
Negara Vernecia
Persidangan William akan segera di mulai, saat itu William sudah duduk di kursi pesakitan.
Sebelumnya, William telah di angkut dengan tangan terborgol dan masuk ke dalam mobil yang memiliki kerangkeng-kerangkeng besi di dalamnya.
Para awak media gencar menodongkan mic dan kamera mereka pada wajah William yang masih memiliki luka lebam meskipun sudah semakin memudar.
Persidangan itu di adakan di gedung pengadilan Negara Vernecia.
Axella yang baru tiba di gedung itu juga di kerubuti wartawan seolah itu adalah lalat-lalat pengganggu baginya.
Jenny mendorong kursi roda Axella dan di bantu para polisi, lalu masuk ke dalam ruangan persidangan.
Axella melihat suaminya duduk tanpa daya, tak terasa dadanya begitu terasa di hantam oleh batu yang besar manakala ia juga melihat Alaris duduk bersama Harry.
Sangat amat Ironis, Axella merasa hidup benar-benar tidak pernah adil untuk dirinya.
Alaris tampil dengan cantik dan di sampingnya adalah Harry yang tampan dan mempesona.
Mata Axella pun melihat ke arah Leon yang duduk bersama Brida, mereka tampil serba hitam. Sangat serasi.
Sejak duduk di kursi pesakitan, William hanya diam, pria itu juga hanya sekali menengok kebelakang. Bukan untuk melihat Axella namun untuk melihat Alaris.
Matanya berbicara seolah ia ingin mengatakan, "Aku masih mencintaimu Alaris."
Tak ingin tinggal diam, Harry menebas pandangan William dengan memeluk Alaris dan mencium kepala sang istri.
Gedung pengadilan yang megah akan menjadi saksi hukuman apa yang akan di jatuhkan pada William, dan persidangan itu akan di lakukan secara tertutup, tidak ada awak media yang meliputnya.
Semua awak media di instruksikan hanya boleh menunggu di halaman depan gedung.
Jendela-jendela gedung yang menjulang tinggi telah menerangi ruangan pengadilan itu.
"Selamat datang semuanya, dan silahkan duduk." Perintah Hakim Ketua.
Suara sang hakim rendah, namun intonasi itu sangat tegas dan percaya diri, tentu saja semua yang mendengar suaranya merasa bahwa akan sulit mengintervensi sang hakim. Wibawa itu besar dan sangat kuat.
Sang pengacara keluarga Liam, serta Keluarga Mac Linford sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
__ADS_1
"Tuan William Linevero, anda di tetapkan menjadi tersangka karena telah melakukan rencana pembunuhan 3 keluarga besar, yaitu dari Keluarga Stevanus, Mac Linford, dan juga Keluarga Dwyne. Seluruh korban mengalami kecelakaan yang sama dan di tempat yang sama"
"Ya saya melakukannya." Jawab William.
Semua tamu yang ada di dalam gedung bergemuruh, saling berbicara dengan rekan mereka. Namun wajah dan sikap William masih sangat tenang.
"Dia mengakui begitu saja?" Tanya Alaris.
"Bagaimana seseorang bisa mengakui begitu saja, padahal dia punya hak untuk menghindar. Ku kira Tuan William akan menghindar dan melimpahkan semuanya pada Roberto, bukankah dia otak dan dalangnya, dari segala bencana yang timbul." Tanya Brida.
Harry dan Leon hanya diam, dan menyaksikan dengan tenang.
"Semua bukti mengarah pada William." Kata Zoland.
"Tidak!!! William!!! KAMU HARUS MEMBELA DIRI!!!" Teriak Axella, dengan cucuran air mata.
TOK TOK TOK! Hakim memukul palunya.
"Saya minta semua nya tetap diam dan tenang, jika persidangan ini masih ingin di lanjutkan." Kata Sang Hakim dengan suara penekanan dan tegas.
"Semua bukti sudah mengarah pada Tuan William, apakah ada pembelaan?"
Harry dan Leon tersenyum sinis.
"Apa!!!" Sang pengacara berteriak.
"Tuan William, pikirkan sekali lagi, apa yang telah anda katakan!!!" Teriak pengacara keluarga Liam.
Saat itu tidak ada keluarga William yang hadir, bahkan Dorothy yang dulu pernah membuat pesta besar pernikahan anaknya, mereka menjauh dari William ketika William di jebloskan ke dalam penjara.
"Tuan William ingatlah jika putri anda membutuhkan anda!!!" Teriak Jason.
TOK TOK TOK! Hakim memukul palunya lagi.
"Tenang... Jika masih ribut persidangan akan di hentikan." Kata sang hakim.
"Apakah ada tuntutan lain dari keluarga Mac Linford." Tanya sang hakim.
"Meskipun Tuan William telah mengakui kejahatannya, kami tetap akan menghadirkan saksi lagi Tuan Hakim yang terhormat, saksi ini berkaitan tentang tambahan kasus kejahatan Tuan William."
__ADS_1
Tak berapa lama seorang gadis keluar, itu adalah Greisy. Sudut bibir William berkedut, jari-jari Axella meremas pegangan kursi rodanya, wajahnya semakin pucat dan matanya membulat.
'Di... Dia... Kenapa masih hidup?'
"Dia adalah Nona Greisy. Silahkan bersaksi Nyonya." Kata sang pengacara keluarga Mac Linford.
"Saya telah menjadi target pembunuhan Yang Mulia, dan dalang dari semua ini juga Tuan William, malam itu saya hendak mengunjungi ibu saya, sepertinya Tuan William bertindak seperti itu karena istrinya tidak menyukai saya."
"Kenapa istrinya tidak menyukai anda, dan bagaimana amda tahu dalangnya adalah Tuan William?" Tanya sang Hakim.
"Karena saya dan dia berasal dari tempat yang sama, saya menolong istri tuan William yang di jadikan budak sekssualitas oleh pria bangsawan sejak kecil, namun istri Tuan William ternyata mengkhianati saya, kemudian saya di tangkap kembali oleh pria bangsawan itu dan harus menggantikan posisinya, saya... Saya menjadi tawanan sekssualitas pria bangsawan itu, dan pacar saya juga di siksa karena telah membantu istri Tuan William kabur...." Greisy menangis dan sang pengacara memberikan tisu.
"Mungkin... Istri Tuan William takut melihat saya akan membocorkan identitas aslinya, dan kemudian pembunuh bayaran menculik saya, beruntung saya di selamatkan oleh bawahan Tuan Harry. Para bawahan Tuan Harry menangkap para pembunuh bayaran itu dan mereka mengatakan jika di suruh oleh Tuan William." Kata Greisy.
'Kenapa... Kenapa.... Dia bilang itu adalah William....' Aku yang telah menyuruh Reed untuk mencari pembunh bayaran untuk membunuh Greisy, kenapa sekarang kejahatanku di limpahkan pada William?' Kata Axella wajahnya pucat pasi.
Jason terduduk dengan lemas, ia tidak tahu Harry menyembunyikan Greisy dengan sangat pintar.
"Apakah itu benar Tuan William."
"Benar yang mulia." Jawab William.
"Apa!!!" Jason mendelik bagaimana tuannya mengakui tuduhan palsu itu.
'Bagaimana bisa kejahatan Nyonya Axella di limpahkan pada tuan William, apa yang sedang terjadi, dan kenapa Tuan William mengakui semua itu.'
"Saya keberatan yang mulia, saya kira ini tidak masuk akal yang mulia, bagaimana ada orang yang mau mengakui tuduhan palsu!" Teriak Sang pengacara keluarga Liam.
"Keberatan di tolak." Kata Sang hakim.
"Lalu dimana pria bangsawan itu dan siapa dia." Tanya sang hakim lagi.
Kemudian sang pengacara Mac Linford memberikan sesuatu pada sang hakim. Beberapa foto dan juga rekaman cctv.
"Dia bernama Reed, dan dia sudah mati yang mulia, di temukan di bangunan terbengkalai dekat perbatasan, dan sebuah jejak ban mobil ada di sana, di periksa cctv jalanan, malam itu adalah mobil milik keluarga Liam grup yang mengunjunginya dan pagi hari Tuan Reed ditemukan sudah tidak bernyawa tergeletak disana. Lalu di apartmennya di temukan barang-barang berharga, seperti perhiasan yang sudah di verifikasi jika pemiliknya adalah keluarga Liam dan stempel lambang Liam Grup, serta ada beberapa berkas surat penting seperti saham perusahaan dan beberapa tanah, sepertinya itu adalah penyuapan untuk membunuh Axella." Sahut sang pengacara.
"Dengan kesimpulan ini Tuan William juga menjadi dalang dari pembunuhan Tuan Reed." Kata sang pengacara Mac Linford.
William tersenyum getir, kedua tangannya tampak mengepal dan bergetar.
__ADS_1
bersambung~