
Pagi itu Alaris sudah siap untuk pergi sarapan pagi.
Sejak kecil Alaris dan Hector sudah menjadi anak yatim piatu, karena kedua orang tua mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Alaris sudah biasa dengan pengkhianatan, atau pun ditinggalkan. Alaris kembali mengingat penderitaannya di masa lalu, ketika ia masih kecil.
Sudah hal biasa Alaris mendapatkan perlakuan yang menyakitkan, sudah menjadi hal biasa Alaris di kucilkan, bahkan sanak saudaranya pun menjauhi mereka.
Hingga pada akhirnya, setelah tragedi maut itu, perusahaan kedua orang tua Alaris pun di ambil alih secara paksa oleh orang-orang tamak. Alaris yang kehilangan dirinya atau bisa di sebut sakit gangguan mental serta masih sangat kecil di nilai tidak bisa menjalankan perusahaan.
Bahkan kakak dari ibu Alaris pun di di lenyapkan oleh orang-orang yang gila harta.
'Bibi Patricia, aku akan menjadi wanita kuat.'
Alaris keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan begitu anggun, tidak ada wajah sedih atau pun khawatir, pembawaan karakter seorang Alaris memang luar biasa.
Alaris dapat menyembunyikan dengan rapat segala rasa sakit yang menikamnya. Semalaman Alaris bergelut dengan siksaan pengkhianatan dan paginya Alaris tampil dingin seperti biasanya.
Lalu seperti biasa juga, ruang makan begitu hening dan hanya ada mereka berdua yang memiliki jarak cukup jauh, sesekali Alaris melirik dan mencuri pandang pada William yang masih begitu tenang menyantap sarapannya, sedangkan Alaris memiliki perasaan mual dan ingin segera pergi dari ruangan itu, ia hanya mengaduk-aduk soup kental di hadapannya.
'Wajah William berbeda ketika bersamaku, dia tidak menunjukkan senyuman lebar itu. Padahal tadi malam dia bahkan bisa tertawa. Sejujurnya aku menunggu William untuk mengatakannya, menjelaskannya, dan memberikan keamanan padaku, bahwa aku masih bisa mempercayainya. Namun semakin aku menunggu, kalimat di ujung lidahku semakin ingin keluar.'
"William, aku mendengar kamu memiliki sekretaris baru?"
Akhirnya Alaris membuka suaranya dengan menanyakan perihal sekretaris baru, ia sudah tidak tahan akan rasa penasaran yang menyelimutinya semalaman.
"Tidak ada, sekretarisku hanya Jason."
"Maksudku adalah sekretaris pribadi."
"Tidak juga, Jason adalah sekertaris pribadiku."
__ADS_1
"Tapi kurasa foto-foto ini bisa memberikan gambaran padamu apa yang ku maksud sekretaris pribadimu." Alaris mendorong amplop berwarna coklat ke hadapan William.
Kemudian William mengerutkan alis dan berhenti mengunyah, ia kemudian membuka dan melihat foto-foto dirinya bersama Axella.
Wajahnya sama sekali tidak terkejut. Sama halnya seperti Alaris, William pintar menyembunyikan rasa khawatir dan semacamnya, dia tidak suka di tekan, dia tidak akan menunjukkan kelemahannya karena itu akan membuat lawannya semakin menekannya.
"Karena kamu sudah tahu, ku kira tidak akan masalah jika dia ku bawa kemari bukan?"
Alaris mendorong makanan yang ada di mulutnya, kenapa soup yang cukup cair namun kental terasa berat di tenggorokannya.
Kemudian Alaris mengambil gelas dan meminum air, jemarinya sedikit kaku dan gemetar.
"Apa kamu tahu wanita murahan seperti apa yang akan kamu bawa kemari?"
Klak! Suara pisau William berbunyi keras dan kasar, yang bergesek dengan piring.
William menghentikan pisaunya saat mengiris beberapa daging yang ada di piringnya, dan menaruh dengan kesal hingga pisau dan garpu itu jatuh di atas piring dan menimbulkan bunyi yang kasar.
"Apa pertanyaanku saat ini tidak berarti bagimu, dan untuk keingintahuanku apa kah aku salah jika memiliki perasaan ingin tahu itu, apa peran seorang istri pun tidak berhak menanyakan itu sekarang?"
William terdiam, namun tergambar jelas raut wajahnya yang tidak senang.
"Jadi, sekarang kamu ingin berperan seperti istri yang peduli dan mencintaiku, begitukah? Kamu ingin kita berperan sebagai suami istri?" William menyeringaikan senyumannya.
"Bukankah mansion ini adalah hadiah pernikahan untuk ku?" Tanya Alaris lagi, ingin mendesak William.
"Ah, aku salah, jadi karena itu alasan keingintahuanmu itu, karena Mansion ini sangat berarti untukmu begitu? Bukan karena aku suamimu, dan bukan karena kamu cemburu atau lainnya? Jadi, aku salah membawanya ke sini, tapi Alaris, aku juga tinggal di mansion ini, aku memiliki hak untuk membawanya ke sini bukan?" Sanggah William.
"Aku tidak tahu, biasanya kamu bawa kemana wanita-wanita yang berhubungan denganmu, karena kali ini kamu membawa wanita ke mansion, aku merasa dan ku pikir mansion adalah tempat paling privacy milik kita berdua dan tidak boleh di masuki sembarang orang yang tidak jelas asal usulnya. Apalagi wanita seperti dia."
"Aku tahu asal usul wanita yang kubawa, dia jelas, dan lagi, apa menurutmu kita berdua masih memiliki privacy? Banyak orang membicarakan kita Alaris."
__ADS_1
"Jadi, menurutmu itu adalah salahku? Bukankah kamu yang berteriak-teriak di depan semua orang bahwa kita belum pernah sekalipun melakukan hubungan?"
"Kamu memang tidak pernah peka sedikitpun, Alaris. Dingin dan tidak berperasaan!" William menyeka mulutnya menggunakan serbet bersih dan melemparkannya di atas meja.
Mereka saling menatap, wajah yang sama-sama dingin membuat pagi itu mencekam.
"Sepertinya aku tahu jawaban dari pertanyaanku. Aku sudah selesai sarapan William dan akan berangkat ke perusahaan, aku minta jangan ada orang asing yang berkeliaran di wilayah yang sering ku lalui. Pelayan akan kesusahan untuk mengepel lantai. Kamu ingat aku sangat anti dengan sesuatu yang kotor dan murahan."
"Alaris!!!" Teriakan William menggelegar di ruangan makan.
Ini adalah pertama kalinya William mengeluarkan suara sekeras itu, dan bahkan membentak Alaris.
Alaris terkejut, dengan membulatkan mata ia berbalik dan melihat pada wajah William yang kesal, tubuh Alaris cukup gemetar, namun ia tetap menunjukkan wajah yang tenang.
Rahang William menekan keras hingga memperlihatkan garis-garis kuat yang menonjol dan naik turun.
Kedua tangan William mengepal menahan amarah, namun pada akhirnya William pun menarik kain putih yang di gunakan sebagai alas meja. Hanya sekali tarikan dan semuanya berhamburan.
PYARR!!! KLONTANG!!!
Alaris menutup mata berusaha setenang mungkin, dengan suara yang memekakkan telinga tersebut.
Semua yang ada di atas meja pun jatuh berserakan di atas lantai dan pecah.
"Aku akan menempatkan Axella di mansion bagian selatan, tapi kalimat penghinaan itu jangan sekali-kali kamu ucapkan lagi, apa kamu tidak merasa malu memberikan kalimat hinaan pada sesama wanita seperti mu."
"Dia tidak sama seperti aku William." Alaris menatap penuh kepedihan pada William.
Saat itu juga Alaris keluar dan pergi ke perusahaan, dalam perjalanan Alaris hanya melihat jalanan yang cukup ramai dengan pandangan kosong.
'Bagaimana bisa William menyamakanku dengan wanita itu, aku sama sekali tidak sama dengan dia. Aku tidak akan merebut dan mengambil milik orang lain, aku tidak akan masuk ke dalam hubungan orang lain dan menjadi racun bagi pernikahan orang lain. Bagaimana bisa dia menyamakanku dengan wanita seperti itu! Dan wanita itu adalah.... Aahh... William kamu benar-benar sudah gila!'
__ADS_1
bersambung~