
Setelah cukup lama Brida membuat keributan, dan Jason membawa para pengawal untuk menahan Brida, suasana semakin gaduh.
Leon hanya berdiri dan melihat.
Sedangkan Samantha serta Emily tidak bergerak karena mereka juga bingung harus bagaimana, merasa apa yang di katakan Leon ada benarnya, bahwa kenekatan Brida pasti ada alasannya.
Tak berapa lama pintu di buka, dan itu adalah William, wajahnya gelap dan kelam, seolah sungut sudah naik di atas kepalanya siap memaki siapapun yang telah mengganggunya.
"Kesopananmu sudah lenyap Brida." Kata William dengan wajah gelap.
Kemudian William melihat pada Jason yang menunduk.
"Ada begitu banyak pengawal dan kondisi mansion begitu kacau." William menatap tajam.
"Maafkan saya Tuan." Kata Jason.
Tak berapa lama Alaris keluar, mantel nya masih rapi atau memang sudah dirapikan sebelumnya tidak ada yang bisa menebak.
"Dia adalah orang kepercayaanku William, Brida tidak akan sampai sepanik itu jika kabar yang dia bawa bukanlah hal yang penting. Tapi, sikapnya memang sedikit berlebihan, apakah itu sangat buruk Brida? Sampai kamu seperti ini?"
William menyedekapkan tangannya dan mendengus kesal.
Melihat perdebatan itu Leon menyeringai dan tersenyum.
"Tidak di sini Nyonya anda harus ikut dengan saya." Kata Brida.
"Kemana?"
"Ke suatu tempat."
"Tidak bisa!" Bentak William.
"Ayolah Tuan William, istri mu tidak akan pergi selamanya, lagi pula setiap hari kalian bisa bermesraan." Leon berkicau santai.
__ADS_1
"Tidak sopan!" Ucap William sembari melempar pandangan bengis pada Leon.
Leon masih berdiri dengan santai dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Tanpa persetujuan Alaris pun aku bisa mengusirmu kapan saja!" Geram William pada Leon.
"Maafkan saya Tuan William, saya sedang tidur dan mendengar keributan lalu keluar dan melerai mereka, jadi saya tidak sengaja sudah ikut terlibat dalam keadaan ini."
"Aku akan kembali, ini tidak akan lama." Kata Alaris.
William menekuk kedua alisnya pertanda tidak setuju.
"Benarkah seperti itu? Jadi kamu meninggalkanku?"
"Buka kah kita hanya sebentar Brida?" Tanya Alaris pada sekretarisnya.
"Ya, Nyonya." Kata Brida.
"Katakan di sini atau tidak ada yang boleh pergi." Kata William
"Kamu yang berlebihan Alaris, dan sekretarismu juga sangat tidak tahu aturan. Oh, atau jangan-jangan ini adalah rencana kalian berdua!"
"William apa maksudmu!"
"Kamu baru saja memberikanku ijin Alaris, setelah selama 1 tahun lebih pernikahan, kita tidak pernah tidur bersama! Ini akal-akalan kalian bukan! Yang sebenarnya, kamu memang tidak berniat memberikanku ijin!" Suara William menggelegar, emosinya akhirnya meluap seperti kembang api yang besar.
"William..." Suara Alaris melemah.
William kelepasan, entah kenapa, kali ini William begitu ceroboh. Ataukah karena ia sudah sangat menantikannya hingga ia lepas kendali dan lupa jika saat itu ada banyak orang yang mendengar.
Nafas William beradu dengan kemarahannya karena kecerobohan mulutnya, dan semua yang mendengar terkejut lalu pura-pura memalingkan wajah seolah tidak mendengar sesuatu.
"Jika kalian membocorkannya, kalian tidak akan bisa membayangkan kehidupan kalian selanjutnya." Ancam William.
__ADS_1
Leon hanya melihat dengan melirik kan matanya, saat itu ia bersandar di dinding. Tapi yang jelas, dari lirikan matanya, ia memiliki sesuatu yang harus di lakukan.
"Semuanya pergi!" Bentak William dengan amarah di wajahnya.
Kemudian William pergi meninggalkan tempat itu.
Alaris berjalan, diikuti oleh para pelayan pribadinya yang di wajah mereka jelas ada banyak pertanyaan dan keterkejutan yang luar biasa.
Sedangkan Brida masih berjalan di sisi Alaris, mereka segera bersiap untuk pergi.
Di dalam kamar Alaris para pelayan pribadi Alaris hanya diam dan tidak berani berbicara, mereka membantu Alaris untuk bersiap.
'Mereka menjadi sangat canggung, hanya mereka yang aku percaya di mansion ini.'
"Seperti yang kalian dengar, kami memang belum pernah melakukan hubungan "itu", jadi semoga kalian bisa mengerti untuk tidak membocorkannya, karena jika itu bocor hingga media mengetahuinya akan ada beberapa pihak menyerang dengan menggunakan hal itu pada perusahaan. Kalian juga tahu bagaimana mengerikannya media saat segelintir orang yang memiliki kekuasaan memelintir beritanya." Kata Alaris.
"Baik Nyonya kami mengerti, tapi bagaimana dengan Tuan Leon?" Tanya Emily.
"Aku akan mengurusnya." Kata Alaris.
Kemudian Alaris melihat pada wajah Brida yang masih pucat.
"Sebenarnya ada masalah apa sampai kamu sepanik itu Brida, kamu bukanlah orang yang ikut dengan ku 1-2 tahun, kamu menemaniku dari aku masih membangun perusahaan Aldawn."
"Sebenarnya, apakah Samantha dan Emily bisa di percaya Nyonya."
"Apa kalian bisa di percaya." Tanya Alaris.
"Dengan segenap jiwa raga dan tubuh kami Nyonya." Jawab Samantha lalu Emily juga mengangguk.
"Kamu dengar sendiri Brida." Kata Alaris.
"Sebenarnya sebelum kembali ke Negara Vernecia, saya melihat Tuan William bersama Axella, dan saat itu mereka ada di Negara Slyvedonia, saya mencoba untuk tidak memikirkannya karena itu tidak mungkin namun, tidak berapa lama ada pesan anonim yang memberitahu saya jika Tuan William telah membawa Nona Axella ke Negara Vernecia. Informasi itu lengkap beserta fotonya. Saya mencoba menghubungi anda berulang kali namun panggilan saya tidak ada yang mengangkat, lalu saya langsung terbang ke Negara Vernecia untuk langsung bertemu anda Nyonya Alaris."
__ADS_1
bersambung~