
"Lalu? Bagaimana dengan kamu? Apa kamu tidak pernah menyakiti ku? Apa kamu tidak mematahkan hatiku? Kamu merasa kamu adalah pria paling baik dan paling menjaga hatiku?" Tanya Alaris dengan wajah yang dingin.
"Dengarkan aku Alaris, kita coba untuk memulai hubungan lagi, kamu harus tahu rencana ku yang sebenarnya Alaris."
Alaris masih diam, wajahnya dingin tanpa ekspresi.
'Rencana apa yang di maksud oleh William.'
"Aku sudah memikirkannya lagi, biarkan aku membuat Axella melahirkan anakku dulu, setelah itu mari kita kembali dan membesarkan anak itu, aku akan menceraikan Axella, dan kamu bisa kembali padaku Alaris."
Wajah Alaris berubah menjadi dingin dan gelap.
"Kamu benar-benar..." Alaris tidak dapat mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
'Sekarang aku jijik melihat William.'
"Jangan menahan ku lagi, atau aku akan berteriak dan para pengawal akan kesini."
Alaris mendorong William dan pergi meninggalkan William dengan marah, bukan karena ia kasihan pada Axella.
'Aku tidak tahu apa yang membuatku merasa marah, tapi yang jelas aku tetap tidak merasa kasihan pada Axella, karena apa yang telah ia perbuat padaku, aku hanya tidak menyukai William, dia seorang pria, bagaimana dia begitu mudah membuat rencana menjjikkan itu.'
Setelah kepergian Alaris, Harry mendatangi William dengan langkah panjang.
William melihat wajah iblis Harry.
Dengan kekuatan penuh, tangan kekar yang mengepal sempurna, Harry menarik dan mencengkram krah kemeja William dan melemparkannya, hingga membentur dinding.
BUG!
BUG!
BUG!
Pukulan demi pukulan melesat ke arah tubuh William, Harry teringat bagaimana lancangnya William mencium istrinya.
Harry berhenti memukul, William tersungkur di atas lantai, kemudian pria itu meludahkan darahnya dan menghapus darah yang mengalir di mulutnya.
William berdiri dan menatap angkuh Harry.
"Kamu munafik Harry, kamu seorang banci." Kata William.
Harry menaikkan alisnya, dengan sinis.
"Kamu sampah! Cepat atau lambat Alaris akan tahu jika kami manusia sampah! Munafik! Wajahmu yang seperti iblis ini akan membuat Alaris meninggalkanmu, dia akan tahu bahwa pria yang ia nikahi adalah iblis yang bersembunyi dari sifat banci nya!" Teriak William.
"Kamu sudah selesai?" Tatapan mata Harry tajam, wajah iblisnya benar-benar menakutkan.
"Alaris akan tahu sifat aslimu yang sebenarnya dan dia akan meninggalkanmu." Kata William.
"Aku tidak membunuhmu karena aku ingin menyaksikan kamu tersiksa dan menderita William. Terlalu mudah jika aku membunuhmu dan sangat di sayangkan jika kamu tidak menerima balasan siksaan dariku." Harry menatap dengan angkuh dan wajah iblis nya menakutkan. Wajah yang tampan itu berubah seketika menjadi gelap dan penuh kemurkaan, semua itu jelas terpampang di wajah Harry.
Tak berapa lama karena memdengar teriakan William para pengawal datang, Jason pun datang di susul oleh Zoland dan Leon.
__ADS_1
William tersenyum dengan wajah yang babak belur dan darah mengalir.
"Gerombolan banci, gerombolan tukang perayu!" Geram William.
Leon menatap William dengan wajah dingin.
"Ayo Jason." Kata William.
"Baik Tuan."
William pun pergi dengan di papah Jason.
"Anda tidak apa-apa tuan?" Tanya Zoland.
Harry hanya diam.
"Sepertinya masalah semakin banyak." Kata Leon.
"Bagaimana wanita itu, kamu sudah menyelesaikannya?" Tanya Harry.
"Yumna telah bertemu dengan Axella, entah siapa yang membuatnya masuk ke dalam kastil." Kata Leon.
"Selama Yumna bersama Axella aku tidak bisa mendekat." Tambah Leon.
"Baiklah aku mengerti, yang terpenting adalah kesehatanmu, kita pakai rencana yang lain. Jika Yumna berani menyentuh Alaris, lenyapkan dia." Kata Harry.
Zoland dan Leon terkejut mendengar Harry memerintahkan untuk melenyapkan Yumna.
Harry pergi menyusul Alaris yang berada di kamarnya.
"Saya pikir jika Tuan Harry melenyapkan Yumna, perang besar akan terjadi, dan kita harus bersiap atas resiko tersebut, yang paling penting adalah keselamatan Nyonya Alaris, dilihat dari watak Yumna dia pasti akan membuat rencana mengerikan." Kata Zoland.
"Aku tidak tahu Yumna membicarakan apa dengan Axella, yang jelas sekarang mereka pasti berkomplot." Kata Leon.
"Bagaimana jika kita keluarkan Greisy, itu akan menjadi pukulan untuk Axella." Tanya Zoland.
"Tapi kurasa belum saatnya, kita masih memiliki senjata lain untuk membuat Axella frustasi, sibuk pada urusannya sendiri dan tidak lagi mengangu Alaris, dan yang terpenting sekarang adalah bagaimana menyikirkan Yumna terlebih dulu."
"Ya, Yumna adalah artis papan atas, dan anak dari presiden Negara Slyvedonia. Akan sangat sulit mengurusnya."
"Apakah presiden datang ke acara pernikahan Harry?" Tanya Leon.
"Tidak Tuan, Presiden sangat kecewa."
"Cih, pria tuan bangka itu, menjodohkan Harry dengan seenak jidatnya pada Yumna anaknya yang manja dan susah di atur, dia pikir kita tidak tahu mereka hanya mengincat harta milik Harry!" Kata Leon.
******
Harry mengetuk pintu pelan dan kemudian masuk, terlihat Alaris sedang duduk bersama para pelayan pribadinya.
Samantha sedang mengeringkan rambut Alaris, sedangkan Emily memberikan lotion yang wangi pada tangan dan kaki Alaris.
Harry berfikir apakah Alaris baru selesai mandi, apakah karena William menciumnya dan memeluknya?
__ADS_1
Alaris tersenyum, namun senyuman itu dingin.
Samantha dan Emily kemudian unduru diri meninggalkan mereka.
Harry duduk di lantai dan kemudian menaruh kepalanya di paha Alaris yang duduk di sofa.
Alaris terkejut dengan perilaku Harry. Wajahnya nampak sedih dan putus asa.
"Kamu adalah istriku dan tidak akan meninggalkanku."
"Ya?" Tanya Alaris tidak faham.
"Alaris, kamu tidak akan pergi dariku kan? Kamu tidak sedang memikirkan untuk meninggalkanku bukan?" Tanya Harry, ia mendongakkan kepalanya dengan raut wajah sedih.
Jantung Alaris seperti di hujami panah, melihat kesedihan Harry, ia merasakan sakit dan sesak yang tak biasa.
'Pria kuat ini kenapa menjadi putus asa dan seperti seorang pria yang menyerah karena tidak berdaya.'
Alaris kemudian menarik lengan Harry lembut, dan mengarahkan agar Harry duduk di sampingnya.
"Apa ada seseorang yang menganggumu, atau ada seseorang mengatakan sesuatu yang buruk padamu, atau ada yang membullymu?" Tanya Alaris.
Harry berfikir jika Alaris sedang merasa bimbang dan goyah hatinya, Harry fikir Alaris sedang merenungkan setiap kalimat William.
Harry berfikir jika wajah Alaris berubah menjadi sedih karena Alaris menyesal telah menikahi dirinya, dan Harry berfikir jika Alaris telah salah memutuskan menikah dengannya setelah William mengutarakan perasaannya.
Harry mulai memikirkan semua hal buruk, tentang Alaris yang akan pergi secara diam-diam untuk meninggalkannya, atau Alaris akan langsung melemparkan surat cerai padanya lalu lari kepelukan William.
"Istriku, apa kamu sedang bimbang? Kening di wajahmu mengerut..." Tanya Harry.
"Bimbang?" Tanya Alaris.
"Apakah kamu sedang menyesali sesuatu?" Tanya Harry lagi dengan wajah murung.
"Menyesal tentang apa? Aku tidak mengerti, apa kamu mendengar sesuatu Harry?" Tanya Alaris yang mulai cemas.
'Apakah Harry mendengar pembicaraanku dengan William? Apakah Harry juga melihat William menciumku? Wajah Harry benar-benar membuatku tersiksa, bagaimana mungkin dia begitu putus asa.'
"Istriku, kamu percaya padaku kan? Bahwa aku sangat mencintaimu."
Pembicaraan antara Harry dan Alaris belum selesai, namun pintu kamar di ketuk oleh seseorang dan itu adalah Zoland.
"Tuan, ada sesuatu yang mendesak." Kata Zoland.
Kemudian Harry berdiri dengan murung dan tubuhnya seolah mati lemas tidak semangat. Harry meninggalkan Alaris dengan raut wajah sedih.
'Astaga, wajah Harry yang murung benar-benar terlihat imut dan menggemaskan.'
Alaris memegangi dadanya, jantungnya benar-benar akan jatuh jika ia terus bersama Harry dengan wajah Harry yang menggemaskan dan lucu.
Tapi Alaris juga merasa kasihan, sangat kasihan, setelah semua yang Harry lakukan untuk Alaris, setelah semua perbuatan baik dan kerja keras Harry untuk kebahagiaan Alaris, belum lagi semua perhatian dan bagaimana Harry memanjakan Alaris, ia sangat bersalah pada Harry dan merasakan cemas yang luar biasa pada Harry.
bersambung~
__ADS_1