
Bibir Axella gemetar, ia tidak ingin menyebutkan nama yang terlarang untuk mulutnya. Axella merasakan jijik yang teramat dalam setiap kali mengingat nama itu.
"Ji... Jika anda ada sedikit waktu luang saya bersedia menceritakannya pada anda Nyonya."
"Ya jika kamu tidak keberatan." Kata Alaris.
Kalimat gagap berulang kali keluar dari mulut kecil Axella, dia menceritakan nya, kisahnya, dan bagaimana siksaan yang dia alami, Axella berharap mendapatkan belas kasihan dari Alaris, dan dia berharap mendapatkan perlindungan serta terbebas dari Reed.
Tiba-tiba Axella memegangi dadanya dengan kedua tangannya dan merosot duduk bersimpuh di lantai.
Brida yang melihat itu terkejut dan membantu Axella untuk duduk di sofa.
"Sa-saya di jual oleh ayah saya pada Tuan Reed, di perdagangan gelap."
Alaris menarik nafasnya kesal.
"Apa nama perusahaan perhiasan milik pria itu."
"The Reed Jewelry."
"Aah, kurasa aku mengenali perusahaan itu, aku akan mengurusnya dan membuatnya tidak akan bisa lagi menganggumu, kamu bisa tenang." Kata Alaris.
"Te-terimakasih Nyonya." Alaris menggenggam kedua telapak tangannya di dadanya dengan mata bening yang terlihat lemah.
Setelah kepergian Alaris, Axella baru sadar akan ingatannya.
"Aku ingat! Nyonya itu yang pernah aku lihat di televisi, pernikahan megah, dan suami yang kaya, serta tampan. Ya, suaminya memang bebar-benar sangat tampan."
Jantung Axella berdegup dan tubuhnya gugup, ia tidak menyangka akan di selamatkan oleh seseorang yang pernah ia lihat hanya melalui layar kaca.
"Aku akan aman." Lirih Axella, ia tersenyum senang, lega dan penuh ketenangan.
"Reed tidak akan mengangguku lagi, aku tidak perlu takut lagi, aku tidak akan kembali lagi ke neraka itu. Ya Tuhan inikah yang di namakan surga?"
Dengan memeluk bantal Axella berbaring di atas sofa, senyumannya mengembang indah di wajah cantiknya.
Axella kemudian berdiri dan menari-nari di atas lantai yang dingin dengan bertelanjang kaki, dia terlihat bahagia dan seperti terbang ke angkasa menikmati kebebasan dan kemerdekaannya.
*****
Pagi hari yang cerah, cakrawala bersinar dengan keagungan yang dimilikinya, menyorotkan sinar lembut dari balik tirai putih yang terawang, sinar pagi yang sedikit berwarna orange menyorot lantai marmer mewah yang memiliki kualitas terbaik.
__ADS_1
Sebelumnya, tirai merah yang besar dan tebal telah di buka oleh pelayan pribadi yang secara khusus melayani Alaris.
Di atas tempat tidur king size perlahan Alaris membuka mata dan menyapu wajahnya dengan sebelah telapak tangannya, jemari lentik itu menekan pelipis matanya yang terasa sedikit nyeri.
Kepala nya pusing, tubuhnya juga terasa tidak nyaman mungkin karena efek penerbangan yang berjam-jam dan kini ia terkena serangan jetlag.
"Nyonya Alaris, Tuan William menunggu anda di ruang makan, saya sudah menyiapkan air untuk anda mandi." Kata Samantha yang berdiri dengan tangan menyilang sembari menundukkan kepala.
Alaris perlahan bangun, dan Samantha bergegas mengambil jubah tipis berwarna merah tua milik Alaris dan memakaikannya.
Perlahan Alaris menuju kamar mandi dan melihat wajahnya dari pantulan cermin.
"Nyonya apa saya harus masuk untuk membantu anda mandi?" Lily bertanya dari balik pintu kamar mandi.
"Tidak perlu Lily."
Setelah mandi dan bersiap, Alaris menuruni tangga marmer yang lebar dan mewah, pakaiannya juga terlihat elegan.
William sudah duduk di ujung meja makan menunggu Alaris.
Setelah Alaris duduk mereka melanjutkan sarapan dengan setenang mungkin hingga tidak ada suara gesekan dari sendok.
"Bagaimana perjalanan bisnismu." Tanya William tiba-tiba.
William menatap dalam pada wajah istrinya yang menunduk dan mengaduk soup, Alaris begitu tenang dan dingin.
"Kamu tidak lupa kan, jika hari ini kita memiliki jadwal bersama? Saat mengetahui kamu pulang tadi malam, aku menyuruh Jason untuk mengirim email pada sekretarismu." Kata William.
"Aku ingat." Alaris menjawab sekenanya.
"Aku terkejut kamu pulang lebih cepat, bukankah kamu akan pergi selama seminggu?"
"Itu karena aku mendengar beberapa wanita asing yang tak ku kenal dengan lancang ingin menyentuh area ku."
William mengernyit.
Alaris mengelap mulutnya dengan serbet pelan dan elegan.
"Lain kali aku tidak akan memaafkan siapapun orang asing yang berani dengan lancang masuk ke dalam mansion utara tanpa seijinku." Tegas Alaris.
Rahang William mengerat kuat.
__ADS_1
"Aah, itu..." William mengangkat dagunya dan ingat.
"Sebenarnya, aku tidak tahu, tapi para pengawal sudah mengusir mereka."
"Aku yakin mereka tidak akan seberani itu jika dari awal seseorang sudah memperingatkannya, kecuali seseorang itu memang acuh."
"Maksudmu, sebelumnya, aku sengaja untuk tidak memberikan peringatan pada mereka?"
"Semua orang takut padamu bukan?" Balas Alaris dingin dan ketus.
"Sejujurnya, mungkin itu terlewatkan, pesta itu di buat untuk memberikan apresiasi untuk para pekerja yang sudah berkontribusi dan membuat kerjasama perusahaan kita lancar."
"Aku tahu, dan seluruhnya adalah karyawan perusahaanmu, jika itu terjadi pasti sudah dengan persetujuanmu, tidak mungkin mereka mengadakan pesta dengan mengundang para wanita tanpa persetujuanmu.
"Apa para pelayan pribadi mu yang mengadu."
"Tanpa mereka bicara pun aku akan tahu. Willliam aku sudah menghormati privasimu, jadi tolong kamu juga hormati privasiku." Kemudian Alaris berdiri pelan.
"Aku akan menunggumu di kantor untuk mengatur perencanaan peresmian anak perusahaan." Alaris hendak pergi.
"Kita akan pergi bersama." Kata William dengan suara yang dalam dan tegas.
"Aku sudah katakan kita akan bertemu disana..." Alaris membalas.
"Aku yang seharusnya mengatur dan memberikan perintah di sini, saat ini kamu adalah istriku, dan kamu harus menuruti semua perintah suamimu. Ingat Alaris, kamu adalah istriku, jangan terlalu jauh melangkahiku."
Alaris menatap datar William yang menatap nanar balik dirinya.
"William, apakah kamu sengaja membuatku pulang lebih cepat?" Tanya Alaris.
William mengerutkan kening dan menyeringaikan ujung bibirnya, sembari mengiris steak.
"Kamu terlalu memandang rendah diriku Alaris, menurutmu aku sengaja membuat pesta dan membiarkan para wanita masuk ke mansion hanya agar menarik perhatianmu, dan membuatmu segera pulang? Pikiranmu konyol dan kekanakan."
"Kekanakan?" Tanya Alaris.
"Sangat kekanakan, aku pria dewasa untuk apa melakukan hal-hal konyol dan kekanakan hanya demi meminta perhatian darimu." Kata William menyeringai bangga.
"Aaaah... Baiklah, aku yang salah, karena telah terlalu jauh menilaimu, aku tahu kamu bukanlah pria seperti itu. " Kata Alaris.
William menelan ludahnya kasar dan meraih gelasnya, meneguk minumannya dengan kasar pula merasakan hawa panas dalam tubuhnya dan membuatnya sangat tidak nyaman dengan tuduhan Alaris yang ternyata memang tepat sasaran.
__ADS_1
Namun William yang memiliki ego lebih besar daripada otaknya membuatnya terlihat seperti cacing kepanasan dan salah tingkah dengan tuduhan Alaris yang langsung membak harga dirinya.
bersambung~