahkan lebih dingin dari yang Alaris duga, sepertinya Harry bukannya marah dengan Alaris, namun pertanyaan Alaris membuat Harry terlihat syock, namun pria itu menutupi nya dengan sedingin es, apalagi dengan penyataan Alaris itu seketika membuat topeng manis dan penuh kasih sayang, serta sikap yang penuh kehangatan mendadak runtuh, topeng yang selalu dia kenakan menghilang.


"Suamiku..." Panggil Alaris, ia memanggil Harry dengan mesra dan lembut karena ia takut Harry akan sedih.


'Jujur, melihat wajahnya yang seperti orang putus asa, karena terbuka nya aibnya, membuatku juga merasa sedih, aku juga merasa bahwa hatiku sangat hancur melihat ekspresi nya yang lemah, putus asa, dan sangat bimbang lalu sedih, bahkan sepertinya Harry tidak berusaha untuk memaafkan dirinya sendiri atau berusaha untuk membela dirinya.'


"Suamiku... Sayangku..." Panggil Alaris lagi.


Kemudian kedua telapak tangan Alaris menangkup di kedua pipi Harry.

__ADS_1


"Sayang...?" Panggil Alaris lagi.


Merasa bahwa kejahatan yang buruk dan aib yang buruk di ketahui oleh istrinya yang selama ini ia jaga, sebaik mungkin Harry menjaga citranya di depan istrinya, membuat Harry semakin terlihat kehilangan harga dirinya


Harry merasa sangat buruk di depan Alaris, kotor dan hina telah memyiksa orang lemah yang bahkan sudah tidak bisa bergerak.


Alaris kemudian mencium bibir suaminya dengan lembut, mengulumnya dengan kehangatan. Baru saat itulah Harry kembali sadar pada dirinya sendiri.


"Istriku..."


"Aku tidak mau ada rahasia dalam rumah tangga kita, aku mau kamu jujur, apa yang telah kamu lakukan selama aku koma 17 tahun. Apakah William menjadi lumpuh, kamu terlibat dalam masalah itu?" Tanya Alaris.


Ruangan kamar yang sangat besar itu menjadi sangat sunyi, dan benar-benar menjadi lebih sunyi, ketika hanya detak jam dinding yang terdengar.


Harry menundukkan kepalanya, namun kini matanya melirik ke atas dengan tanpa daya, bahu nya yang kekar terlihat lemah, punggungnya yang lebar pun terlihat lesu.


Harry melihat ke arah Alaris, apapun yang Alaris dengar ia sudah bertekat akan menerimanya.


"Istriku... Kamu adalah duniaku, kamu adalah yang paling aku cintai di atas segalanya..."


Alaris mendengar dan memperhatikan dengan seksama.


"Jawaban yang kamu inginkan tidak bisa ku jawab sekarang." Kata Harry.


"Tapi maafkan aku, jika kamu memiliki pertanyaan lain, selain semua yang menyangkut tentang William dan keluarganya, aku akan menjawab, tapi untuk saat ini aku belum bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, yang aku minta hanyalah, kamu harus percaya padaku." Kata Harry.


Setelah kalimat yang keluar dari Harry, realitas yang sebenranya kembali menyeret Alaris pada situasi yang canggung dan tidak mengenakan.


Apalagi Harry mengatakan itu dengan sangat serius dan juga dingin, membuat Alaris bergidik, seluruh tubuhnya merinding, ia seakan sedang bertanya dengan Iblis yang kuat dan penguasa dari segala iblis.


"Aku... Menikahimu karena aku mencintaimu, ketika aku mendapatkanmu aku bahkan berjanji tidak akan membiarkanmu menangis meski hanya satu tetes kecil air mata, ketika kamu mengalami koma, aku berjanji pada diriku sendiri sebelum aku mati, aku tidak akan pernah melepaskan alat bantu kehidupanmu, jadi percayalah padaku istriku, aku akan menjelaskannya jika waktunya sudah tiba. Aku akan memberitahu kan padamu apa yang sebenarnya terjadi." Kata Harry.


Alaris tidak ingin melukai Harry, dengan pertanyaannya lagi, karena pasti sudah sangat berat bagi Harry yang menunggunya selama 17 tahun tanpa pernah berhenti berharap, dan kini ia baru saja bangun dari komanya. Tidak relevan jika ia justru terus menerus bertanya mengenai William karena itu akan terkesan sedang membela William.


Alaris tidak ingin membuat Harry menjadi ciut dan sedih.


"Terimakasih Harry karena kamu selalu memikirkanku." Kata Alaris berbisik di telinga Harry.


Kemudian Alaris memeluk Harry.

__ADS_1


bersambung~


__ADS_2